
Akhirnya Polisi memburu Janni dan ayah Umi beserta satu orang lainnya. Mereka diduga melakukan kekerasan pada Agus, hingga membuatnya sekarat dan berakhir tewas. Janni yang mengaku pergi ke acara pemakaman Umi, tak ditemukan keberadaan nya. Sementara ayah Umi beserta satu pelaku berhasil ditangkap. Mereka digelandang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Keduanya mengaku tak melakukan kekerasan pada Agus, mereka hanya diperintahkan untuk membawa Agus kembali ke kostnya. Polisi tak langsung mempercayai pengakuan mereka begitu saja, dan mereka harus mendekam di penjara selama proses penyelidikan berlangsung.
"Ran, gimana proses pemakaman Agus lancar kan?" tanya Mas Adit yang baru saja datang ke rumah kuno untuk melayat.
.
"Lancar Mas, soalnya jiwa Agus sudah tenang kembali ke alam keabadian. Seandainya semua jiwa yang berpulang dapat pergi dengan tenang, tak akan ada lagi arwah gentayangan." jawabku menghembuskan nafas dalam.
Mas Adit mengatakan ingin bertemu dengan ibu Agus dan juga Tante Ajeng. Ia ingin menjelaskan hasil interogasi nya tadi. Menurut pengakuan keduanya, mereka hanya disuruh seseorang. Tapi mereka tak mau mengatakan siapa orang yang mereka maksud. Dan Janni sekarang menghilang, ia ditetapkan menjadi DPO (Daftar Pencarian Orang).
"Tolong Pak temukan orang yang sudah mencelakai anak saya huhuhu!" ucap ibu Agus berderai air mata.
"Baik Bu, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Karena team kami tak hanya menangani kasus kematian Agus saja, di rumah ini juga terjadi insiden bunuh diri yang belum jelas latar belakangnya."
Setelah menjelaskan segalanya Mas Adit berpamitan pada mereka, nampak Tante Ajeng begitu murka mengetahui keterlibatan Janni dalam kasus penganiayaan Agus. Kini Tante Ajeng baru mengatakan jika Janni sepertinya dendam karena Agus sempat menjalani hubungan dengan perempuan lain setelah putus dengannya. Mas Adit pun terkejut dan menanyakan siapa perempuan yang dimaksud Tante Ajeng.
"Saya gak tahu siapa gadis itu, karena Agus tak pernah mengenalkan nya. Mungkin Pak Polisi bisa melakukan penelusuran lebih lanjut untuk mengungkapkan misteri ini, bisa saja semuanya saling terhubung."
Aku menganggukan kepala setelah mendengarkan penjelasan Tante Ajeng yang menurutku sangat masuk akal. Bisa jadi semua dilakukan oleh orang yang sama, dengan motif sakit hati yang dipendam Janni.
"Eh tunggu! apa mungkin gadis yang berhubungan dengan Agus setelah putus dengan Janni adalah Umi? tapi kan setahuku Umi dan Janni berhubungan baik selama ini. Dan Umi yang ditemukan gantung diri adalah karena ulah Calon Arang." batinku didalam hati penuh curiga.
Plaak!
Mbak Ayu datang menepuk pundakku, ia menaikan dagunya karena melihatku melamun.
"Rania lu ngapain ngelamun?"
"Iya tuh Mbak, dari tadi saya nunggu Rania ngomong malah jadi ikutan bengong." sahut Mas Adit dengan menggelengkan kepala.
"Eh bentar ya Mbak, ada yang harus gue omongin empat mata sama Mas Adit. Tunggu bentar aja ya, oke?"
Aku langsung menarik tangan Mas Adit menjauh dari semua orang, ku bisikan kecurigaan ku padanya. Mengenai kemungkinan jika kasus Umi dan Agus memang saling berkaitan. Jika Agus memiliki hubungan dengan gadis lain yang membuat Janni tersulut emosi dan dendam, mungkin gak kalau gadis itu adalah Umi.
"Tapi kau pernah berasumsi jika kematian Umi itu didasari oleh hal-hal yang berbau gaib."
"Mungkin itu memang jadi salah satu penyebabnya Mas, tapi menurutku ada sesuatu yang lain juga."
"Baiklah aku akan meminta petugas untuk menggeledah kamar Umi dan Janni, karena saat ini mereka masih memeriksa kamar kostan Agus. Jika memang ada hubungan di antara mereka, pasti akan ada sebuah petunjuk. Ya udah aku mau ikut tahlilan di dalam dulu ya, mumpung ada disini sekalian."
Mas Adit bergegas masuk ke dalam rumah utama, terlihat beberapa warga sekitar mulai berdatangan untuk mendoakan almarhum Agus. Aku menghampiri Mbak Ayu untuk membantunya menyiapkan suguhan untuk para tamu yang datang. Nampak ibu Agus hanya duduk termenung di depan jendela, matanya nampak sayu dipenuhi kesedihan.
"Mbak gue mau sampaikan ucapan permintaan maaf Agus, dia sangat menyesal karena udah terlibat dalam kematian mendiang Bu Wayan. Ternyata memang Om Dewa yang jadi biang keroknya, kata Agus Tante Ajeng tak sepenuhnya bersalah. Katanya seandainya Tante Ajeng melakukan sesuatu, itu bukanlah secara disengaja. Mungkin mulai sekarang kita tidak boleh mencurigai Tante Ajeng lagi. Dan mengenai Om Dewa, hanya Janni yang mengetahui keberadaan nya. Tapi sepertinya Janni udah tahu kalau semua kedoknya akan terungkap, makanya dia udah kabur gak tahu kemana."
Tak ada jawaban dari Mbak Ayu, ia hanya memandang ibunya Agus dengan mata berkaca-kaca.
"Gue kasihan sama ibunya Agus, dia sekarang sebatang kara. Seandainya Agus gak bodoh dan bekerja sama dengan Om Dewa, mungkin gue masih bisa memaafkan nya. Dan saat ini dia gak akan tiada tanpa sebab." ucap Mbak Ayu dengan wajah sendu.
"Jadi lu bisa berbesar hati kan Mbak buat maafin Agus? biar dosanya sedikit berkurang dengan ampunan dari lu."
Mbak Ayu menganggukan kepala, tapi tiba-tiba kedua matanya membulat sempurna. Ia tercengang melihat ke arah belakang rumah.
"Ran, itu kan si Umi!"
Mbak Ayu mengarahkan jari telunjuknya tepat dihadapanku, nampak arwah Umi melotot ke arah Mbak Ayu.
"Mbak biar gue yang komunikasi sama dia. Lu selesaikan pekerjaan di dapur aja, karena gue yakin Umi gak akan mau berkomunikasi kalau ada lu di dekat gue."
Segera ku hampiri arwah Umi, ia melesat ke belakang rumah. Entah kenapa ia menuntunku ke sebuah kebun kosong, disana ia berhenti di bawah pohon besar yang dibawahnya tertata sesajen dan dupa yang masih menyala. Aku mengerutkan kening seraya menoleh ke berbagai arah.
"Untuk apa lu bawa gue kesini Umi?"
"Janni bersekutu dengan makhluk gaib, memang awalnya Calon Arang yang mengambil jiwaku. Tapi setelah itu Janni lah yang mencelakaiku, ragaku yang masih bisa diselamatkan, digantung di lantai atas rumah utama. Ia mengenakan sarung tangan supaya tak meninggalkan sidik jari. Dan Janni yang membuatku seolah-olah gantung diri, karena hanya sidik jariku saja yang menempel di tali itu. Sesungguhnya jiwaku masih bisa kembali ke dalam raga, jika Janni tak mencelakai ku. Meskipun jiwaku masih bisa diselamatkan, tapi ragaku sudah tak dapat diselamatkan lagi. Karena organ tubuhku sudah tak berfungsi, jadi jiwaku selamanya terjebak di alam berantah. Mungkin awalnya Mbak Ayu menyerahkan ku pada Calon Arang, tapi ayahku berhasil melepas jiwaku dari alam mangrahi. Tapi semua sudah terlambat karena ragaku sudah terbujur kaku, sekarang aku hanyalah jiwa tanpa raga. Dan semua ini karena perbuatan Janni, seseorang yang ku anggap seperti saudaraku sendiri." jelas Umi dengan menundukan kepalanya.
...Bersambung. ...