Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 252 PERTEMPURAN SENGIT?


Semalaman tidur ku terasa tak nyenyak, padahal aku baru saja memejamkan mata dua jam. Tapi tiba-tiba aku terbangun karena mimpi buruk. Ada dua ekor ular besar yang melilit tubuhku sampai aku susah bernafas. Sontak saja aku terbangun dengan nafas yang terengah-engah. Keringat bercucuran membasahi seluruh tubuh. Entah ini hanya sekedar mimpi atau sebuah petunjuk untuk ku. Mungkin lebih baik aku shalat tahajud saja, supaya hati dan pikiran ku tenang. Dan di tengah-tengah shalat, aku mendapat gangguan dari makhluk tak kasat mata yang berusaha merusak fokus ku. Ia melesat ke sekeliling tubuh ku, berusaha membuyarkan iman ku. Tapi aku tetap fokus dan acuh dengan sosok itu, sampai akhirnya ada satu sosok yang datang dan sepertinya mengusir makhluk itu dari kamar ku. Aku tetap melanjutkan shalat sampai di tahiyat akhir, lalu dengan khusyuk membaca doa seraya memegangi tasbih. Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang mengerikan. Di tempat yang sangat gelap, dan tak ada siapapun disana kecuali dua sosok lelaki yang sedang bertarung di atas gelapnya langit. Mereka sama-sama mengeluarkan kesaktiannya, kilatan cahaya dan bola-bola api menghiasi langit gelap. Keduanya nampak tangguh, dan sama-sama kuat tak bisa dikalahkan satu sama lainnya. Aku semakin penasaran, dan berusaha melihat lebih dekat lagi. Tubuhku seakan ringan, dan aku bisa melayang sampai ke atas langit. Udara yang berhembus seakan mengantarkan ku ke atas, untuk melihat siapa kedua sosok yang bertarung dengan sengit itu.


Dia adalah Pak Jarwo, dan seorang lelaki yang tak pernah ku lihat sebelumnya. Lelaki itu mengenakan baju serba hitam, dan ikat kepala berwarna putih lusuh. Bukankah tali lusuh itu lebih mirip kain kafan bekas mayat yang dikubur. Lelaki yang sedang melawan Pak Jarwo itu tiba-tiba melepas ikat kepalanya, dan melemparkan ke arah Pak Jarwo yang sedang waspada. Tali putih lusuh itu berubah menjadi ular putih besar yang melilit tubuh Pak Jarwo sampai kesulitan bergerak. Aku berusaha menolongnya, tapi tanganku tak bisa menyentuhnya. Semakin keras usahaku untuk membantu Pak Jarwo, aku tetap tak bisa menyentuhnya. Astaghfirullah, aku baru sadar jika ini hanya sebuah penglihatan saja. Dan aku tak tau kejadian ini benar-benar terjadi atau tidak. Hanya doa yang bisa ku lantunkan untuk membantu keselamatan Pak Jarwo. Dan setelah membaca doa dengan tulus, aku kembali berusaha menyentuh tubuh Pak Jarwo supaya ia bisa terlepas dari lilitan ular putih besar itu. Dan ajaibnya begitu aku memegang tubuh ular itu, mendadak tubuh ular itu langsung mengkerut dan berubah menjadi tali putih lusuh kembali. Alhamdulillah ya Allah, gumamku di dalam hati.


Bruugh.


Aku tergeletak di atas sajadah, bahkan tanganku masih menggenggam erat tasbih pemberian Eyang Buyut.


"Raniaaa bangunlah... Apa kau tidak apa-apa?"


Aku berusaha membuka kedua mata lalu bangkit, dan ku lihat sosok Bening sudah ada di depan ku.


"Kau... Kenapa kau datang kesini?"


"Aku menghawatirkan mu Raniaaa... Tadi kau diganggu sosok gaib, dan aku berusaha mengusirnya. Tapi saat aku kembali kau sudah tergeletak, sebenarnya ada apa denganmu?"


"Aku tak apa-apa Bening. Saat ini aku dan seseorang yang berusaha menyempurnakan jasadmu sedang dalam kesulitan. Sepertinya Pakde mu melakukan perlawanan. Jika bisa, kau teruslah bersama Wening untuk memantau apa saja yang akan dilakukan nya. Aku tak meminta kau menghianati saudaramu, tapi cukup kau katakan padaku apa saja yang akan dilakukan nya. Karena jika tidak, kami akan kesulitan menyempurnakan jasadmu. Kami harus lebih dulu menyelamatkan nyawa-nyawa warga tak berdosa, dari kiriman sihir Pakde mu."


Bening menganggukkan kepala, ia langsung paham dengan penjelasan ku. Tapi ia harus lebih berhati-hati, karena pagi ini Wening akan kembali ke Desa. Dan pergerakan nya akan mudah dipantau Pakde nya, sehingga ia akan kesulitan menemuiku.


"Aku akan berusaha mencari celah untuk bisa memberikan informasi padamu. Jagalah dirimu baik-baik, supaya kalian bisa menyelamatkan nyawa-nyawa warga itu. Dengan begitu barulah kalian bisa menolong menyempurnakan jasadku." Pungkas Bening sebelum berpamitan pergi.


Ia menghilang setelah menembus tembok, dan aku masih duduk di atas sajadah. Menunggu waktu shalat subuh yang tinggal dua puluh menit lagi. Setelah shalat subuh, ponselku berdering. Nampak panggilan telepon masuk dari Wati. Tumben sekali subuh-subuh gini telepon, gumamku pada diri sendiri. Terdengar suara Wati yang panik, membuatku jadi cemas begitu menerima panggilan telepon nya.


"Pelan-pelan aja Wat ngomong nya. Ada apa sebenarnya?"


"Kau tenang dulu ya Wat, ceritanya panjang. Aku gak bisa jelasinnya sekarang, mungkin lebih baik aku pulang ke Desa aja sekarang. Kayaknya situasi semakin genting, karena sudah terjadi perlawanan." Jawabku dengan menghembuskan nafas panjang.


"Perlawanan? Maksudnya perlawanan gimana Rania?"


"Udah kau tenang aja dulu, jangan buat semua orang jadi panik. Aku akan naik travel kembali ke Desa sekarang juga. Nanti aku ceritain langsung aja ya, karena semuanya terlalu rumit kalau harus dibahas di telepon."


"Lalu kerjamu bagaimana? Nanti kau bisa dipecat Ran!"


"InsyaAllah gak apa-apa Wat, mau dipecat atau gak terserah saja. Aku pasrahkan pada Allah, karena kepergian ku sekarang demi kebaikan semua. Semoga saja Pak Bos memahami dan tak mempersulit ku. Tapi kalau emang aku harus dipecat, ya sudah aku terima saja. Ya udah tunggu aku datang, kalau semua berjalan lancar malam nanti aku sudah sampai Desa." Kataku sebelum mengakhiri panggilan telepon.


Aku bergegas berkemas dan membawa pakaian secukupnya. Aku hanya mengirimkan pesan singkat pada Rika untuk meminta ijin cuti. Dan ku katakan, nanti agak siangan aku baru akan mengabari Pak Bos besar. Karena situasi kali ini sangat mendesak. Aku tak berpamitan pada siapapun yang ada di rumah ini. Setelah membersihkan diri, aku menunggu jemputan travel yang sudah ku pesan sebelum membereskan semuanya tadi. Beruntungnya travel langganan ku ini, selalu berangkat paling awal di jam lima pagi. Jadi kalau jalanan lancar, malam nanti aku sudah tiba di Desa. Aku berjalan keluar kamar dengan membawa tas ransel besar. Nampak Ce Edoh sedang menyapu halaman di rumah utama. Ia terkejut melihatku keluar membawa tas besar di pundak.


"Loh pagi-pagi gini Mbak Rania mau kemana? Kok kayak mau pergi jauh gitu?"


"Iya Ce, mendadak saya harus pulang ke Desa. Ada kerabat yang sakit, saya titip kunci kamar ya Ce. Bantu bersihkan sekalian, dan tolong sampaikan ke Mbak Ayu sama Heni kalau saya pulang ke Desa selama beberapa hari." Jelasku seraya menyerahkan kunci kamar pada Ce Edoh.


"Semoga kerabatnya cepat sembuh ya Mbak, dan Mbak Rania bisa cepat balik kesini."


"Amin Ce, makasih ya. Saya jalan dulu, itu mobil travelnya udah datang."


Ce Edoh membukakan pintu pagar untukku, dan aku langsung masuk ke dalam mobil. Ku awali perjalanan ini dengan bacaan basmallah. Tak ku sangka pagi ini, aku akan kembali ke Desa tanpa rencana sebelumnya. Semoga semuanya dapat berjalan lancar, dan tak terjadi hal-hal yang tak ku inginkan. Amin.