
Pagi ini aku mendapatkan telepon dari Mbak Rika, ia menanyakan kapan aku kembali ke Jakarta. Menurutnya banyak pekerjaan yang terbengkalai karena kekurangan jurnalis. Aaah sebenarnya urusan disini masih belum selesai, karena Pak Warto masih belum menyerah.
"Nanti aku kabari lagi ya Mbak, masih ada yang harus ku selesaikan disini."
"Emangnya ada masalah apa sih Ran, kok kayaknya urgent banget?"
"Ada sedikit masalah yang belum selesai, kalau aku pergi sekarang takutnya ada apa-apa."
Mbak Rika mengeluh jika ia kesulitan menghubungi Wening. Karena Pak Bos besar juga menanyakan nya. Langsung saja aku jelaskan kondisi Wening saat ini, tentu saja Mbak Rika terkejut. Ia tak menyangka jika aku mengetahui kondisi Wening.
"Loh emangnya dia satu Desa sama lu? Kok bisa lu tau kalau Wening dirawat di rumah sakit?"
"Panjang Mbak ceritanya. Kapan-kapan aja gue ceritain. Kalau gue harus dipecat sih gak apa-apa lah Mbak, gue juga sadar terlalu banyak cuti. Daripada urusan pekerjaan jadi berantakan karena kekurangan personil."
"Itu sih diluar wewenang gue Ran, ntar gue sampaiin ke si Bos dulu. Biar dia aja yang ambil keputusan, kalau bisa lu buruan pulang ya. Kan sayang karir yang udah lu jalani selama ini."
"InsyaAllah Mbak, karena empat bulan lagi pun gue tetap harus cuti lagi. Apa mending gue resign aja ya?"
"Gila lu Ran! Gak ada resign segala! Ntar gue yang coba ngomong ke si Bos. Ya udah salam buat semuanya ya, gue mau siap-siap berangkat kerja nih. See you." Ucap Mbak Rika sebelum mengakhiri panggilan telepon.
Aku membantu Bude di dapur, ia sedang membuat masakan yang akan dibawa ke rumah sakit. Karena Pramono terbiasa makan masakan rumah, dan ia ingin mengantarkan hidangan untuk Mbok Genuk juga.
"Nanti kau ikut juga to Nduk, sekalian lihat kondisi Wening."
"Iya Bude, soalnya ada yang mau Rania sampaikan ke dia. Tadi Pak Bos nyariin dia, nanya kapan dia bisa berangkat kerja. Soalnya di kantor kekurangan jurnalis."
"Kau saja to Nduk yang pulang ke Jakarta. Kalau nunggu Wening kan gak tau kapan bisanya, lha wong dia masih dirawat gitu kok."
"Gimana ya Bude, Rania belum selesai bantuin Pak Jarwo. Takutnya Pak Warto bikin ulah lagi, karena Rania udah dapat petunjuk lewat mimpi. Dia jadi dendam sama Pak Jarwo, dan mau mengalahkannya biar gak ada penghalang yang ganggu rencana balas dendamnya."
Bude merangkul ku dan meminta ku untuk memasrahkan semuanya pada Allah. Karena menurutnya kejahatan tak akan bisa selamanya berkuasa. Kebaikan pastinakan selalu menang meski datang agak lambat.
"Disini kan sudah ada Pak Jarwo dan Pak Haji Nduk. Kalau kau terus disini bagaimana dengan pekerjaan mu disana, belum lagi kau pasti sudah merencanakan cuti empat bulan ke depan. Lebih baik kau pulang saja ke Jakarta, biar masalah Pak Warto diselesaikan orang-orang yang ada disini."
Bude terus membujuk ku, tapi entah kenapa aku enggan meninggalkan Desa ini. Apalagi setelah mendapatkan petunjuk melalui mimpi, pesan yang diberikan Eyang Buyut memberikan peringatan tentang keselamatan Pramono. Belum lagi keberadaan Wening yang kemungkinan bisa menjadi ancaman.
"Salah satu cucunya? Maksudnya cucu yang mana lagi Nduk?"
"Pramono itu cucu angkatnya Mbok Genuk Bude. Panjang lah ceritanya, makanya Rania ragu harus pulang ke Jakarta dalam waktu dekat ini. Kecuali Mbok Genuk tak akan berpaling dan mendukung Pak Warto. Nanti biar Rania ngomong langsung ke Mbok Genuk, supaya beliau waspada dan menjaga Pramono dengan baik."
Terdengar suara ketukan pintu dan ucapan salam dari luar sana. Aku bergegas ke depan dan membuka pintu. Nampo Mas Adit datang bersama Aldo.
"Loh ada apa Mas Adit kesini?"
"Gimana sih Rania... Pak Polisi ini kayaknya udah gak sabar mau ketemu kau. Dia dari tadi ngajakin kesini, katanya ada yang mau di omongin." Sahut Aldo terkekeh.
"Bukan begitu Ran, tadi si Aldo katanya mau kesini antar kalian ke rumah sakit. Katanya mau jenguk Wening sekalian jemput Wati sama suaminya. Makanya aku mau ikut pergi kesana, aku mau ngomong langsung sama Wening. Aku mau tanya kenapa dia dan Pakde nya jahat banget, sampai mereka ngebuat keluarga ku meninggal semua."
Aku menghembuskan nafas panjang, aku tak tau harus mengatakan apa pada Mas Adit. Karena sangat wajar jika dia merasa kesal dan marah. Tak berselang lama Bude datang dan mencairkan suasana.
"Nak Adit sini masuk, Aldo panasin mobilnya dulu sana. Nanti kau antarkan hasil pertanian ke tempat Pak Darso dulu ya."
"Bude apa kabarnya? Kemarin saya gak sempat nanya kabar gimana."
"Ya gini aja Nak Adit, wajar saja kalau kau lupa. Masalah mengenai keluarga mu, lebih baik jangan ditanyakan ke Wening Nak. Soalnya dia juga korban dari Pakde nya. Itu anak sepertinya dimanfaatkan buat balas dendam ke warga Desa. Setelah dia terluka dan kehilangan semua kekuatan, Pakde nya malah langsung meninggalkan nya. Sekarang dia udah gak bisa apa-apa tapi tetap saja angkuh sifatnya. Bukannya Bude mau melarang mu, mungkin kau bisa tanyakan lain waktu kalau situasinya sudah pas."
Mas Adit hanya menganggukkan kepala tanpa mengatakan apa-apa. Aku pun sependapat dengan Bude, karena situasinya memang sedang kurang pas. Lalu Mas Adit mengusulkan, jika dia saja yang bawa mobil ke rumah sakit supaya Aldo bisa melanjutkan pekerjaannya.
"Apa gak apa-apa kalau Nak Adit gak di rumah?"
"Gak apa-apa kok Bude, Ibu sama Bapak sudah saya beritau. Jadi kalau ada apa-apa biar langsung menghubungi saya saja."
Akhirnya aku dan Bude pergi di antarkan Mas Adit. Meski tak hafal jalan, Mas Adit dengan mudah mendengarkan petunjuk jalan dariku. Dan kami bisa sampai di rumah sakit lebih cepat dari dugaan. Sesampainya kami, nampak Pramono sedang bergelayut manja di pangkuan Mbok Genuk. Sementara Wati tak terlihat disana. Mbok Genuk terkejut melihat kedatangan kami, ia tercekat menatap Mas Adit. Tanpa ku duga, Mbok Genuk langsung mengucapkan permintaan maaf atas nama Wening. Ia mengakui jika cucunya itu mungkin saja terlibat atas semua yang terjadi pada keluarga Mas Adit. Tentu saja Mas Adit kebingungan, karena ia sama sekali tak tau menau apa maksud Mbok Genuk. Aku menjelaskan jika beliau itu adalah Neneknya Wening. Tapi Mas Adit sangat dewasa, dan meminta Mbok Genuk untuk tak meminta maaf padanya. Karena apapun yang terjadi masih belum jelas, dan Wening belum tentu terlibat atas kematian keluarganya. Aku pun meminta waktu untuk berbicara empat mata dengan Mbok Genuk. Aku harus memperingatkan nya, supaya ia tak sampai salah langkah dengan terperdaya bujukan Pak Warto untuk mendukungnya.
"Mana mungkin aku mendukung Warto Nduk. Kau tau aku sudah lama bertaubat, bahkan aku sampai bertentangan dengan Wening. Mana mungkin aku mendukungnya setelah apa yang doa lakukan pada cucuku." Ucap Mbok Genuk dengan mengaitkan kedua alis mata.
Ah bagaimana mungkin aku menjelaskan pada Mbok Genuk. Jika salah satu cucunya akan dijadikan tumbal untuk ratu buaya putih. Karena sebenarnya beliau pun bisa mengetahui ancaman ini, tapi karena fokusnya terpecah dengan masalah cucunya, Mbok Genuk jadi kurang peka dan tak bisa menyadari bahaya yang mengancam nyawa cucunya.