Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 283 PERTUKARAN JIWA.


Mbak Ayu menyarankan supaya kami berpencar, dan siapapun yang berhasil menemukan Wening ataupun Pramono harus membawa mereka keluar dari alam ini terlebih dulu. Akhirnya kami berpisah, dan mencari jalan masing-masing. Kami sudah menandai jalan keluar dari alam menyeramkan ini. Sampai pada suatu tempat, aku melihat seorang perempuan terlilit seekor ular putih yang sangat besar. Tubuh ular itu sangat besar dan menjulang tinggi hingga aku tak dapat menemukan dimana bagian kepalanya. Perempuan yang sedang terlilit itu nampak tak asing di mataku. Dan begitu ia mendongakkan kepalanya, barulah aku tau jika dia adalah Wening. Tapi tak ada ekspresi apapun yang ia tunjukkan, mungkinkah ia dalam keadaan tak sadarkan diri. Nampak kilatan cahaya dari atas langit gelap yang memantul di genangan air. Begitu ku dongakkan kepala ke atas, aku dapat melihat jika sedang terjadi pertarungan antara ular putih yang melilit tubuh Wening dengan sosok yang belum ku tau siapa. Mungkinkah mereka adalah Pak Jarwo dan Mbok Genuk.


"Wening bangunlah!" Kataku seraya berusaha melepaskan lilitan yang sangat erat di tubuhnya.


Tak ada jawaban darinya, ia seperti dalam pengaruh lain. Meski ia membuka matanya, tapi tatapannya kosong. Aku pun langsung menggunakan kekuatan ku, untuk membuatnya mendapat kesadaran kembali. Ku sentuh keningnya seraya membaca doa, sampai akhirnya perlahan Wening mendapatkan keadaannya. Ia tercekat melihat ku dengan rupa yang berbeda, ia menggelengkan kepala meminta ku menjauh darinya. Seketika ku gunakan bahasa batin dengan menyentuh telapak tangannya, begitu ia mengetahui jika aku adalah sosok yang membuatnya takut, ia pun berteriak mengancamku karena mengira jika aku lah yang berniat mencelakai nya. Tak perlu menunggu lama, ku berikan saja penglihatan gaib padanya supaya ia dapat melihat dengan jelas siapa yang sebenarnya berniat jahat padanya. Karena sekarang ia tak memiliki kesaktian apapun, sehingga Wening tak berdaya untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


"Lu jangan fitnah Pakde gue ya! Gue tau lu hanya mau adu domba gue kan hah?" Jerit Wening dengan mata berkaca-kaca.


Aku hanya menggelengkan kepala dan menunjuk ke atas langit gelap. Supaya Wening dapat melihat sendiri, jika kami benar-benar sedang berusaha menyelamatkan nya. Sampai akhirnya Pak Warto pun datang, dan membuat Wening bingung. Ia berusaha mengambil kepercayaan Wening dan mengatakan jika kami telah menjebaknya dan sengaja membawanya untuk ditumbalkan. Alih-alih percaya padaku, Wening kembali terperdaya dengan ucapan Pakde nya. Akhirnya aku terlibat pertarungan dengan Pak Warto, segera ku rubah wujudku seperti semula. Nampak Pak Warto menyeringai menatap ku angkuh, ia merasa menang hanya karena telah membuat Wening percaya padanya.


"Gue gak bakal punya kesempatan buat selamatin lu lagi, kalau lu gak mau percaya sama gue sekarang Wen!" Kataku memperingatkan nya.


"Jangan dengarkan dia Nduk! Kau lupa dengan tujuan awal kita, mungkin tadinya aku terjebak untuk bekerja sama dengan Siluman ular putih itu. Tapi jika kau harus mengorbankan diri untuk mendapatkan tujuan akhir sesuai harapan kita, kenapa kau tak mau melakukan pengorbanan ini Nduk?" Ucap Pak Warto dengan membulatkan kedua mata.


Nampak Wening menundukkan kepala tak berkata apa-apa. Sepertinya percuma usaha ku untuk menyelamatkannya, akhirnya aku mengurungkan niat untuk bertarung dengan Pak Warto. Tapi tiba-tiba Mbok Genuk melesat dari atas sana, ia menghampiri Wening dan berusaha sekuatnya melepaskan nya dari lilitan ular putih. Pak Warto tak tinggal diam dan ingin menyerang Mbok Genuk dari belakang, segera ku tangkis serangan itu dan menghempaskan tubuh Pak Warto ke sembarang tempat.


"Dasar gadis lancang! Berani sekali kau menghalangi ku!" Pak Warto mengeluarkan cambuk berduri dengan aura panas.


Whuuut...


Tubuhku terpelanting setelah terkena sabetan cambuk berduri yang dilayangkan Pak Warto ke arah ku. Sial, aku kurang fokus karena memperhatikan Mbok Genuk yang telah berhasil melepaskan Wening dari lilitan ekor ular. Tapi sesuatu diluar dugaan terjadi, nampak kepala ular itu melesat kebawah dan berusaha melilit tubuh Wening kembali. Mbok Genuk yang tak mau melihat cucunya menjadi korban akhirnya mendorong tubuhnya sekuat mungkin.


Bruugh.


Tubuh Wening terhempas jauh dan dengan cepat Pak Jarwo menangkapnya. Mbok Genuk pun mengorbankan diri terlilit tubuh Siluman ular putih. Dan meminta kami semua untuk pergi meninggalkan dimensi gaib.


"Rania gue udah berhasil nemuin Pramono!" Teriak Mbak Ayu dari kejauhan.


Kami semua menoleh ke arahnya, dan terlihat senyum lega Mbok Genuk karena kedua cucu yang disayangi nya berhasil selamat. Kini Mbok Genuk memberikan penawaran pada Siluman ular putih itu, jika ia bisa mendapatkan jiwanya dengan sukarela tanpa memberikan apapun pada Pak Warto. Asalkan kami semua dapat kembali ke alam kami dengan selamat. Sontak saja kami semua terkejut dan tidak terima dengan ucapan Mbok Genuk. Nampaknya Wening masih diam dengan menundukkan kepalanya. Apakah sampai disini ia masih percaya dengan Pakdenya, bahkan disaat Neneknya ingin mengorbankan diri untuk menyelamatkannya. Tanpa sadar air mata membasahi wahah, dan aku berteriak memaki Wening dengan segala ucapan kasar. Aku tak bisa menerima jika sampai Mbok Genuk mengorbankan dirinya dengan sia-sia. Sampai akhirnya Wening mendongakan kepala dengan berlinang air mata. Ia mengatakan kekecewaan nya pada Pak Warto, dan memohon pada Mbok Genuk untuk tak mengorbankan dirinya begitu saja.


"Biar saja Pakde yang harus membayar mahal atas semuanya. Kenapa bukan Pakde saja yang menjadi santapan Siluman ular putih! Tolong Mbah, jangan biarkan Wening kehilangan sosok Simbah lagi huhuhu." Ucap Wening bersimpuh dengan menyatukan kedua tangannya.


Pak Jarwo memberikan kode dengan bahasa batin, ia meminta Mbak Ayu membawa Pramono dan juga Wening dari alam ini terlebih dulu. Sementara aku harus tetap disini membantu Pak Jarwo menggagalkan niat Mbok Genuk untuk melakukan pengorbanan. Meski Mbak Ayu kesulitan mengajak Wening pergi, akhirnya aku dapat membantu membuatnya tertarik keluar dari dimensi gaib ini. Kini Pak Jarwo berusaha bernegosiasi terlebih dulu dengan Ratu siluman ular putih. Aku tak dapat mengetahui apa yang mereka bicarakan. Tapi sepertinya hasil dari pembicaraan itu membuat Pak Warto marah dan ketakutan. Ia berteriak lantang memaki Pak Jarwo. Aku hanya melihat raut wajah tenang yang ditunjukkan Pak Jarwo, entah sebenarnya apa yang ia rencanakan kali ini hingga membuat Pak Warto merasa ketakutan dan terintimidasi.