Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 102 AWAL BARU.


Setelah menyelesaikan misteri di kamar kelas satu Hotel Green Garden. Aku dan Mbak Ayu menemui Pak Bos besar di Lobby, untuk memberikan laporan. Karena penelusuran sudah selesai, tak ada misi lain yang harus aku kerjakan. Pak Bos sangat berterima kasih pada kami, ia bahkan memberikan banyak voucher Spa dan menginap di Hotel ini juga. Meski bukan di kamar kelas satu, setidaknya kami sangat bersyukur mendapatkan semua fasilitas Hotel ini dengan gratis. Bahkan Pak Bos memberikan bonus sejumlah uang pada kami. Menurutnya apa yang kami lakukan hari ini sangat membantu ekonomi di Hotelnya.


"Besok saya akan meminta Manager di Kantor, untuk memberikan jabatan yang bagus untukmu. Dan sampaikan pada Rika juga, kalau dia akan naik pangkat satu tingkat dari posisinya yang sekarang. Saya permisi dulu, harus mengantarkan Bu Purnama check up. Kali ini Papa saya juga ikut menemani nya, semoga saja Kartika gak membuat ulah lagi." Ucap Pak Bos dengan memijat pangkal hidungnya.


Setelah itu Pak Bos pergi meninggalkan Hotel. Nampaknya ia begitu terbebani dengan berbagai masalah yang akhir-akhir ini terjadi di sekitarnya.


"Ya udah yuk Ran, kita pulang juga. Lumayan nih pulang bawa banyak hadiah, jadi enteng langkah kaki gue."


"Alhamdulillah ya Mbak, gak sia-sia usaha kita hari ini. Meski capek tapi bermanfaat bagi orang lain, dan diri kita sendiri. Oh iya gimana rencana penggalangan dana nya?"


"Ntar gue bikin akun dulu di Semuabisa.com, biar makin banyak orang tahu dan mau membantu penggalangan dana nya. Dan gue bakal pakai uang kas sekolah juga, buat nambahin biaya Rumah Sakit Bu Meliana."


Aku juga ingin menggalang dana di Kantor, untuk meringankan biaya perawatan Bu Meliana. Akhirnya kami memutuskan pulang ke kostan, sesampainya disana, aku disambut dengan tawa cekikikan Endang.


"Dasar demit kurang kerjaan, malam-malam malah nangkring di atas pohon sambil cekikikan. Kayak gak ada beban hidup aja dia!" Seru Mbak Ayu dengan menggelengkan kepala.


"Emang dia udah gak hidup Mbak, gimana mau punya beban hidup!" Sahutku menepuk kening.


Tak lama ia turun dari pohon, dan melesat ke arah kami berdiri. Dia berdiri mengambang dengan raut wajah ketakutan. Ia memperingatkan ku untuk berhati-hati, karena ada sosok jahat yang mengikutiku, dan memiliki niat jahat padaku.


Sontak saja Mbak Ayu membalikan tubuhnya, melihat ke berbagai arah. Tapi ia tak melihat apapun, dan bertanya pada Endang mengenai sosok yang ia bicarakan. Tapi Endang justru menundukan kepalanya lalu melesat pergi meninggalkan kami.


"Udah Mbak biarin aja, mungkin si Mbak Endang lagi iseng aja tuh. Yuk masuk ke dalam, gue pengen shalat isya juga nih. Mana belum mandi lagi, lengket banget perasaan nih badan."


Setelah mandi dan membersihkan diri, aku melakukan ibadah dan berdoa pada Yang Maha Kuasa. Memohon perlindungan supaya semua baik-baik saja, dan tak ada masalah yang berat lagi disekitar ku. Tiba-tiba air mata ini menetes, terlintas wajah Bude Walimah dan juga Wati. Aah perasaan sedih ini tak bisa ku hindari, kenapa aku tak bisa melakukan apapun untuk membantu keluargaku sendiri. Tasbih yang ada di tanganku sampai terlepas, karena tak sadar aku terlalu larut dalam kesedihan.


Dreet dreet dreet.


Ku raih ponsel di atas ranjang, ku lihat panggilan telepon dari Mama. Mendengar suara dari perempuan yang paling ku sayang, mendadak relung hati ini tak dapat menahan gundah. Ku tumpahkan segala kesedihan pada Mama. Dan ia terkejut mendengar semua ceritaku mengenai keluarga di Desa Rawa Belatung.


"Astaghfirullah Nak, kenapa kau baru menceritakan ini ke Mama? Bukannya Mama udah bilang, buat selalu kasih kabar ke Mama. Kalau udah begini, apa yang harus kita lakukan." Ucap Mama terdengar suaranya parau.


"Maaf Ma, Wati udah wanti-wanti buat gak cerita ini ke Mama Papa. Sebenarnya Bude juga ngelarang Wati cerita ke Rania, tapi Wati ngelanggar perintah Bude. Dan ceritain semua ke Rania. Sekarang apa yang harus kita lakukan Ma? Rania gak mau kalau Wati ngorbanin masa depannya."


Mama ingin menggagalkan rencana pernikahan Wati. Semoga saja Mama tak terlambat datang, sebelum pernikahan itu benar-benar terjadi. Karena Mama tidak mau jika hidup Wati jadi menderita, karena menjadi bagian dari keluarga besar Pak Mitro.


"Mama takutnya Wati bisa menjadi tumbal Nak, kalau dalam waktu beberapa tahun ia tak memberikan keturunan untuk keluarga itu. Wati lah yang akan menjadi gantinya, udah lama Mama denger cerita tentang keluarga Pak Mitro yang melakukan pesugihan."


Aku hanya bisa meratapi nasib buruk sepupuku itu, dan Mama menenangkan ku, memintaku untuk lebih banyak berdoa supaya segala nya membaik.


"Mama tutup dulu ya telepon nya, kau istirahat saja dulu. Lusa Mama pulang ke Desa, nanti Mama mampir ke Jakarta setelah urusan di Desa selesai." Ucap Mama sebelum mengakhiri panggilan telepon.


Malam itu aku tidur dengan perasaan gundah, padahal aku selalu bisa membantu orang lain menyelesaikan masalah. Tapi menyelesaikan masalah keluargaku sendiri saja, aku tak mampu. Dasar diriku ini, terlalu banyak ikut campur masalah orang lain memang. Karena terlalu bersedih, aku terlelap tanpa membaca doa terlebih dulu. Dan di dalam mimpi, aku bertemu dengan Kuntilanak merah. Ia cekikikan di hadapanku dengan membulatkan kedua matanya.


"Aku akan mencelakai orang-orang terdekat mu, jika kau masih saja mencampuri urusanku hihihihi." Ucapnya menjerit lantang.


"Aku tak takut dengan ancamanmu merah! Aku hanya takut pada Allah, bukan pada makhluk rendahan sepertimu!"


Setelah itu Merah melesat ke arahku, lalu menancapkan kuku panjangnya di lenganku. Luka memanjang dan lumayan dalam, membuat lenganku terluka dan mengeluarkan darah segar. Kemudian Merah melesat dan membuka lebar mulutnya, menghisap darah yang mengucur dari lenganku. Perih hanya itu yang ku rasakan, sampai aku hampir pingsan karena Merah tak mau melepaskan hisapan nya dari lenganku. Dengan kekuatan yang tersisa, aku membacakan ayat-ayat suci dengan tulus.


Whuuss whuuus.


Angin kencang datang dan menghempaskan tubuh Merah. Ia menyeringai di hadapanku, lalu menyeka darah yang mengotori wajahnya. Lenganku terasa kebas, bahkan aku tak bisa merasakan sakit lagi.


"Ternyata kau adalah titisan dari Anak Raja Blambangan. Pantas saja darahmu sangat harum dan menyegarkan jiwa. Dimana Pangeran yang bersumpah akan selalu melindungi mu meski tujuh kehidupan harus ia lalui. Apa Pangeran itu mengingkari janjinya padamu Putri Prameswari hihihihi."


Ucapan si Merah membuatku tercengang, darimana ia tahu mengenai kisah itu. Tak lama aku terbangun dari tidur, karena suara ketukan pintu dari luar. Aku bangkit berdiri, tapi tubuhku terasa berat, pandangan mata serasa kabur, tapi aku berusaha melangkahkan kaki membuka pintu.


Bruugh.


.