
Begitu pintu terbuka lebar, tak ada sosok Bu Meliana di dalamnya. Kami masuk ke dalam untuk memastikan nya. Aku dan Mbak Ayu berpencar mencarinya kemana-mana, tapi ia tak ada di dalam kamar kelas satu ini.
"Duh kira-kira kemana Ibu itu perginya? Kalau gak selesai hari ini juga, kan kasihan kedua anaknya. Mana besok kita harus kerja lagi!" Keluh Mbak Ayu menghembuskan nafas panjang.
"Hmm capek ya Mbak? Ya beginilah yang gue lakuin tiap hari, urusan kerjaan gak terlalu berat. Tapi penelusuran gaib gini yang justru bikin capek. Tapi gue tetep seneng, setidaknya gue bisa bantu mereka kembali ke tempat asalnya. Yuk kita cari Bu Meliana lagi, soalnya gak mungkin gue panggil dia lewat batin. Gak akan mempan, toh dia hanya jiwa tanpa raga, bukan demit yang sesungguhnya."
"Ngadi-ngadi lu Ran, itu si Ibu udah otw jadi demit tahu gak, kalau kita gak ada disini dan tahu mengenai ceritanya. Kan gak tega juga kalau anak-anaknya jadi yatim piatu."
"Ya udah Mbak, kita pencar aja ya. Ntar setengah jam dari sekarang, kita ketemu lagi di kamar kelas satu itu."
Aku melakukan penelusuran di lantai bawah sementara Mbak Ayu ke lantai bagian atas. Aku menoleh ke berbagai arah, berharap dapat menemukan Ibu itu. Samar-samar aku mendengar suara tangisan perempuan. Aku berjalan mencari darimana suara itu berasal. Nampak sepasang kaki di bawah tangga memutar. Seorang perempuan duduk dengan melipat kedua kakinya.
"Hei, ada apa, kenapa kau menangis disini?"
Perempuan itu mendongakan kepala nya ke atas. Sontak saja aku terkejut begitu mengetahui kalau dia adalah perempuan yang aku cari dari tadi.
"Kau. Kau bisa melihatku kan? Apa kau juga sudah meninggal sama seperti ku? Huhuhu entah kenapa aku jadi begini, aku baru sadar jika selama ini, aku telah membuat takut semua pegawai Hotel ini. Ta tadi aku melihat hantu yang sangat menyeramkan di belakang sana. Kalau aku bisa melihat hantu itu, apa artinya aku juga salah satu bagian dari mereka. Sejak awal, kau dan temanmu itu bisa berkomunikasi dengan ku. Apa kalian juga sama seperti ku? To tolong aku huhuhu." Ucapnya meringkuk berderai air mata.
"Tenang Bu. Saya mohon tenanglah dulu. Saya akan menjelaskan semuanya pada Ibu. Tidak perlu takut lagi, saya ini masih manusia kok, tapi saya memiliki kemampuan untuk melihat makhluk tak kasat mata. Karena itulah sejak awal saya dan saudara saya bisa melihat Ibu. Tapi tidak usah hawatir, Ibu ini masih hidup kok. Bu Meliana belum meninggal, makanya saya kasih tahu ini ke Ibu. Lebih baik Ibu cepat kembali ke dalam raga Bu Meli. Saat ini kedua anak Ibu sedang kesusahan memikirkan bagaimana caranya membayar biaya Rumah Sakit. Apa Ibu lupa telah mengalami kecelakaan sepulang kerja? Dan memang seharusnya Ibu menginap di Hotel ini karena memenangkan lomba. Tapi Bu Meli gak usah hawatir, setelah Ibu kembali ke dalam raga Ibu nanti. Ibu tetap bisa menikmati fasilitas Hotel ini lagi. Ibu bisa menginap gratis bersama kedua anak Ibu."
"Jadi selama ini saya gentayangan disini? Tapi untuk apa saya kembali ke dalam raga saya, kalau saya hanya akan semakin menyusahkan kedua anak saya."
"Gak Bu, mereka justru kesusahan karena Ibu gak ada disamping mereka. Pulanglah Bu, kedua anakmu sudah menanti Ibu mereka kembali sehat seperti dulu. Jika Ibu gak kembali sekarang juga, mungkin Ibu gak akan pernah bisa berkumpul dengan kedua anak Ibu lagi."
Aku terus membujuk Bu Meliana, ia hanya diam dengan meneteskan air mata. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Menurutnya, ia sangat lelah menanggung beban hidup seorang diri. Karena anak pertamanya begitu susah di atur, dan selalu pulang larut malam, hingga menjadi bahan pembicaraan warga kampung. Tapi aku meyakinkan, jika anak-anaknya adalah anak yang baik.
"Tadi saya sudah menemui anak kedua Bu Meli di Rumah Sakit. Ia mengatakan jika Kakaknya sedang bekerja di Warung Bakso sepulang ia sekolah. Semua itu hanya untuk kebutuhan makan sehari-hari mereka saja. Itu artinya anak pertama Bu Meli sangat bertanggung jawab. Buktinya dia mau mengurus kebutuhan adiknya juga. Dia rela bekerja paruh waktu untuk memberi adiknya makan. Mungkin Ibu hanya salah paham saja, kembalilah Bu, saya mohon." Aku terus membujuknya dengan perasaan yang campur aduk.
Aku juga menjelaskan, jika aku akan menggalang dana untuk biaya Rumah Sakitnya. Jadi tak ada yang perlu ia cemaskan lagi. Ia kembali menangis dan menggenggam tanganku. Meski sempat menolak kembali, akhirnya jiwa keibuan nya luluh mendengar pengorbanan anak pertamanya.
Tak lama setelah itu Mbak Ayu datang bersama seorang gadis berseragam SMA. Gadis itu berteriak memanggil Ibunya berulang kali. Ternyata gadis itu adalah anak pertama Bu Meli, ia menangis bersimpuh memohon ampun pada Ibunya. Ia mengaku menyesal telah membuat Ibunya salah paham dengan niat baiknya bekerja di Warung Bakso sampai malam. Karena ia ingin memiliki cukup uang untuk membeli buku-buku pelajaran nya sendiri. Tapi sang Ibu salah paham dengan niatnya.
"Ibu sudah dengarkan? Lebih baik sekarang Bu Meli kembali ke dalam raga Ibu."
Ibu itu bangkit berdiri berjalan menghampiri anaknya. Berulang kali ia ingin menyentuh wajah sang anak, tapi tangannya selalu menembus tubuh anaknya. Bu Meli memandang ku dan Mbak Ayu, lalu ia menyunggingkan senyumnya seraya mengucapkan terima kasih. Tak lama ia melesat pergi mengikuti suar cahaya putih, yang tiba-tiba muncul di hadapan nya.
"Oh jadi itu adalah jalan yang akan menuntun jiwanya kembali ke raganya. Semoga setelah ini semua baik-baik saja." Batinku didalam hati dengan menghembuskan nafas panjang.
Setelah itu, aku meminta anak Bu Meliana untuk kembali ke Rumah Sakit. Ku katakan padanya, jika tak lama lagi Ibunya akan sadar dari koma nya.
"Semua ini berkatmu, semua usaha yang kau lakukan telah membuat jiwa Ibumu tenang dan kembali ke dalam tubuhnya. Jadilah anak yang berbakti, dan rajin belajar ya." Kataku membantunya bangkit berdiri. Lalu dia berpamitan kembali ke Rumah Sakit.
Akhirnya masalah pelik ini selesai juga. Jika bukan karena bantuan Mbak Ayu, mungkin masalah ini masih akan berlarut-larut.
"Jadi tadi lu pergi kemana Mbak? Gue suruh keliling Hotel nyari arwah Ibu itu, malah lu keluar Hotel." Ucapku menepuk kening.
"Ya gimana dong, gue rasa percuma aja kalau kita nemuin Ibu itu, kalau dia gak ada niatan buat balik ke raganya. Makanya gue cari cara lain, dengan membawa anaknya langsung kesini. Mau gak mau gue jelasin apa adanya ke tuh bocah. Untungnya dia percaya, dan mau ikut gue kesini. Tapi ada untungnya juga kan gue pergi, ya gak?" Tanyanya dengan menaikan alis matanya.
"Iya deh iya, suka-suka lu aja Mbak. Tapi makasih ya, udah bantuin gue nyelesain masalah di Hotel ini. Padahal kan harusnya kita refreshing setelah Spa tadi. Eh sekarang malah badan rasanya capek lagi. Jadi ngerasa percuma ya Spa kita tadi."
Kami berdua terkekeh geli, tak menyangka akan berurusan dengan jiwa yang tersesat seperti Bu Meliana itu. Ini adalah pengalaman pertamaku bertemu makhluk tak kasat mata yang bukan demit pada umumnya.
.