
Aku mendekati Endang, meyakinkannya untuk melanjutkan penglihatan nya. Ia hanya diam membisu dengan membulatkan kedua matanya, kedua bola matanya menyala nyalang, lalu mengeluarkan air mata darah. Aku menghembuskan nafas panjang seraya menggelengkan kepala. Padahal aku hanya ingin membantunya, tapi demit ini malah bersikap buruk padaku.
"Ya udah kalau gak mau cerita lagi, aku tak akan membantu mu menyelesaikan masalah dengan Darman!" Seruku berkacak pinggang seraya memalingkan wajah.
"Huhuhu Mas Darman... Kau jahat Mas huhuhu." Tangisan Endang terdengar memilukan sekaligus menyeramkan. Tapi aku dapat memahami perasaan sedihnya itu.
"Baiklah, aku akan tetap membantumu. Apa kau ingin melanjutkan penglihatan mu padaku? Cepatlah, sudah hampir tengah malam. Dan aku ingin segera istirahat."
Jiwa tanpa raga Endang melesat mendekati ku, ia tak merasuki ragaku lagi. Tapi sekarang ia melihatkan gambaran-gambaran masa lalunya, melalui tatapan matanya. Kedua bola matanya menatap tajam kepadaku, dan terlihat gambaran seperti video di dalam kepalaku. Cuplikan demi cuplikan gambar berganti, dengan adegan keributan yang terjadi antara Endang dengan Darman.
"Mengakulah Mas, kau lebih suka dengan Narti kan? Sekarang Narti lebih cantik daripada aku, jujur saja, tak perlu berbohong lagi. Ini pasti karena aku sedang mengandung, makanya aku terlihat jelek dan tak menarik lagi di matamu."
"Tidak begitu Endang, percayalah padaku, aku sangat mencintaimu. Tapi ini yang terbaik untuk kita, ku mohon padamu untuk menggugurkan kandungan mu, dan merahasiakan semua ini. Aku berjanji akan memberikan uang yang banyak untukmu. Supaya kau dapat hidup tenang dan nyaman bersama Nenekmu. Aku terpaksa memintamu melakukan ini, karena kedua orang tuaku memiliki hutang yang banyak pada keluarga Narti. Jadi aku mohon, mengertilah posisiku, kita harus sama-sama mengorbankan perasaan."
Endang tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Perempuan itu memundurkan langkahnya dengan memegangi dadanya yang terasa sesak. Darman menyatukan kedua tangannya di depan Endang, memohon dengan melas supaya Endang menuruti keinginan nya. Tapi amarah Endang sudah pada puncaknya, ia berteriak marah pada Darman.
"Aku tak butuh uangmu Mas! Aku juga tak akan menceritakan tentang kehamilan ku pada siapapun! Tentu saja, aku akan menggugurkan benih dalam rahimku. Aku akan jadi lebih cantik dari Narti, dan kau pasti akan berpaling padaku lagi!" Jerit Endang dengan air mata mengalir deras di pipi.
Satu minggu setelah pertengkaran nya dengan Darman. Endang memutuskan pergi ke Surabaya. Ia sudah memberi kabar pada Neneknya, jika ia akan mengunjungi teman kerjanya yang sedang cuti hamil. Padahal tujuan Endang ke daerah sana, hanya untuk menggugurkan kandungan nya ke salah satu dukun beranak yang terkenal karena keahliannya. Proses pengguguran janin Endang berlangsung di rumah sang dukun beranak. Setelah Endang meminum ramuan racikan yang diberikan dukun itu, ia diminta untuk merebahkan tubuhnya di atas dipan kayu, dengan posisi kaki mengangkang lebar. Dukun beranak itu mengoleskan minyak ke kedua tangannya, lalu memijat perut bagian bawah Endang. Awalnya pijatan itu terasa pelan, dan makin lama pijatan sang dukun semakin keras. Terlihat wajah Endang menahan sakit yang luar biasa, tangannya menarik tubuh sang dukun dengan reflek karena rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya. Nampak pula kaki Endang menendang-nendang tak tentu arah.
Tak lama sang dukun beranak memanggil dua ibu-ibu untuk membantunya memegangi tangan dan kaki Endang. Hanya terdengar suara Endang yang meronta-ronta kesakitan. Teriakan sakit berulang kali terlontar dari mulut Endang, karena ia sudah tak bisa bebas bergerak lagi. Pemijatan terus dilakukan hinga empat puluh menit lamanya, sampai akhirnya darah mulai keluar dari dalam rahim nya. Darah yang mengalir terlihat sangat deras, dan membasahi dipan kayu itu. Jeritan Endang semakin keras saat darah itu mengalir, aku sampai bergidik ngeri melihat penglihatan itu. Rasanya perutku terasa ngilu, dan ingin memuntahkan isi perutku. Kini fokusku kembali lagi, ketika Endang terlihat meronta-ronta memohon pada sang dukun untuk menyudahi proses pengguguran. Perlahan dukun itu mengurangi tekanan pada pijatan nya. Namun, darah masih mengalir deras dari rahim Endang. Nampak gumpalan kecil sebesar kepalan tangan diselimuti darah segar. Endang pun berteriak sangat kencang, saat gumpalan itu keluar dari rahimnya. Endang menjerit dengan lantang untuk terakhir kalinya. Karena teriakan nya menjadi puncak dari rasa sakit yang ia rasakan.
Setelah itu Endang kembali menghentikan penglihatan nya. Ia menangis tersedu-sedu dengan memegangi perutnya, dan tiba-tiba seluruh tubuhnya berlumuran darah. Endang merasakan sakit yang dulu pernah ia rasakan, sampai ia menjemput ajalnya.
"Astaghfirullah." Ucapku dengan menggelengkan kepala.
"Huhuhu aku sudah mati, dan tak dapat menjalani hidup sebagai istri Mas Darman. Semua ini salah Narti, aku harus membalaskan dendam padanya!" Seru Endang membulatkan kedua matanya.
"Jangan Endang! Kau hanya akan semakin menambah dosamu saja. Narti tak ada salah apapun denganmu. Kau dan Darman yang melakukan kesalahan, kenapa kau melimpahkan nya pada Narti? Sadarlah, semuanya terjadi karena kesalahanmu sendiri. Seandainya kau tak menggugurkan kandungan mu, mungkin kau tak akan berakhir tragis seperti itu!"
"Aaaarggghh tidaaakk!" Pekik Endang melesat pergi entah kemana.
Aku langsung dilanda gelisah setelah kepergian Endang dengan membawa amarahnya. Aku takut jika ia benar-benar akan mencelakai Narti. Jika Endang sampai benar-benar melakukan niat jahatnya, ia akan berubah wujud menjadi sosok yang lebih kuat dan jahat. Sosok yang serupa seperti Kuntilanak Merah.
"Duh. Apa yang harus aku lakukan nih!" Gumamku pada diriku sendiri seraya mengacak rambut kasar.
Aku berusaha berpikiran positif, dan berdoa supaya Endang tak nekat berbuat jahat pada Narti. Padahal Endang sendiri yang telah memilih jalan salah semasa hidupnya. Dia hanyalah seorang perempuan yang sangat mencintai lelaki yang ternyata telah menghianati nya. Rasa kecewa yang ia rasakan, membuatnya mengambil keputusan salah, yang mengakibatkan kematiannya.
Aku berharap tak akan ada Endang lain, yang akan mengulangi kisah yang sama. Dari sini aku dapat mengambil pelajaran, jika ingin mencintai seseorang, maka cintailah secara wajar dan tak berlebihan. Tak perlu mengorbankan kehormatan sebelum menikah supaya kejadian yang di alami Endang tak di alami orang lain. Kini arwah Endang terjebak di antara dua alam. Ia tak bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang, entah karena rasa bersalahnya. Atau karena dendamnya pada Darman ataupun Narti. Karena aku belum bisa mengetahui apapun, Endang hanyalah makhluk tak kasat mata yang tak bisa sepenuhnya dipercaya perkataan nya.