
Pagi ini aku bangun agak kesiangan, tapi Bude ataupun Wati tak ada yang membangunkan ku. Mereka sedang sibuk di dapur, membuat makanan yang akan dibagikan ke beberapa warga yang sedang sakit. Menurut mereka warga yang sakit itu selalu berada di dalam satu rumah. Dan sekarang ada tiga rumah warga yang terdapat orang sakit. Meski mereka terlihat sakit demam biasa, tapi yang membuat aneh adalah demam yang di alami mereka bisa merenggut nyawa mereka. Beberapa ada yang bisa bertahan, tapi pasti dalam satu rumah selalu ada yang meninggal dunia. Karena itulah Wati jadi curiga, jika itu bukanlah sakit biasa.
"Jadi menurut mu gimana Ran, bener kan analisa ku?"
"Hmm gimana ya Wat, emang ada benarnya juga. Tapi aku tak bisa mengatakan jika itu bukan hal yang kebetulan. Jadi bingung juga ngomong nya gimana." Aku menghembuskan nafas panjang.
"Dih bauk jigong Raniaaaa! Mandi dulu sana gosok gigi!" Protes Wati seraya mendorong tubuh ku.
"Iya iya bawel banget sih, ngomong-ngomong suamimu dimana Wat?"
"Dia ikut Aldo ke sawah, Mas Pram itu seneng banget main di sawah. Ya lumayan lah bisa ngeringanin tugas ku dikit."
Aku masuk ke kamar mandi, lalu membersihkan diri. Setelah itu aku membantu Bude memasukan lauk pauk ke dalam rantang. Karena setelah ini Wati harus mengantarkan makanan itu ke tiga rumah warga.
"Maaf ya Rania gak bisa bantu Bude sama Wati, habis ini mau jenguk Pak Jarwo dulu. Biar semuanya cepet selesai, dan gak ada yang repot lagi."
"Iya Nduk pergilah, tapi jangan lupa makan dulu ya. Itu ada sayur asem sama pepes jamur kesukaan mu."
"Oke Bude, makasih ya udah repot-repot buatin pepes jamur kesukaan Rania." Kataku seraya memeluk Bude dari belakang.
Kemudian Wati pun menyusul kami, dan akhirnya kami bertiga saling memeluk. Astaga, aku sangat merindukan moment seperti ini. Karena setelah Mama Papa pindah, hanya Bude dan Wati saja yang ada di dekatku. Semoga aku bisa melindungi orang-orang yang ku sayangi ini ya Allah.
Kami semua meninggalkan rumah dengan tujuan berbeda. Aku berjalan santai melewati jalanan setapak yang kanan dan kirinya ditumbuhi ilalang. Nampak dua jalan setapak terbelah, di sisi kanan arah ke rumah Mbah Karto dan sisi kiri arah ke bekas rumah Mbah Wongso. Dari kejauhan nampak rumah itu sudah ditumbuhi tumbuhan liar. Karena penasaran, aku pun berjalan ke depan rumah itu. Di samping rumah ini juga ada dua rumah warga yang paling dekat. Tapi rumah warga itu dipagari tembok tinggi, sehingga aku tak melihat siapa yang tinggal disana. Dari depan rumah ini, nampak beberapa sosok beterbangan di atas apa rumah. Ada beberapa sosok yang duduk santai di blandar atas. Dan beberapa sosok lagi yang paling besar energinya, mereka sedang melotot ke arah ku. Entah kenapa rumah belas Mbah Wongso jadi sarang demit seperti ini. Meski rumah kosong memang identik dengan makhluk gaib, tapi sosok yang berada di rumah ini agak berbeda dengan energi mereka yang sangat besar. Ataukah mungkin mereka ini adalah peliharaan Mbah Wongso yang masih tertinggal di rumah ini, dan tak pernah pergi kemanapun menunggu Tuan mereka datang menjemput. Batin ku di dalam hati penuh tanya. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak ku dari belakang. Sontak saja aku terkejut, dengan memegangi dada ku.
"Oalah kau to Nduk Raniaa... Ngapain berdiri di depan sini, jangan lama-lama disini nanti kesambet lho!" Kata Pak Sapri menegurku.
"Eh gak akan kesambet lah Pak, Rania kan bisa lihat mereka. Bapak darimana mau kemana?"
Pertanyaan ku tak langsung dijawab Pak Sapri. Ia justru menarik tanganku meninggalkan pekarangan rumah bekas Mbah Wongso. Kemudian ia bercerita, jika sudah lama tak ada warga yang berani lewat di depan rumah itu kalau malam hari. Bahkan tetangga di sebelah rumah sampai membuat tembok tinggi supaya tak dapat melihat rumah itu. Karena sering ada warga yang kerasukan, setiap kali tak sengaja lewat ataupun melihat ke arah rumah itu. Makanya semua orang hanya berani lewat ketika siang hari saja. Kalau malam mereka terpaksa memutar jalan, untuk menghindari jalan di depan rumah angker Mbah Wongso.
"Ya udah saya pamit mau jenguk tetangga sebelah itu, kasihan satu rumah sakit semuanya. Untung saja ada Bude mu yang bantu kasih makan ke warga-warga yang sakit ini." Ucap Pak Sapri seraya melangkahkan kaki nya pergi.
Aku hanya menghembuskan nafas panjang, ternyata tetap masih ada masalah yang ditinggalkan almarhum Mbah Wongso meski ia telah tiada. Mungkin lebih baik aku meminta bantuan Pak Haji Faruk untuk melakukan pembersihan di rumah itu. Dan Pak Jarwo yang akan memindahkan semua makhluk gaib yang menghuni rumah kosong tersebut. Aku melanjutkan perjalanan ke rumah Mbah Karto, nampak istri Pak Jarwo sedang menyapu halaman rumah dan menyapaku. Ia mempersilahkan ku masuk ke dalam, menurutnya Pak Jarwo memang sudah menunggu ku. Dan begitu aku masuk ke dalam ruang tamu, aku kembali teringat semua kenangan bersama almarhum Mbah Karto. Tanpa sadar bulir-bulir bening membasahi pipi.
"Sudah hapus air matamu Nduk, InsyaAllah Mbah Karto sudah tenang di alam sana." Hibur istri Pak Jarwo seraya menepuk pundak ku, dan ku balas dengan anggukan kepala.
Kreeaaaat...
Terdengar derit suara pintu, tak lama Pak Jarwo keluar dari dalam sana. Ia berjalan tertatih dengan memegangi sebelah dada nya. Dan nampak senyum teduh menghiasi wajah lelahnya. Entah kenapa kali ini ia terlihat sangat kepayahan, meski sebenarnya mereka sama-sama saling melukai. Atau mungkinkah Pakde Wening memiliki kekuatan yang lebih besar dari Pak Jarwo. Karena jika sampai itu benar terjadi, artinya aku dan semua warga Desa sedang dalam bahaya besar.