Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 246 MENGAMBIL KEPUTUSAN.


"Apa kami bisa mempercayai ucapanmu? Apalagi kalian itu saudara kembar, bisa jadi kau berniat menjebak kami." Kata Mbak Ayu penuh curiga.


"Aku tak bisa membuktikan apapun pada kalian. Karena fakta jika kami bersaudara memang tak bisa dirubah. Dan itulah alasan yang akan membuat kalian ragu padaku. Tapi jika kalian mau membantu, aku akan sangat berterima kasih. Karena aku hanya ingin beristirahat dengan damai di alam keabadian. Tempat ku sudah bukan disini lagi, jadi bantulah aku kembali ke alam ku." Ucap Bening dengan aura kesedihan yang besar.


Aku hanya diam, menatapnya dengan iba. Sepertinya dia benar-benar tulus mengatakan permintaan nya, untuk kembali ke alam keabadian. Tapi aku tetap harus waspada, dan memantau semuanya terlebih dulu. Mbak Ayu bertanya, apakah kami bisa mempercayai ucapan sosok Bening atau tidak. Aku langsung menjelaskan, jika harus mempertimbangkan semuanya sebelum mengambil keputusan. Karena kami baru sekali ini bertemu dan berinteraksi secara langsung dengan sosok Bening. Jadi masih banyak yang harus dicari tau terlebih dulu.


"Lantas dimana jasadmu saat ini? Kau hanya bilang ada di tempat ritual Mbah Wongso. Sedangkan kami tak tau lokasinya dimana?" Tanya Mbak Ayu seraya berjalan mendekati sosok Bening.


"Lokasinya ada di hutan pinggiran Desa Rawa Belatung. Jasad ku yang sudah tinggal tulang masih ada disana. Karena mereka tak berniat menguburkan nya kembali. Apalagi setelah kepergian Mbah Wongso, tak pernah ada lagi yang datang kesana, termasuk Pakde ku yang sekarang mewarisi kesaktian Simbah. Aku memang tak bisa membantu apapun, karena bagaimanapun Wening tetaplah saudaraku, dan aku tak akan bisa menyakitinya. Jadi aku hanya meminta ketulusan dari kalian untuk membantu menyempurnakan jasad ku. Hanya itu keinginan untuk kembali ke alam keabadian."


Mbak Ayu menghembuskan nafas panjang, menurutnya membantu Bening tanpa mendapat bantuan kembali sangat merugikan kami. Dan Mbak Ayu agak berat untuk membantunya. Sebenarnya aku dapat memahami posisi Bening, ia hanya ingin istirahat dengan tenang. Dan tak mau ikut campur dengan masalah duniawi, apalagi membantu kami untuk menyakiti saudara kembarnya. Bening benar-benar tak ingin berurusan dengan masalah manusia.


"Kayaknya dia benar-benar tulus minta tolong Mbak. Dia gak ada keinginan buat bantu kita nyakitin kembaran nya. Tapi dia juga gak menghalangi kita buat nyari kebenaran mengenai keluarganya. Dia dalam keadaan netral, tak memihak siapapun. Mungkin lebih baik kita bantu dia aja, supaya jiwa nya bisa kembali ke alam keabadian."


"Lu yakin Ran? Lu gak takut dia sengaja jebak kita?"


"InsyaAllah Mbak. Kita harus memastikan semuanya terlebih dulu. Dan kau Bening, kau bisa pergi sekarang. Kami akan memikirkan sebuah cara untuk menyempurnakan jasadmu." Kataku seraya duduk lalu menyenderkan kepala.


Tak lama setelah itu, sosok Bening melesat pergi. Mbak Ayu duduk melipat kaki di atas kursi. Ia membahas langkah apa yang akan kami lakukan selanjutnya.


"Lu yakin gak akan ada masalah baru lagi, dengan lu bantuin jiwa Bening kembali ke alamnya? Takutnya si Wening makin murka, kalau dia tau kita yang bantu jiwa kembaran nya kembali ke alamnya. Bisa aja Wening makin menjadi, dan melakukan segala cara buat balas dendam. Karena dari awal, dia emang udah berniat jahat kan. Bisa makin gila tuh bocah!" Ucap Mbak Ayu dengan menghembuskan nafas panjang.


"Mau bagaimana lagi Mbak. Gue mana tega lihat jiwa Bening terlunta-lunta di alam fana ini. Apalagi dia sendiri yang minta disempurnakan jasadnya. Itu artinya Bening sudah benar-benar lelah gentayangan disini. Tugas gue ya bantu jiwa-jiwa seperti dia kembali ke alamnya. Biar gak ada jiwa tanpa raga yang dimanfaatkan oleh orang-orang jahat seperti Wening itu."


"Ya udah kalau itu keputusan lu, gue ngikut lu aja. Tapi lu harus waspada, karena tiap harinya lu berada di satu tempat yang sama dengan Wening. Jangan sampai dia curiga, kalau lu udah tau siapa dia yang sebenarnya. Dan semoga aja si Bening gak bocorin tentang lu yang udah mengenali kembaran nya."


"Kita lihat besok aja Mbak. Gue bisa lihat sendiri, kalau ada perubahan sikap dari Wening atau gak. Baru kita putusin besok, kita jadi bantu jiwa Bening atau gak. Semoga aja sih Bening bisa dipercaya, karena gue emang gak lihat aura dendam pada sosoknya."


Malam itu juga, aku menghubungi Pak Jarwo dan menceritakan semuanya. Nampaknya beliau belum tau apa-apa mengenai kejadian yang terjadi di Desa Rasa Belatung. Beliau justru terkejut mendengar ceritaku, mengenai sosok Wening yang ternyata adalah cucu dari almarhum Mbah Wongso. Dan untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi, Pak Jarwo akan mengunjungi semua warga Desa. Dan ia juga akan memastikan tempat ritual Mbah Wongso yang ada di pinggiran desa.


"Kau tak usah kembali ke Desa Nduk. Biar aku saja yang memastikan semuanya. Kau cukup jaga dirimu disana, jangan sampai gadis itu mencelakai mu. Karena begitu kau menceritakan semuanya, aku dapat melihat melalui batin. Jika gadis itu sudah mulai menjalankan rencana untuk menjatuhkanmu." Jelas Pak Jarwo diseberang telepon sana.


"InsyaAllah Pak, Rania akan jaga diri baik-baik. Terima kasih sudah mau membantu." Ucap ku sebelum mengakhiri panggilan telepon itu.


Mbak Ayu meminta ku untuk segera istirahat, karena sekarang sudah hampir jam dua malam. Dan kami masih terjaga, sementara pagi nanti aku harus tetap berangkat ke kantor. Aku merebahkan tubuhku di ranjang, tapi pikiran ku tak tenang dan mencemaskan banyak hal. Semoga saja keputusan ku untuk mempercaya sosok Bening itu benar. Dan ia tak menceritakan apapun pada saudara kembarnya.