Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 251 ANGGOTA SEKTE MUDA TERTANGKAP?


Tepat jam 8 malam aku sampai di kost. Nampak Heni sedang duduk di teras depan bersama Mbak Ayu dan Ce Edoh. Mereka sedang ngobrol santai dengan menikmati teh hangat dan pisang goreng.


"Sini Mbak duduk dulu makan pisang goreng hangat." Panggil Heni seraya menarik tanganku.


"Lu kenapa Ran wajahnya masam begitu?" Tanya Mbak Ayu.


Aku menghembuskan nafas panjang, sebelum membagi cerita ke mereka. Aku meminta tolong Ce Edoh untuk dibuatkan mie rebus. Karena aku belum sempat makan dari tadi siang.


"Mbak Rania laper banget ya? Makan pisang nya aja dulu."


"Iya Hen, ntar juga gue makan kok. Gimana perkembangan di kampus, Leni masih kelihatan kan?"


"Baru aja gue cerita ke Mbak Ayu. Kayaknya Pak Adit udah ngerahin anak buahnya deh. Soalnya Leni kayak curiga gitu, gerak gerik dia jadi lebih waspada."


"Emang lu udah kasih tau Adit ya Ran?"


"Iya udah dari semalam langsung gue kasih tau. Moga aja cepet ketangkep deh semua anggota sekte itu. Biar bubar sekalian, gak ada yang ikut ajaran sesat lagi."


"Tapi gue gak yakin Tante Ajeng bisa ditangkap semudah itu. Gue pengen banget bisa balas dendam, biar dia rasain penderitaan Om Dewa sampai akhir hidupnya!" Seru Mbak Ayu mengepalkan tangannya.


Aku menggelengkan kepala, memperingatkan Mbak Ayu supaya tak larut dalam dendam. Karena dengan amarah yang tersimpan dalam hatinya, maka Calon Arang bisa kapan saja menguasai dirinya.


"Biar aja Tuhan yang mengatur segalanya Mbak. Suatu saat Tante Ajeng pasti dapat pembalasan kok. Lu orang baik Mbak, jangan jadi seperti Tante Ajeng yang penuh dendam." Kataku dengan menyunggingkan senyum.


"Tapi Ran, gue gedek banget lihat semuanya. Kapan selesainya masalah sekte itu, kalau Tante Ajeng sendiri belum dikalahin!"


Heni hanya diam menundukkan kepala mendengarkan keluhan Mbak Ayu. Aku sendiri mengerti jika ia sangat geram dengan semua perbuatan Tante Ajeng.


"Gue gak bilang lu gak boleh kalahin Tante Ajeng Mbak. Tapi niat lu aja yang salah! Lu bisa kasih pelajaran Tante Ajeng dan ngalahin dia. Tapi bukan untuk balas dendam, hanya buat Tante Ajeng jera dan gak akan salah gunain kesaktian sesatnya. Kalau bisa ambil semua kesaktiannya sekalian Mbak, biar sisanya di atur sama Tuhan. Karma pasti berjalan sesuai ketentuan kok."


Disela-sela obrolan itu tiba-tiba ponselku berdering. Nampak panggilan telepon dari Mas Adit. Ia memberikan kabar, jika anggotanya berhasil mengikuti Leni sampai ke tempat persembunyian mereka. Dan menurut pengakuan semua yang tertangkap, hanya sisa satu orang saja yang berhasil lolos.


"Dan kau tau siapa orangnya Ran?"


"Siapa Leni?"


"Bukan dia Rania... Tapi Tante Ajeng. Padahal aku sempat melihatnya dengan mata kepala ku sendiri. Tapi saat dia berlari ke sebuah ruangan kosong yang tak ada celah pintu atau jendela. Tiba-tiba dia bisa menghilang begitu saja, dan aku tak melihatnya dimana-mana!" Jelas Mas Adit diseberang telepon sana.


"Jadi hanya Leni yang tertangkap? Dan kau tak berhasil menangkap Tante Ajeng Mas?"


"Bukan hanya Leni, tapi semua anggota sekte yang muda-muda itu. Dan sebenarnya kalau Tante Ajeng gak menghilang, dia juga sudah bisa diproses di kantor polisi."


"Tunggu deh Mas! Kau benar-benar gak lihat Tante Ajeng keluar dari ruangan itu?"


"Jangan-jangan Tante Ajeng berubah jadi burung gagak hitam. Jadi Mas Adit gak tau kalau sebenarnya Tante Ajeng masih ada disana." Batin ku di dalam hati.


Nampak Mbak Ayu dan Heni memperhatikan ku, mereka bertanya dengan gestur tubuh. Tapi aku tak menjelaskan apa-apa, dan hanya mengatakan jika nanti aku akan menjelaskan semuanya.


"Mas di ruangan itu, apa kau melihat sesuatu?"


"Maksudnya lihat apa Ran?"


"Jadi begini Mas, Tante Ajeng itu bisa merubah wujudnya jadi burung gagak hitam. Tapi kalau ternyata dia bisa merusak wujud jadi lainnya, aku juga gak tau ya. Makanya aku tanga, apa kau melihat sesuatu disana?"


"Sepertinya kalau burung emang ada Ran. Tapi gak cuma satu, jadi yang mana Tante Ajeng nya?"


Aku mengacak rambut kasar, sepertinya Tante Ajeng lagi-lagi berhasil lolos dengan mengecoh polisi.


"Ya udah Mas, besok kita ketemuan aja ngobrol langsung biar jelas. Ribet kalau ngomong di telepon." Kataku sebelum mengakhiri panggilan telepon itu.


"Gimana Ran, ada kabar apa?"


"Iya Mbak, Pak Adit ngomong apa? Leni ketangkep ya?"


Mbak Ayu dan Heni sama-sama penasaran, mereka menunggu penjelasan ku dengan tak sabar. Aku mengatakan semua sama seperti yang dijelaskan Mas Adit. Nampak keduanya terkejut dengan membuka mulut nya lebar.


"Ish ngapain nganga gitu sih! Bauk tau gak!" Protes ku dengan menutup hidung.


"Jadi Tante Ajeng berhasil lolos lagi?" Tanya Mbak Ayu dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Terus Leni ketangkep atau enggak Mbak?" Imbuh Heni penasaran.


"Kan tadi udah gue jelasin, kalau semua anggota sekte yang muda-muda itu ketangkep. Kecuali pemimpin mereka, ya Tante Ajeng itu. Kayaknya dia merubah wujudnya, jadi Mas Adit gak tau!"


"Astaga... Kayaknya gue harus turun tangan sendiri deh Ran. Gue gak bisa lama-lama diemin Tante Ajeng, yang ada dia bisa merekrut anggota baru lagi. Terus tadi lu ada masalah apa pas pulang muka lu masam gitu?" Pungkas Mbak Ayu menatapku serius.


"Ya sama kayak lu lah Mbak. Kalau lu geram sama Tante Ajeng, gue geram sama si Wening. Besok dia mau pulang ke desa nya, katanya dia mau naklukin si merah. Supaya dia bisa mengendalikan merah, sesuai kemauan dia. Udah gitu dia mau menjalankan misinya balas dendam ke warga desa. Karena sepertinya Pakde nya udah tau kalau ada orang yang berusaha buat penangkal di desa gue. Sepertinya bakal terjadi perang di dimensi gaib antara Pak Jarwo dan Pakde nya si Wening. Dan kalau sampai itu terjadi, gue udah gak mungkin bisa bersikap tak tau apa-apa lagi di hadapan Wening. Karena dia pasti juga tau, kalau gue udah tau semuanya tentang dia."


"Ya udah lu lawan aja sekalian Ran! Kalau dia bisa berhasil naklukin si merah, gak usah gentar. Karena ada gue di samping lu, gue akan selalu bantu lu." Ucap Mbak Ayu dengan menepuk pundak ku.


"Sorry ya Mbak, gue gak bisa bantu kalian berdua. Gue gak punya kekuatan apapun yang bisa bantu kalian. Padahal kalian selalu baik dan bantuin gue." Kata Heni dengan wajah sendu.


"Lu salah kalau ngomong gitu Hen. Lu punya kekuatan doa. Jadi lu cukup bantu kita dengan doa aja. InsyaAllah akan lebih membantu buat kita, ya gak Mbak?"


Aku kembali diam dengan memikirkan langkah apa yang akan ku tempuh setelah ini. Karena jika jati diri Pak Jarwo sampai terungkap, maka aku harus siap berhadapan langsung dengan Wening sebagai seorang musuh besar. Semoga itu tak mempengaruhi keadaan di kantor. Karena rasanya tak akan nyaman lagi, jika aku harus berpartner dengan Wening ketika harus bertugas nanti.