
"Kenapa sih Ran?" Tanya Mbak Ayu dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Sebenarnya aku ngerasa ada yang sedang ngawasin kita Mbak. Sejak perempuan ini bersama kita, kayak ada sosok gaib yang ngikutin pergerakan kita. Kayaknya ada sesuatu deh yang berhubungan dengannya." Jawabku seraya menatap wajah perempuan yang tak kami kenal.
"Mbak Ayu, coba saja kau cari tanda pengenal nya. Mungkin saja dia membawa sesuatu, jadi kita bisa tau identitas dirinya." Kata Mas Adit dibalik kemudinya.
Ku lihat Mbak Ayu sedang sibuk mencari sesuatu di tiap kantong baju dan celana yang dikenakan perempuan misterius itu. Tapi ia tak berhasil menemukan apapun, dan begitu kami sampai di Rumah sakit. Kami tak dapat memberikan keterangan apapun mengenai identitas korban. Tak lama setelahnya petugas kepolisian setempat datang, mereka menginterogasi Mas Adit dan menanyakan beberapa keterangan. Bahkan aku dan Mbak Ayu pun diminta memberikan kesaksian mengenai kronologi kecelakaan tadi. Kami menceritakan semuanya dengan detai, sesuai yang terjadi di TKP. Beruntung nya pasien tak terluka parah, jadi ia hanya mendapatkan beberapa jahitan di bagian kening kepalanya. Aku dan Mbak Ayu memutuskan menunda kepulangan kami, karena kami sama-sama penasaran dan ingin tau apa yang sebenarnya terjadi dengan perempuan tadi.
"Apakah kalian yang membawa pasien korban kecelakaan tadi?" Tanya seorang perawat yang membawa map berwarna putih.
"Oh iya Sus, ada apa ya?" Jawabku Mbak Ayu dengan pertanyaan.
Aku hanya diam memandang serius wajah sang perawat, yang mengatakan jika korban sudah sadar dan ingin berbicara dengan kami. Karena Mas Adit masih berbicara dengan beberapa petugas polisi, akhirnya aku dan Mbak Ayu memutuskan untuk berdua saja menemui korban. Nampaknya ia belum sadar sepenuhnya setelah mendapatkan bius dari Dokter. Perempuan itu berbaring di atas brangkar, dengan bagian kepala yang masih dibalut perban putih. Aku mengetuk pintu ruangan, ia masih berada di ruang isolasi seorang diri. Perempuan itu berusaha bangkit dengan posisi duduk, dengan cepet Mbak Ayu berlari membantunya.
"Pertama-tama saya mau minta maaf karena telah menghambat perjalanan kalian. Saya terpaksa melakukan itu, saya ketakutan dan gak dapat berpikir dengan benar." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia memperkenalkan diri dengan nama Sintia Lebdosari. Seorang mahasiswi dari kota kembang, yang mendapatkan tugas PKL dari kampus untuk membantu mengurus para lansia di sebuah Panti jompo di Jawa Tengah. Ia bersama beberapa mahasiswa lainnya terpaksa mengikuti perintah rektor, pergi bersama seorang wanita misterius yang tiba-tiba datang ke kampus mereka. Dan terjadi hal-hal mengerikan di Panti jompo tersebut. Sintia tak dapat menceritakan dengan jelas, apa saja yang terjadi disana. Karena tiap kali ia bercerita, ia selalu teringat wajah teman-temannya yang entah bagaimana kabarnya. Dan beruntungnya, Sintia dapat melarikan diri dari sana.
"Tolong Mbak... Saya takut. Ada sosok gaib yang mengejar saya, dan ingin membawa saya kembali ke Panti jompo itu. Saya gak mau kembali kesana lagi Mbak, tolong saya!" Pekiknya berderai air mata.
"Ma maaf Mbak... Sudah ada beberapa kendaraan yang melintas, tapi gak ada satupun yang berhenti buat menolong saya. Makanya saya terpaksa berlari ke depan mobil kalian. Dalam pikiran saya, lebih baik saya mati ditemukan manusia. Daripada saya harus mati di Panti jompo itu, dan gak akan pernah ada yang menemukan jasad saya." Jelasnya menangis terisak.
Mbak Ayu kembali menanyakan dimana letak Panti jompo yang Sintia maksudkan. Tapi Sintia tak dapat menjelaskan letaknya, karena ia melarikan diri dari tempat itu tanpa pernah menoleh ke belakang sama sekali. Ia hanya fokus memandang ke depan, untuk menemukan jalan utama. Entah sebenarnya ada apa dengan Panti jompo yang dimaksudnya. Beruntungnya Sintia masih mengingat nama tempat tersebut, Panti jompo Muara Hati. Begitulah dari keterangan nya, dan aku langsung melakukan pencarian melalui Google. Tapi aku tal dapat menemukan alamat dengan nama Panti jompo tersebut di sekitar lokasi ini.
"Apa kau yakin namanya Panti jompo Muara Hati? Karena gak ada nama Panti itu di sekitar sini."
"Dih Rania! Kalau emang ada hubungannya dengan hal gaib, gak bakalan ada dong nama Panti jompo itu di Google. Pasti itu lokasi juga gaib, gak bakal kebaca di Google Maps. Udahlah gak usah dicari lagi, yang penting kan lu udah bisa keluar dari tempat itu Sin. Lebih baik lu fokus buat memulihkan diri, dan kita bakal ngehubungin keluarga lu. Biar mereka tau kabar lu, dan jemput lu kesini." Ucap Mbak Ayu.
Begitu Sintia memberikan kontak keluarganya, Mbak Ayu segera menghubungi nya. Sementara aku masih duduk di samping Sintia, dan aku penasaran dengan apa saja yang ia alami selama berada di Panti jompo itu. Aku menjelaskan pada Sintia, jika aku dan Mbak Ayu sedikit memahami mengenai hal gaib. Dan aku meminta persetujuan nya untuk melihat apa saja yang dia alami selama disana.
"Mbak Rania serius bisa melihat apa yang aku alami disana?"
"InsyaAllah Sin, dengan ijin dari Allah. Jadi sekarang aku butuh bantuanmu buat melihat apa saja yang terjadi disana. Kau bisa kan flasback mengingat semuanya, aku akan coba buat melihat sendiri. Aku benar-benar penasaran tau gak."
"Ta tapi Mbak..." Ucapan Sintia tertahan dengan air mata yang kembali menetes.
Aku paham, jika Sintia mungkin akan kembali merasakan ketakutan yang luar biasa. Ketika ia harus membantu ku melihat kejadian yang sebenarnya. Karena hanya dengan bantuannya saja, aku bisa melihat sendiri Panti jompo yang ia ceritakan. Setelah membujuknya, aku meminta Sintia untuk memejamkan kedua mata dan flashback ke kejadian yang pernah ia alami. Kemudian aku langsung menggenggam tangan nya, dan aku fokus dengan bayangan hitam yang melingkupi mata batin ku. Petaka yang bermula ketika seorang wanita misterius datang ke sebuah kampus. Dengan menggunakan kesaktiannya, wanita tersebut membuat pihak Universitas memberikan ijin supaya beberapa mahasiswa yang diminta oleh wanita itu dapat membantu di sebuah Panti jompo yang ia kelola. Aku merasa aneh, karena wanita itu sudah membawa sebuah berkas yang berisikan nama-nama mahasiswa yang harus membantunya di Panti jompo. Entah darimana wanita itu mengetahui nama-nama mahasiswa yang ia maksudkan. Jumlahnya ada enam orang, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Mereka di panggil ke ruang rektor, dan terpaksa mengikuti instruksi wanita misterius tadi untuk berkumpul dalam waktu dua jam. Karena hari itu juga mereka bersama-sama akan berangkat ke Panti jompo yang ada di Jawa Tengah itu.