
Perjalanan kembali ke Desa semakin terasa lama, karena aku satu mobil dengan Wening. Ia dari tadi terus sibuk dengan ponselnya, mungkin dia sedang sibuk memikirkan cara untuk kembali ke Desa nya. Karena ia tak ingin ketahuan oleh ku, kalau ternyata dia tinggal di satu kecamatan dengan Desa Rawa Belatung. Tak ku hiraukan dia dan lagi, dan ku senderkan kepala di jok untuk mengistirahatkan tubuhku. Samar-samar ku dengar suara adzan maghrib, pak supir kembali menghentikan mobil di rest area. Lalu beberapa penumpang mulai turun untuk makan dan shalat.
"Lu gak turun Wen?"
"Gue gak lapar Ran, lu turun aja kalau lapar."
"Gue juga gak lapar, tapi gue mau shalat. Lu gak mau bareng gue shalat?"
Hening. Tak ada jawaban darinya. Wening malah terlihat canggung mendengar pertanyaan ku.
"Oh lu gak shalat ya. Sorry gue gak tau agama lu apa, main gue ajakin shalat aja. Ya udah gue turun dulu ya."
Aku berjalan menuju mushola, dan setelah melakukan shalat. Aku tak langsung masuk ke dalam mobil. Aku masih duduk di depan toko yang menjual souvenir. Aku membeli sebotol air mineral, dan tak sengaja aku melihat sosok Bening masuk ke dalam mobil travel. Sepertinya ia sedang berkomunikasi dengan kembaran nya. Entah apa yang mereka bicarakan, karena tak lama sosok Bening keluar menembus mobil itu. Ia melesat pergi entah kemana. Karena penasaran aku pergi ke belakang toko, dan berkomunikasi dengan Bening melalui batin. Dari penjelasan nya, ia mengatakan jika Wening sangat marah padanya. Karena sekarang ia sering meninggalkan Wening sendirian. Padahal Pakde mereka sedang terluka, dan saat ini Wening panik tak tau siapa yang telah melukai Pakde mereka itu.
"*Kita hanya bisa berkomunikasi lewat batin untuk sementara, aku tak mau Wening atau Pakde curiga jika aku sering menghilang. Mereka tak ingin melihatku kembali ke alam keabadian. Entah rasa sayang atau keegoisan yang membuat mereka menahan jiwa ku terlalu lama di alam fana ini." Jelas Bening melalui batin.
"Baiklah, kita berkomunikasi begini saja. Aku juga tak mau membahayakan jiwa mu. Aku juga tak tau apa tujuan keluarga mu menahan jiwamu. Kau bisa mengambil kesimpulan sendiri, aku tak mau meracuni pikiran mu dengan pendapat ku Bening. InsyaAllah kami akan membantu mu kembali ke alam mu, bersabarlah." Kataku sebelum mengakhiri komunikasi kami*.
Degh.
Aku sangat terkejut, karena begitu aku membuka kedua mata. Ada Wening yang sedang memperhatikan ku, ia berdiri tak jauh dariku. Sontak saja jantung ku berdetak tak beraturan. Untung saja ia tak melihat ku berkomunikasi langsung dengan saudara kembarnya. Jika tidak semua akan semakin bahaya untuk jiwa Bening.
"Lu ngapain disitu Ran?" Tanya Wening seraya berjalan ke arah ku.
"Oh gue lagi cari udara segar aja kok, tadi perut gue kembung kayak mau buang angin gitu. Makanya gue kentut disini hehehe, gak enak disana banyak orang takutnya kentut gue bauk lagi!" Jawabku asal bicara.
Seketika Wening menghentikan langkahnya. Ia menutupi hidung dengan tangan nya.
"Dih jorok lu Ran! Kenapa gak bilang kalau kentut lu bauk!"
"Mana ada jorok ish! Gue bilang kan takutnya bauk, tapi gak bauk kok beneran deh." Kataku terbahak.
"Ya udah deh, buruan masuk udah mau jalan lagi tuh. Udah hampir tiba ke tempat tujuan juga kan, cuma kurang beberapa jam aja." Pungkas Wening seraya melangkahkan kakinya.
"Ya darimana gue tau Ran! Secara mobil travel ini tujuan terakhirnya di Biro travelnya. Kan emang tinggal beberapa jam lagi doang, gimana sih lu!"
"Jadi lu beneran gak mau di antar sampai ke rumah aja biar gak repot?"
Bola mata Wening bergerak ke kanan kiri, nampaknya ia tak nyaman mendengar pertanyaan ku.
"Bukannya gue gak mau, tapi kan mobilnya gak lewat sampai Desa gue. Gue harus transit lagi soalnya."
Aku tersenyum melalui sudut bibir mendengar perkataan nya. Wening pikir aku tak tau dimana letak Desa nya. Dan dia juga tak mau mengambil resiko, jika aku sampai tau dimana tempat tinggalnya. Dasar bodoh, padahal aku sudah tau semua tentangnya. Terdengar klakson mobil, Pak Supir melambaikan tangannya pada kami supaya kami segera masuk ke dalam mobil.
"Maaf ya Pak kami lama." Kataku seraya duduk dan menyenderkan kepala.
Nampak Wening terus sibuk dengan ponselnya. Pasti ia sedang mencari cara, bagaimana caranya dia bisa sampai ke Desa nya. Sampai akhirnya mobil travel ini memasuki sebuah Desa yang nampak sepi, padahal sekarang masih jam delapan malam. Pak Supir menepikan mobilnya, dan bertanya ke semua penumpang. Siapakah yang turun di Desa Watu Pocong. Karena di data penumpang, ada yang tujuannya turun di Desa ini. Tapi tak ada siapapun yang menjawab, semua saling menoleh satu sama lain. Sementara Wening tetap sibuk dengan ponselnya. Karena tak ada penumpang yang ingin turun, akhirnya supir itu memutar kembali dan melanjutkan perjalanannya. Untuk mengantarkan satu persatu penumpang lainnya. Tapi dari belakang mobil ini ada seseorang yang mengendarai sepeda motornya, seakan mengikuti mobil travel ini. Atau jangan-jangan dia adalah orang suruhan Wening. Tapi untuk apa orang itu mengikuti mobil travel ini, aku jadi penasaran dan melihat ke arah belakang terus menerus.
"Lu lihat apa Ran?" Tanya Wening yang ternyata melihat ke arah yang sama.
"Itu ada orang yang ngikutin mobil ini, takutnya orang yang berniat jahat sih. Soalnya kan Desa ini sepi banget jadi cemas gue." Jawabku dengan melirik ke arahnya.
"Ah perasaan lu aja kali. Mungkin itu warga sekitar yang mau pergi keluar Desa, tapi kehalang sama body mobil ini."
"Mungkin sih iya, karena masuk akal juga sih. Jalanan nya sempit, dan tuh motor gak bisa dahuluin mobil ini. Moga aja lu bener ya Wen, itu bukan orang jahat."
Wening hanya menganggukkan kepala, lalu kembali sibuk dengan ponselnya. Tanpa sengaja aku kembali menoleh ke belakang. Dan pengendara motor itu menepikan motor nya, dan mobil travel ini semakin menjauh sampai aku tak dapat melihat pengendara motor itu lagi. Tak lama setelah itu Wening sudah tak memainkan ponselnya, dan ia membahas seseorang yang di belakang kami tadi.
"Tuh udah gak ada kan Ran. Lu negatif thinking aja sih! Bentar lagi juga kita udah sampai jalan raya, terus lu mau turun dimana?"
"Hafal banget sih kalau mobil ini udah mau sampai jalan raya? Gue turun nya masih agak jauh lah, meski Desa ini masih satu kecamatan dengan Desa gue."
"Gue bukannya hafal, tapi inget aja pas jalan masuk sini tadi. Justru lu tau darimana Desa ini masih satu kecamatan dengan Desa lu?"
Aku mengangkat bahu seraya tersenyum dari sudut bibir. Tak ku jelaskan apapun pada Wening, pasti saat ini ia sedang bertanya-tanya kenapa aku tau jika Desa nya masih berada satu kecamatan dengan Desa Rawa Belatung. Mungkin dia pikir aku bodoh dan tak tau apa-apa. Tapi aku tetap harus waspada, karena aku sangat yakin orang yang mengendarai sepeda motor tadi adalah orang suruhan Wening. Tapi untuk apa orang itu mengikuti mobil ini. Apakah orang itu adalah Pakde nya?