Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 21 MISTERI PENEMUAN MAYAT


Setelah selesai nongkrong di Starbeek, kami memutuskan untuk pulang. Karena Mall Taman Bougenville akan segera tutup. Mas Adit mengantarkan kami kembali ke Kost, ada yang berbeda kalo ini, disepanjang perjalanan nampak Mbak Ayu hanya diam tak berkata apapun. Ada raut kesedihan di wajahnya, aku membuka obrolan, menanyakan kenapa Mbak Ayu jadi berubah murung.


"Mbak Ayu galau ya malam minggu gak jalan sama pacarnya?" godaku dengan memainkan alis mata.


"Gue gak galau karena itu Ran. Gue jadi kepikiran Ibu gue yang gak tahu dimana, bisa aja kan Ibu gue ngalamin kejadian mengerikan seperti yang di alami mayat tanpa identitas itu. Gue hawatir sama orang tua yang gak gue tahu dimana keberadaan nya." jelasnya dengan wajah sendu.


Mas Adit hanya diam mendengarkan obrolanku dengan Mbak Ayu, sepertinya ia tahu jika obrolan seperti ini terlalu sensitif untuk perempuan. Jadi ia hanya diam, fokus dengan kemudinya. Sementara aku sibuk menenangkan Mbak Ayu, dan memeluknya supaya ia lebih tenang.


"Emang beneran gak ada petunjuk ya Mbak dimana orang tuamu? mungkin aja Mas Adit bisa bantu cari tahu, ya gak Mas?"


Mas Adit gelagapan tak tahu mau menjawab apa, menurutnya tak semudah yang ku katakan untuk mencari jejak seseorang yang sudah lama menghilang tanpa jejak.


"Gak usah Ran, lagipula gue gak mau repotin tugas Polisi. Orang tua gue pergi dalam keadaan sehat, mereka memang merantau entah dimana. Doa gue semoga mereka selalu baik-baik aja, dan dihindarkan dari marabahaya." kata Mbak Ayu dengan menundukkan kepalanya.


"Maaf ya Mbak, bukannya saya gak mau bantu. Tapi kedua orang tua mu sudah terlalu lama menghilang, dan akan sulit dilakukan pencarian." jelas Mas Adit tak enak hati.


Mobil tiba di depan rumah kuno tempatku tinggal selama merantau. Mas Adit berpamitan pada kami, dan melanjutkan pekerjaan nya yang tertunda. Mbak Ayu menggelengkan kepalanya, melihat rutinitas Mas Adit sebagai Polisi. Pekerjaan sebagai Polisi memang menyita banyak waktu dan tak kenal lelah.


"Padahal udah malam gini ya, kenapa gak besok aja lanjut kerjanya."


"Gak bisa Mbak, malam ini Mas Adit bersama petugas lainnya harus menguburkan mayat Ibu itu."


"Bukannya kepala yang terpenggal belum ditemukan? kok mau dikuburkan sih?" ucap Mbak Ayu dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Ya karena udah melebihi batas waktu Mbak, dan itu juga atas permintaan almarhum Ibu itu sendiri."


"Lu gak salah ngomong kan Ran? ketika Ibu itu ditemukan udah jadi mayat kan, kok bisa minta dikuburkan tanpa kepala?" kini Mbak Ayu menghentikan langkah kakinya, memandangku dengan wajah serius.


"Panjang Mbak ceritanya, intinya almarhum Ibu itu sudah setuju kalau dikuburkan tanpa kepala. Sepertinya ia tahu jika bagian tubuhnya akan susah ditemukan."


Mbak Ayu semakin penasaran dengan kasus Ibu itu, kini ia memaksaku untuk menceritakan lebih detail apa saja yang ku ketahui.


"Lain kali aja deh Mbak, udah malam juga nih. Besok gue harus berangkat kerja, lu sih enak weekend libur." kataku dengan meregangkan otot di tubuhku.


Nampak Mbak Ayu cemberut, ia terlihat kecewa dengan jawabanku. Terpaksa ia memendam rasa penasaran, dan berjalan masuk ke kamarnya.


Whuuss.


Hawa dingin menerpa belakang leherku, aku mengusap bulu halus yang meremang. Ku pandang ke segala arah, tak ada siapapun kecuali aroma busuk menusuk hidungku.


"Ini pertanda adanya demit yang memiliki dendam sampai akhir ajalnya, aroma busuknya sangat khas dan memuakkan." batinku di dalam hati.


Hihihihihihi. Cekikikan kuntilanak memekakan telinga. Rupanya sosok Endang menyambangiku, ia menatapku dengan sorot mata yang tajam.


"Kenapa kau belum menolongku juga hah?" ucap Endang yang kini melesat ke atas pohon depan kamarku.


"Astaga! bukankah sudah ku katakan padamu, jika aku ada waktu luang, pasti aku akan memanggilmu. Sekarang pergilah, baumu itu membuatku ingin muntah saja!" seruku dengan menutup hidung.


"Rania kau tidak apa-apa kan?" tanya Malik yang baru saja melesat ke hadapanku.


"Oh rupanya kau yang datang, pantas saja demit perempuan itu ngacir. Ku kira kau sudah tak mau menemuiku, kenapa kau pergi tanpa berpamitan hah." bentakku dengan berkacak pinggang.


Rupanya obrolanku dengan sosok tak kasat mata ini, diketahui oleh Janni yang baru saja pulang kerja. Janni melihatku keheranan, ia bergidik seperti orang ketakutan. Aku yang menyadari dengan reaksi Janni bergegas menghampiri nya.


"Eh Janni baru pulang ya? gue lagi latihan drama nih, ada acara di kantor buat pertunjukan di salah satu Panti asuhan besok lusa." kataku berbohong, supaya Janni tak curiga padaku.


"Astaghfirullah Ran, gue kira lu lagi ada masalah kejiwaan tau gak."


"Ya gak mungkinlah Jan, acting gue bagus ya sampai lu ketakutan gitu?"


"Sebenarnya gue takutnya lu lagi kerasukan setan tauk!" seru Janni dengan mengusap lehernya, kebetulan juga sosok Malik sedang berada di sampingnya.


Aku melihat ke arah Malik, dan memberinya kode supaya menjauh dari Janni. Tapi gerakan mataku malah diketahui Janni, dan ia semakin ketakutan melihatku.


"Lu beneran gak apa-apa kan Ran? jangan bikin gue takut deh."


"Ya udahlah Jan, daripada lu takut-takut terus. Masuk kamar aja sono, gue juga mau istirahat nih capek banget." ucapku seraya berjalan masuk ke kamar.


Malik sudah berdiri mengambang di depan pintu kamarku, ia ingin menjelaskan alasan kepergian nya tempo hari lalu.


"Aku pergi menemui makhluk yang berniat mencelakaimu. Aku bertarung dengannya supaya ia tak mengganggu mu lagi, tapi pertempuran kami seimbang. Rupanya ia tak mudah untuk dikalahkan, apalagi setiap hari banyak pengikutnya yang melakukan pemujaan. Dan itu membuatnya semakin kuat saja. Nyawamu bisa dalam bahaya jika kau masih menyimpan sesuatu miliknya."


"Aku sudah berusaha mengembalikan kotak itu pada pemiliknya. Tapi keberadaan nya sangat sulit untuk ditemukan, apa kau bisa membantu ku mencari orang itu?" tanyaku pada Malik.


"Alam kita berbeda Rania. Aku tak bisa leluasa mencari seseorang yang belum pernah ku kenal sebelumnya. Berbeda denganmu, jiwaku sudah melekat denganmu. Jadi kemanapun kau pergi, aku pasti bisa menemukanmu." jawab Malik dengan menundukkan kepalanya.


"Kau ini kan hantu yang sakti, masa gak bisa nemuin alamat orang sih?"


"Hei! aku bukanlah hantu. Aku adalah jiwa tanpa raga, dan di alamku, aku memiliki pengaruh yang besar."


Aku bergumam dan mengatakan, apa bedanya hantu dengan jiwa tanpa raga. Toh sama-sama makhluk tak kasat mata, tapi Malik tak terima ku sebut hantu. Menurutnya kastanya lebih tinggi dari hantu, dan ia tak mau disamakan dengan hantu biasa.


"Lalu kau mau ku anggap apa hah?"


Kini Malik melesat ke hadapanku, ia menatap kedua mataku dengan menyentuh daguku. Tanpa sadar jantungku berdegup kencang, ada perasaan aneh di dalam hatiku ketika Malik semakin mendekatkan wajahnya ke pipiku.


"Loh kenapa Malik bisa menyentuhku ya?" batinku di dalam hati.


Saat wajah kami saling berhadapan, Malik mengucapkan sesuatu yang membuatku salah tingkah. Entah kenapa selalu ada perasaan campur aduk, ketika ia menatapku sedekat ini.


...Hayoo apa yang terjadi selanjutnya? cuap-cuap bentar yuk hehehe. ...


...Bersambung. ...