
Pagi harinya, aku sudah bersiap dengan membawa koper kecil. Mbak Ayu meminta ku untuk check-in ke hotel terlebih dulu, karena ia memang harus memberi pelajaran tambahan untuk muridnya. Sesampainya di Hotel bintang lima itu, aku di antarkan oleh seorang office boy yang membantu membawakan koper kecil. Kamar dengan nomor tiga ratus dua puluh dua, yang dijadikan tempat ku menginap selama dua hari kedepan.
"Silahkan beristirahat kakak, kalau ada yang dibutuhkan bisa menghubungi customer service yang ada dibawah." Ucap office boy tersebut sebelum pergi meninggalkan kamar.
Aku menarik gagang pintu, lalu melangkah ke depan kaca besar yang ada di samping tempat tidur. Ku buka tirai jendela, nampak pemandangan kota yang padat dipenuhi kendaraan. Terasa udara dingin yang berhembus dibelakang tubuh ku. Aneh, kenapa aku merasakan hawa dingin yang tak biasa. Ku lihat jam di pergelangan tangan, jam menunjukkan tepat pukul dua belas siang. Mungkin lebih baik aku shalat dzuhur dulu. Ku ambil mukena dan sajadah di dalam koper, tapi tiba-tiba kunci kamar kost yang ada fi dalam koper jatuh ke bawah.
Criiing.
Malas menunduk, kaki ku meraba ke bawah tempat tidur. Tapi aku tak dapat menemuka kuncinya. Nampak kunci di depan lemari pakaian, aku meraih kunci dengan jari kakiku. Astaga ternyata kaki ku tak bisa menggapainya, akhirnya aku menunduk untuk mengambil kunci itu.
Whuuusd whuussd.
Angin dingin tiba-tiba menerpa belakang leher ku. Seketika bulu-bulu halus ku meremang, bersamaan saat aku membungkukkan badan mengambil kunci tadi. Begitu aku bangkit berdiri untuk meletakkan kunci ke dalam koper, nampak makhluk berbulu dan berkaki delapan jatuh di atas pundak ku. Ku kibaskan laba-laba itu supaya jatuh dari pundak ku, lalu aku meloncat-loncat khawatir kalau binatang berbulu itu masuk ke dalam baju. Tapi ketika ku perhatikan lagi, binatang berbulu itu sudah tidak ada. Aneh, sebenarnya ada apa sih ini. Kok aku kayak diganggu gitu ya, batin ku dengan menggaruk kepala yang tak gatal. Ya sudahlah, tak ku hiraukan lagi gangguan tadi. Mungkin penunggu yang ada di hotel ini ingin berkenalan dengan cara menjahili ku. Aku mendengar suara keran air yang mengucur. Padahal aku yakin betul, jika tadi aku tak mendengar suara keran sama sekali. Aku bangkit berdiri, melangkah ke depan pintu kamar mandi dan menghidupkan saklar lampu.
Ceklek.
Ku tarik gagang pintu, dan ku lihat air di keran tak mengalir sama sekali. Bahkan menetes pun juga tidak, lantas darimana asal suara keran tadi ya. Ya sudahlah, aku putuskan untuk langsung mengambil air wudhu. Lalu berjalan keluar kamar untuk shalat. Di tengah-tengah gerakan shalat, aku dapat merasakan energi gaib di sekitar ruangan ini. Tapi aku tetap berusaha mengacuhkan nya, dan tetap melanjutkan gerakan shalat sampai akhir. Tak berselang lama, aku kembali mendengar suara air yang mengalir. Aku menghembuskan nafas panjang, lalu membaca doa seraya menggenggam tasbih di tangan. Setengah mataku melirik ke dalam kamar mandi yang pintu nya masih setengah terbuka. Tak lama setelah itu, mendadak lampu yang ku nyalakan tadi mendadak padam.
"Astaghfirullah." Aku menggelengkan kepala, lalu bangkit berdiri ke depan pintu kamar mandi.
Aku berdiri tepat di depan pintu, dengan posisi masih mengenakan mukena. Ku pejamkan kedua mata, untuk melihat melalui batin. Di dalam kegelapan, ku lihat sesosok jiwa tanpa raga yang bersembunyi dariku.
"Hei siapapun kau, keluarlah! Katakan padaku kenapa kau mengganggu ku! Aku tak takut padamu, kau salah orang jika ingin membuat nyali ku ciut dengan cara rendahan seperti itu!" Bentak ku seraya berkacak pinggang.
Whuuuusd.
Angin dingin menerpa wajah ku, sebelum akhirnya aku tumbang karena terpeleset lantai. Dan begitu aku tak sadarkan diri, aku dapat melihat kehidupan masa lalu seseorang yang tak ku kenal.
Nampak seorang perempuan paruh baya, diam-diam mengikuti seorang laki-laki yang berjalan bersama perempuan muda. Keduanya masuk ke dalam hotel. Terlihat perempuan paruh baya itu menangis tersedu-sedu, karena ternyata sang suami check-in di hotel bersama perempuan lain. Perempuan itu berusaha menyusul sang suami, dan bertanya pada resepsionis. Tapi resepsionis tak bisa menyebutkan nomor kamar, dan mengatakan jika tak ada tamu dengan nama suaminya. Karena tak mendapat informasi sama sekali, akhirnya perempuan itu membayar petugas hotel dengan meminta informasi nomor kamar yang digunakan suaminya.
"Jadi betul yang saya lihat itu benar-benar suami saya kan?"
"Oh jadi ibu ini istrinya Pak Wirawan?"
Perempuan paruh baya itu berdiri dengan tubuh gemetaran. Mendadak ia tak dapat menopang tubuhnya dengan tegap. Ia semakin tak menyangka mendengar penjelasan pekerja yang ada di depannya. Menurutnya Pak Wirawan adalah pelanggan tetap di hotel ini, dan ia selalu berlangganan di kamar yang sama setiap kali ia datang. Bagaikan disambar petir di siang hari, hati perempuan paruh baya itu semakin hancur berkeping-keping.
"Apa kau bisa membantu saya? Jika kau mau, saya bisa memberikan imbalan yang banyak untukmu. Tadi kau bilang suami saya sering datang, dan menggunakan kamar yang sama kan? Letakan kamera tersembunyi di dalam kamarnya. Jangan cuma satu, tapi di beberapa sudut. Saya akan gunakan bukti perselingkuhan itu untuk menggugat nya. Tapi begitu suami saya datang lagi kesini, kau harus menghubungi ku. Supaya aku dapat memberikan imbalan untukmu. Apa kau paham dengan penjelasan ku?" Ucapnya seraya memberikan kartu nama, lalu pergi dari hotel.
Belum sempat aku melihat kejadian selanjutnya, tiba-tiba aku terbangun karena mendengar suara teriakan seseorang. Aduh kepala ku jadi pusing karena terbentur lantai kamar.
"Ran. Raniiaaaa!" Terdengar suara Mbak Ayu dari balik pintu.
Aku bangun dengan mengumpulkan sisa energi. Ku buka pintu dengan berdiri agak sempoyongan.
"Astagaaa!" Jerit Mbak Ayu setengah melompat.
"Kenapa sih Mbak?"
"Lu ngagetin gue tau gak! Ngapain lu buka pintu makai mukena dan gak kelihatan wajahnya. Terus kenapa lu sempoyongan gini Ran?"
"Duh tadi gue habis pingsan Mbak. Ada jiwa tanpa raga yang gangguin gue sejak masuk ke kamar ini. Tapi sepertinya sosok itu sengaja mau ngasih penglihatan dan minta tolong deh!"
"Ya elah Ran! Tujuan kita staycation disini kan buat menghibur diri. Masak iya kita harus ngurus masalah makhluk gaib lagi!" Protes Mbak Ayu seraya berjalan masuk ke dalam kamar.
Mbak Ayu menggunakan mata batinnya, untuk melihat sendiri sosok yang ku maksud tadi. Ia masih berdiri dengan memejamkan kedua mata. Entah apa yang sedang ia lihat, karena sepertinya Mbak Ayu melihat sesuatu yang membuatnya terguncang. Aku dapat melihat dari ekspresi wajahnya, jika sesuatu yang buruk tengah ia lihat di dalam batinnya.