
Sesampainya di rumah kuno terlihat beberapa petugas polisi sedang memasang garis kuning. Dan orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Tante Ajeng sedang dimintai keterangan oleh petugas, dan Mas Adit berada disamping nya. Rupanya Mas Adit ikut memberi kesaksian jika Tante Ajeng dan Janni tidak ada di rumah sejak semalam. Dan hanya aku dan Mbak Ayu yang ada di rumah itu. Akhirnya kami pun ikut dimintai keterangan, aku pun mengatakan yang sebenarnya, jika semalam Umi hilang begitu saja di depan mataku. Dan saat polisi menginterogasi Mbak Ayu, ia juga menjawab jika belum menemui Umi sejak pulang ke rumah itu.
"Rania apa yang sebenarnya terjadi tadi malam?" tanya Tante Ajeng dengan peluh yang membasahi keningnya.
"Rania gak tahu apa-apa Tante, tanya saja padaku, aku yang lebih tahu semuanya. Karena aku yang menyerahkan dia ke Calon Arang!" kata Mbak Ayu berjalan menghampiri kami.
Tante Ajeng menarik tangan Mbak Ayu menjauh dari semua orang, sepertinya mereka sedang berdebat. Karena tak ingin terjadi keributan disana aku menghentikan keduanya adu mulut.
"Tante yang gak ngerti gimana perasaan Dahayu, Om Dewa yang udah Dahayu anggap seperti ayah sendiri ternyata begitu jahat. Om Dewa kan dalang dari semuanya? dia yang udah nekan ibu buat mengakhiri hidupnya! atau jangan-jangan Tante Ajeng juga terlibat? makanya Tante sengaja nutupin semua!"
"Gak ada yang Tante tutupin darimu Dahayu! bukankah dari awal Tante sudah mengatakan segalanya padamu, kalau Om Dewa mempunyai maksud lain selama ini. Kau saja yang tak pernah mau mendengar perkataan Tante, kau tak percaya dengan semua yang Tante katakan tentang Om mu itu. Lantas kenapa sekarang kau menyudutkan Tante?"
Tak ada jawaban dari Mbak Ayu, ia hanya menghembuskan nafas panjang. Dan aku meminta keduanya untuk mengakhiri perdebatan ini. Tak lama setelah itu Mas Adit meminta Tante Ajeng untuk menanda tangani berkas, untuk dilakukan nya olah TKP esok hari.
"Dimana anak saya cepat katakan dimana dia huhuhu." teriak seorang perempuan paruh baya menangis histeris seraya berjalan masuk ke dalam rumah.
Nampak Janni menenangkan perempuan itu, ia memeluk nya dan memintanya untuk tenang. Lalu Mas Adit mendatanginya dan mengatakan jika jenazah Umi sudah dibawa ke Rumah Sakit guna dilakukan nya autopsi.
"Jadi itu ibunya Umi, lalu dimana ayahnya saat ini? aku yakin jika dia sudah tahu kalau anaknya meninggal dunia. Atau jangan-jangan dia sedang merencakan sesuatu karena tahu kalau anaknya dipersembahkan untuk Calon Arang?" batinku didalam hati resah.
Terlihat Tante Ajeng berjalan menghampiri perempuan itu, dan mengucapkan duka cita. Entah kenapa aku merasa jika mereka terlihat akrab, karena penasaran aku pun menghampiri mereka, dan ku ucapkan duka cita pada ibunya Umi.
"Adek ini siapanya Umi? apa kau ini..." ibu Umi menghentikan ucapannya, karena Janni memberi kode dengan kedipan mata.
Tak lama Janni pun menjelaskan, jika aku juga kost di tempat ini. Entah kenapa aku merasa ada yang janggal di antara mereka bertiga. Ibunya Umi, Janni, dan Tante Ajeng.
"Iya bu, dia Rania masih kerabat jauh saya juga. Kamarnya sebelahan sama Umi dan Janni, ya Rania inilah yang bertemu Umi terakhir kalinya. Dan dia juga yang lapor pada saya, kalau Umi tiba-tiba menghilang."
"Terima kasih ya Nak, berkat kau jenazah Umi dapat ditemukan segera. Entah apa yang akan terjadi jika Polisi terlambat menemukan nya huhuhu."
"Loh emangnya siapa yang melapor ke polisi Tante?" tanyaku pada Tante Ajeng.
Tante Ajeng menjelaskan jika semalam Mas Adit masih berada di Rumah Sakit bersama mereka. Ia curiga dengan hilangnya Umi yang tiba-tiba begitu, takutnya ada hubungannya dengan kematian Prayoga atau ditemukan nya Agus dalam keadaan luka-luka.
"Maaf bu, kenapa ibu datang seorang diri. Dimana ayahnya Umi sekarang?" aku memberanikan diri bertanya, karena merasa janggal dengan ketidakhadiran bapak sopir taksi itu.
Si ibu tak langsung menjawab, ia menoleh ke kanan dan kiri. Nampak juga raut wajah kebingungan Tante Ajeng maupun Janni, sepertinya mereka semua memang saling mengenal dan menyembunyikan sesuatu.
"Ayahnya Umi masih dalam perjalanan dek, ia tadi masih bekerja. Mungkin setelah ini dia akan langsung ke Rumah Sakit, saya juga permisi dulu mau melihat jenazah anak saya."
Beberapa polisi mulai meninggalkan rumah kuno ini, yang tertinggal hanya Mas Adit yang masih menelusuri beberapa sudut lokasi di rumah kuno. Aku menghampirinya dan mengatakan padanya tentang kejadian semalam. Karena tak akan masuk akal jika ku ceritakan sewaktu polisi meminta keterangan padaku.
"Sebenarnya semalam ada sesosok makhluk gaib yang menyamar menjadi Mbak Ayu, setelah makhluk itu mengancamku ia menghilang bersama dengan Umi. Aku sengaja tak mengatakannya tadi, takutnya polisi malah mencurigai Mbak Ayu."
"Rania Rania. Aku ini juga Polisi, lantas kenapa kau menceritakannya padaku?"
"Kalau kau kan berbeda Mas, aku yakin kau tak akan langsung mencurigai Mbak Ayu. Kau kan tahu aku memang memiliki kemampuan melihat makhluk gaib. Dan yang terjadi memang seperti yang ku katakan padamu, semalam Mbak Ayu pingsan di salah satu ruangan di rumah ini. Aku awalnya juga mengira kalau dia kerasukan, tapi ternyata sosok lain yang menyerupai dirinya. Umi mungkin terlihat gantung diri, padahal yang sebenarnya terjadi tidak seperti itu." kataku dengan menghembuskan nafas panjang.
"Maksudnya dia dibunuh?" jawab Mas Adit mengaitkan kedua alis matanya.
"Bukan begitu maksudku, mungkin ia dalam pengaruh makhluk gaib itu, tubuhnya dikendalikan supaya ia mengakhiri hidupnya sendiri."
"Entahlah Ran, aku sama sekali tak mengerti dengan dunia yang kau bicarakan."
Akupun teringat dengan kasus kematian Bulan dan ibunya, mereka meninggal karena diracuni oleh seseorang. Meskipun kasus itu sudah cukup lama, dan tak ada saksi ataupun bukti yang kuat. Tapi aku ingin membuktikan jika istri Pak Markum adalah pelaku pembunuhan, dan ia harus mendapatkan hukuman, supaya arwah Cahaya Bulan dapat beristirahat dengan tenang di alam keabadian.
"Kalau kau dapat merekam pengakuan si pelaku sewaktu dia mengakui kejahatannya, kemungkinan kasus itu masih bisa di usut kembali. Memangnya kau mau mengungkap kasus apa lagi Ran?" tanya Mas Adit menaikan dagunya.
"Itu Mas, ada sesosok hantu yang mati karena diracuni keluarganya sendiri. Sekarang dia jadi arwah gentayangan karena ingin mengungkap kematian nya dan juga ibunya. Aku kasihan padanya, dan ingin membantunya beristirahat dengan tenang di alamnya." jawabanku membuat Mas Adit menggelengkan kepalanya.
Ia terlihat heran dengan tingkahku yang selalu berhubungan dengan makhluk tak kasat mata. Menurutnya aku terlalu baik hingga mau membantu siapapun yang meminta bantuan ku. Sebenarnya aku melakukan itu karena pesan dari mendiang Simbah Parti, yang memintaku untuk selalu berbuat baik pada siapapun.
...Bersambung. ...
Hai terus dukung othor yuk, supaya terus semangat updatenya. Tinggalkan jejak Like dan Komentar nya, bisa juga berbagi Gift atau Vote nya ya. See you 👋