
Aku melihat sesosok bayangan hitam melintas di pintu lift. Sudah ku duga, ada yang tidak beras dari tadi. Terdengar suara Agus dari gagang telepon, tapi aku memilih mengacuhkan nya.
Tap tap tap.
Terdengar suara langkah yang mendekat ke arahku. Nampak bayangan hitam besar sedang berjalan mendekat. Semakin lama sosoknya semakin terlihat jelas, sosok besar dengan taring panjang membentuk siluet tubuh Leak. Aku yakin jika itu memang bayangan Leak yang pernah ku lihat, entah apa tujuannya menampakkan diri sebatas bayangan saja. Kini ia tampak menari dengan gerakan kepala ke kanan dan kiri, lalu bayangan tangan besarnya seakan ingin menyentuhku. Dan benar saja siluet bayangan itu berdiri tepat di hadapanku, tangannya menyentuh kepalaku, ia memberikan penglihatan padaku. Gambaran-gambaran masa lalu seseorang yang sepertinya pernah ku lihat.
Flashback on.
Setelah ritual di dalam Goa selesai, satu persatu yang hadir disana meninggalkan tempat itu. Kini tinggal tiga orang saja yang masih bertahan disana. Mereka nampak duduk dengan menyatukan kedua tangan di depan dada. Sosok Leak yang berdiri di depan mereka sedang memberikan perintah pada salah satu perempuan yang tak asing bagiku, ia adalah perempuan yang memintaku mengikutinya sampai ke dalam Goa.
"Cepat ajarkan semua ritual persembahan pada anakmu, karena kelak ia yang akan mewarisi semua ilmumu. Adik lelaki mu tak kan sanggup meneruskan semua ritual persembahan, karena secara garis keturunan kau yang lebih berhak, dan secara tidak langsung hanya garis keturunanmu saja yang bisa meneruskan ilmumu." ucap Leak itu dengan suara beratnya.
"Tapi anakku masih kecil dan tak tau apa-apa, ia belum siap menerima ilmu yang terlalu besar. Aku hawatir jiwanya tak akan kuat mengamalkan semua ritual persembahan untukmu." jawab perempuan itu dengan menundukkan kepalanya.
"Baiklah ku berikan waktu sampai anak itu berusia dua belas tahun, ajarkan semua padanya. Karena disaat usianya yang ke tujuh belas, ia harus mengabdi padaku. Garis keturunanmu harus menggantikan posisimu sebagai pemuas hasratku, jika tidak kau lakukan semua perintah ku, maka akan ku habisi semua keluarga mu." Leak itu memandang mereka dengan kedua bola mata yang mencuat keluar, tampak menjijikkan dan juga menyeramkan.
Lalu sepasang suami istri yang telah menyerahkan bayi mereka berkata, jika mereka tak ada hubungannya dengan perjanjian kakak perempuan mereka. Karena keduanya sudah menyerahkan keturunan mereka sebagai penebus jiwa. Dan sudah seharusnya mereka terlepas dari ancaman Leak itu.
"Bayimu masih hidup dalam dunia manusia, hanya dalam hitungan hari saja ia akan tiada. Dan imbalanmu sudah ku berikan dalam bentuk harta, sebagai bentuk pertukaran jiwa kalian." kata Leak itu sambil tertawa lepas, nampak air liurnya menyembur karena mulutnya yang selebar wajahnya terbuka.
Sepasang suami istri itu nampak menundukkan kepala, bulir-bulir bening dari matanya menetes. Keduanya nampak kehilangan, tapi tak bisa berbuat apa-apa.
"Dan kau Wayan, jangan pernah terlintas di pikiranmu untuk menyelesaikan perjanjian yang sudah turun temurun di keluarga mu. Jika tidak nyawa semua orang yang kau kenal tak akan ku ampuni, bahkan meski ajal sudah menjemputmu!"
Flashback off.
Bruugh.
Aku jatuh pingsan setelah melihat penggalan kisah itu. Tubuhku terasa lemas dan tak bertenaga. Samar-samar aku mendengar suara seseorang yang berteriak memanggil namaku. Ketika aku membuka mataku, aku sudah berada di ruang Meeting Kantor. Padahal tadi aku masih di depan meja Agus, entah kenapa aku bisa disini. Nampak Mbak Rika sedang mengolesi hidungku dengan minyak kayu putih. Ia berkata jika Agus terburu-buru datang ke kantor, setelah kau berteriak-teriak dan tak menjawab ucapannya di telepon.
"Sebenarnya lu kenapa sih Ran? kata Agus lu udah dua kali seperti ini." Mbak Rika menatapku dengan raut wajah cemas.
Aku bangkit duduk dan bersandar pada tembok, ku pandangi sekitar hanya ada Mbak Rika disini. Lalu dimana Agus, jika ia memang datang untuk menolongku.
"Dimana Agus Mbak? lu bilang dia yang tolongin gue."
"Agus gue suruh bikinin teh hangat, lu kan tau jam segini udah gak ada cleaning service. Lagian kenapa lu belum pulang sih?" tanya Mbak Rika dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"What! Mereka saha?" seru Mbak Rika.
"Mereka yang tak kasat mata Mbak."
Pintu ruangan terbuka, nampak Agus membawa secangkir teh untukku. Sorot mata Agus terlihat aneh ketika menatapku, ia tersenyum dari sudut bibirnya.
"Kenapa Agus seperti meledekku ya? apa ia tahu sesuatu." batinku di dalam hati curiga.
"Lain kali jangan ngelamun kalau kerja sampai malam. Tadi gue panggil-panggil lu di telepon, tapi lu malah gak nyahutin panggilan gue. Gak berapa lama lu teriak gak karuan, karena hawatir ada apa-apa sama lu, akhirnya gue samperin lu ke kantor. Dan bener aja lu udah tergeletak pingsan di samping meja kerja gue. Jadinya gue panggil Pak Satpam yang sedang ngobrol sama Mbak Rika di Lobby. Ya kita sama-sama bawa lu ke ruang meeting, biar lu bisa rebahan sampai sadar." jelas Agus yang masih memandang ku dengan aneh.
Aku mencoba mengingat kembali penglihatan tadi. Leak tadi memanggil perempuan tadi dengan sebutan Wayan, mungkinkah itu Bu Wayan Sukmawati ketika ia masih muda dulu. Dan sepasang suami istri itu adalah Pak Ketut Dewangga dan istrinya. Jadi mereka menumbalkan keturunannya supaya terlepas dari perjanjian dengan Leak itu, dan sebagai imbalannya mereka mendptkan harta. Ya, aku masih sibuk dengan alam bawah sadarku sendiri, pikiranku terfokus pada kisah masa lalu itu.
"Heh Ran! lu ngapain ngelamun? nih teh nya diminum dulu, ntar lu bareng Agus aja ya." ucap Mbak Rika dengan menepuk lenganku.
Aku menaikan kepala melihat Agus yang sedang memainkan ponselnya. Entah kenapa perasaan ku jadi tak enak melihat gelagat Agus.
"Gak usah deh Mbak, gue gak enak ngerepotin Agus terus. Biar gue naik ojol aja, lagian besok Agus ada wawancara penting, biar dia langsung pulang dan istirahat aja."
"Eh gak papa kok Ran, gue seneng bisa bantuin lu. Biar sekalian gue anter pulang aja."
"Gak usah Gus, lagian gue mau mampir dulu ke Kantor Polisi ketemu Mas Adit." kataku membohonginya, entah untuk apa aku mengatakan itu. Yang jelas aku hanya tak ingin bersama Agus malam ini, karena perasaan ku tak enak padanya.
Setelah merasa agak enakan, aku segera memesan ojek online. Mbak Rika yang kost nya hanya di belakang kantor, memilih menemani ku sampai Driver ojol tiba. Tiba-tiba Agus menghentikan sepeda motornya, ia bertanya padaku tentang acara presscon besok.
"Besok lu ikut gue ngeliput berita gak?"
"Gue lihat besok ya Gus, soalnya gue juga mau dapetin informasi lain dari Mas Adit. Karena kemarin malam jenazah itu udah dikebumikan, jadi gue mau dapet info juga darinya."
Setelah itu Agus mengendarai kendaraan nya, tak lama Driver ojol pun tiba. Aku berpamitan pada Mbak Rika, dan bergegas duduk dengan mengenakan helm. Driver ojol memacu kendaraannya, dan dari belakang nampak bayangan sepeda motor seakan mengikuti ku. Ketika ojol yang ku tumpangi berhenti di lampu merah, seseorang yang mengikuti ku berhenti di kejauhan. Jangan-jangan itu memang Agus, apa dia punya niat buruk padaku? batinku resah dengan peluh yang membasahi kening.
...Apakah Agus ada hubungannya dengan sosok Leak itu? gimana pendapat kalian? tulis di kolom komentar ya. ...
...Bersambung. ...