
Aku berkomunikasi dengan sosok demit perempuan itu melalui batin. Ku tanyakan siapa dirinya, dan tujuannya menampakkan wujudnya padaku. Dan barulah aku tau jika itu adalah sosok Dila, perempuan yang tak sengaja tewas menggantung. Ia masih menundukkan kepala, tak melihat ke arah ku. Lantas aku bertanya kenapa ia memberikan penglihatan padaku. Padahal kami tak saling mengenal, dan menurutnya hanya aku yang dapat membongkar misteri kematian nya.
"Sutradara film memberikan pernyataan pada publik, jika aku tewas menggantung bukan karena faktor kecelakaan kerja. Ia memaparkan pada publik, jika aku sedang dalam masalah dan putus asa. Karena itulah di sela-sela syuting, aku sengaja menggantung diri disana. Padahal itu semua tak benar, aku tewas karena faktor kelalaian para kru lapangan. Tapi nama baik ki jadi tercemar, dan semua keluarga ku jadi merasa sedih terutama kedua orang tua ku. Sebenarnya aku tau jika itu hanyalah faktor ketidaksengajaan, tapi aku tak terima dengan pernyataan sutradara itu. Demi mendongkrak popularitas film nya, ia membuat nama baik ku jadi tercemar. Aku tak pernah sengaja ingin menggantung diri disana. Tapi sebenarnya dialah yang telah membunuh ku. Kru lapangan sudah mengingatkan, jika pengait di tali itu sempat macet sebelumnya. Dan mereka harus memperbaiki nya. Tapi sutradara itu tak mau mendengarkan, dan meminta ku untuk melakukan syuting. Sampai akhirnya aku benar-benar tewas di atas tali gantungan itu!" Jelas Dila dengan suara bergetar.
Seketika aku tercekat mendengar penjelasan Dila. Pantas saja ia gentayangan karena tak terima dengan pemberitaan yang beredar mengenai dirinya.
"Baiklah aku akan memuat berita tentangmu. Mengenai kejadian sebenarnya yang kau alami. Tapi setelah itu, apakah kau mau kembali ke alam keabadian? Tempat mu sudah bukan di alam ini lagi Dila."
"Aku ingin sutradara itu mengucapkan permintaan maaf secara khusus melalui media. Aku tak ingin nama baik ku tercemar meski aku telah tiada. Kasihan kedua orang tua ku, mereka mengira aku memiliki masalah berat sehingga aku berniat mengakhiri hidup. Padahal semua itu hanyalah karangan sutradara payah itu saja. Barulah setelah itu jiwa ku akan tenang di alam keabadian." Jelas Dila yang masih menundukkan kepalanya.
Aku tak tahu bagaimana caranya meyakinkan sutradara itu untuk mengutarakan permintaan maaf langsung di hadapan publik. Karena ia pasti tak akan mempercayai ucapan ku, jadi aku hanya bisa mengusahakan permintaan Dila. Lalu sosok Dila mengatakan jika sutradara itu tak mau mengakui semua kesalahan nya di hadapan publik, Dila bersumpah akan terus menghantui sutradara itu.
"Jadi selama ini kau sudah menghantui nya, tapi dia tetep menayangkan adegan waktu kau tergantung?"
Sosok Dila hanya menganggukkan kepala, heran kenapa sutradara itu nekat sekali menayangkan adegan Dila sewaktu ia menjemput ajal. Menurutnya sutradara itu tak mau mengulangi proses syuting, dan Dila sendiri juga ingin fakta mengenai kecelakaan yang menewaskan nya itu diketahui publik. Tapi adegan itu tak semuanya ditayangkan, jadi percuma saja bagi Dila untuk menuntut keadilan. Tiba-tiba seseorang menepuk pundak ku, sehingga komunikasi ku dengan sosok Dila terhenti. Dan sosoknya pun juga menghilang entah kemana.
"Lu ngantuk ya Ran, ngapain merem-merem gitu sih?" Tanya Mbak Rika seraya menyerahkan berkas dengan map berwarna biru.
Aku hanya menghembuskan nafas panjang, karena komunikasi ku jadi terhenti karena Mbak Rika yang mengejutkan ku.
"Astaga Mbak, gue kan lagi komunikasi sama sosok tak kasat mata. Eh lu datang main tepuk pundak gue aja, jadi ilang kan tuh sosoknya!"
Seketika Mbak Rika melompat dari tempat ya berdiri, ia celingukan menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Lu jangan nakutin gue deh Ran, udah semalam di kost an lu serem. Sampai kantor masih aja cerita horor!"
"Itu kan karena lu juga Mbak, karena lu ngasih tugas ke gue sama Beny buat nonton di bioskop. Salah satu pemeran nya mati beneran tau gak, dan dia dikabarkan sengaja bunuh diri di lokasi syuting. Padahal yang sebenarnya, semua murni kecelakaan kerja. Dan itu karena keegoisan si sutradara, yang pengen popularitas film nya meledak dan booming di publik. Sampai-sampai jatuh korban yang meninggal dunia."
"Jadi itu dia bukan sengaja mengakhiri hidupnya ya? Wah parah sih tuh sutradara, bisa diboikot loh sama publik. Dia udah mencemarkan nama baik seseorang yang udah tiada. Kenapa gak mengakui aja kalau itu murni kesalahan pada saat proses syuting!" Seru Mbak Rika seraya menggebrak meja.
"Nah itu dia Mbak, kasihan arwahnya si Dila. Sebenarnya dia terima nasib kalau dia udah tiada karena kecelakaan sewaktu proses syuting film itu. Yang bikin dia gak tenang di alam nya, karena beredar gosip yang mengatakan kalau dia frustasi karna ada masalah, dan memilih menggantung diri sewaktu syuting film. Katanya semua keluarga jadi bertanya-tanya apa masalah yang membuat Dila nekat mengakhiri hidupnya. Sampai kedua orang tua nya jatuh sakit juga, arwah Dila gak akan tenang sebelum sutradara itu mengakui fakta yang sebenarnya."
"Wah agak berat juga ya Ran, gimana caranya buat sutradara seperti Sinto Gendeng itu mengakui apa yang sebenarnya terjadi. Karena ya kayak namanya aja, orangnya emang radak gendeng gitu alias kurang waras. Tapi tiap dia bikin film horor selalu masuk Box Office loh!"
"Ya itu resikonya dia Mbak. Karena arwah Dila gak akan bisa tenang sebelum sutradara itu membuat permintaan maaf di depan publik. Bisa-bisa dia dihantui sosok Dila juga."
Aku dan Mbak Rika tak memiliki cara apapun untuk membuat sutradara film itu membuat pengakuan di depan publik. Tapi tiba-tiba Denis, salah satu kru film itu mengirimkan pesan singkat padaku. Ia ingin bertemu dengan ku, dan membahas mengenai Dila.
"Ya udah lu pergi aja Ran, kali aja lu bisa dapatin cara supaya sutradara itu mengakui segalanya. Kali aja kru film itu memiliki cara ataupun bukti lain."
Aku hanya menganggukkan kepala lalu menghembuskan nafas panjang. Hari pertama kerja, langsung disambut dengan masalah yang rumit. Sehingga aku harus berjibaku dengan waktu, untuk membantu Dila mendapatkan keadilan. Meski sebenarnya aku juga harus membantu Narsih menyelesaikan masalahnya dengan sosok Risma, yang secara tak sengaka ku temui hari ini.
"Lu mau gue temenin Ran? Biasanya kan lu sama Mbak Ayu, tapi karena dia gak ada gue bisa kok jadi temen jalan lu." Ucap Mbak Rika menawarkan diri.
"Gak usah deh Mbak, daripada ntar lu takut sendiri. Kadang sosok mereka bisa tiba-tiba datang tanpa permisi." Jawabku seraya mengambil tas ransel lalu pergi meninggalkan Mbak Rika yang masih duduk di tempat nya.
Aku membuat janji bertemu dengan Denis di sebuah cafe dekat Jalan Sudirman. Ternyata Denis sudah terlebih dulu sampai disana. Ia menunjukkan sebuah album foto, disana ada beberapa fotonya bersama Dila. Ternyata keduanya memiliki hubungan khusus, dan tak banyak orang yang mengetahui nya.
"Pak Sinto Gendeng mengatakan pada publik, jika Dila frustasi karena masalah asmara. Padahal hubungan kami baik-baik saja, bahkan selama proses syuting berlangsung kami sering mengobrol berdua dan tak ada yang mencurigai nya. Karena Dila memang dikenal humble, dan bergaul dengan siapa saja. Sewaktu kejadian semua artis dan kru banyak yang tahu, kalau team lapangan sudah mewanti-wanti kalau alat yang digunakan Dila untuk berakting sedang bermasalah. Dan memang harus diperbaiki terlebih dulu, tapi sutradara itu memaksa, dan mengatakan tak ada waktu lagi. Jika kasus ini harus di usut, aku dan beberapa kru lainnya bersedia bersaksi." Kata Denis dengan mata berkaca-kaca.
Tak lama setelah itu sosok Dila ternyata datang, ia berdiri mengambang di belakang Denis. Ia mendongakkan kepala nya ke atas dan rambut panjang yang menutupi wajahnya pun terbuka. Sontak saja aku sangat terkejut melihat wujudnya. Ia tak secantik seperti yang ada di album foto, nampak kedua matanya melotot dengan lidah yang menjulur keluar. Sehingga air liurnya terus menetes keluar, pantas saja ia selalu menundukkan kepalanya. Ternyata ia tak mau wujudnya diketahui orang-orang yang bisa melihat nya. Ia sangat sedih meninggal dengan kondisi yang demikian. Aku dapat memahami itu, dan berlagak jika aku tak terkejut melihat wujudnya. Meskipun sebenarnya aku agak ngeri melihat wujudnya yang menyeramkan. Tapi aku tak mau melukai batin Dila, karena ia pasti akan merasa terhina. Sehingga aku menguatkan mental untuk tetap melihat wujudnya yang mengerikan itu.