Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 41 MISTERI PENEMUAN MAYAT


Tak banyak yang bisa ku lakukan selain berdoa, supaya kami bisa pergi dari tempat ini. Tapi harapan ku seakan semu, keterlibatan ku dalam masalah ini malah menyeret keluarga ku. Kini Bude Walimah diseret ke sebuah Goa di bawah bukit, menurut perempuan berjubah hitam itu. Siapapun yang dibawa kesana memang sudah dikhususkan untuk santapan makhluk yang mereka sembah.


"Hei kau perempuan iblis! kau sudah lancang membawa keluarga ke tempat ini! lepaskan Buse ku sekarang juga!" teriak ku penuh amarah.


Kedua manusia kerdil dengan kaki panjang itu telah menyeret Bude Walimah masuk ke dalam Goa. Terlihat kilauan cahaya yang menyilaukan mata, nampak dua sosok berdiri dibalik cahaya putih.


Whuus sriing.


Cahaya putih menerjang tubuh perempuan berjubah putih itu. Seketika ia tumbang dengan memegangi dadanya.


"Siapa kalian beraninya masuk ke wilayah kami." pekiknya dengan terbatuk-batuk.


Perlahan kedua sosok dibalik cahaya putih itu berjalan. Salah satunya menghampiriku, dan melepaskan tali yang mengikat tubuhku.


"Pak Jarwo, terima kasih sudah datang menolong ku. Huhuhu tolong Bude Pak, ia akan ditumbalkan untuk sosok yang mereka sembah. Mereka semua adalah pengikut Leak, bisa jadi mereka merubah wujudnya menjadi Leak lalu mencelakai kita." jelasku berderai air mata pilu.


"Tenanglah Rania, kau adalah anak pemberani. Dengarkan penjelasanku dengan baik. Saat ini Bude mu memang dalam bahaya, dan kau harus segera kesana untuk menyelamatkan nya. Waktumu tak banyak sebelum sesembahan mereka datang, kau harus bisa membawa Budemu keluar dari Goa itu. Jika kau terlambat membawanya keluar dari sana, bukan hanya Bude mu saja yang dalam bahaya. Tapi kita semua bisa dalam bahaya besar, kali ini kita berada di wilayah mereka. Bukanlah alam biasa seperti sebelumnya, bahkan Malik tak dapat pergi ke tempat ini. Hanya yang masih memiliki jazad saja yang bisa datang kesini. Dan Malik tak bisa datang menyelamatkan mu, karena itulah ia mendatangi kami." kata Pak Jarwo dengan suara tegasnya.


Sementara di depan altar sana, Mbah Karto sedang menghadapi perempuan berjubah hitam itu. Keduanya bertarung secara sengit, rupanya ada perbedaan alam gaib para makhluk tak kasat mata, dengan mereka yang berada disini. Mereka adalah jiwa yang memiliki raga, dan jazadnya masih ada di dunia ini. Jadi bisa dikatakan mereka adalah manusia setengah makhluk gaib. Karena itulah tak sembarang orang yang bisa datang ke tempat ini. Nampak Bu Wayan menyunggingkan senyumnya padaku, ia menganggukan kepalanya memberi kode gestur tubuh, supaya aku segera pergi menyelamatkan Bude Walimah.


Meski langkahku berat, aku berusaha sebisa ku untuk sampai ke Goa itu. Seakan ada yang menahan kaki ku untuk melangkah. Aku berhenti melangkah memejamkan mata seraya membaca ayat-ayat suci, ketika ku buka lebar mataku dan melihat ke bawah. Nampak dua sosok kurcaci sedang bergelayut di kedua kaki ku. Pantas saja langkahku terasa berat, segera ku dorong kedua kerdil itu dengan bacaan ayat suci. Hingga keduanya terpental jauh, dan aku segera berlari masuk ke dalam Goa.


Ada pemandangan yang tak biasa di dalam Goa itu. Banyak jiwa-jiwa manusia yang terperangkap di dalam sana. Artinya mereka semua adalah korban yang pernah ditumbalkan untuk sosok Leak sesembahan mereka. Terlihat Bude Walimah hanya berdiri diam tak merespon ucapanku. Sepertinya ia masih dalam keadaan linglung, segera ku lepaskan tali pengikat tangan dan kakinya. Tapi kedua sosok kerdil itu berusaha menghentikan ku. Mereka menghujani ku dengan panah-panah yang di ujungnya terdapat api yang berkobar-kobar. Segera ku tepis panah itu dengan tanganku, loh aneh kenapa api itu tak bisa membakar tubuhku. Dengan percaya diri ku lemparkan panah api itu ke arah keduanya. Dan kedua manusia kerdil itu terbakar oleh senjata mereka sendiri. Tak bisa ku mengerti, bagaimana bisa panah berapi itu membakar kedua manusia kerdil itu, sementara aku tak terluka oleh panasnya api di ujung panah itu.


"Bude sadarlah, ini Rania Bude. Ayo kita pergi dari sini sekarang juga."


Tak ada jawaban dari Bude Walimah, ia masih diam membisu tak mengatakan apa-apa. Aku hanya bisa memegang erat tangannya, lalu berlari secepat yang ku bisa. Mbah Karto berterkak padaku, untuk segera masuk ke dalam cahaya putih di depan altar itu.


"Cepatlah Nduk, waktu kita tak banyak lagi, sebelum Leak yang paling berkuasa sampai di tempat ini. Kita tak akan mampu melawannya di alam mereka!" seru Mbah Karto dengan wajah cemas.


Aku mendorong tubuh Bude Walimah masuk ke dalam cahaya putih itu. Ketika aku akan pergi dari sana, nampak wajah sendu Bu Wayan sedang menatapku dengan mata berkaca-kaca. Akhirnya aku kembali menghampiri nya dan berusaha melepaskan tali yang mengikat tubuhnya.


Aku menundukan kepala dengan penuh kesedihan, tapi tiba-tiba Pak Jarwo menarik tanganku pergi dari sana. Sementara Mbah Karto masih bertahan disana melawan semua pengikut Leak.


Criiing wuuush.


Cahaya menyilaukan mata disertai angin kencang membuatku kehilangan kesadaran. Dan aku merasa sakit di sekujur tubuhku. Terdengar suara-suara orang yang menangis dengan menyebut namaku berulang kali. Perlahan ku buka kedua mata.


"Wati. Mbak Ayu." ucapku lirih.


"Rania syukurlah lu udah sadar, kami semua sangat mencemaskan mu!" seru Mbak Rika yang ternyata ada di belakang Wati.


Sebenarnya apa yang terjadi, aku masih belum bisa berkata-kata. Teringat di kepalaku, jika Bude Walimah sempat dalam bahaya karena ku. Lalu aku berusaha bangkit dari tidur, aku duduk dengan menyandarkan tubuh. Ku cari keberadaan Bude Walimah, mataku memandang ke segala arah, tapi ia tak ada dimanapun.


"Bude, Bude dimana?"


"Tenang Rania, Bude sedang istirahat di rumah utama. Ia jatuh sakit setelah mengetahui kau dalam bahaya." jelas Mbak Rika.


Nampak Wati dan Mbak Ayu saling memeluk dengan berlinang air mata. Aku teringat tentang Pak Jarwo dan juga Mbah Karto. Lalu aku menanyakan keberadaan keduanya.


"Mereka gak ada disini Rania, mungkin kamu melihat keduanya di alam lain. Karena kenarin Pak Jarwo sempat menelepon ku, dan menjelaskan semuanya. Syukurlah kalian bisa kembali dengan selamat." kata Wati seraya memelukku.


Semuanya tampak kebingungan, tak berselang lama Tante Ajeng datang memanggil Wati. Lalu ia pergi keluar bersama Mbak Ayu.


"Rania. Bagaimana rasanya berada di alam Mangrahi? itu adalah alam tempat tinggalnya manusia setengah siluman. Dan gak sembarang makhluk bisa masuk kesana. Bahkan makhluk gaib gak bisa datang kesana untuk menyelamatkan mu." kata Tante Ajeng dengan tersenyum melalui sudut bibirnya.


"Apa maksud Tante Ajeng berkata seperti itu? aku mempunyai perasaan yang gak enak mendengar ucapannya barusan. Sebenarnya apa yang terjadi sebelumnya?" batinku bertanya-tanya.


...Bersambung. ...