Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 285 KESEMPATAN TERAKHIR.


Wening jatuh tersungkur di lantai, ia kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya sendiri. Mbak Ayu membantu nya berdiri, dan mengajaknya kembali ke kamarnya. Aku pun tak tau harus berbuat apa, karena energiku juga sudah terlalu banyak terkuras. Aku tak mungkin kembali lagi ke alam itu untuk mencari Mbok Genuk. Akhirnya aku menghubungi Pak Jarwo, dan bertanya apakah ada solusi lain untuk bisa membawa Mbok Genuk kembali.


"Hanya kemauan dari Mbok Genuk sendiri Nduk yang dapat membawanya kembali. Karena dia berada di alam itu juga atas keinginan nya sendiri, kita tak dapat berbuat banyak." Jelas Pak Jarwo di seberang telepon sana.


Karena tak mendapat jawaban yang ku inginkan, aku pun memilih mengakhiri panggilan telepon. Tanpa sadar aku terpejam sampai pagi. Aku terbangun karena mendengar suara adzan subuh. Aku memilih mandi dan melakukan ibadah. Dan setelah itu, aku membantu Bude di dapur. Saat semua orang sudah terbangun, barulah terdengar keributan. Mbak Ayu yang tidur satu kamar bersama Wening, tak melihatnya ada di kamar. Dan setahu ku tak ada seorang pun yang keluar rumah sejak subuh tadi. Lantas kemana Wening pergi. Jangan-jangan dia pergi mencari Mbok Genuk. Akhirnya aku bersama Mbak Ayu pergi ke rumah Pak Jarwo. Benar saja firasat ku, aku melihat Pak Jarwo langsung menganggukkan kepala sebelum aku memberikan pertanyaan mengenai Wening.


"Aku terpaksa menuruti keinginan nya Nduk. Wening memaksa ingin membawa jiwa Simbah nya kembali, meski ia tak memiliki kesaktian sama sekali. Dan aku sudah memberitahu resiko yang mungkin terjadi jika ia menyusul ke alam itu. Kita tak bisa mencampuri urusannya lagi, biar saja Wening menyelesaikan masalah nya sendiri. Itu juga sebagian takdir yang harus ia jalani. Jika masih ada sedikit kasih sayang di dalam hatinya untuk Simbah nya."


"Tapi Pak, Wening tak memiliki kekuatan apapun. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya sebelum dia berhasil menemukan Mbok Genuk?"


"Aku sudah memberinya bekal untuk berjaga diri, meski tak banyak yang bisa ku berikan padanya, setidaknya itu bisa sedikit membantunya."


"Bukankah itu tak bisa melindunginya dari Ratu siluman itu Pak? Karena sebenarnya bukan hanya tumbal yang diinginkan, tapi juga semacam timbal balik karena dulu Wening pernah diberikan ilmu?"


Pak Jarwo hanya menganggukkan kepala tanpa berkata apa-apa. Mbak Ayu pun langsung menepuk pundak ku, ia meminta ku untuk duduk supaya lebih tenang. Karena sesuai kata Pak Jarwo jika sampai subuh Mbok Genuk belum kembali akan sulit membawanya kembali.


"Waktu mereka tak lama Nduk, jika sampai menjelang petang tak ada tanda-tanda keduanya kembali. Itu artinya jiwa mereka selamanya akan berada di alam sana, dan menjadi budak abadi sang Ratu siluman ular putih. Karena aku merasa jika Wening tak memiliki kesempatan untuk kembali, sementara Mbok Genuk tak akan rela meninggalkan cucunya sendirian. Kita harus bersiap menerima kemungkinan yang terburuk."


"Maksud Pak Jarwo keduanya meninggal dunia? Dan kita harus mengurus jasadnya?" Celetuk Mbak Ayu dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Itu kemungkinan terburuknya, kita harus mempersiapkan diri Nduk."


Deegh!


"Tenang Nduk, kau tak sendirian. Ada kami yang InsyaAllah bisa membantu masalah yang sedang kau cemaskan." Ucap Pak Jarwo seraya menghembuskan nafas panjang.


Aku tau, mereka memang pasti akan membantu. Tapi tetap saja, kehadiran Mbok Genuk sangat dibutuhkan oleh Pramono. Dan jika sampai kemungkinan terburuk itu terjadi, Wati lah yang akan benar-benar kesusahan menjaga dan merawat Pramono seorang diri.


Waktu berlalu dengan cepat, senja pun mulai memancarkan warna jingga. Adzan magrib juga sudah mulai berkumandang, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari sebuah kamar. Dengan cepat Pak Jarwo bangkit berdiri, dan berlari ke dalam. Nampak tubuh Mbok Genuk dan Wening terbujur di atas dipan kayu. Tubuh keduanya mengejang, dan terdengar suara melengking dari mulut keduanya. Tapi yang lebih parah adalah tubuh Wening yang sudah mulai kaku di bagian bawahnya. Aku terisak seraya memegangi tubuhnya yang hanya bergerak di bagian atas saja. Pak Jarwo meminta ku untuk membaca doa, supaya jiwa Wening baik-baik saja dimanapun berada. Nampak Pak Jarwo meminta bantuan Mbak Ayu untuk memegangi tubuh tua Mbok Genuk. Entah apa yang Pak Jarwo coba lakukan, karena ia hanya melakukan sesuatu untuk Mbok Genuk. Sepertinya Pak Jarwo masih berharap supaya Mbok Genuk mau kembali ke alam manusia meski tanpa bisa menyelamatkan cucunya. Tak ku perhatikan lagi apa yang Pak Jarwo dan Mbak Ayu lakukan. Karena fokus ku teralihkan pada tubuh Wening yang berguncang hebat. Meski kedua matanya terpejam, mulutnya meracau tak jelas. Dan sesekali tangannya mencengkeram kuat, membuat pergelangan tangan ku terluka. Sepertinya ajal benar-benar ingin menjemputnya. Dengan berlinang air mata, ku bisikan syahadat di telinga Wening. Entah ia bisa mendengarnya atau tidak, setidaknya kewajiban ku membimbing nya dengan kata itu. Semakin sering ku ucapkan syahadat di telinganya, tubuh Wening semakin mengejang lebih kuat lagi. Dan tiba-tiba ia berhenti bergerak, dan tubuhnya terkulai lemas. Sama dengan berhentinya gerakan tubuh Wening, aku pun mulai berhenti membacakan doa. Nafas ku berderu kencang, fikiran ku kacau membayangkan kemungkinan buruk yang terjadi saat ini. Aku tak menoleh ke arah lain selain fokus menatap tubuh Wening.


"Ran sadar Ran!" Jerit suara seseorang dengan mengguncangkan tubuh ku.


Mbak Ayu, dia sedang memapahku keluar. Tubuh ku sangat lemas hingga aku tak mampu berjalan seorang diri. Aku duduk dengan peluh yang membasahi kening.


"Mbak! Gimana keadaan Wening dan Mbok Genuk?" Tanya ku seraya menarik tangan Mbak Ayu.


Mbak Ayu hanya menggelengkan kepala seraya menghembuskan nafas panjang. Apakah itu artinya keduanya tak terselamatkan. Tidak! Aku tak boleh membiarkan Mbok Genuk pergi begitu saja.


"Wening sudah meninggal saat lu terusan bacain doa tadi. Tapi Mbok Genuk masih tetap bernafas, meski Pak Jarwo gak yakin kalau beliau mau kembali lagi. Sekarang gue harus minta bantuan tetangga sekitar, buat ngurus jasadnya Wening. Lu tunggu disini dulu ya, jangan kemana-mana. Kayaknya energi lu benar-benar terkuras habis. Gue gak mau lu sampai kenapa-napa Ran." Jelas Mbak Ayu dengan wajah cemas.


Deegh!


Inalillahi wainnailaihi raji'un. Apakah Wening telah benar-benar tiada ya Allah. Beruntung nya dia sudah bertaubat sebelum ajal menjemputnya, meski aku tak yakin jika jiwa nya akan beristirahat dengan tenang atau tidak.