Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 79 KEJANGGALAN?


"Apa aku bisa melihat kondisi Malik Pak?"


"Entahlah Nduk, bagaimana mungkin kau meninggalkan urusanmu di alam manusia. Sementara banyak hal yang terjadi di sekitarmu. Kau selesaikan saja semua masalah yang ada disana, bantu semua orang mendapatkan keadilan. InsyaAllah Malik akan baik-baik saja, dia tak akan begitu mudahnya meninggalkan mu dalam banyak masalah begini. Yakinlah Malik akan kembali menemuimu lagi, hanya itu yang bisa kau lakukan. Dan aku juga ingin menyampaikan pesan Budemu, Wati tidak bisa kembali ke Jakarta lagi. Ada seseorang yang ingin melamarnya, tapi Budemu belum memberikan ijin. Karena takut Wati kenapa-napa jika ia meninggalkan desa, Budemu melarang Wati pergi kemana-mana."


"Hah. Siapa yang ingin melamar Wati?"


Pak Jarwo menjelaskan panjang lebar inti permasalahannya, semua berawal dari kisah di masa lalu. Sewaktu Simbah Parti masih merintis usaha perkebunannya, ia sempat meminjam sejumlah uang pada keluarga Pak Mitro. Seorang Juragan tanah yang sangat kaya di Desa sebelah, kini keturunan Pak Mitro datang ke rumah untuk menagih janji. Menurutnya mendiang Simbah dan Pak Mitro ada sebuah perjanjian, jika kelak salah satu anak atau cucunya harus menikahi salah satu keturunannya.


"Karena Pak Mitro memiliki garis keturunan yang cacat sejak lahir, ia takut jika kelak keturunannya yang lain akan mengalami nasib yang sama. Dan saat inilah waktunya, salah satu cucu Pak Mitro yang mengidap cacat mental dan sudah cukup umur untuk menikah, tapi tak ada satupun perempuan di Desa yang mau dinikahkan dengannya. Karena itulah Pak Mitro meminta anaknya datang ke rumah kalian, untuk melamar salah satu cucu Simbah Parti, yang akan dinikahkan dengan cucu laki-laki nya itu. Maka dari itu, Budemu juga berpesan supaya kau tak usah kembali ke desa dulu. Walimah hawatir kalau kau juga di incar oleh Pak Mitro. Keluarga kalian memiliki banyak hutang budi pada keluarga Pak Mitro, saat ini Budemu sedang berpikir keras bagaimana caranya membalas budi mereka. Apalagi seperti yang kau tahu, Budemu itu hanyalah anak angkat Simbahmu. Yang aku cemaskan adalah Walimah merelakan Wati untuk dinikahkan dengan cucu Pak Mitro itu." jelas Pak Jarwo panjang lebar dengan menghembuskan nafas panjang.


"Lantas apa yang akan terjadi jika sampai Wati dinikahkan Pak? Kasihan dia masih sangat muda, apakah dia yang harus menanggung semuanya. Apapun yang terjadi setelah masalah disini selesai Rania akan pulang ke desa!"


"Masalahnya bukan hanya disitu Nduk, keluarga Pak Mitro terkenal kaya raya mungkin tak akan habis sampai tujuh keturunan. Dan banyak desas-desus yang beredar, jika kekayaannya adalah hasil dari pesugihan perjanjian dengan iblis. Karena setiap keturunan yang terlahir dari keluarga mereka, kalau tidak meninggal dunia ya kondisinya cacat mental atau fisiknya. Pokoknya kau jangan pulang ke desa dulu, biarkan Budemu yang akan menyelesaikan masalah nya. Fokuslah dengan karir dan membantu orang-orang yang ada disana. Ingatlah pesanku untuk menjaga dirimu dari makhluk-makhluk yang saat ini terusik karena kehadiran mu. Perbanyaklah beribadah, kelak Malik pasti datang kembali. Aku tutup telepon nya dulu ya, Assalamualaikum."


Setelah menjawab salam Pak Jarwo, aku hanya bisa duduk lemas di kursi. Mataku berkaca-kaca mendengar dua kabar buruk dari Pak Jarwo. Seakan mengerti kesedihan sedang melanda diriku, Tante Ajeng merangkul ku dan menguatkan diriku.


"Apapun masalah yang sedang kau hadapi selalu tegakan dadamu, jangan biarkan orang lain tahu kalau kau sedang bersedih. Apa ada masalah dengan keluargamu Rania?"


"Iya Tante, terima kasih semangatnya."


"Ya udah sana istirahat dulu, besok kan harus kerja. Tolong sekalian bawakan barang-barang Agus yang masih ada di kantor ya Ran, katanya ibunya ingin menyimpan nya."


Aku beranjak dari rumah utama menuju kamar kost. Masih ada beberapa polisi yang melakukan pencarian di kamar almarhum Umi dan Janni. Mereka memasang garis kuning di depannya. Mas Adit menyunggingkan senyumnya ke arahku, ia melihatku dengan menaikan dagunya.


"Kenapa wajahmu muram begitu? apa ada masalah yang lain lagi?"


"Gak ada apa-apa kok Mas, aku ke kamar dulu ya." kataku seraya berjalan gontai ke dalam kamar.


Sesampainya di kamar, aku segera mandi mengambil wudhu lalu menggelar sajadah. Ingin ku tumpahkan segala kegundahan pada Sang Pencipta. Entah apa yang harus aku lakukan supaya Malik dapat kembali seperti semula. Belum lagi masalah yang terjadi di desa, aku tak tahu harus bagaimana untuk membantu Bude menyelesaikan masalah. Tanpa sadar aku tergeletak di atas sajadah dan bermimpi bertemu dengan Simbah Parti. Beliau memelukku erat dan meminta ku untuk ikhlas menerima apapun keputusan Bude Walimah. Menurut Simbah sebelum beliau tiada, beliau sudah pernah menceritakan masalah ini pada Bude Walimah. Dan karena saat itu aku dan Wati masih sekolah, mereka tak menceritakan masalah tentang hutang budi Simbah pada Pak Mitro. Dan waktu itu Bude sudah memberikan keputusan untuk menjodohkan Wati dengan salah satu keturunan Pak Mitro. Tapi saat itu Bude Walimah tak tahu sama sekali jika Wati akan dijodohkan dengan salah satu keturunan mereka yang mengalami cacat mental.


Suara ketukan pintu menyadarkanku dari mimpi. Aku terperanjat melihat jam di dinding, terlihat jam delapan pagi. Rupanya Tante Ajeng yang mengetuk pintuku, karena di rumah utama ada telepon untukku. Aneh siapa yang pagi-pagi telepon ke rumah utama ya. Aku pun bergegas ke rumah utama dan berbicara dengan seseorang diseberang telepon sana.


"Hallo Dek Rania." ucap seorang lelaki dengan suara berat.


"Iya dengan siapa ya?"


"Ini saya Pak Markum, tadi saya hubungi nomor hape dek Rania gak bisa. Terus saya lihat ada nomor telepon rumah, makanya saya telepon kesini. Saya cuma mau ngasih kabar, kalau Aya semalam sakit dan dibawa ke Rumah Sakit. Takutnya ada apa-apa dengannya dan dek Rania gak bisa ngasih kabar ke Bos besarnya."


"Loh Purnama sakit apa Pak?"


Pak Markum menjelaskan jika Aya mengalami muntaber dan kekurangan cairan. Karena itulah Pak Markum membawanya ke Rumah Sakit.


"Mudah-mudahan setelah ini bisa lebih baik kondisinya, jadi dek Rania bisa membawanya bertemu dengan Pak Bos besar."


"Kalau Purnama masih tidak sehat, lebih baik lain waktu saja Pak. Setelah ini saya akan melaporkan ini pada Bos besar, biar beliau yang mengambil keputusan. Kalau saya pribadi sih akan menyarankan Pak Bos membawa Purnama ke Dokter Spesialis Kejiwaan. Supaya semua masalahnya jelas, dan gak terkatung-katung seperti ini."


"Ya sudah dek saya tutup dulu telepon nya."


Setelah mendapatkan alamat Rumah Sakit tempat Purnama dirawat, aku segera mengakhiri telepon itu. Ada-ada saja masalah yang terjadi, aku menggelengkan kepala seraya menghembuskan nafas panjang. Nampak Tante Ajeng menatapku heran, ia memintaku untuk lebih banyak istirahat dan tak terlalu mengurusi banyak hal.


"Meski kau adalah kerabat Om Dewa, Tante udah anggap kau dan Dahayu seperti keponakan Tante sendiri. Jagalah kesehatanmu Rania, besok lusa Tante harus menjenguk anak Tante ke luar negeri. Dan di rumah ini masih ada ibunya Agus, tolong perhatikan dia juga ya Ran. Karena Dahayu pasti tak akan mau perduli dengan ibunya Agus." pinta Tante Ajeng dengan wajah sendu.


...Bersambung. ...


...Mohon dukungan Rate bintang 5 dan Subscribe nya ya. Tinggalkan Like dan komentarnya, boleh kasih Gift atau Vote juga supaya othor lebih semangat nulisnya makasih 😊...