Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 57 KEJANGGALAN?


Pagi itu aku berniat ke kantor untuk menemui Agus. Aku memesan ojek online melalui aplikasi hijau. Tak ku sangka abang ojol yang pernah ku bantu, yang mendapat pesanan ojolku. Ia berterima kasih karena pernah memperingatkan nya soal pocong yang membawa aura negatif dalam pekerjaannya.


"Alhamdulillah kak, sekarang ngojek saya sudah lancar seperti dulu lagi. Setelah kakak memberitahu saya, kalau ada demit yang sengaja disuruh ngintilin saya kemanapun. Dan ngebuat rejeki saya seret. Semenjak saat itu saya rutin ibadah, shalat lima waktu meski terkadang saya mendapatkan orderan di jam itu. Saya selalu sempetin buat ibadah yang utama, baru narik lagi setelahnya. Alhamdulillah, rejeki saya perlahan kembali seperti semula. Orderan mulai banyak dan lancar, tapi saya mulai tahu siapa yang berbuat jahat pada saya. Tapi saya ingat pesan kakak, untuk tidak membalas dendam. Ya saya pasrahkan saja semua pada Allah, ketika saya sudah ikhlas. Teman yang saya duga menjahati saya itu tertimpa masalah, dia kena begal di jalan. Sekarang tubuhnya dipenuhi luka yang baunya gak karuan. Udah gak bisa ngojek lagi, karena lukanya terus mengeluarkan aroma busuk dan gak ada yang mau deketan sama dia. Dan beberapa hari kemarin, dia datangin saya lalu minta maaf." cerita Driver ojol itu seraya mengendarai motornya.


"Wah alhamdulillah ya Mas, semuanya sudah berakhir tanpa dendam. Semoga teman Mas Ojol dapat memperbaiki diri, dan lekas sembuh dari sakitnya. Jangan tinggalkan ibadah lagi ya Mas, meski demit itu udah gak ngikutin lagi." kataku dengan memainkan ponsel di tangan.


Aneh, sampai detik ini aku sama sekali belum bisa menghubungi Agus sama sekali. Entah ada apa sebenarnya, tak biasanya Agus susah di hubungi.


Motor Mas Ojol berhenti tepat di depan kantor, segera ku lepaskan helm dan membayar ongkos ojolnya. Tiba-tiba Mas ojol bercerita, kalau beberapa hari yang lalu ia sempat mendapat orderan dari kantor ini menuju ke rumah kuno yang ku tinggali.


"Waktu itu saya nganterin penumpang dari kantor ini ke tempat penjemputan kakak tadi loh. Kakak pasti kenal sama Mas nya itu, dia ngasih tips saya banyak banget. Sebenarnya sih Mas nya itu kaya buru-buru gitu, saya kesulitan nyari kembalian karena uangnya seratus ribuan. Eh Mas nya main masuk rumah gitu aja, pas saya teriakin kembaliannya dia malah bilang ambil aja katanya buat saya. Tolong sampaikan ucapan terima kasih saya ya kak, ke Mas nya itu."


"Masnya yang mana ya?" kataku dengan menggaruk kepala yang tak gatal.


Dengan menyebut ciri-ciri Agus Mas ojol itu menceritakan segalanya. Menurutnya Agus tak langsung masuk ke dalam rumah, karena sudah ada perempuan yang menghadang jalan nya. Dan tak lama setelah itu beberapa lelaki keluar dari dalam rumah. Lalu mereka berbicara di halaman dengan wajah serius.


"Saya sih gak bisa dengar jelas ya Kak, apa yang mereka bicarakan. Karena gak lama setelah itu semua orang masuk ke dalam mobil, kecuali si perempuan itu. Terus saya gak tahu apa-apa lagi kak, karena mobil itu pergi keluar rumah. Dan saya juga langsung meninggalkan lokasi."


"Jangan-jangan benar yang dikatakan Tante Ajeng. Kalau Agus bekerja sama dengan Om Dewa dan beberapa tamu itu." batinku di dalam hati.


Aku berjalan santai masuk ke dalam Lobby, kembali teringat peristiwa di dalam Lift bersama perempuan yang bernama Agni itu. Ah rasanya aku jadi males menaiki Lift, aku berjalan ke arah tangga darurat. Ku putuskan untuk berjalan ke lantai lima melalui anak tangga itu. Langkahku terhenti ketika mendengar suara tangisan anak kecil di lorong lantai tiga. Aku menghembuskan nafas panjang, pasti ini ulah demit yang menempati tangga darurat. Aku terus melangkahkan kaki menaiki anak tangga satu persatu. Tiba-tiba langkahku terasa berat, nafasku tersengal-sengak hanya karena menaiki beberapa anak tangga. Ketika aku melihat ke bawah kaki ku, nampak hantu anak kecil sedang bergelayutan di salah satu kaki ku.


"Hei lepaskan kakiku!"


"Huhuhu carikan mamaku, aku mau sama mama huhuhu." ucap hantu perempuan yang berusia kira-kira empat tahunan.


"Mama gak ngasih aku nama, jadi aku gak tahu siapa namaku. Sejak lahir aku sudah tinggal disini."


Aku menghentikan langkahku dan duduk di anak tangga itu. Hantu perempuan kecil itu menceritakan banyak hal padaku. Menurutnya mamanya sengaja meninggal nya disitu dari ia lahir hingga sekarang. Dan gadis kecil ini selalu menunggu mama nya kembali, tapi ia tak pernah tahu dimana mamanya.


"Ya sudah Kakak pergi dulu ya, lain kali kita ngobrol lagi."


"Tolong carikan mamaku, aku kesepian berada disini sendirian. Semuanya gak mau dengerin ceritaku, mereka bilang mama sengaja buang aku." ucap hantu kecil itu dengan menunjuk ke arah beberapa demit yang bersliweran di berbagai arah.


Sepertinya apa yang dikatakan demit-demit disana itu benar. Hantu kecil ini memang ditelantarkan ibunya. Aku merasa terenyuh melihat kondisinya, terkadang ia menggaruk seluruh tubuhnya sampai terluka dan mengeluarkan darah. Sesosok demit perempuan memberiku penglihatan, jika hantu kecil itu sengaja ditinggalkan ibunya sewaktu keguguran di tangga darurat ini. Tubuh bayi nya dikerubuti semut yang menggigit tubuh bayinya, hingga ia meninggal ditempat dipenuhi luka di sekujur tubuhnya. Pantas saja sampai sekarang ia terus menggaruk tubuhnya hingga terluka. Semua itu karena rasa gatal luar biasa yang ia rasakan sampai menjemput ajalnya. Tapi tak pernah sedetikpun ia melupakan mamanya. Sampai para demit yang menghuni tempat itu muak mendengarkan tangisan hantu kecil itu. Tak terasa bulir-bulir bening menetes dari kedua mataku. Tak tega sekali aku melihat hantu kecil itu terus menggaruki tubuhnya. Tak ku lihat kebencian dari kedua matanya, meski semua demit disana mengatakan kalau mamanya jahat.


"Baiklah kakak akan datang lagi dan membantu mu menemukan mamamu. Tapi setelah itu kau harus kembali ke alam keabadian. Karena tempatmu sudah bukan di alam ini lagi, bagaimana apa kau setuju?" tanyaku dengan mengusap air mata yang membasahi pipi.


Hantu kecil itu mulai mengembangkan senyumnya, ia berlonkak-lonjak dengan kaki yang mengambang. Dia berterima kasih padaku, lalu memintaku memberikannya nama. Supaya kelak ia dapat memperkenalkan dirinya pada mamanya. Aku terharu melihat kasih sayang yang begitu besar dari hantu kecil itu. Tak ada dendam untuk perempuan yang telah tega membuangnya.


"Bagaimana kalau kakak kasih kamu nama Aurora? artinya adalah pancaran cahaya yang menyala-nyala dan menari-nari di langit malam. Seperti kamu yang selalu ceria di kehidupan yang gelap ini. Semoga kelak kamu dapat bertemu mamamu, dan bisa pergi ke al keabadian dengan tenang." kataku seraya bangkit berdiri.


Aku melambaikan tangan perpisahan, dan berjanji akan kembali lagi mengunjungi nya. Aurora, melambaikan salam perpisahan untukku, dan ia melesat pergi menembus tembok entah kemana.


...Maaf ya othor telat update, banyak kesibukan di RL. Mohon dukungan dan semangatnya ya teman², terima kasih 🙏...


...Bersambung. ...