
Akhirnya aku menonton film itu sampai selesai. Tapi setelah adegan menggantung tadi, si pemeran yang digantung tadi diceritakan meninggal dunia dan menjadi hantu. Meski awalnya pemerannya bukan orang yang sama, dan digantikan dengan orang lain. Entah kenapa aku merasa ganjil dengan kejadian yang ku lihat tadi. Karena Beny tak melihat adegan yang ku lihat tadi. Sampai akhirnya pemutaran film itu berakhir, dan aku mewawancarai para pemain film itu. Aku menanyakan apakah mereka mengalami gangguan gaib selama proses syuting atau tidak. Dan ada salah satu artis yang menceritakan jika ia bertemu dengan arwah salah satu pemeran yang meninggal dunia di lokasi syuting.
"Jadi sebenarnya ada kecelakaan selama proses syuting. Pihak kru film sempat gak ingin menayangkan adegan-adegan nya. Tapi ketika di edit ulang, gak bisa di hapus juga. Akhirnya ada beberapa adegan terakhirnya yang dipakai di film ini. Tapi beberapa bagian yang mengerikan, seperti kecelakaan pas syuting itu di potong bagian akhirnya. Karena itu kejadian real yang terjadi di tempat syuting. Akhirnya ada pemeran pengganti yang gantiin peran nya. Karena itulah saya sebagai salah satu pemeran di film ini menyatakan jika film ini sangat menyeramkan dalam proses pembuatan film nya. Pokoknya kalian semua wajib lihat film mangkuraga, oke gaes?" Ucap seorang perempuan yang menjadi pemeran utama di film itu.
Degh.
Jadi tadi yang ku lihat apa dong, kenapa hanya aku yang bisa melihat adegan itu. Seketika aku mengusap peluh yang membasahi kening, bulu-bulu halus di sekitar belakang tengkuk ku meremang.
Aku mewawancarai beberapa kru film juga, dan ada satu kru film yang mengaku melihat tayangan adegan yang gak seharusnya ditayangkan pas penayangan film hari ini. Aku langsung meletakan mikrofon, dan berbicara setengah berbisik padanya.
"Apa tadi kau melihat perempuan itu benar-benar menggantung, dan beberapa kru film berusaha menolongnya tapi semua terlambat. Karena tali yang mengikat lehernya gak bisa dilepas? Akhirnya perempuan itu benar-benar tewas menggantung?" Tanya ku pada lelaki tinggi kurus itu.
Seketika ia membulatkan kedua mata, menatapku dengan menelan ludah kasar.
"Ba bagaimana mungkin kau melihatnya, hanya para artis dan kru saja yang melihatnya. Jika aku tadi dapat melihatnya, karena aku memang berada di lokasi sementara kau tak ada disana. Tapi bagaimana kau bisa melihat adegan itu?"
Aku mengangkat bahu seraya menggelengkan kepala. Aku sendiri juga tak mengerti, kenapa aku melihat adegan itu. Sementara Beny yang ada di samping ku tak melihat apa-apa.
"TOLOOOONG AKUUUU!"
Aku mendengar suara jeritan minta tolong tepat di depan telinga ku. Seketika aku menutupi kedua telinga, karena suaranya terlalu kencang dan membuatku kesakitan. Aku menoleh ke berbagai arah, mencari pemilik suara itu. Nafasku berderu kencang, aku yakin suara itu adalah suara perempuan yang memerankan perempuan dengan gangguan jiwa di film tadi.
"Mas kalau saya mau nanya-nanya diluar pekerjaan boleh gak? Jujur aja nih, saya kayak ngerasa dapat gangguan dari hantu. Apakah pemeran yang jadi hantu itu memang benar-benar meninggal karena kecelakaan kerja?"
"Sebenarnya saya sudah menyarankan untuk menunda proses film. Karena pengait di tali yang buat ngegantung orang itu sempat macet. Tapi sutradara gak mau tau, karena jadwal penayangan film udah mau release. Akhirnya kecelakaan benar-benar terjadi, dan sutradara gak mau tanggung jawab. Saya juga merasa dihantui oleh Dila, pemeran film yang meninggal di lokasi syuting itu. Dari banyaknya orang disini, saya yang ngelihat adegan itu di pemutaran bioskop hari ini."
"Jangankan Mas nya, saya yang gak tahu apa-apa juga dikasih lihat adegan itu. Maksudnya apa coba, kalau itu emang kecelakaan kerja kenapa arwahnya gentayangan sih. Tapi sampai sekarang saya belum melihat arwahnya sih Mas." Kataku dengan mengaitkan kedua alis mata.
Lelaki itu tercengang, nampaknya ia terkejut mendengar pengakuan ku. Ia kembali bertanya apa aku mengenal Dila. Tentu saja aku menggelengkan kepala, karena aku memang tak mengenalnya. Dan aku baru sekali ini melihatnya di layar lebar.
"Saya memang punya bakat bisa melihat makhluk tak kasat mata Mas. Tapi anehnya sosok Dila gak menampakkan wujud nya, tapi dia malah ngasih penglihatan itu ke saya. Sepertinya Dila ingin menunjukkan sesuatu atau meminta tolong deh."
"Gini aja deh Mas, ini kartu nama saya. Kalau ada apa-apa nanti Mas nya kabari saya lagi ya. InsyaAllah saya bisa bantu komunikasi dengan sosok Dila. Kita harus tanya apa mau nya, takutnya dia ngasih penglihatan atau ganggu orang lain. Bisa jadi masalah buat kesuksesan film ini juga" Ucap ku seraya memberikan kartu nama.
Lelaki yang bernama Denis itu setuju, dan menjabat tanganku. Kemudian aku meninggalkan gedung bioskop itu. Beny yang penasaran, akhirnya bertanya padaku. Apakah aku benar-benar melihat kejadian sewaktu korban meninggal di atas gantungan itu. Aku hanya menganggukkan kepala, tak tahu harus berkata apa pada Beny.
"Padahal gue juga nonton di samping lu, tapi gue gak ngelihat adegan itu loh Ran. Jangan-jangan arwah perempuan itu ada di sekitar kita ya tadi. Karena dia tahu hanya lu yang bisa bantu dia, makanya dia ngasih penglihatan itu sama lu."
"Mungkin aja sih Ben, gue juga gak paham karena sosok perempuan itu gak menampakkan wujud nya ke gue. Jadi gue gak tahu apa maksudnya dia ngasih penglihatan itu. Kalau lu bisa ngelihat kejadian yang sebenarnya, pasti lu gak akan ngabisin popcorn tadi."
"Emang nya serem banget ya Ran?"
"Sumpah Ben, seumur-umur gue baru kali ini ngelihat orang gantung diri secara gak sengaja. Sepertinya dia gak terima dengan kematian nya deh. lu sadar gak sih kalau pemeran hantu nya agak berbeda dengan sebelum nya. Sewaktu awal dia muncul pas mau nyulik anak kecil yang main congklak itu. Jadi nih, kata kru yang ngobrol sama gue tadi. Mereka terpaksa makai beberapa adegan si Dila, korban yang meninggal dunia itu. Karena emang gak bisa di ganti ataupun di edit, makanya setelah adegan menggantung dan dia beneran tewas. Adegani yang jadi hantu di ambil alih pemeran pengganti. Tapi dari cerita artis dan kru tadi, katanya masih banyak kejadian janggal sewaktu proses syuting. Ntar deh gue cari info lagi, soalnya gue penasaran juga."
"Emangnya lu mau masukin ke liputan berita kita Ran?"
"Gak lah Ben, gue cuma mau tahu aja. Apa gue panggil aja ya sosok Dila, biar gue tahu apa tujuan dia ngasih penglihatan ke gue."
Plaaak!
Beny menepuk lengan ku, hampir saja kepala ku membentur body mobil. Seketika aku mencubit lengan Beny dengan keras.
"Gila lu Ben, lu mau dorong gue keluar dari mobil hah?"
"Habisnya lu ngadi-ngadi sih, tadi lu bilang mau manggil demit di samping gue. Lu pikir manggil demit sama manggil manusia itu sama apa?" Kata Beny dengan nada suara tinggi.
"Ya elah, lu takut ya Ben?"
Beny mengelak, dan ia mengaku tak siap bertemu dengan sosok gaib saat ini. Tak lama setelah itu, kami sampai di kantor juga. Beny menyerahkan hasil liputan ke Mbak Rika. Sementara aku membuat laporan kerja di meja ku. Fokus ku terganggu oleh bayangan yang beterbangan di atap. Dan sekelebatan bayangan perempuan dengan rambut panjang berhenti tepat di depan layar komputer ku. Sosoknya masih menundukkan kepala, sehingga aku tak bisa melihat dengan jelas bagaimana wajahnya. Aku mengaitkan kedua alis mata seraya berkacak pinggang. Lalu aku berkomunikasi dengan sosok itu melalui batin. Kenapa demit perempuan itu mengganggu jam kerja ku. Karena aku tak merasa mengganggu nya, kenapa sosok itu menampakkan wujudnya padaku. Sontak saja aku membentalnya, dan meminta demit perempuan itu untuk tak mengganggu fokus ku. Karena aku harus menyelesaikan laporan kerja hari ini juga. Tapi sosok perempuan itu tak bergeming, dan tetap berdiri mengambang di depan meja kerja ku.