Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 235 BISIKAN MINTA TOLONG.


Setelah selesai menyantap hidangan yang disajikan. Kami semua memutuskan untuk berpisah disana, karena Silvia dan Wening harus kembali ke kantor mengembalikan semua peralatan dan juga mobil kantor.


"Ya udah gue balik duluan ya guys, see you!" Kataku seraya melambaikan tangan.


Aku berjalan keluar Mall dengan penuh tanya. Entah kenapa batin ku seakan berkata-kata, jika aku harus mengenal Wening lebih dekat lagi. Padahal seharusnya aku memang menjaga jarak dengannya, tapi seolah-olah ada bisikan yang meminta ku untuk tetap dekat dengannya. Supaya aku dapat mengenalnya dengan lebih dekat. Tapi apa gunanya aku mengenalnya lebih dekat lagi, apalagi ia berbeda pola pikir denganku. Dan apapun yang ia lakukan juga bertentangan dengan ku.


"Kenapa Ran?"


"Gak apa-apa kok Mas. Feeling aku gak enak aja sama Wening. Tapi kayak ada yang minta aku buat deket sama dia, supaya aku bisa tau sesuatu gitu. Bingung juga sih sebenernya ada apa sama dia. Wening itu orangnya misterius banget loh, dia penuh teka-teki yang membingungkan."


Mas Adit menyunggingkan senyum seraya mengusap rambut ku. Ia berdiri di hadapan lalu mencubit kedua pipiku.


"Udah gak usah mikir yang aneh-aneh lagi. Aku tau kemarin kau agak kecewa kan, karena Wening yang membantu menyelesaikan kasus Arfi? Kau tak usah risau, karena bagaimanapun aku akan lebih mendengarkan penjelasan darimu." Ucapanya terdengar manis, dan membuatki tersipu malu.


Ternyata adegan memalukan itu dilihat oleh Silvia dan Wening yang baru saja keluar dari pintu Mall. Terlihat Silvia menggoda kami, dan mengatakan jika seharusnya kami pacaran saja. Seketika aku tertunduk malu dengan wajah memerah. Dasar Silvia bikin suasana jadi canggung aja sih. Ku dongakan kepala menatap Silvia yang masih terkekeh menggoda ku. Sementara Wening hanya diam dengan tersenyum melalui sudut bibirnya.


"Mereka kan udah temenan lama Sil, kalau emang keduanya saling suka, pasti mereka udah lama pacaran, bener gak Ran?" Celetuk Wening menatapku dan juga Mas Adit.


"Ehm i iya Wen hehehe." Sahut ku salah tingkah mendengar perkataannya.


Tak lama setelahnya Mas Adit langsung memegang tanganku, ia menatap ku dengan mengaitkan kedua alis matanya. Tiba-tiba saja terdengar sesuatu yang terjatuh dengan keras. Seketika kami menoleh ke arah Wening yang sedang berjongkok mengambil beberapa barang yang terjatuh dari tangannya. Kami semua langsung membantunya, mengambil satu persatu barang-barang dan memasukannya ke dalam bungkusan.


"Duh hati-hati dong Wen, kalau ada yang rusak gimana dong! Ntar Pak Arya bisa marah tau gak!" Seru Silvia panik.


"So sorry Sil, kepala gue agak pusing nih." Jelas Wening dengan memegangi keningnya.


Tiba-tiba saja Wening tumbang tepat di samping Mas Adit. Sontak saja ia menangkap tubuh Wening dalam dekapannya. Aku dan Silvia membulatkan kedua mata terkejut, melihat Wening yang tiba-tiba menjadi lemas.


"Dih lu kenapa Wen? Kok lu jadi lemes gini padahal kan kita baru aja makan. Apa makan lu kurang banyak ya makanya lu lemes begini?" Ucap Silvia seraya mengambil barang-barang yang dibawa Wening.


"Dasar lu Sil, pikirannya makanan doang! Gak ada hubungannya kali! Mungkin Wening kecapean deh, lu bisa gak bawa mobil sampai kantor?" Kataku dengan menaikan dagu menatap Silvia.


"Bukannya gue gak mau Ran! Kalau malam gini mata gue agak bermasalah. Gue gak bisa nyetir kalau udah gelap. Gimana dong?"


"Ya udah, kalau gitu gue aja yang bawa mobil kantor. Lu balik aja duluan sama Mas Adit."


Mas Adit langsung berkata, jika ia saja yang mengantarkan Wening mengembalikan mobil ke kantor. Sementara aku dan Silvia bisa pulang menggunakan sepeda motornya.


"Kalau kau bolak-balik ke kantor lagi, kapan kau istirahatnya Ran? Katanya mau cepetan pulang? Kau pakai aja motor ku, biar aku yang mengantar Wening." Jelas Mas Adit yang masih merangkul Wening, karena ia tampak lemas dan masih memegangi keningnya.


"Teman-teman sorry ya kalau gue merepotkan. Gak tau kenapa tiba-tiba aja vertigo gue kambuh nih." Jelas Wening dengan menundukkan kepala.


"Oh lu punya vertigo Wen, jadi bener kata Rania kalau gak ada hubungannya sama makanan. Ya udah gue balik duluan aja ya sama Rania. Lu gak apa-apa kan gak gue bantuin mindahin peralatan yang kita bawa tadi?"


Aku dan Silvia membantu membawa barang-barang sampai ke mobil, lalu memasukannya ke bagasi. Nampak Wening sudah duduk di jok mobil dengan menyenderkan kepalanya. Kemudian aku dan Silvia berpamitan pada Mas Adit dan juga Wening.


"Besok pagi kau bawa saja motor ku ke kantor. Siangnya pas aku tugas lewat sana, biar sekalian aku ambil motornya." Imbuh Mas Adit seraya mengusap rambut ku.


"Perhatian banget sih sama Rania... Kenapa gak jadian aja sih!" Celetuk Silvia dengan senyum meledek.


Seketika aku berjalan mundur menjauhi Mas Adit, lalu aku bersama meninggalkan tempat itu bersama Silvia. Namun Silvia kembali melihat ke belakang, dan mengetahui jika Wening sudah bisa memainkan ponselnya.


"Kayaknya dia emang kecapean ya Ran. Begitu duduk di mobil bentar, udah bisa mainan hape langsung. Padahal kan orang vertigo harus nya gak mungkin normal secepat itu. Tapi mungkin tiap orang beda-beda kali yah!"


Mendengar penjelasan Silvia, seketika aku membalikkan badan ke belakang. Ku lihat Wening sedang tersenyum menatap layar ponselnya. Memang agak aneh sih, tapi aku juga tak tah kenapa. Mungkin saja benar kata Silvia, jika Wening sudah membaik. Tak lama setelah nya, mobil yang mereka tumpangi meninggalkan lokasi. Aku dan Silvia bergegas ke parkiran motor, supaya kami bisa cepat pulang.


"Eh Ran, emang beneran ya kata Wening kalau makhluk gaib yang suka sama gue udah gal akan ganggu gue lagi?" Tanya Silvia menghentikan langkahnya.


"Gue juga gak tau pastinya Sil, kita lihat aja ke depannya gimana." Jawabku dengan menghembuskan nafas panjang.


"Jadi sahabat hantu lu gak akan ikutin gue lagi kan?"


"Petter emang dari semalam udah gak ngikutin lu kok. Mamanya juga udah gak, karena dia lagi kebingungan cari anaknya yang tiba-tiba hilang dari rumah lu."


"Loh kok bisa Ran? Masak hantu bisa hilang sih!" Katanya dengan menggaruk kepala.


"Bisa aja sih Sil, tapi gue juga gak tau kemana Petter pergi."


Tiba-tiba aku mendengar suara bisikan lembut di telinga ku. Ucapan minta tolong yang terdengar samar, tapi aku yakin jika mendengarnya.


"Itu kan suara Petter! Dimana kau saat ini Petter? Katakan padaku, aku akan datang menolong mu!" Ucap ku melalui batin.


Hening. Tak ada jawaban dari Petter. Aku semakin cemas karena tak mendapat jawaban darinya.


"Gelap Raniaaa... Aku tak tau ada dimana! Tolong aku Raniaaa..."


Tak ada suara apapun lagi. Seketika aku semakin panik, nafasku berderu kencang dengan detak jantung yang tak beraturan.


"Lu kenapa Ran? Kok tiba-tiba lu berkeringat gini sih? Ada apa an Ran?" Tanya Silvia cemas melihat ku.


"Gu gue denger suara Petter Sil. Tapi gue gak tau dia dimana!" Jawabku dengan meneteskan air mata.


Jangan-jangan benar dugaanku, jika ada seseorang yang sengaja menahan Petter di suatu tempat. Karena Petter sendiri tak tau dia berada dimana, dan mungkin juga kekuatannya dibatasi. Sehingga Petter kesulitan untuk berkomunikasi dengan ku ataupun Mamanya. Lebih baik setelah ini aku melepas jiwa, supaya aku dapat membantu Aunty Ivanna menemukan dimana keberadaan Petter.