
Tante Ajeng sudah mendengar berita penangkapan Janni. Ia bersama ibu Agus ingin datang menemui Janni, mereka ini berbicara langsung dengan perempuan yang telah tega membuat Agus sekarat sampai tewas. Mbak Ayu berusaha menghentikan niat mereka, karena saat ini Janni belum bisa ditemui. Polisi masih menginterogasi nya, aku pun menjelaskan pada keduanya. Kalau Janni bersama dua orang lelaki yang pernah menginap di rumah kuno ini.
"Jadi benar mereka semua sekongkol untuk menghabisi Agus? lantas kenapa ayah Umi sampai tak tahu jika putrinya di incar oleh Janni. Dia malah ikut membantu Janni buat nyiksa Agus."
"Itu karena ayah Umi tak tahu apa-apa Tante. Dan Rania masuh Tante jangan bepergian dulu, karena sekarang Om Dewa belum diketahui keberadaannya. Dan ia tak bisa ditetapkan sebagai DPO, karene tak ada bukti yang mengarah jika Om Dewa pantas berada dalam daftar pencarian orang. Rania takut Om Dewa memiliki rencana lain, dan Tante bisa dalam bahaya. Karena bagaimanapun bagi Om Dewa Tante udah menghianati nya."
"Tapi Rania, besok adalah jadwal kunjungan orang tua murid. Anak Tante tinggal di asrama, dan enam bulan sekali kami memang biasa mengunjunginya."
Mbak Ayu menjelaskan jika ia yang akan memberitahu pihak sekolahan di Australia, jika kedua orang tua Sisilia sedang berhalangan datang.
"Yang terpenting saat ini adalah keselamatan Tante. Dahayu juga akan menjelaskan langsung ke Sisil kalau orang tuanya ada urusan besar disini."
Pembicaraan itu selesai juga, dan Tante Ajeng setuju untuk tetap tinggal disini. Akupun berpamitan pada mereka semua, karena aku sudah membuat janji dengan Mas ojol untuk pergi ke daerah rumahnya. Karena tetangga nya memiliki hubungan baik dengan Pak Markum, dan aku ingin mengorek informasi darinya.
"Kak perkenalkan ini Bu Welas, dia teman kecilnya Pak Markum. Beliau ini sudah lama tinggal disini, dan banyak yang beliau tahu. Kalau kakak mau nanya-nanya sama beliau saja."
Aku menjabat tangan perempuan tua itu, penampilan nya umum seperti ibu-ibu pada umumnya. Ia mempersilahkan ku duduk lalu menyuguhkan teh hangat. Tanpa aku menjelaskan apa-apa, Bu Welas ini langsung membahas Pak Markum dan juga istrinya. Sontak saka aku mengerutkan kening, darimana Bu Welas tahu apa yang ada di dalam pikiranku.
"Gak usah kaget begitu dek, sebenarnya saya ini sedikit tahu tentang isi hati seseorang. Dan mengenai istri Markum, itu memang benar adanya. Sebenarnya saya udah tahu dari lama, tapi saya tak mempunyai kapasitas untuk mengungkapkan kejahatannya. Ia bekerja sama dengan bekas pekerja nya, Marni namanya. Ia yang di utus untuk melakukan kejahatan yang direncanakan istri Markum. Jika kau bisa pancing mereka supaya berdebat. Istri si Markum akan berdebat dengan Marni, dan keduanya akan saling membongkar rahasianya. Tapi untuk itu, kau perlu melakukan siasat." Ucap Bu Welas seraya membisikan sesuatu.
Aku membulatkan kedua matamata setelah mendengar perkataan Bu Welas. Menurut beliau, aku harus menciptakan konflik di antara keduanya.
"Bagaimana saya bisa melakukan itu Bu?" tanyaku dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
"Katakan pada Marni, jika istri si Markum mengatakan padamu tentang kejahatan yang ia lakukan. Pengaruhi Marni sampai ia percaya, jika istri Markum ingin lepas tangan dan membuatnya membusuk dalam penjara seorang diri. Jika sampai Marni tak percaya, kau harus cari cara lain untuk membuat perempuan licik itu ketakutan dan percaya dengan fitnah yang kau buat. Terkadang demi membongkar sebuah kejahatan, kita perlu menggunakan cara licik seperti itu. Aku sudah lama diam, meski mengetahui kebenaran itu. Aku tak mungkin tiba-tiba menuduh mereka tanpa bukti, yang ada mereka akan menuntutku karena mencemarkan nama baik mereka. Kasihan si Aya, sebatang kara tanoa siapa-siapa. Bahkan Paman nya sendiri tak bisa menolongnya, Markum terlalu tunduk dengan istrinya. Semua itu terjadi karena istri Markum meminta bantuan dukun untuk membuat suaminya tunduk dengan ucapannya. Bukankah kau lihat sendiri bagaimana sikap Markum dengan istrinya?"
"Baiklah bu, saat ini juga saya akan kesana. Dan menemui Bu Marni secara langsung."
"Assalamualaikum!" kataku seraya mengetuk pintu rumah Bu Marni.
Tak ada jawaban sama sekali, aku bertanya pada Mas ojol, apa yang harus aku lakukan sekarang, karena aku tak mau menunda kasus ini lagi. Kasus kematian Bulan dan ibunya harus selesai hari ini juga. Aku ingin hidup tenang seperti sebelumnya, dan menyelesaikan masalah demi masalah ini.
"Eh itu loh kak orangnya dari luar!" seru Mas ojol menunjuk ke arah Bu Marni yang baru saja kembali dari warung belanja.
Bu Marni menatapku dengan sorot mata tajam. Ia berkata ketus padaku, menanyakan tujuanku datang ke rumahnya.
"Bukannya kau berhasil membawa si Aya pergi. Kenalan kau masih berkeliaran di kampung ini?"
"Begini lho Mbak Marni, Kakak ini customer ku. Dia ingin berbicara denganmu secara empat mata. Kak Rania ini kan jurnalis, mungkin ia ingin mewawancarai mu."
Tanpa basa-basi lagi, aku meminta Mas ojol menunggu di ujung gang. Aku langsung menjalankan rencana untuk mengadu domba Bu Marni dengan istri Pak Markum. Ponselku sudah ku seting di dalam saku kemejaku untuk merekam video. Aku langsung mengatakan padanya jika dia adalah seorang pembunuh.
"Saya sudah mendengar semua dari istri Pak Markum tentang kejadian malam itu. Disaat ibu meracuni Cahaya Bulan beserta ibunya. Malam itu ibu kan yang datang mengenakan jaket dan topi hitam? istri Pak Markum sudah mengatakan segalanya pada saya. Lebih baik ibu mengaku saja, supaya proses hukum dapat berjalan dengan baik."
"Eh hati-hati ya kalau ngomong! Istri Pak Markum tak mungkin mengatakan semua itu padamu. Kau hanya ingin menakut-nakuti ku saja kan?"
"Ya terserah ibu kalau berpikiran seperti itu. Kalau bukan istri Pak Markum yang mengatakan semua pada saya, darimana saya tahu tentang kejahatan yang ibu lakukan."
Nampak raut wajah Bu Marni berubah pucat, ia berkeringat dingin dengan menelan ludahnya kasar. Sepertinya ia termakan dengan hasutanku, ia mulai marah lalu menggebrak mejanya.
"Saya gak melakukan semua itu sendiri, saya melakukan nya atas perintah istri Pak Markum. Kenapa sekarang ia malah melimpahkan semua kesalahan ke saya! Sampai saat ini saya belum mendapatkan hasil apa-apa dari yang telah dijanjikan olehnya. Padahal ia sudah menjual beberapa tanah milik Aya, tapi aku hanya diberikan sedikit uang yang hanya cukup untuk membeli motor bekas itu saja. Semua yang ku lakukan tak sebanding dengan apa yang telah ku lakukan untuknya." jeritnya dengan peluh yang membasahi keningnya.
...Bersambung. ...