
Aku dalam perjalanan ke Mansion Emerald Garden. Tempat Pak Bos beserta orang tuanya tinggal. Kondisi jalanan yang macet membuatku dilanda kecemasan, berkali-kali aku berusaha menghubungi Mas ojol supaya dapat menjemputku di tengah perjalanan. Karena jika aku tetap menggunakan taksi online ini, sudah dapat dipastikan jika aku akan terlambat menghentikan Aurora. Beruntung nya Mas ojol berada tak jauh dari lokasi ku saat ini, dan ia langsung mengendarai sepeda motor nya untuk menjemputku.
"Pak, ongkosnya udah saya bayar pakai aplikasi ya. Saya turun disini aja!"
"Tapi Kak, rute nya masih jauh. Nanti saya bisa kena suspend kalau gak menyelesaikan orderan."
"Ya udah, Bapak jalan sampai ke titiknya aja sendiri. Soalnya saya buru-buru, udah ditunggu ojol di depan halte sana. Permisi ya Pak, makasih!"
Aku langsung berlari ke halte yang ada di ujung jalan. Nampak Mas ojol melambaikan tangannya padaku, aku mempercepat langkahku dan naik ke boncengan motornya.
"Mas langsung ke alamat itu ya, cari jalan yang gak macet. Soalnya ini menyangkut nyawa seseorang."
Tanpa banyak bertanya, Mas ojol langsung mengendarai sepeda motor nya meliuk-liuk mendahului para pengguna jalan. Berkat usahanya, kami bisa lebih cepat sampai ke lokasi. Dan di tengah perjalanan, kami sempat berhenti karena terhalang lampu merah yang cukup lama durasinya. Mas ojol sempat membahas Pak Markum, yang katanya menjual mobil miliknya, untuk mengganti sejumlah aset yang istrinya ambil dari Purnama.
"Kasihan ya Kak, si Aya gak punya siapa-siapa. Beruntung nya Pak Markum sebagai Paman nya mau bertanggung jawab, mengganti semua aset yang istrinya ambil. Katanya sih dulu, istrinya Pak Markum memang sempat stres, karena terus berteriak memanggil nama Bulan. Katanya dia lihat hantu kembaran si Aya, mana mungkin Bulan yang udah meninggal gentayangan lagi." kata Mas ojol tersenyum geli.
"Eh iya juga ya, kenapa aku gak manggil hantu Bulan aja untuk menghentikan niat jahat Aurora. Bulan pasti setuju dengan ku, jika aku menceritakan siapa Aurora sebenarnya." batinku didalam hati seraya menjentikan jari.
"Mas, tolong berhenti di pom bensin depan ya. Saya mau ke toilet dulu nih."
Aku sengaja beralasan ke toilet, untuk memanggil hantu Bulan dan mengatakan kebenaran yang ada. Ia pasti tak akan mau jika melihat anak dari kembarannya mencelakai manusia.
Aku berjalan memasuki toilet yang ada di sebuah Pom bensin. Terlihat berbagai demit bersliweran di dalamnya. Ya, namanya juga tempat lembab, selalu menjadi tempat favorit para makhluk tak kasat mata seperti mereka. Hanya kemampuan ini yang masih tersisa padaku semenjak kecelakaan yang pernah aku alami. Berbicara melalui batin, dan memanggil jiwa-jiwa tanpa raga itu. Setelah mendengar panggilan ku, hantu Bulan datang ke hadapanku. Ia berdiri mengambang dengan mengaitkan kedua alis matanya. Tanpa mengatakan apapun, aku menjelaskan semua yang ku tahu melalui kontak mata dengannya. Tersirat aura kesedihan dari kedua matanya, kini Bulan sudah mengetahui segalanya. Ia tak menyangka, jika Aurora adalah anak dari kembarannya sendiri. Pantas saja, tiba-tiba mereka sangat dekat.
"Cepatlah Bulan, hentikan anak itu. Kuntilanak merah bersamanya, dia yang telah menghasut Aurora untuk mencelakai manusia. Bukankah katamu makhluk seperti mu tak akan bisa di ampuni dosanya, jika kalian berniat mencelakai manusia?"
Setelah itu Bulan melesat pergi meninggalkan ku, setidaknya ada Bulan yang akan menghentikan niat jahat Aurora. Ia tak boleh mencelakai manusia, apalagi itu adalah Ayah nya sendiri.
Dari kejauhan, nampak sebuah bangunan besar dengan arsitektur bergaya eropa. Nah, itu pasti Mansion Emerald Garden. Aku langsung turun dari motor Mas ojol, lalu berpamitan padanya.
"Mas ongkosnya nanti sekalian ya, saya buru-buru soalnya. Makasih!" teriak ku serata berlari ke pagar besi yang menjulang tinggi.
Dua orang petugas keamanan menghentikan ku, mereka tak membiarkanku masuk ke dalam sebelum membuat janji dengan pemilik rumah. Meski ku katakan pada mereka, jika aku datang atas undangan Pak Bos. Mereka tetap ingin memastikannya sendiri. Dan rupanya, mereka juga kesulitan menghubungi Pak Bos, karena ponselnya tak bisa terhubung.
"Pak ayo dong, bukakan pagar nya. Saya harus cepat masuk nih, jangan sampai nanti terjadi sesuatu. Dan Bapak berdua yang akan disalahkan!"
"Bukannya begitu Mbak. Kami ini hanya menjalankan perintah sesuai prosedur yang ada. Hanya keluarga, atau orang-orang yang memiliki janji dengan pemilik rumah, yang diperbolehkan masuk ke dalam." jelas mereka dengan kompak.
Astaga, apa yang harus ku lakukan. Aku pun tak bisa memaksa kedua satpam itu untuk membukakan pintu pagar ini, karena mereka hanya menjalankan perintah. Akhirnya aku berdiri mematung di depan pagar, entah apa yang ada di dalam kepalaku. Saat ini aku tak dapat memikirkan sesuatu, karena terlalu cemas tak dapat mengetahui apapun. Harapanku hanya satu, supaya Bulan dapat menghentikan Aurora.
Krreeaak.
Terdengar suara pagar yang dibuka, seorang Satpam menghampiriku dan mempersilahkan ku untuk masuk ke dalam.
"Silahkan masuk Mbak, Pak Bos sudah memerintahkan kami untuk mengantarkan Mbak ke dalam." ucapnya dengan sungkan.
Aku menghembuskan nafas panjang, hatiku terasa lega, karena bisa masuk ke Mansion ini. Tapi langkahku seketika terhenti, melihat perkelahian antara Bulan dan si Merah. Kedua kuntilanak dengan kekuatan yang tak seimbang telah bertarung memperebutkan Aurora. Hantu kecil itu berafa di tengah-tengah perkelahian keduanya. Nampak Bulan kepayahan menghadapi kekuatan Merah yang sangat besar. Karena kuntilanak dengan gaun merah seperti itu, memang memiliki energi yang lebih besar daripada kuntilanak bergaun putih. Pertarungan yang nampak tak seimbang itu, membuat Bulan tumbang dengan memuntahkan darah berwarna hitam. Dan si Merah berhasil melepaskan Aurora dari jerat yang dibuat Bulan untuk membelenggu jiwanya.
"Uhuk uhuk. Jangan Aurora, jangan lakukan itu. Percayalah padaku, setelah ini kau bisa bertemu dengan mamamu. Jangan dengarkan hasutan si Merah!" Ucap Bulan terbatuk dengan memegangi dadanya.
"Hihihihihi. Kau telah ditipu oleh mereka, ayo cepat bunuh lelaki tua itu. Lelaki itu yang telah membuat ibumu meninggalkan mu hingga tiada. Dialah yang pantas bertanggung jawab atas penderitaan yang selama ini kau alami. Cepaaat bunuuuh diaaaa!" Pekik si Merah dengan sorot mata yang mengeluarkan suar berwarna merah.
Aku hanya berdiri mematung disana, dan Pak Satpam keheranan melihatku seperti orang ketakutan. Berulang kali ia memanggil ku, tapi aku tak menggubris nya sama sekali. Aku berteriak memanggil Aurora, hantu kecil yang ku berikan nama Aurora itu langsung berhenti melesat, dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah ku.