
Tante Ajeng masih berdiri tak jauh dariku, ia komat kamit seperti sedang membaca mantra. Tak lama wujudnya berubah menjadi burung gagak hitam, ia terbang dengan membawa boneka jenglot yang digigit di paruhnya.
Kraaak kraak kraaak.
Suara burung gagak itu terdengar nyaring di telinga. Tanpa ku sadari, Mbak Ayu sudah ada di samping ku. Ia mendongakkan kepalanya ke atas langit, melihat burung gagak jelmaan Tante Ajeng.
"Ran. Kok gue punya feeling lain sama burung gagak itu ya!" Kata Mbak Ayu dengan menunjuk ke atas langit.
Aku tak langsung menjawab perkataan Mbak Ayu, aku menundukkan kepala dengan menghembuskan nafas panjang.
"Tuh kan Ran, bener feeling gue. Itu burung gagak nya bawa boneka setan yang gue maksud di telepon tadi loh!" Serunya seraya menggoncangkan lengan ku.
"Iya Mbak, lu emang bener kok. Itu boneka jenglot jelmaan Nek Dijah!"
"Lah kalau boneka itu jelmaan Nek Dijah, burung gagak nya jelmaan siapa Ran?"
"Seperti yang kita duga waktu itu, gagak itu memang jelmaan Tante Ajeng."
"Seriusan Ran? Lu yakin dengan apa yang lu omongin?"
"Iya Mbak. Gue lihat dengan mata kepala sendiri, kalau burung gagak itu jelmaan Tante Ajeng. Dia datang kesini buat ngambil boneka jenglot itu. Tadi gue udah berusaha menghentikan nya, tapi gue di ancam sama Tante Ajeng."
Seketika Mbak Ayu murka, ia sangat kesal padaku. Kenapa aku tak memanggilnya sewaktu bertemu langsung dengan Tante Ajeng.
"Gue gak bisa apa-apa Mbak, Tante Ajeng ngancem mau celakain semua orang yang ada di bangsal anak-anak. Dan gue gak mau lu berhadapan dengan Tante Ajeng di tempat ini. Wujud lu bisa berubah menyeramkan, dan semua orang akan tahu kalau lu juga menganut ilmu hitam. Gue gak mau jati diri lu diketahui banyak orang, yang ada hidup lu akan terganggu Mbak. Dan buat kali ini, lu perlu persiapan matang buat hadapin Tante Ajeng. Karena dia udah ngancem gue, kalau gue terus bantuin lu, dia juga bakal nyelakain gue Mbak. Sementara kemampuan gue buat ngelindungin diri belum keluar, hanya tasbih pemberian seseorang yang terkadang melindungi gue."
"Lu gak perlu hawatirin gue Ran. Setelah ini lu bisa pulang ke desa, gue bisa jaga diri sendiri. Dan Om Dewa akan pulang ke Bali, dia ingin mendekatkan diri dengan Sang Hyang Widhi. Mungkin itu akan lebih baik untuknya."
Tiba-tiba aku terpikir untuk mengajak Mbak Ayu ke Desa bersamaku. Mungkin dengan begitu aku bisa tenang, kami akan sama-sama mengasah kemampuan bersama Pak Jarwo. Karena Mbak Ayu juga perlu mengendalikan kekuatan yang dimilikinya. Tapi sejak menerima ilmu Leak, ia sangat mudah tersulut emosi. Sehingga aku tak bisa lama-lama meninggalkan nya.
"Gimana Mbak, mau kan ikut gue pulang ke Desa?"
"Berapa lama? Soalnya bentar lagi ujian kelulusan siswa Ran. Kalau gue bisa cuti, itu juga gak mungkin lama!"
"Lima hari aja Mbak, gimana?"
"Oke, deal. Tapi setelah itu lu juga harus memiliki kemampuan buat ngelindungin diri lu sendiri. Asah kemampuan lu sebisa mungkin, gue gak mau lu ngebahayain nyawa lu sendiri. Yang kita hadapai saat ini bukan demit atau pun manusia pada umumnya. Entah Tante Ajeng itu sejenis makhluk apa!" Pungkas Mbak Ayu dengan menggelengkan kepala.
"Raniaaa!" Panggilan Mas Adit mengejutkan ku.
"Ada apa Mas?" Tanya ku penasaran.
"Nyawa perawat tadi tak dapat tertolong, ia kehilangan banyak darah dalam waktu yang singkat. Sebenarnya agak tak masuk akal, tapi kata petugas yang berjaga. Dia melihat sesosok boneka hantu yang memiliki taring panjang. Boneka itu menggigit leher perawat itu, sampai ia tumbang dan terkapar di lantai. Apa menurut mu itu masuk akal?" Mas Adit mengaitkan kedua alis matanya.
Mbak Ayu menyela lalu menjelaskan jika itu sangat mungkin. Dan Mbak Ayu mengingatkan Mas Adit untuk berhati-hati dari boneka yang ia sebutkan tadi.
"Lu belum lihat dengan mata kepala sendiri kan? Itu boneka setan Dit, karena dia adalah jelmaan Nek Dijah. Seperti yang lu lihat, tubuh Nek Dijah mengering. Jiwa nya telah berpindah ke boneka jenglot itu, tapi sekarang Tante Ajeng udah membawanya pergi. Pasti Tante Ajeng sedang merencanakan sesuatu. Btw gue bisa minta tolong gak sama polisi?" Ucap Mbak Ayu dengan menghembuskan nafas panjang.
"Ngomong aja Mbak, aku pasti akan membantu sebisa ku."
Mbak Ayu menjelaskan, jika ia meminta bantuan polisi untuk menjaga Om Dewa selama di Rumah Sakit. Karena nyawa Om Dewa sudah ditandai sebagai calon korban. Dan kami tak bisa selalu menjaganya selama di Rumah Sakit. Karena sebentar lagi, aku dan Mbak Ayu harus pergi ke Desa.
"Beneran Ran, kalian akan pergi ke Desa Rawa Belatung?" Mas Adit menatapku dengan penasaran.
"Hmm iya Mas. Bener kok kata Mbak Ayu. Aku sengaja mengajaknya, karena demi kebaikan kami berdua. Kami harus menghadiri acara pernikahan Wati." Kataku dengan menghembuskan nafas panjang.
"Kenapa kau terlihat bersedih jika sepupumu akan menikah? Apa kau ingin segera menyusul nya menjadi seorang pengantin?" Lagi-lagi Mas Adit menatapku dengan sorot mata yang aneh.
"Chiyee... Ada yang kode mau ngajak ke pelaminan nih!" Goda Mbak Ayu tertawa lepas.
"Uhuk uhuk." Aku terbatuk dengan wajah memerah.
"Eh bukan karena itu kok. Lagipula aku sedih bukan karena ditinggal nikah sepupu ku. Tapi aku hanya menyesali takdirnya, ia seperti akan mengorbankan dirinya demi semua keluarga." Tiba-tiba bulir-bulir bening membasahi pipi ku.
Mas Adit berjalan lebih dekat padaku lalu menyeka air mata ku. Ia membelai rambut ku dengan lembut, dan mengatakan jika aku harus berlapang dada menerima takdir yang seburuk apapun itu.
"Terkadang gak semua keinginan kita selalu berjalan sesuai apa yang kita harapkan. Kalian berdua bisa pergi menemani Wati di hari pernikahannya dengan tenang. Aku akan meminta beberapa petugas jaga untuk mengawasi Om Dewa. Jadi kalian tak perlu hawatir lagi, oke?"
Aku dan Mbak Ayu sama-sama menyunggingkan senyum lega. Dengan bantuan dari Mas Adit, kami dapat meninggalkan Om Dewa dengan tenang. Semoga saja Tante Ajeng tak membuat ulah selama kepergian kami. Cukup satu korban saja yang kehilangan nyawa nya, jika sampai ada korban lainnya lagi. Aku bersumpah, aku sendiri yang akan berhadapan dengan boneka jenglot itu ataupun Tante Ajeng. Semoga kepergian ku ke Desa bisa membawa kebaikan bagi semua orang. Aku ingin mendapatkan kemampuan ku kembali, supaya aku bisa melindungi satu-satunya sepupuku. Yang kemungkinan di masa depan, akan memiliki masalah dengan keluarga Pak Mitro yang melakukan pesugihan.