
Siang itu Mama dan Papa meninggalkan Desa Rawa Belatung. Kami semua hanya bisa melepaskan kepergian mereka dengan perasaan cemas. Semoga Mama dan Papa sampai dengan selamat di Bali. Dan kondisi Mbak Ayu ataupun Om Dewa bisa lekas membaik.
Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat, Mama dan Papa sudah sampai disana dengan selamat. Mereka memberikan kabar, jika kondisi Mbak Ayu dan Om Dewa masih belum sadarkan diri. Menurutnya warga menemukan keduanya sudah tergeletak di hutan dekat pura goa gong. Entah apa yang terjadi, karena Polisi masih melakukan penelusuran lebih lanjut.
"Sebenarnya apa yang terjadi sih, kayaknya apa yang menimpa mereka bukan suatu hal yang kebetulan deh!" Kataku dengan mengacak rambut kasar.
"Memang apa yang kau curigai Ran?" Tanya Wati.
Sebenarnya aku tak bisa mencurigai siapapun, karena aku tak mengetahui apa yang terjadi disana. Satu-satunya yang dapat menjelaskan hanya Mbak Ayu, tapi ia juga dalam kondisi yang tak memungkinkan.
"Entahlah Wat, aku tak bisa menembus dimensi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Tiba-tiba Lala berlari tergesa-gesa menghampiri kami. Ia memberitahu jika Mbak Ayu terluka karena berusaha menyelamatkan Om Dewa dari para pengikut Leak. Sontak saja aku dan Wati tercengang, bagaimana mungkin itu bisa terjadi. Sedangkan Mbak Ayu sendiri adalah pemimpin dari semua pengikut Leak itu.
"Tadi selesai shalat aku dzikir dan berdoa dengan khusyuk, aku meminta petunjuk dari Yang Maha Kuasa, ku bayangkan wajah Mbak Ayu karena aku belum pernah bertemu dengan Om Dewa. Tiba-tiba liontin ini bersinar terang, dan aku menggenggamnya. Saat itu juga aku mendapatkan penglihatan, jika Mbak Ayu sedang menghentikan para pengikut Leak untuk memberi hukuman pada seorang lelaki yang sudah dalam keadaan terikat dan tak sadarkan diri. Tubuhnya dipenuhi luka cambukan dimana-mana. Semua pengikut Leak itu tak membiarkan Mbak Ayu untuk melepaskan lelaki itu. Saat Mbak Ayu berteriak menyebutkan nama Om Dewa, barulah aku tahu jika ia ingin menyelamatkan lelaki yang terluka itu. Mbak Ayu terpaksa mengorbankan dirinya, untuk dapat membebaskan Om Dewa dari sekapan para pengikut Leak. Meski akhirnya ia mendapat hukuman, dengan menerima semua siksaan dari Calon Arang."
"Hah! Bagaimana mungkin Calon Arang melukai Mbak Ayu La?" Kataku dengan membulatkan kedua mata.
"Itu adalah kesepakatan antara Mbak Ayu dengan Calon Arang, supaya ia bisa membebaskan Om Dewa dari sekapan para pengikut Leak. Meski secara Adat Mbak Ayu adalah pemimpin para pengikut Leak itu, ia tetap tak bisa menyalahi aturan dengan menyelamatkan oM Dewa begitu saja. Karena itulah ia memohon pada Calon Arang, supaya ia dapat membebaskan Om Dewa. Dan sebagai gantinya, ia bersedia menerima hukuman yang seharusnya diterima Om Dewa
Karena bagaimanapun ia telah berhianat, dan sempat memihak istrinya."
Ternyata sebegitu besarnya kasih sayang Mbak Ayu pada Om Dewa. Meskipun Om nya itu pernah menghianati nya. Tapi ia rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Om Dewa.
"Tenang Ran, yang terpenting saat ini kita udah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Karena ini berhubungan dengan hal gaib, kayaknya percuma kita ngandelin investigasi dari Polisi. Semoga saja mereka lekas sadar dan sembuh seperti semula!" Ucap Wati berusaha menenangkan ku.
Tiba-tiba saja Lala pergi keluar rumah tanpa berpamitan. Aku dan Wati memutuskan untuk tetap di rumah. Terdengar Pramono sedang berteriak mencari Wati, karena ia ingin mengajaknya bermain.
Dreet dreet.
Ponsel ku bergetar, nampak panggilan telepon dari Mas Adit. Ia menanyakan kabar, dan kepulangan ku ke Jakarta. Ia memberitahu jika ada kabar mengenai kelompok sekte sesat.
"Ari sudah mengakui, jika Tante Ajeng sekarang adalah pemimpin kelompok sekte sesat itu. Tapi ia mengaku tak tahu dimana tempat persembunyian kelompok itu. Karena mereka pasti akan berpindah ke tempat yang baru." Jelas Mas Adit di seberang telepon sana.
"Mungkin apa yang Ari katakan benar Mas, secara dia sudah tak berhubungan dengan kelompok sekte itu."
Mendengar dugaan Mas Adit, bisa jadi itu memang benar. Tapi aku tak bisa memastikan nya, karena aku tak dapat menelusuri semuanya sendiri. Tiba-tiba saja aku mendengar Lala berteriak, aku pun langsung mengakhiri panggilan telepon itu.
"Ada apa sih La? Apa kau terluka?" Tanya ku seraya berlari menghampiri nya.
"Aku gak apa-apa Ran, alhamdulillah rencana kita berhasil. Buto itu bersedia mengakhiri perjanjian nya dengan Sumitro, kalau dalam waktu satu tahun ini, ia tak memberikan tumbal untuk buto itu. Tapi Kangmas Elang juga memberikan mustika ini untuk Wati, supaya ia selalu terlindungi dari semua bangsa Buto ireng."
"Tapi kan itu waktunya masih lama La, mana mungkin aku harus selalu berada di Desa ini. Aku tak mungkin bisa menjaga Wati terus menerus!"
"Kau tenang saja Ran, mustika pemberian Kangmas Elang bisa menjaga Wati untuk sementara waktu. Semoga saja ia tak melakukan hubungan itu dengan Pramono, jadi ia tak akan mengandung sampai perjanjian Sumitro dengan Buto itu berakhir!" Pungkas Lala dengan menghembuskan nafas panjang.
Dari balik tembok nampak Wati sedang berdiri mematung bersama Pramono. Ia menyunggingkan senyum pada ku, lalu berjalan menghampiri aku dan Lala. Ia menjelaskan, jika kekhawatiran ku dan Lala tak akan terjadi. Mengingat kondisi mental suaminya yang sedemikian, mereka tak pernah sekalipun melakukan hubungan itu.
"Maaf ya Wat, bukannya kami terlalu mencampuri kehidupan pernikahan kalian. Tapi kami hanya cemas saja!" Ucap ku dengan wajah penuh penyesalan.
"Iya nih, aku juga jadi ngerasa gak enak." Sahut Lala menundukkan kepala.
Nampak Pramono yang lugu itu menertawakan kami dengan bertepuk tangan. Entah apa yang ada di dalam pikiran nya, lelaki itu nampak kegirangan melihat ekspresi wajah kami.
"Kalian lihat betapa polosnya Mas Pramono. Kami tak akan melakukan hubungan itu, sebelum Pak Mitro berakhir di tangan Buto sembahan nya." Jelas Wati dengan menyunggingkan senyum.
Kemudian Lala memberikan gelang dengan butiran-butiran batu berwarna hitam. Dan meminta nya untuk selalu memakainya, kecuali ia akan melakukan ibadah.
"Kau harus melepas gelang ini ketika menghadap pada Yang Maha Kuasa. Kalau kau mengenakan gelang ini ketika beribadah, maka kesaktian gelang ini akan musnah. Dan sosok buto itu bisa mengincarmu juga, meski kau belum melahirkan keturunan Sumitro. Karena Buto itu bisa merasuki Pramono, dan mengendalikan tubuhnya. Bisa-bisa Pramono kerasukan, dan melakukan hubungan itu denganmu. Karena kalian sudah suami istri, mana mungkin kau menolaknya. Lalu kau jadi hamil, dan Buto itu akan menantikan kelahiran keturunan kalian. Itulah yang Kangmas Elang jelaskan padaku. Meski secara tak sadar Pramono berhubungan dengan mu, tetap saja kan itu hasil dari hubungan kalian berdua. Benih dari suami mu akan hidup di dalam rahim mu, lalu Sumitro akan mendapatkan apa yang ia mau. Bahkan setelah itu, kesehatan Sumitro bisa berangsur-angsur membaik. Selain ia mendapatkan kekayaan yang berlimpah ruah. Usianya akan semakin panjang, dan ia akan terus melanjutkan pesugihan itu. Apa kau mengerti apa yang kami hawatirkan Wat? Karena itulah bukannya kami menghawatirkan kondisi mental suami mu, tapi sosok Buto itu bisa melakukan apa saja. Jadi aku harap, kau lebih berhati-hati lagi. Pakai gelang ini dan lebih berhati-hati lagi mulai sekarang!" Tegas Lala seraya menyerahkan gelang pada Wati.
Aku meyakinkan Wati, untuk lebih berhati-hati dalam waktu setahun ini. Dan mengenai si Merah, aku akan mengatasi nya sendiri.
"Kalau memang begitu, lebih baik kau kembali saja ke Jakarta Ran. Aku akan baik-baik saja, karena ada Mbok Genuk juga yang akan mengawasi ku. Lala dan Pak Jarwo ada disini juga, jadi banyak yang akan menjagaku. Kau bisa lebih tenang, karena aku memakai gelang ini." Ucap Wati, ia terus membujukku untuk pulang ke Jakarta.
"Baiklah, secepatnya aku akan kembali. Tapi setelah memastikan Bu Kartika juga kembali ke Jakarta. Karena ada urusan yang harus aku selesaikan dengannya. Kuntilanak merah itu pasti akan mengikuti Bu Kartika pergi, jadi aku bisa menyelesaikan urusanku disana!"
Meski masalah mengenai pesugihan Pak Mitro belum selesai. Setidaknya ada sesuatu yang bisa melindungi Wati untuk sementara waktu. Aku harap Wati tak melupakan peringatan yang Lala jelaskan. Karena sekali ia melanggar peringatan itu, kesaktian dari gelang pemberian Elang tak akan berguna lagi. Tak ku sangka, Lala mengorbankan perasaan nya lagi, demi mendapatkan jimat untuk Wati. Pasti tadi ia mendadak pergi untuk menemui Elang seorang diri. Seandainya Elang bukanlah makhluk gaib, pasti perjalanan cinta mereka akan berakhir dengan bahagia.