Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 274 DAN TERNYATA?


Aku berlari menghadang laju motor yang dikendarai Wati. Ia mengaitkan kedua alis mata menatap ku penuh tanya. Ia turun dari sepeda motor, lalu menghampiri ku. Segera ku tarik tangan Wati menjauh dari keramaian orang.


"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku Wat? Aku merasa kau menutupi sesuatu dariku, bahkan kah seperti menghindar dariku!"


"Gak ada apa-apa kok Ran, perasaan mu aja kali. Kita bicara nanti lagi ya, Mas Pram sudah menunggu di rumah sama Ibu. Kalau aku telat datang, dia bisa ngamuk nanti. Kasihan Ibu repot jaga nya."


Aku menghembuskan nafas panjang, dan membiarkan Wati pergi. Masuk akal juga penjelasan nya, karena itulah ku biarkan dia pergi tanpa memberikan penjelasan.


"Kau sedang apa Nduk diluar?" Tanya Pak Jarwo yang baru saja mengusir demit-demit yang mengganggu di teras luar.


"Rania curiga sama gerak gerik Wati. Dia kayak nyembunyiin sesuatu dari ku. Padahal Wati gak pernah seperti itu sebelumnya." Jawabku dengan menundukkan kepala.


"Kau memang peka dengan orang-orang di sekitar mu Nduk. Tapi jika ku beritahu, berpura-pura lah tak mengetahui apa-apa dari Wati. Dia tak ingin membuatmu semakin cemas." Imbuh Pak Jarwo seraya mendongakkan kepala ke atas langit gelap.


Pak Jarwo mengambil sebatang rokok dari kantong celana, ia menyalakan korek dan menikmati rokok di tangannya. Ia menjelaskan jika kemungkinan Wati sudah melanggar peringatan yang kami berikan. Sontak saja pikiran ku tertuju ke satu hal itu saja.


"Maksudnya mereka sudah melakukan hubungan itu Pak?"


Hanya anggukan kepala yang menjadi jawaban Pak Jarwo. Ia tak mengatakan apa-apa lagi, dan justru kebungkaman nya membuatku semakin resah.


"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi Pak? Pramono yang sepolos itu tak mungkin mempunyai pemikiran ke hal yang menjurus kesana. Rania gak yakin kalau mereka sudah melakukannya."


Astaghfirullah. Pantas saja Wati langsung berubah disaat aku menyinggung masalah ini. Pasti dia juga merasa bersalah karena tak menepati ucapannya pada kami. Tapi benar juga kata Pak Jarwo, kami tak bisa sepenuhnya menyalahkan nya. Karena bagaimanapun mereka sudah resmi menjadi suami istri, dan keduanya memang sudah sama-sama dewasa. Tapi yang menjadi masalah, jika semua itu memang terjadi, sudah pasti ada sosok lain yang mempengaruhi pikiran Pramono.


"Kenapa kau diam saja Nduk?"


"Gak apa-apa kok Pak. Rania hanya gelisah saja memikirkan semuanya."


Tepat pukul satu tengah malam, terdengar suara mesin mobil yang berhenti tepat di halaman rumah duka. Sepasang suami istri turun dari mobil, dan langsung masuk ke dalam rumah. Dari belakang keduanya nampak seorang lelaki muda berperawakan tinggi dengan tubuh proporsional baru saja keluar dari mobil. Ia berjalan tertatih masuk ke dalam rumah duka. Tak ku hiraukan mereka, dan melanjutkan obrolan ku dengan Pak Jarwo. Samar-samar terdengar selentingan warga, yang mengatakan jika tamu yang baru datang adalah anak kandung Pak Langgeng bersama orang tua angkatnya. Entah apa yang terjadi di dalam rumah itu, tak lama terdengar suara jeritan beberapa orang. Ada yang menangis dan ada yang berteriak marah. Pak Jarwo langsung berlari ke dalam rumah untuk memastikan apa yang terjadi. Karena tak mau ikut campur dengan urusan keluarga itu, aku hanya duduk diluar dengan memikirkan kemungkinan yang terjadi pada Wati.


Tap tap tap.


Terdengar langkah kaki berlari ke arah kebun kosong. Fokus ku pun teralihkan, ku lihat seseorang berhenti di bawah pohon besar dengan memukul-mukulkan tangannya ke pohon. Sepertinya lelaki itu adalah anak kandung Pak Langgeng. Entah kenapa ia seperti terguncang, apakah dia baru saja mengetahui fakta jika keluarga ini adalah keluarga kandungnya. Aku menghampiri lelaki itu, dan berdiri di belakang tubuhnya. Sepertinya dia benar-benar terguncang dan membutuhkan waktu sendiri. Tapi kondisi di Desa ini sedang mencekam, bisa saja dia dirasuki makhluk gaib jika berdiam diri disini. Jadi aku pun memutuskan untuk tetap berada di belakangnya, untuk memastikan jika tak akan terjadi apapun padanya.


"Siapa kau? Kenapa dari tadi kau berdiri di belakang ku?" Tanya nya dengan suara gemetar. Nampaknya ia menahan tangis dan kekesalan.


Aku hanya diam tak menjawab pertanyaan nya. Sepertinya aku tak asing dengan bentuk tubuh dan suaranya. Ah mungkin ini hanya perasaan ku saja.


"Maaf kalau aku mengganggu atau membuat mu tak nyaman. Aku hanya ingin memastikan keselamatan mu saja."


Tak ada jawaban dari lelaki itu. Aku pun hanya diam berdiri mematung di belakangnya. Sampai akhirnya lelaki itu membalikkan tubuhnya dengan menundukkan kepalanya. Ia meminta ku pergi meninggalkan nya seorang diri. Lelaki itu berbicara tanpa menatap wajahku sama sekali. Ah ya sudahlah, terserah dia saja. Toh aku sudah memperingatkan nya, tapi ia malah merasa terganggu dengan kehadiran ku. Jadi ku biarkan dia tetap berada disana, dan aku kembali ke dalam rumah duka. Dan disana aku melihat wajah sepasang suami istri yang baru datang menaiki mobil tadi. Seketika aku membulatkan kedua mata, aku sangat terkejut melihat wajah keduanya.