
Terdengar suara sesuatu yang terjatuh. Aku dan Mbak Ayu panik, lalu memutuskan untuk berpencar mencari sumber suara itu berasal. Aku berjalan ke lantai atas rumah itu bermodalkan senter yang ada di ponsel. Sementara Mbak Ayu menggeledah seluruh ruangan di lantai bawah. Aku berjalan menaiki anak tangga satu persatu, dan masih belum melihat kejanggalan disana. Memang ada beberapa makhluk tak kasat mata, tapi mereka memanglah penunggu rumah kuno ini. Jadi aku terbiasa melihatnya. Sampailah aku di ujung ruangan yang paling gelap. Sepintas aku melihat bayangan seseorang yang sedang duduk dengan menekuk kedua kakinya. Aku berjalan mengendap dengan sedikit menahan nafas. Tiba-tiba bayangan itu berlari pergi dan masuk ke dalam ruangan kosong. Kali ini aku benar-benar yakin, jika itu adalah manusia. Karena gerak-geriknya bukan seperti makhluk astral pada umumnya.
Kreeaaak.
Terdengar suara derit pintu, aku menelan ludah kasar, memberanikan diri untuk berjalan kesana. Sebenarnya aku lebih takut bertemu dengan manusia yang memiliki niat jahat, daripada berhadapan langsung dengan setan. Tapi aku harus menghadapinya, dan perlahan melangkahkan kaki kesana. Tiba-tiba ada seseorang yang berlari ke arah ku, ia menyatukan kedua tangannya, memohon dengan wajah penuh ketakutan.
"Loh di dia kan." Batin ku di dalam hati dengan menggelengkan kepala tak percaya.
Seseorang itu memohon padaku, supaya aku tak mengatakan keberadaan nya pada siapapun. Ia berjanji akan menjelaskan semuanya padaku. Entah aku harus percaya padanya atau tidak, kali ini aku benar-benar dilema. Tak lama terdengar suara Mbak Ayu yang berteriak memanggil ku. Seseorang yang di hadapanku masih menyatukan kedua tangan memohon supaya menyembunyikan fakta keberadaan nya di rumah kuno ini. Karena hati kecil ku merasa iba, akhirnya aku menganggukkan kepala, lalu memintanya bersembunyi. Karena aku juga harus mendengarkan penjelasan nya secara langsung. Ia tertunduk dengan mata berkaca-kaca, dan aku pun meninggalkan nya disana. Aku kembali turun menemui Mbak Ayu, yang wajahnya masih sangat kesal.
"Gimana. Ketemu gak penyusup nya?" Tanya Mbak Ayu dengan menaikan dagu nya.
"Hmm. Gu gue gak lihat apa-apa Mbak." Jawabku gugup dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
Astaga. Ini pertama kalinya aku berbohong untuk hal yang belum ku ketahui baik atau buruknya. Meski fakta yang terlihat belakangan ini menunjukkan orang itu bersalah, tapi melihat raut wajahnya tadi, aku menjadi iba. Sebenarnya apa yang terjadi, dan fakta apa yang belum terungkap.
"Kita tidur bareng aja yuk Ran. Gue hawatir kalau penyusup itu masih ada di sekitar rumah ini." Kata Mbak Ayu membuatku tercengang.
Padahal aku berniat menemuinya setelah Mbak Ayu tertidur nanti. Tapi jika ia tidur bersamaku, akan mustahil meninggal nya tanpa tahu jika aku diam-diam pergi.
"Eh. Kok malah ngelamun sih! Ntar kesambet demit lagi lu. Yuk mandi gantian, gue juga laper lagi. Perut udah keroncongan gak karuan!" Keluhnya seraya memegangi perut.
Aku menjentikkan jari mendapatkan ide untuk meninggalkan Mbak Ayu sendiri.
"Gue aja yang keluar beli makan ya Mbak. Lu mandi duluan aja."
"Dih gak usah Ran! Kita pesen lewat ojol aja. Ngapain lu keluar lagi, emang gak capek apa? Terus kalau masih ada penyusup di sekitar rumah ini gimana?"
"Padahal kan itu cuma alasanku supaya aku dapat meminta penjelasan. Apa aku pergi setelah Mbak Ayu tidur aja ya?" Batinku di dalam hati dengan mengaitkan kedua alis mata.
Plaaak.
Mbak Ayu menepuk pundakku, ia berteriak karena melihatku melamun tak menjawab ucapannya.
"Gimana mau pesen lewat ojol aja gak? Kita pesen dulu, baru mandi gantian."
"Ya udah Mbak, terserah lu aja, gue ngikut deh."
"Ya udah, sambil nunggu ojol nya gue mandi duluan ya?" Pungkas Mbak Ayu seraya bangkit dari duduknya.
Aku sudah bersiap melangkahkan kaki ku pergi, tapi tiba-tiba ponselku bergetar. Nampak panggilan masuk dari Mas Adit. Entah kenapa ia menghubungi ku tengah malam begini. Segera ku sentuh tombol terima telepon. Terdengar Mas Adit menjelaskan, jika Ari sudah mengakui perbuatan nya. Tapi ia mengaku tak mengenal Tante Ajeng.
"Katanya dia cuma bantuin Edi dapat job pindahan. Edi teman nya itu mempunyai bisnis penyewaan mobil pickup. Tapi sayangnya dia udah meninggal malam tadi, dan polisi gak bisa meminta keterangan darinya. Jadi hanya penjelasan dari lelaki yang bernama Ari saja. Entah dia bisa dipercaya atau tidak, mengingat perbuatan keji nya pada pacarnya sendiri." Ucap Mas Adit diseberang telepon sana.
"Jadi udah pasti itu jasad Dinar Mas? Kalau boleh sekalian aku mau bertemu orang tuanya. Karena ada pesan terakhir yang harus aku sampaikan."
"Bener Ran. Team forensik udah memastikan identitas korban. Mungkin besok orang tuanya akan datang untuk mengambil jasad anak mereka. Kau bisa datang ke Rumah Sakit Polri jam sembilan pagi."
Aku mengakhiri panggilan telepon itu, dan Mbak Ayu sudah keluar dari kamar mandi. Aku menjelaskan, jika tak ada saksi yang bisa mengatakan mengenai kejelasan Tante Ajeng. Ari mengaku mengenal Tante Ajeng dari Edi. Sementara Edi udah meninggal dunia.
"Si Ari itu harus dipaksa jujur Ran. Gue yakin kok mereka satu anggota sekte itu. Tante Ajeng dan Om Dewa memiliki motif masing-masing. Kira-kira mereka masih bekerja sama gak ya?" Kata Mbak Ayu dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Gue gak yakin sih Mbak kalau mereka masih satu jalan. Bisa aja kan ada pertentan di antara mereka, gue juga bingung sih mikir apa tujuan mereka."
"Kok lu jadi ragu dengan keduanya sih Ran? Emang lu tahu sesuatu ya?"
Aku menelan ludah kasar, sebenarnya aku tak pandai menutupi sesuatu hal. Terpaksa aku menceritakan pertemuan ku dengan seseorang yang bersembunyi di lantai atas rumah kuno.
"Jadi lu ketemu sama penyusup itu Ran? Terus kenapa lu gak ngomong sama gue. Pasti dia berniat jahat. Kita harus memergoki orang itu!" Seru Mbak Ayu bergegas pergi mengambil balok kayu dan berjalan ke rumah utama.
Aku bergegas mengejarnya, ia tak boleh melakukan sesuatu yang gegabah. Meski aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi aku akan mendapat penjelasan langsung darinya. Jadi aku berniat menghentikan Mbak Ayu supaya tak terbawa emosi.
"Ngapain sih lu narik-narik tangan gue? Lu mau dia nyelakain salah satu dari kita?" Mbak Ayu membentakku seraya mengibaskan tanganku.
"Bukan begitu Mbak. Tapi gue mau ngorek informasi dulu, makanya gue tadi gak langsung ngasih tahu lu. Tolong kasih gue waktu buat nanya-nanya dulu, please. Kalau tiba-tiba lu mergokin dia di dalam, yang ada kita gak akan dapat informasi apapun."
Aku terus membujuk Mbak Ayu, supaya ia memberikan ku waktu untuk mendapatkan informasi. Karena sepertinya, ada sesuatu yang terjadi dan membuat perbedaan di antara keduanya.
"Jadi menurut lu Tante Ajeng dan Om Dewa berselisih paham?" Tanya Mbak Ayu dengan wajah kebingungan.
Aku hanya menganggukkan kepala, dan memintanya menunggu ku di kamar. Karena setelah ini aku harus kembali ke rumah utama, dan meminta penjelasan yang sangat penting darinya. Semoga tak ada lagi drama, dan misteri mengenai penganut ilmu hitam itu terungkap.