Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 113 KISAH ENDANG.


"Emangnya tuh Sundel bolong darimana Ran? Kok bisa nyampe sini sih?"


"Ceritanya panjang Mbak, gue sambil makan ya, keburu dingin ntar nasi gorengnya."


Aku duduk di lantai ruang tamu, lalu membuka bungkus nasi goreng dan menyantapnya. Sesekali aku menceritakan tentang Sundel bolong yang mendatangi ku tadi. Jika hantu itu adalah korban dari sosok kuntilanak Endang. Dia datang untuk mencari Endang dan membalaskan dendam. Ku jelaskan inti permasalahannya, beruntungnya Mbak Ayu cepat paham dan mengerti apa yang ku jelaskan meski singkat.


"Jahat banget sih Mbak Endang. Jadi dia udah memanipulasi lu buat nolongin dia, dan berlagak layaknya korban? Padahal dia sendiri pelaku kejahatan nya?"


"Ho.oh Mbak, kayaknya sih emang Mbak Endang yang nipu gue. Nyatanya, apa yang dikatakan Pak Darman sesuai dengan penglihatan yang diberikan hantu Bu Narti. Kasihan dia meninggal bersama calon bayinya, mungkin selama ini dia udah gentayangan ngikutin Pak Darman. Tapi baru tadi dia tahu kalau Endang yang melakukan santet padanya. Tadi sih gue cerita banyak ke Pak Darman mengenai sosok Mbak Endang itu. Habisnya apa yang di ceritakan keduanya berbeda versi, gue kan bingung. Mungkin karena itulah Sundel bolong tadi nyamperin gue Mbak. Duh tapi ada masalah lain yang bikin gue pusing Mbak!" Seruku dengan mengacak rambut kasar.


"Dih ngapain lu stres gini Ran?" Tanya Mbak Ayu seraya merapatkan duduknya lebih dekat lagi.


Aku menceritakan tentang bayi tetangga kontrakan Mbak Rika yang hilang, dan ada kemungkinan jika yang melakukan nya adalah sosok Endang. Dengan detail ku jelaskan semuanya mengenai Pak Darman yang merupakan paman dari bayi itu.


"Jangan-jangan dugaan lu emang bener Ran, tadi siang kan tetangga baru kita itu denger suara tangisan bayi. Nah karena dia kayak ketakutan gitu, akhirnya gue cari tahu darimana sumber suara itu berasal. Dan gue lihat si Mbak Endang di belakang kebun kost kita. Dia lagi duduk uncang-uncang kaki sambil gendong sesuatu gitu. Gue sih gak lihat jelas apa yang dia timang-timang, tapi gue denger jelas suara tangisan bayi itu di sekitar sana. Lebih baik kita cari kesana langsung aja yuk, gue hawatir sama bayi itu. Kalau gue tahu tuh beneran bayi manusia, udah dari siang tadi gue ambil dari kuntilanak itu!" Cetus Mbak Ayu seraya bangkit berdiri.


Kami sama-sama pergi ke kebun belakang. Tak ada penerangan sama sekali, hanya sinar cahaya bulan yang menerangi kebun terbengkalai ini. Ku picingkan kedua mata, memandang ke segala arah. Tapi tak ku temukan sosok Endang disana. Aku mencoba berkomunikasi melalui batin, dan meminta Endang datang. Hampir setengah jam kami menunggu, tapi sosok kuntilanak Endang belum menampakkan wujudnya.


Tak lama terdengar suara cekikikan khas kuntilanak itu. Sosok Endang berdiri mengambang dengan membopong seorang bayi yang tak terdengar lagi suara tangisnya.


"Ran kok tuh bayi gak gerak sih, suaranya juga gak kedengeran. Jangan-jangan dia..."


"Husst! Jangan mikir macam-macam Mbak, lebih baik kita lawan si kuntilanak itu!" Kataku seraya menepis tangan Mbak Ayu.


Aku berjalan mendekati Endang, ku lihat sosok yang ada di gendongan tangannya, memanglah seorang bayi yang sedang memejamkan matanya.


"Cepat kembalikan bayi itu! Kenapa kau melakukan ini hah? Kau sudah menipuku dengan menceritakan kebohongan tentang Pak Darman dan istrinya. Kau itu sangat jahat tahu gak!"


Mbak Ayu berjalan mengendap dari belakang sosok Endang, ia sedang menunggu Endang lengah dan mengambil bayi itu dari dekapan Endang. Sementara aku bertugas membuyarkan fokus Endang, karena itulah aku terus berkomunikasi dengannya.


"Kau salah! Itu bukanlah bayi Pak Darman dengan Narti. Apa kau tak tahu kalau santet yang kau tujukan pada Narti telah berhasil? Narti telah lama meninggal bersama jabang bayi di dalam rahimnya. Ia tiada tak lama setelah kau meninggal dunia! Kau benar-benar jahat! Cepat kembalikan bayi itu, dia bukanlah anak dari Mas Darman mu!" Ucapku setengah menjerit.


Tak ada jawaban dari Endang, ia hanya cekikikan dengan menimang-nimang bayi yang ada di gendongan.


Tiba-tiba angi kencang datang, membuat pandangan mataku buram, karena debu yang berterbangan.


Whuuus. Bruugh.


Suara angin kencanh disertai suara hentakan terdengar jelas. Nampak Sundel bolong Narti datang menyerang Kuntilanak Endang dari belakang. Bayi yang ada di tangan Endang pun terlepas, dan terlempar jauh. Aku sempat mengira jika suara terjatuh tadi adalah bayi yang terlempar itu. Tapi ternyata yang terjatuh adalah Mbak Ayu yang berhasil menangkap sang bayi. Aku menghembuskan nafas panjang, karena lega melihat bayi itu tidak apa-apa dan mulai terdengar suara tangisnya kembali. Sementara itu di depan sana terjadi pertengkaran di antara kedua makhluk gaib itu. Mereka sedang beradu ilmu, dengan kekuatan mereka masing-masing. Entah darimana Sundel bolong itu tahu keberadaan Kuntilanak Endang. Perkelahian sengit berlangsung di depan mata kepalaku, aku berusaha menghentikan Bu Narti yang berwujud Sundel bolong itu. Tapi ia tak menggubris ucapanku sama sekali. Di tengah kepanikan ku, aku menghubungi Pak Darman dan mengiriminya share lok supaya datang ke tempat ini. Ku katakan padanya untuk mengambil keponakan nya, dan ada yang ingin ku katakan padanya mengenai mendiang istrinya.


Mbak Ayu menutupi tubuh bayi itu menggunakan hoodie yang ia kenakan, aku pun melepas jaketku untuk menghangatkan sang bayi. Perlahan tangisnya mereda, ia kembali memejamkan kedua matanya. Dan tak lama setelah itu Pak Darman bersama kedua orang tua bayi itu datang. Mereka semua menangis terharu, dan sangat bersyukur karena bayi itu telah ditemukan. Mereka semua berterima kasih pada kami, karena telah membantu menemukan bayi itu kembali. Tapi aku dan Mbak Ayu hanya menyunggingkan senyum dengan perasaan campur aduk.


"Maaf lebih baik Ibu dan Bapak bawa bayi ini ke klinik terdekat dulu, takutnya ada apa-apa selama ia menghilang. Untuk cerita detailnya biar saya jelaskan langsung ke Pak Darman." Kataku pada kedua orang tua sang bayi.


Kemudian mereka pergi membawa bayi itu. Sementara Pak Darman masih bersama ku dan Mbak Ayu. Entah bagaimana aku menjelaskan semuanya, aku hanya ingin menghentikan hantu Bu Narti. Supaya ia melupakan dendamnya, dan beristirahat dengan tenang di alam keabadian. Sebelum semua terlambat, dan hantu Bu Narti menjadi tak terkendali. Tapi aku bingung harus memulainya darimana, tiba-tiba terlintas di pikiran ku jika Mbak Ayu memiliki kekuatan besar dari Leak yang dipujanya.


"Mbak lu bisa gunain kekuatan lu supaya Pak Darman dapat melihat kedua hantu yang berkelahi itu gak?" Tanyaku pada Mbak Ayu, dan ia hanya tertegun seraya membulatkan kedua matanya.


Jika Mbak Ayu bisa menggunakan sedikit kekuatannya, mungkin hantu Bu Narti dapat dihentikan oleh Pak Darman. Karena aku tak ingin jiwanya berlarut membawa dendam dan amarah, bagaimanapun ia bisa mengambil keputusan untuk beristirahat dengan tenang di alamnya.