Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 281 RITUAL GAIB.


Dengan perasaan yang kalut kami semua kembali ke Desa. Sesampainya disana, Mbok Genuk menceritakan dengan detail apa saja yang terjadi di Rumah Sakit. Dan berdasarkan cerita Mbok Genuk, Pak Jarwo melakukan penelusuran melalui mata batinnya. Ia dapat melihat jika Warto mengutus makhluk gaib untuk menjemput Wening dan Pramono. Tapi kami masih belum mengerti apa tujuannya melakukan semua ini.


"Tunggu! Ada yang tidak beres ini Mbok!" Seru Pak Jarwo dengan membulatkan kedua mata.


Dengan panik Mbok Genuk terperangah, ia mengaitkan kedua alis mata nampak cemas. Kami semua hanya diam tak mengatakan apa-apa. Tak lama Pak Jarwo pun mengatakan sesuatu yang membuat ku terkejut.


"Makhluk gaib utusan Warto membawa keduanya diam-diam. Wening pun tak sadar telah dipindahkan ke dimensi gaib oleh sosok peliharaan Pakde nya. Nampaknya Warto punya niat lain yang belum terungkapkan. Dia benar-benar berniat menumbalkan seseorang. Mungkin bisa jadi Wening calon korban terkuat yang diminta siluman Ratu buaya putih." Jelas Pak Jarwo dengan peluh yang membasahi keningnya.


"Apa maksudmu Wo? Wening? Mana mungkin ia akan mengorbankan keponakannya sendiri? Bukankah Pramono juga di ambil, mungkinkah anak malang itu juga akan dijadikan tumbal?" Kata Mbok Genuk suaranya bergetar menahan kesedihan.


"Itu memang mungkin saja terjadi Mbok. Tapi untuk tumbal pertama, Siluman buaya putih itu tak akan mau diberikan tumbal seseorang yang seperti Pramono. Melainkan tumbal yang sempurna, seperti Wening itulah. Aku memang melihat kecenderungan jika Pramono juga akan menjadi tumbal. Tapi untuk korban pertama, mungkin Wening lah yang akan dikorbankan oleh Warto. Ia sudah kehilangan akal, dan dipenuhi keinginan untuk menjadi yang lebih unggul. Bukan hanya soal pembalasan dendam lagi, tapi ia tak terima dengan kekalahan nya. Satu pesanku Mbok, tolong jangan sampai kau berpaling untuk mendukungnya. Karena itu bisa menjadi alasan kekalahan ku untuk melindungi semua warga yang ada disini." Imbuh Pak Jarwo tertunduk.


"Kenapa kau juga mengatakan hal yang sama dengan Nduk Rania?" Tanya Mbok Genuk menatap kami semua.


Aku hanya menundukkan kepala seraya menghembuskan nafas panjang. Ku tatap wajah Pak Jarwo yang terlihat kalut, sepertinya ia enggan mengatakan kemungkinan yang akan terjadi. Tapi aku berusaha meyakinkan Pak Jarwo untuk memberikan peringatan itu pada Mbok Genuk supaya beliau waspada dan tak terpengaruh ucapan Pak Warto.


"Warto mungkin akan meminta mu untuk mendukungnya Mbok, dan sebagai gantinya ia mungkin akan melepaskan salah satunya. Tapi kalau dipikir secara rasional, Warto tak akan mungkin melepaskan Wening. Karena dia adalah calon tumbal yang tepat untuk Siluman pujaan nya." Jawab Pak Jarwo menyatukan kedua tangannya.


"Sebenarnya aku dapat memahami kekhawatiran kalian. Untuk lebih jelasnya, aku sudah pasrah dengan cucuku Wening. Karena yang terjadi sekarang adalah pilihan nya sendiri. Tugasku hanya untuk menjaga dan melindungi Pramono, anak malang yang tak memiliki siapapun lagi. Hanya dia yang paling menyayangi ku, meskipun Wening adalah cucu kandung ku. InsyaAllah aku tak akan goyah, meski ia berusaha menumbalkan Wening. Aku akan tetap menyelamatkan cucuku dengan caraku sendiri Wo, jadi kau tak perlu cemas lagi. Aku tak akan berpaling mendukungnya, meski Warto menggunakan Wening untuk mengancamku." Pungkas Mbok Genuk matanya nampak berkaca-kaca.


Aku menggenggam tangan Mbok Genuk untuk menguatkan hatinya. Sementara Wati terlihat berlinang air mata mendengar penjelasan Pak Jarwo tadi. Tak lama setelah itu Wati keluar rumah disusul Mas Adit yang kemungkinan ingin menenangkan nya.


"Aku tak apa-apa Nduk, pergilah susul sepupumu. Aku akan mencari jalan keluar bersama Jarwo, kami harus melakukan ritual untuk mendapatkan petunjuk dari Yang Maha Kuasa."


Aku menyusul Wati dan Mas Adit yang sedang duduk di teras depan. Setelah membujuk Wati untuk pulang, akhirnya ia mau mendengarkan ku dan akhirnya Mas Adit mengantarkan kami pulang. Begitu sampai di rumah, kami semua dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang tak kami sangka. Nampak Mbak Ayu sedang berkacak pinggang di depan pintu rumah, di samping nya ada Bude Walimah yang sudah pulang terlebih dulu. Wati langsung menghambur ke pelukan ibunya, ia menumpahkan semua duka nya. Mbak Ayu menaikan dagu nya, bertanya dengan gestur tubuh. Mas Adit pun mengalihkan pembicaraan, dan menjabat tangannya.


"Loh Adit. Ngapain lu ada disini?" Tanya Mbak Ayu membuka mulutnya lebar.


"Banyak hal yang terjadi belakangan ini, dan susah untuk dijelaskan. Ya gak Mas?" Jawabku menaikan alis mata.


Sengaja ku biarkan Wati bersama Bude Walimah, supaya ia bisa mencurahkan isi hatinya. Aku bersama Mbak Ayu dan Mas Adit memilih duduk di ruang tamu untuk menceritakan semua yang terjadi di Desa. Mbak Ayu terlihat sangat terkejut mengetahui fakta mengenai Wening dan Pakde nya. Ia tak menyangka jika salah satu korbannya adalah keluarga kandung Mas Adit.


"Sorry ya Dit gue gak tau, jadi gue gak ngelayat deh."


"Gak apa-apa kok Mbak, aku juga baru tau disini kalau yang meninggal itu keluarga kandung ku. Udahlah gak usah dibahas lagi, biar aku gak sedih terus. Btw Mbak Ayu datang kesini dalam rangka apa nih?" Kata Mas Adit mengalihkan pembicaraan.


"Gue hawatir sama Rania, dia gak ada kabar dari kemarin. Terakhir yang gue tau dia sempat ribut sama Wening. Dan gak taunya dia itu cucu dari pengasuh Pramono. Apa gak bahaya tuh Ran? Dari awal kan feeling gue emang agak lain sama Mbok Genuk."


"InsyaAllah gak apa-apa kok Mbak. Tadi gue udah bahas juga sama Pak Jarwo, soalnya sekarang Wening sama Pramono hilang. Mereka terancam akan ditumbalkan sama Pakde nya Wening sendiri."


"Seriusan Ran? Kasihan banget nasib si Wening, udah ikutan sesat kayak Pakde nya tapi masih aja mau ditumbalin. Belum lagi suaminya Wati yang polos itu, kita harus selamatin dia Ran."


"Seandainya aku bisa membantu, tapi urusan dengan dunia gaib diluar kemampuan ku." Celetuk Mas Adit seraya menghembuskan nafas panjang.


Setelah obrolan ini, Mas Adit memutuskan untuk pulang karena akan ada yasinan di rumahnya. Mbak Ayu masih duduk di ruang tamu, ia memejamkan kedua mata dengan duduk menyilangkan kakinya. Sepertinya ia sedang menggunakan kesaktiannya, jadi aku tak mau mengganggu nya dan memilih untuk mandi lalu shalat. Terdengar suara petir yang menggelegar diluar sana, nampak kilatan petir menyambar-nyambar. Fokusku pun teralihkan, ku pandang awan gelap di atas langit. Terlihat bayangan-bayangan putih beterbangan, seakan mereka sedang menuju ke suatu tempat yang tak ku tau dimana. Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan ritual yang dilakukan Pak Jarwo dan Mbok Genuk. Mungkinkah keduanya sudah menemukan dimana keberadaan Wening dan Pramono.