Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 243 SELAMAT TINGGAL PETTER.


Sore itu aku pulang kerja lebih awal, sesuai janji ku pada Petter untuk membelikan baju baru untuknya. Di dalam Mall, aku melihat sesosok hantu yang sedang murung di depan pintu masuk. Ia melihat satu persatu pengunjung yang datang, seakan ia sedang menunggu seseorang. Hatiku iba melihat sosok itu, tapi aku tak tau harus bagaimana. Lagipula ia tak meminta tolong padaku, mungkin saja hantu itu memang tak membutuhkan bantuan ku. Jadi tak ku hiraukan dia, dan pergi ke sebuah toko yang menjual beraneka macam barang untuk anak-anak. Ada baju, mainan, dan juga aksesoris lucu-lucu. Kalau saja Petter melihat semuanya, dia pasti akan sangat senang dan tak mau pulang. Ketika aku membalikkan badan, tiba-tiba hantu yang ku lihat di depan tadi sedang melesat menembus tubuhku. Sontak saja aku terperanjat karena nya. Ia sedang mengikuti salah satu pekerja di toko ini, dan menatapnya dengan wajah sendu.


"Total semuanya tiga ratus dua puluh ribu kak, mau pakai cash atau debit?" Tanya cashier yang sedang memasukan barang-barang ke dalam paper bag.


Astaga hantu ibu itu mengejutkan ku lagi. Ia berdiri mengambang tepat di samping cashier ini. Bukannya dia pekerja yang dari tadi diikuti hantu ibu ini ya. Aku jadi penasaran, ada hubungan apa dengan keduanya. Tapi karena aku tak ada waktu untuk menelusurinya, jadi ku urungkan saja niat ku. Biar saja nanti aku akan kesini lagi, kalau hantu ibu meminta tolong baru aku akan menelusuri semuanya.


"Pakai debit aja ya Mbak, btw Mbaknya baru berduka ya?" Jawabku dengan pertanyaan.


"Hmm iya Mbaknya kok tau, apa wajah saya masih kelihatan habis nangis ya?"


"Oh enggak kok Mbak, saya turut berduka ya atas kepergian ibunya."


Nampak si Mbak cashier membulatkan kedua matanya. Tangannya bergetar menyerahkan struk belanjaan padaku. Aku hanya menyunggingkan senyum seraya berjalan meninggalkan toko itu. Nampaknya dari belakang sosok hantu ibu itu mengikuti langkahku. Tapi ia tak mengatakan apapun padaku, mungkin dia penasaran karena aku bicara dengan Mbak cashier tadi. Aku sudah keluar dari Mall dan menunggu taksi online, tapi sosok hantu tadi ternyata tak mengikuti ku. Ia hanya melihat ku dari depan pintu masuk, seakan ada yang membuatnya tak mau meninggalkan Mall itu.


"Kak Rania ya?" Tanya pengemudi mobil sigra yang berhenti tepat di depan ku.


"Iya Pak." Jawabku seraya masuk ke dalam mobil.


Ku senderkan kepala dan memejamkan mata untuk sesaat. Tiba-tiba aku bermimpi bertemu dengan almarhum Mbah Karto. Ia memintaku untuk tak membuka apapun yang sudah terkubur. Masa lalu tak perlu dicari tau, jika itu hanya akan menambah masalah di masa depan.


"Dia itu berniat jahat Nduk, berhati-hatilah dan waspada dengan apapun yang akan kau lakukan. Jangan sampai itu menjadi boomerang untuk dirimu sendiri. Kenali siapapun yang ada di dekatmu dengan baik-baik." Ucap Mbah Karto di dalam mimpi ku, sebelum aku terbangun karena panggilan supir taksi online.


"Sudah sampai tujuan Kak, maaf kalau saya membangunkan."


"Gak apa-apa Pak, saya yang minta maaf jadi nyusahin bangunin saya segala." Kataku seraya menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.


"Terima kasih Rania. Aku pasti akan mengunjungi mu lagi, jangan lupakan aku ya!" Katanya seraya menyeka air mata yang membasahi pipi ku. Meski aku tau, ia tak akan bisa menyentuhnya.


"Aku tak akan pernah melupakanmu Petter. Kau sahabat terbaik yang pernah ku miliki, kembalilah ke alam mu. Dan datanglah kapanpun kau mau."


"Kau harus banyak makan Rania, lihatlah kau jadi bertambah kurus sekarang. Hanya tinggi mu saja yang bertambah."


Mbak Ayu dan Aunty Ivanna bergabung bersama ku dan Petter. Kami sama-sama saling memeluk, sebelum akhirnya Petter bersama Aunty Ivanna benar-benar melesat pergi dan tak terlihat wujudnya lagi. Tanpa sadar bulir-bulir bening mengalir deras membasahi wajahku. Tangan Mbak Ayu menggenggam ku, dan merangkul ku.


"Kita masih bisa bertemu mereka lagi kok, gak usah sedih lagi ya." Kata Mbak Ayu menepuk pundak ku.


"Iya Mbak, gue hanya agak kecewa aja gak bisa jaga Petter kemarin."


"Terus soal Wening gimana? Bener dia pelakunya?"


"Lu gak akan nyangka sih Mbak, apa yang gue tau. Dari penjelasan nya, si Wening itu punya saudara kembar yang udah meninggal. Dari cerita nya, dia dirasuki sama saudara kembarnya yang bernama Bening. Katanya si Bening itu mau berteman sama Petter, makanya dia jebak Petter dengan menggunakan suara gue. Emang sih gue udah lihat sosok kembaran nya itu, tapi gue belum ada komunikasi apa-apa sama arwahnya. Sebenarnya gue pengen tanya langsung apa tujuan dia ngurung Petter. Tapi Wening kayak gak kasih gue kesempatan buat ngomong sendiri. Dan ada yang lebih mengejutkan lagi Mbak. Ternyata si Wening itu tinggal gak jauh dari desa Simbah gue. Malahan masih satu kecamatan loh, tapi gue baru kali ini tau nama desa nya. Apa lebih baik gue selidiki langsung ke desa itu ya. Buat nelusurin sendiri latar belakang Wening dan keluarga nya. Gue merasa ada yang janggal dengan dia ataupun keluarga nya. Tapi tadi gue di datangin almarhum Mbah Karto lewat mimpi, beliau yang ngomong supaya gue gak ungkit masa lalu. Katanya bisa jadi masalah di masa depan, beliau cuma pesen supaya gue hati-hati Mbak. Tapi gue ngerasanya Mbah Karto lagi ngomongin soal Wening deh, tapi beliau gak jelasin lebih detailnya. Jangan-jangan emang ada hubungan di antara keduanya. Dan gue jadi makin penasaran, pengen cari kebenarannya."


"Lu seriusan Ran, kalau Mbah Karto minta lu buat gak buka masa lalu? Bener kata lu, seakan ada sesuatu yang terjadi di masa lalu dan Mbah Karto udah tau itu."


"Tunggu deh Mbak. Gue jadi inget cerita Wening tentang almarhum Kakeknya yang meninggal di tangan saudaranya sendiri. Jangan-jangan yang dimaksud adalah almarhum Mbah Wongso dan almarhum Mbah Karto. Jadi si Wening itu cucu dari almarhum Mbah Wongso. Dan dia gak terima dengan kematian Kakeknya, yang artinya dia menaruh dendam sama almarhum Mbah Karto. Makanya tadi Mbah Karto datang di mimpi gue, minta gue buat gak ungkap masa lalu biar gak terjadi masalah di masa depan. Kalau emang benar begitu, artinya si Wening memang berniat jahat Mbak. Kalau udah gini gimana Mbak, gue masih perlu mastiin semuanya ke desa Watu pocong itu atau gak?"


"Meski dugaan lu ada benarnya dan masuk akal. Tapi kita tetap harus memastikan nya lagi Ran. Jangan sampai kita salah memprediksi, kayaknya emang perlu ditelusuri sampai ke desa itu deh. Gimana kalau gue temenin lu kesana, hari minggu besok aja mumpung gue libur." Pungkas Mbak Ayu dengan mengaitkan kedua alis mata.


Sepertinya benar kata Mbak Ayu, jika aku memang perlu memastikan kebenarannya. Takutnya si Wening memang mempunyai niat lain. Apalagi dia pernah terang-terangan berkata ingin membalas dendam pada semua orang yang telah membuat hidup keluarganya berantakan. Atau jangan-jangan dia memang sudah mulai melakukan pembalasan dendam.