Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 33 MISTERI PENEMUAN MAYAT


"Memangnya Bude mimpi apa barusan? ini Bude minum dulu ya, supaya sedikit tenang." segera ku berikan segelas air putih, nampak tangan Bude bergetar ketika mengambil gelas dari tanganku.


Bude Walimah masih terguncang, ia hanya duduk dengan nafas yang berderu kencang. Lalu beliau mengatakan jika ada sosok menyeramkan yang sedang mengincar aku dan juga Wati. Tapi sosok itu tak dapat mencelakai ku begitu saja, dan akhirnya Wati yang menjadi korban.


"Wati dimangsa makhluk menyeramkan itu Nduk, Bude melihatnya membawa Wati pergi entah kemana. Dan terdengar suara jeritan Wati, Bude takut Wati dimangsa makhluk itu huhuhu." Bude kembali terisak dengan menggenggam tangan putrinya.


"Apa sebabnya makhluk itu mengincar kami Bude? kenapa Bude sampai setakut ini, percayalah Wati tidak akan kenapa-kenapa."


"Makhluk itu memperingatkan Bude untuk memberitahu kalian, supaya tak ikut campur dengan urusannya. Dan ia juga mengancam Bude, kalau ia akan mengambil salah satu dari kalian. Sebenarnya ada urusan apa kalian dengan makhluk itu Nduk? karena Bude yakin ini bukan hanya sekedar mimpi, ini semacam peringatan dari sosok itu. Jika memang kalian sedang mencari tahu sesuatu, dan berhubungan dengan makhluk menyeramkan itu. Jangan lanjutkan lagi penelusuran itu, Bude mohon jangan berurusan dengan hal-hal gaib lagi." pinta Bude Walimah terisak.


Nampak Wati ikut bersedih melihat Ibunya menangis, dan tanpa sadar ia menceritakan segalanya pada Bude Walimah. Aku berusaha menghentikan Wati untuk menceritakan segalanya, tapi Wati tak mau mendengarkan ku. Dengan gamblang ia mengatakan segalanya, mulai dari penemuan mayat tanpa kepala di gedung tua. Hingga penelusuran ku yang mencari tahu tentang penerus keturunan Leak itu.


"Dan Ibu tahu gak siapa penerus Leak itu? dia adalah Mbak Ayu, keponakan Om Dewa. Dan keluarga ini memang pengikut Leak itu."


Bude Walimah sangat terkejut dan membulatkan kedua matanya, ia tak menyangka dengan apa yang baru saja di dengarnya. Tiba-tiba beliau bangkit berdiri dan mengepak semua pakaiannya ke dalam tas besar.


"Ayo Nduk kemasi semua barang-barang kalian, kita harus segera pergi meninggalkan rumah ini sebelum sesuatu yang buruk terjadi." kata Bude Walimah dengan raut wajah cemas, tanpa sadar ia mengambil semua pakaian ku yang ada di lemari.


Segera ku peluk Bude untuk menenangkan nya, ku katakan pada beliau supaya tidak terlalu cemas. Karena kami belum tahu kebenarannya, dan aku memiliki janji pada almarhum Bu Wayan.


"Janji pada arwah? untuk apa kau menepatinya Nduk? keselamatan kalian lebih utama daripada segalanya, ayo cepat kemasi barang-barang kalian!" seru Bude semakin panik.


Aku meminta Wati untuk menenangkan Ibunya, karena bagaimanapun aku tak bisa meninggalkan rumah ini begitu saja. Tapi Wati sama ketakutan nya dengan Ibunya, dan ia ikut mengemasi pakaian nya. Aku tak dapat berkata apa-apa selain membiarkan mereka berkemas.


"Loh Nduk, kenapa kau malah diam saja disitu? apa kau tak ingin meninggalkan rumah ini bersama kami? nyawamu bisa dalam bahaya jika terus berada disini."


"Bukan itu Bude, kemanapun Rania pergi. Rania akan memikul beban tanggung jawab itu. Rania harus menghormati permintaan seseorang yang sudah tiada, kalau Rania pergi dari rumah ini, nyawa Mbak Ayu bisa dalam bahaya. Ada sesuatu yang belum terungkap, dan Rania gak bisa biarin Mbak Ayu jadi penerus ilmu Leak itu. Lagipula Rania sudah masuk terlalu dalam, dan hanya dengan bantuan Rania saja Mbak Ayu mungkin bisa diselamatkan. Jadi lebih baik Bude dan Wati kembali ke Desa saja, InsyaAllah Rania akan baik-baik saja disini." ku kecup punggung tangan Bude, memohon restu darinya supaya aku di ijinkan tetap berada disini.


"Entah apa yang kedua orang tuamu lakukan di masa lalu. Mereka memiliki anak yang baik dan pemberani sepertimu, meski kau tahu resiko apa yang akan kau terima. Kau bersikeras ingin membantu Dahayu." kini Bude memelukku dan membelai rambutku, ia terlihat pasrah tak bisa mengubah keputusan ku.


"Wati gak bisa ninggalin Rania sendirian Bu. Bagaimanapun Rania selalu ada disaat aku membutuhkannya, kali ini Wati ingin membantu Rania. Boleh kan Bu?"


Aku menolak tawaran Wati yang ingin membantuku, karena sejujurnya aku takut orang-orang yang ku sayangi terlibat dalam masalah gaib ini. Aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada mereka, tapi karena desakan Wati, Bude Walimah akhirnya luluh dan memberinya ijin tinggal bersamaku. Tanpa sadar kami tertidur dengan saling memeluk, ranjang yang sempit itu menjadi tempat ternyaman untuk kami terlelap.


Tanpa terasa pagi pun tiba, suara Adzan subuh membangunkan Bude. Ia langsung membangunkan ku dan juga Wati, kami bersiap shalat berjamaah. Setelah itu Bude mengeluarkan kembali beberapa pakaiannya, ia akan tinggal beberapa hari lagi. Karena ia ingin memastikan jika kami baik-baik saja di tempat ini. Disaat kami sedang mengobrol, terdengar suara jeritan perempuan. Jam di dinding masih menunjukkan pukul lima lebih sepuluh menit. Tak biasanya ada yang gaduh sepagi ini. Bude memutuskan keluar untuk melihat situasi, rupanya di halaman rumah utama ada keributan antara Om Dewa dan Tante Ajeng. Karena penasaran aku bergegas keluar, nampak sepasang suami istri itu sedang berdebat. Mbak Ayu berlari menghampiri keduanya berniat melerai perdebatan.


"Sudahlah Dahayu kau tak perlu ikut campur, urus saja mayat ibumu yang belum sempurna itu!" pekik Tante Ajeng dengan sorot mata tajam.


Plaaak.


Tamparan mendarat tepat di pipi Tante Ajeng, nampak Om Dewa sangat marah, ia memaki istrinya dengan sumpah serapah.


"Dasar ja*lang tutup mulutmu! kau tak bisa mengatakan itu pada Dahayu, selama ini kita sudah susah payah menutupi semuanya. Tapi kau dengan niat busukmu itu ingin mengorbankan." belum sempat Om Dewa melanjutkan ucapannya, Tante Ajeng mendorong tubuh Om Dewa dengan membulatkan kedua matanya.


"Mengorbankan apa katamu hah? kau lupa siapa yang mengorbankan siapa?" kata Tante Ajeng dengan nada suara bergetar.


Terlihat Agus berlari dan meminta Tante Ajeng mengontrol emosinya, karena sekarang semua anak kost terbangun dan menonton perdebatan mereka. Bude Walimah mengambil inisiatif, meminta semua anak kost kembali ke kamarnya masing-masing. Sedangkan Umi dan Janni masih bertahan di luar, dan bertanya padaku apa yang sebenarnya terjadi. Dan ku katakan pada mereka, jika aku juga tak tahu apa-apa. Karena tak mau semua orang mengetahui akar masalah perdebatan itu, Om Dewa meminta semua keluarga nya masuk ke rumah utama. Dari kejauhan terdengar Agus memanggil namaku, ia melambaikan tangannya memintaku untuk ikut bersama mereka ke dalam rumah utama.


Aah entah kenapa lagi-lagi aku merasa akan di interogasi. Terlihat wajah sendu Mbak Ayu, bulir-bulir bening menetes dari kedua matanya. Aku tak bisa membayangkan apa yang sedang dipikirkan Mbak Ayu saat ini, apalagi setelah ia mendengar Tante Ajeng menyebut Ibunya dengan kata-kata mayat.


Kini Om Dewa dan Tante Ajeng duduk di sofa ruang tamu dengan saling berjauhan. Agus memilih berafa disamping Tantenya, sementara Mbak Ayu masih berdiri di depan pintu dengan tatapan mata yang kosong. Sepertinya inilah saatnya kebenaran dibongkar di hadapan semuanya.


...Semoga Mbak Ayu bisa menerima kenyataan ya teman"....


...Bersambung. ...