Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 265 SERANGAN TENGAH MALAM.


Aku harus lebih waspada jika ternyata Pakde nya Wening memang sudah berada di Desa ini. Pak Jarwo melakukan penelusuran melalui batin, karena ia juga masih harus memulihkan energinya. Tapi bagaimana mungkin kondisi Pakde nya Wening bisa membaik dalam waktu sehari saja, sementara Pak Jarwo masih memerlukan waktu lebih. Aah pasti mereka meminta bantuan dari para makhluk gaib, pantas saja energinya pulih dengan cepat.


“Bapak-bapak kita berdoa saja dulu, supaya Allah melancarkan segala urusan kita. Semoga saja istri Pak Wandi bisa ditemukan secepatnya.”Kataku seraya menengadahkan tangan ke atas, memanjatkan doa bersama warga lainnya.


Samar-samar kami mendengar suara rintihan perempuan, sontak saja semua warga terpancing untuk mencari darimana sumber suara itu berasal. Kami sudah ada di hutan batas Desa, dan ku minta semua lebih waspada, supaya tak ada warga yang pikirannya kosong. Mengingat hutan ini terbilang wingit, dan banyak demit yang akan berusaha mengganggu. Mereka ramai-ramai menyusuri jalan setapak dengan membawa senter dan juga obor. Aku memfokuskan pikiran dengan menggunakan tasbih yang ada di genggaman tangan ku. Tiba-tiba tasbih pemberian Eyang Buyut ini seakan mendorong tubuh ku berjalan ke sebuah tempat, tepat di depan pohon besar terdengar jelas suara tangisan perempuan. Secara manusiawi tak ada siapapun di sekitar sana, bahkan semua warga nampak kebingungan karena mereka mendengar suara seseorang tapi tak dapat menemukan keberadaan manusia disana.


“Bentar ya Pak, Rania cari tau dulu, ada apa sebenarnya.”Ucapku seraya memejamkan kedua mata melihat melalui batin.


Aku melihat seorang perempuan dengan perut besar sedang berada di dalam sekapan demit penunggu pohon besar. Pohon beringin besar yang tepat berada di depan ku, ada sesosok demit perempuan tua dengan bagian dada nya yang menggelambir ke bawah. Demit itu menyeringai dengan gigi taring panjang, dan kuku tangan panjang yang mengusap-usap bagian perut perempuan hamil tersebut. Astaghfirullahalazim, kedua mata perempuan hamil itu juga ditutupi sebagian rambut demit yang mencekam nya. Saking panjangnya rambut demit nenek-nenek itu, perempuan yang ku duga adalah istri Pak Wandi sama sekali tak menyadari keberadaan kami semua di dekatnya. Ku bacakan ayat-ayat suci Allah seraya memainkan tasbih dan ku hempaskan tasbih itu ke arah pohon beringin. Tasbih itu mengenai akar pohon yang panjang menjuntai ke tanah.


Whuuss.


Hembusan angin menerpa dengan kencang, dan api tiba-tiba keluar dari dalam pohon beringin besar itu. Dan dari arah belakang pohon, kami mendengar suara rintihan perempuan. Aku bergegas berjalan ke belakang dan menemukan istri Pak Wandi menangis merintih dengan memegangi perutnya. Padahal kondisinya terlihat baik-baik saja, tapi sepertinya ia sangat kesakitan. Ku minta Pak Wandi dan beberapa warga membantu membopong nya segera keluar dari area hutan ini. Dan dua orang yang rumahnya terdekat dari sini kembali ke rumahnya untuk membawa mobil. Supaya kami dapat langsung membawa istri Pak Wandi ke Rumah Sakit. Aku takut terjadi sesuatu dengan kandungnya, karena itulah ku minta mereka segera membawanya supaya cepat mendapatkan penanganan. Tiba-tiba aku dan beberapa warga yang sudah keluar dari hutan batas Desa mendengarkan suara seorang lelaki yang tak kami tau dimana keberadaan nya. Ia memperingatkan kami untuk tak mencampuri urusannya.


“Kalian pasti akan menerima pembalasan ku, lebih dari apa yang kalian perbuat pada keluarga ku. Hari ini adalah peringatan kecil yang ku tunjukan pada kalian, dan kalian harus membayar apa yang telah kalian lakukan. Jangan berani-berani kalian melawan ku jika tak ingin nyawa kalian lenyap lebih cepat dari yang semestinya!”Ucapnya seraya tertawa penuh kepuasan.


Semua orang ketakutan, dan berdiri berhimpitan. Mereka menoleh ke berbagai arah waspada dengan keadaan sekitar.


“Hahaha kalian semua berlagak lupa dengan semua perbuatan keji kalian? Bahkan hari ini kalian semua telah merusak tempat tinggal keluarga ku! Akan ku buat kalian semua lebih menderita lagi, sampai kalian akan memilih mati daripada bertahan hidup!" Pekik sosok yang tak terlihat wujudnya itu.


Sontak saja semua orang membulatkan kedua mata terkejut. Akhirnya mereka tau jika suara itu adalah suara seseorang dari keluarga almarhum Mbah Wongso. Mereka semua semakin panik dan menyatukan kedua tangan memohon pengampunan.


"Bapak-bapak semuanya tak perlu takut pada ancamannya. Kita masih punya Allah yang akan selalu melindungi kita. Bagaimanapun kejahatan tak akan bisa menang melawan kebaikan. InsyaAllah kita semua bisa menghadapi masalah ini bersama-sama.”Kataku meyakinkan mereka.


Tapi tiba-tiba angin kencang berhembus, dan burung-burung gagak datang menyerang kami semua. Para burung itu mematuk serta mencakar wajah beberapa warga, aku sampai kewalahan menghentikan burung-burung itu. Karena energi dalam tubuhku sudah menipis, dan aku pun kurang istirahat. Sampai tanpa sadar ada pantulan cahaya putih menabrak tubuhku hingga aku terjatuh, lalu berguling di aspal jalan. Tak berhenti sampai disitu, setelahnya ada bola-bola api yang terbang ke arah ku. Tapi ada kekuatan lain yang menangkisnya, bola api itu meledak di tanah kosong pinggir jalan.


“Bangunlah Nduk, pulanglah bersama semua orang. Biar Eyang yang menyelesaikan kekacauan ini.”Ucap Eyang Buyut yang terlihat wujudnya.


Aku bangkit berdiri dengan memegangi sebelah dada, tubuhku terasa lemas sampai aku berjalan sempoyongan. Aku mengajak semua orang kembali ke Desa, karena keamanan mereka sudah terancam diluar Desa. Aku tak tau apa yang akan terjadi, jika Eyang Buyut tak datang menolong ku. Mungkin saat ini sudah terluka parah, dan warga yang bersama ku pasti tak akan selamat. Di tengah-tengah perjalanan, aku mendengar bisikan gaib. Dan aku yakin itu adalah suara Eyang Buyut. Ku minta semua orang kembali ke rumah masing-masing lalu mengunci pintu rumahnya. Dan mereka harus berkumpul di depan rumah ku esok nanti. Karena setelah ini aku akan menemui Eyang Buyut yang sudah meminta ku lekas pulang, karena beliau sudah menunggu di depan rumah. Apakah artinya Eyang Buyut sudah berhasil mengalahkan Pakde nya Wening. Mungkin lebih baik aku lekas kembali ke rumah, dan tepat di depan gazebo yang ada di halaman rumah. Sosok Eyang Buyut sedang berdiri dengan senyum teduhnya. Ia menganggukkan kepala seraya mengusap lembuh rambutku. Akupun mengecup punggung tangan Eyang dengan berlinang air mata. Entah kenapa kali ini aku menumpahkan air mata di hadapan Eyang, sepertinya karena jiwa ku benar-benar lelah menghadapi berbagai masalah.


"Kau gadis yang kuat Nduk, tapi karena terlalu sibuk membantu warga Desa kau sampai melupakan ibadahmu. Karena itulah kau mudah dikecoh oleh manusia sesat itu tadi. Meski kau melakukan kebaikan, jangan sampai kau meninggalkan shalatmu. Supaya kau tak kehilangan energi di dalam tubuhmu. Bukankah Pangeran Jin pernah berpesan supaya kau tak meninggalkan ibadahmu? Inilah akibatnya, ketika kau sibuk membantu orang lain, kau sampai tak melewatkan ibadahmu dan melupakan keselamatan mu sendiri.”Jelas Eyang Buyut seraya menepuk pundak ku.


Astaghfirullahalazim. Pantas saja tubuhku terasa lemas, seakan aku kehabisan tenaga. Ku pikir semua itu karena aku kurang istirahat saja, tapi ternyata ini adalah efek karena aku melewatkan shalat lima waktu. Dan terlalu fokus memikirkan keselamatan orang lain, tanpa memikirkan apa yang yang akan terjadi ke depannya. Sepertinya setelah ini aku harus lebih mengutamakan ibadahku, sebelum aku fokus memikirkan keselamatan orang lain.