
Pagi itu, sesampainya di Kantor, aku hanya duduk termenung dengan tubuh lesu. Rasanya aku tak bergairah melakukan apapun hari ini.
"Ran, ngapain bengong sih lu? Tuh telepon di atas meja lu bunyi dari tadi!" Seru rekan kerja ku dengan wajah masam.
"Ehm iya, sorry gue gak sadar tadi!"
Aku mengangkat gagang telepon, dan terdengar suara Mbak Rika dengan nada suara tinggi.
"Buruan datang ke ruangan gue, ada yang mau gue bahas sama lu. Cepetan!"
Aah. Pasti Mbak Rika akan memintaku melakukan sebuah pekerjaan yang berat. Karena semenjak aku naik pangkat, dan tak bertugas di lapangan. Sering kali ia meminta tolong padaku, untuk menggantikan tugas jurnalis dengan berbagai alasan. Entah itu jurnalis nya gak datang lah, atau gak ada yang bisa meliput selain aku lah. Karena memang terkadang liputan itu berhubungan dengan hal-hal gaib, dan hanya aku seorang yang dipercaya melakukan liputan di tempat-tempat seperti itu. Akhirnya, mau tak mau. Aku pun harus melakukan tugas itu.
"Ran. Buruan dipanggil Mbak Rika tuh!" Kata Beny, sudah siap dengan alat tempurnya. Berbagai peralatan untuk melakukan liputan, sudah ia siapkan di atas meja kerjanya.
"Iya iya gue tahu, tuh bawain tas ransel gue sekalian!" Kataku seraya melangkahkan kaki ke ruangan Mbak Rika.
Aku membuka pintu ruangan itu, berjalan gontai lalu duduk di kursi dengan tubuh lemas. Mbak Rika menatapku serius, ia mengaitkan kedua alis matanya.
"Kok kayaknya lu lagi kurang sehat gitu sih Ran? Emang semalam lu tidur jam berapa?"
"Gue baru sempet tidur dua jam doang Mbak. Tapi gak apa-apa lah, yang penting bayi itu udah ketemu, dan balik ke orang tuanya."
"Ya udah, lu gak usah ngapa-ngapain. Tapi tolong, temenin Beny sama Silvia liputan ya. Mereka harus ngasih referensi, buat lokasi syuting film horor gitu. Nah, karena lu yang paham dengan hal-hal macam itu, jadi gue minta tolong sama lu. Biar mereka aja yang kerja, lu cukup awasin mereka aja Ran. Gimana enak kan tugas gue kali ini?" Tanya Mbak Rika dengan menaikan alis matanya.
"Beneran nih, gue cuma diminta ngawasi aja? Ntar kalau ada apa-apa sama mereka pas disana, berarti gue cukup ngelihatin aja kan?"
Plaak!
Mbak Rika menepuk pundakku dengan kesal.
"Ya kali lu cuma melototin mereka kalau ada apa-apa disana. Emang lu tega kalau mereka diganggu makhluk gaib?"
"Nah itu. Makanya gak usah bilang kalau gue harus awasin mereka aja Mbak! Lu tahu gak ngawasin dua orang sekaligus, justru akan semakin menyulitkan gue. Kenapa gak gue sama Beny aja yang pergi, malah tugasnya lebih ringan ntar."
"Gak bisa Ran, yang buat latar cerita Silvia soalnya. Please! Mau ya, bantuin mereka? Setelah itu selesai, lu bisa langsung pulang deh, gak apa-apa. Gimana?"
Aku mengangkat ibu jariku, menyetujui tawaran Mbak Rika. Kemudian aku menyusul Beny dan Silvia, yang sudah menunggu di parkiran. Kali ini kami membawa mobil kantor, karena peralatan yang kami bawa lumayan banyak. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih dua puluh menit. Akhirnya kami sampai di sebuah gedung terbengkalai. Melihat dari arsitekturnya, seperti bangunan peninggalan jaman Belanda.
Aku dan Silvia berjalan lebih dulu di depan. Sementara Beny masih menurunkan peralatan dari dalam mobil. Ku sorotkan cahaya senter ke dalam. Nampak lorong-lorong panjang di depan sana. Kami berdua mendorong pintu yang susah terbuka, karena terganjal batu dari dalam.
Kreaak.
"Ran sepertinya tempat ini udah lama gak dijamah manusia!" Ucap Silvia seraya mengusap belakang tengkuknya.
"Terus kenapa? Lu takut ya?"
Bruugh.
Terdengar suara benda yang terjatuh, sontak saja Silvia melompat karena terkejut. Ia memegangi lenganku dengan kencang.
"Dih. Sakit tahu Sil! Minggir sana!" Pungkas ku melepaakan tangannya dari lenganku.
Ternyata suara benda jatuh tadi, berasal dari tas ransel yang dibawa Beny. Ia menjatuhkannya sebelum masuk ke ruangan yang sama dengan kami.
Semakin lama suasana di dalam bangunan ini terasa makin ganjil. Bahkan kami belum melakukan liputan apapu disini. Beny sudah menata semua peralatan, dan Silvia bersiap di depannya. Ia bersiap melakukan liputan dengan menjelaskan kondisi gedung terbengkalai, yang akan menjadi lokasi syuting salah satu film horor garapan Joko Mizwar. Take pertama telah selesai kami liput, hanya tinggal menyelesaikan beberapa liputan.
"Kalau gue harus berjalan sendiri di depan kok agak ngeri ya. Masak gue harus melakukan penelusuran ke berbagai ruangan sih?" Protes Silvia dengan mengerucutkan bibirnya.
"Ya mau bagaimana lagi. Ini kan udah tugas lu Sil!" Sahut Beny dengan mengangkat bahunya.
"Udah tenang aja, kan ada gue disini. Kalau ada apa-apa, gue bakal kasih tahu lu kok." Kataku untuk menenangkan Silvia.
Dengan kangkah berat, Silvia memberanikan diri menjelaskan kondisi bangunan terbengkalai itu. Liputan kami kali ini, memang bertujuan untuk spoiler. Supaya penonton yang akan melihat film itu penasaran.
Silvia menjelaskan, jika bangunan itu dulunya digunakan oleh sekelompok orang yang menganut ilmu hitam. Entas itu mitos atau fakta, karena aku belum melihat sesuatu yang mencurigakan. Setiap ruangan di sepanjang lorong ini kosong, hanya ada dipan reot, meja lapuk dan aroma lembap yang bisa membuat orang mual. Kalau menurutku tempat ini lebih mirip bangsal rumah sakit. Sekelompok orang yang dulu menempati tempat ini, kabarnya menghilang tanpa jejak. Meski sebagian warga sekitar mengatakan, jika kelompok orang berilmu hitam itu masih ada. Tapi mereka berbaur satu sama lain dengan masyarakat sekitar. Bersembunyi dalam lingkup warga, karena dulu pernah terjadi pembantaian besar-besaran pada kelompok itu. Yang ku cemaskan adalah, jika mitos itu memang benar. Dan suatu saat mereka akan bersatu kembali, dan mempraktikkan ilmu hitam lagi.
"Aaaarghh!" Pekik Silvia berlari ke arah kami.
"Ada apa sih Sil? Lu ngagetin aja tahu gak!"
Ia menunjuk ke sebuah cermin usang yang tadi ia lintasi. Sepertinya, Silvia terkejut karena melihat pantulan dirinya di kaca itu. Tapi ia bersikeras, jika yang ia lihat adalah sosok pocong dengan wajah rusak.
"Ngaco aja sih Sil! Mana ada setan tengah hari bolong gini!" Celetuk Beny dengan menggelengkan kepala nya.
Mereka tak tahu saja, jika di dunia gaib. Tak ada perbedaan siang atau malam. Mereka bebas berkeliaran kapanpun itu, kecuali saat suara adzan berkumandang.
"Kalian tunggu disini dulu, biar gue yang periksa ke dalam." Pintaku, seraya melangkahkan kaki menyusuri lorong pengap itu.
Rasanya nafasku semakin berat, saat aroma debu serta lumut menusuk ke dalam hidungku. Aku sampai di dalam ruangan dengan cermin usang yang memantulkan bayanganku. Tiba-tiba terdengar suara jeritan perempuan, meski samar, aku dapat mendengar nya dengan jelas. Ku fokuskan diri, dan memejamkan kedua mata. Untuk melihat sosok lain yang ada di ruangan ini.