
Dalam perjalanan pulang, aku sengaja turun di depan komplek. Karena aku mau membeli nasi goreng spesial Bang Tigor. Seharian sibuk terus sampai aku lupa baru makan sekali saja hari ini. Bang Tigor sedang memasak pesanan para pembeli, ia menggunakan arang bakar untuk memasak. Sehingga menambah cita rasa nasi goreng nya. Tapi ekor mata ku menangkap sekelebatan bayangan-bayangan yang beterbangan di atas udara. Karena kurang nya fokus, aku tak bisa melihat dengan jelas sosok apa yang ada di atas langit sana. Ketika aku sedang berusaha memfokuskan pikiran dengan menggenggam tasbih pemberian Eyang Buyut, aku mendengar Bang Tigor mengatakan sesuatu yang mengejutkan ku. Katanya sudah dua malam ini, ada dua demit penari yang beradu kekuatan.
"Itu kan yang ingin kau cari tau? Kalau demit yang pakai selendang merah itu sudah lama gentayangan di daerah ini. Tapi yang satu lagi, aku baru lihat beberapa kali aja itu lah." Ucap Bang Tigor dengan nada suara Batak.
"Wah makasi ya Bang info nya, saya titip nasi goreng nya dulu. Nanti saya datang lagi, oke?" Kata ku seraya berlari ke tanah lapang yang agak sepi.
Kali ini aku benar-benar memfokuskan pikiran dan berpasrah diri pada Yang Maha Kuasa. Aku duduk dan memejamkan kedua mata, dengan menyilangkan kedua kaki lalu berdoa seraya memegang tasbih di tangan. Entah apa yang terjadi, karena aku merasakan tubuh ku terasa sangat ringan. Sampai aku tak merasakan beban di pundak, dan ketika aku membuka kedua mata. Nampak tubuh ku berada di bawah sana. Loh aku terbang melayang di atas udara, ternyata aku sedang melepas jiwa dari raga. Dan nampak cahaya putih yang menyilaukan melingkar di sekeliling tubuh ku. Apakah kekuatan terpendam ku sudah kembali lagi. Alhamdulillah ya Allah, karena sangat terkejut aku sedikit melupakan kedua sosok yang sedang beradu kekuatan itu. Narsih dan Risma sedang saling melawan, nampaknya Risma telah membuat amarah Narsih bangkit. Karena mengetahui fakta jika Simbah nya meninggal karena dibunuh Risma. Aku melesat ke arah keduanya sedang melayang. Aku meminta Narsih untuk menghentikan perbuatan nya. Karena sebenarnya, ia sudah bisa kembali ke alam keabadian jika ia bisa menerima segalanya.
"Hentikan Narsih, ingatlah semua kebaikan mu semasa kau hidup. Kau tak bisa mengikuti naluri untuk membalas dendam. Risma adalah sosok yang jahat, dia tak punya kesempatan untuk pergi ke alam keabadian. Tapi kau punya kesempatan itu, jangan biarkan kekuatan jahat menguasai dirimu." Ucapku melesat mendekati sosok Narsih.
Nampak sosok Risma menyeringai, ternyata kemarin ia hanya bersandiwara menyesali perbuatannya. Nyatanya ia juga memiliki dendam tersembunyi pada Narsih. Karena kedatangan nya di Jakarta untuk menemui Meneer William Van Houten mendapat penolakan. Karena Meneer William hanya menginginkan Narsih, dan menolak Risma dengan kasar. Karena itulah Risma menaruh dendam pada Narsih. Karena membuatnya terhina ditolak Meneer Belanda itu. Dan ketika ia ingin kembali ke Desa, Bardi melihatnya keluar dari rumah Meneer William. Dan karena cemburu buta, Bardi emosi dan membunuh nya.
"Aku tak sepenuhnya meminta maaf padanya, aku sengaja mengatakan itu padamu. Karena kau mengetahui keberadaan nya, dan aku pun mengikuti mu. Kau tau, aku adalah demit yang dikirim dukun ilmu hitam untuk mencelakai lelaki yang tinggal di sebelah tempat tinggal mu!" Kata Risma tersenyum melalui sudut bibirnya.
Deggh.
Aku terkejut mendengar pengakuan Risma, ternyata ia benar-benar jahat. Ketika masih jadi manusia saja dia tak tahu diri, pasti sekarang jadi demit pun dia lebih licik dari sebelumnya. Tiba-tiba sosok Narsih mengeluarkan kekuatan nya, nampak cahaya merah berpendar keluar dari telapak tangannya. Narsih mengarahkan cahaya itu ke arah Risma, dan membuat sosok Risma terpental hingga ke tanah. Dan di bawah sana, ia terbatuk dengan mengeluarkan darah berwarna hitam dari mulutnya. Ia menyadari tubuh ku ada disana, dan ia menyeringai mendongakkan kepala nya padaku. Ia memegangi dada nya dan melesat mendekati tubuhku. Sepertinya sosok Risma berusaha mengambil alih raga ku. Sontak saja aku membulatkan kedua mata. Bagaimana kalau dia berhasil menembus lingkaran itu, batin ku gusar. Tapi sosok Narsih yang mengetahui kecemasan ku langsung melesat ke bawah dan menarik Risma lalu menghempaskan tubuh hampa nya.
Bruugh.
Belum sempat aku mengatakan apa-apa, tiba-tiba sosok Risma kembali berusaha menembus lingkaran yang ada di sekitar tubuh ku. Dan dengan amarah besar, sosok Narsih melotot dengan aura kemarahan yang sangat besar. Nampak cahaya berwarna merah di sekitar tubuh hampa nya, sosok Narsih berubah menjadi demit dengan energi jahat sama seperti Risma. Tapi energinya jelas lebih besar daripada Risma. Sosok Narsih melesat lalu mencekik leher Risma dan berusaha menyerap energi jahat yang ada di jiwa Risma. Sontak saja aku menggelengkan kepala, jika sampai itu benar-benar terjadi, maka sosok Narsih bisa lebih jahat dari Risma. Aku menundukkan kepala seraya membaca doa, tiba-tiba sosok lain dengan energi putih datang. Sosoknya sangat teduh, hingga dapat meredam energi panas yang Narsih pancarkan.
"Nduk cah ayu, hentikan perbuatan mu itu. Sudah lama Simbah menantikan kedatangan mu, untuk apa kau berlama-lama di alam fana yang penuh tipu daya ini? Lepaskan sosok yang membutakan hati dan naluri mu itu. Kau tak perlu berhadapan dengan nya, biarkan Risma menanggung semua kejahatan nya di dunia ini. Bahkan bumi saja menolak jasadnya, karena tulang-tulangnya sudah di bakar menjadi abu. Jangan ikuti hasratmu membalas dendam." Ucap seorang Nenek tua yang mengenakan mukena putih bersih, nampak wajahnya teduh membuat ku hanyut dalam tatapannya.
Nampak sosok Narsih mulai mengendurkan tangannya. Ia menoleh ke arah Nenek itu berdiri, dan ia berlinang air mata.
"Simbah... Huhuhu maafkan Narsih telah membuat Simbah tewas di tangan perempuan jahat ini!" Seru nya menangis terisak.
Tak lama setelah itu sosok Risma melesat pergi, ia melarikan diri entah kemana. Dan Narsih yang tak terima berusaha mengejar Risma. Tapi beruntung nya Simbahnya berhasil menghentikan Narsih, ia diminta mengurungkan niat untuk membalas dendam.
"Dengan melakukan kejahatan, meski itu kau lakukan pada Risma, kau akan menjadi sosok sepertinya Nduk. Ikutlah bersamaku kembali ke alam keabadian, kau masih bisa menempati tempat itu. Jangan kau turuti hasratmu itu, ikhlaskan saja apa yang telah terjadi. InsyaAllah Risma akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Ia akan tersiksa berada di antara dua alam sampai akhir jaman."
Simbah nya terus membujuk Narsih sampai ia luluh. Aku dapat menghembuskan nafas lega, karena akhirnya Narsih luluh setelah Simbah nya datang untuk menjemputnya. Kedua jiwa tanpa raga itu melesat ke arah ku, dan mengucapkan terima kasih karena telah membantu Narsih. Aku terharu dengan pemandangan itu, tak hanya mendiang Simbah ku saja yang datang dari alam keabadian untuk melindungi ku. Tapi sosok Simbah yang lain juga sama. Aku menyunggingkan senyum seraya menganggukkan kepala, ku minta sosok Narsih untuk pergi bersama Simbah nya supaya ia tak terkatung-katung di dua alam seperti sekarang. Tak lama kemudian sosok Narsih memejamkan kedua mata, dan sosoknya yang berpenampilan penari itu berubah memakai gaun panjang berwarna putih bersih. Aura dendam yang sebelumnya menguasai jiwa nya sudah hilang. Ia memelukku sebelum berpamitan, karena cahaya putih dari atas langit sudah menyorot ke arah kedua jiwa cucu dan neneknya itu. Dan kemudian mereka terbang ke atas langit sampai sosoknya tak nampak lagi, dan cahaya putih itu pun menghilang begitu saja. Aku pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam raga ku.
Whuuuusd.
Jiwa ku kembali masuk ke dalam raga. Dan begitu aku membuka kedua mata, badan ku basah berpeluh. Ternyata melepas jiwa dari raga benar-benar menguras energi ku. Sampai-sampai perutku bunyi keroncongan, aku pun segera bangkit berdiri dan kembali ke tempat Bang Tigor untuk mengambil pesanan nasi goreng spesial ku tadi.