Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 250 PERINGATAN DARI WENING!


Di dalam mobil Wening masih terus mengomel. Ia mengeluh jika perutnya terasa sangat sakit, karena terlalu dipaksa memuntahkan semuanya.


"Kalau emang susah dikeluarkan harusnya gak usah dipaksa muntah dong Wen, daripada nyiksa diri sendiri!"


"Emang lu pikir gue gak jijik apa makan itu semua?"


"Ya pemilik restauran itu menganut paham yang sama kayak lu, jadinya harus lu dukung usahanya dong."


"Maksud lu apa an Ran?"


"Iya Ibu itu gunain makhluk gaib buat keuntungan dia sendiri. Meski dia harus ngasih sesajen buat peliharaan nya itu. Kan kata lu harus menguntungkan dong, inget gak take and give?"


Wening menghembuskan nafas panjang lalu menggelengkan kepala. "Emang iya sih, tapi gak mau juga gue disuruh makanan begituan lagi. Kalau bukan karena pekerjaan, gue juga ogah banget!"


Di perjalanan kembali ke kantor, tiba-tiba sosok Bening datang. Ia duduk di jok belakang. Diam tak mengatakan apa-apa, ia hanya memandang sendu wajah kembaran nya. Aku menoleh ke belakang, ia tak bergeming dari sana. Aku bertanya pada Wening, kenapa kembaran nya itu terlihat bersedih.


"Udah biarin aja Ran, dia emang biasa kayak gitu kalau kesepian. Makanya dia cari perhatian dengan cara kayak gitu." Sahut Wening nampak acuh.


Aku ingin sekali berkomunikasi dengan sosok Bening. Tapi aku tak bisa melakukan nya, karena tak mai jika Wening sampai curiga jika aku sudah dekat dengan kembaran nya. Sampai akhirnya kami sampai di kantor, dan suasana disana sudah agak sepi. Pasti sudah banyak pegawai yang pulang, hanya tinggal beberapa orang saja yang ada di kantor.


"Udah jam segini Pak Bos pasti udah balik deh Ran. Gimana gue ijin nya ya?"


"Telepon aja Wen, emang kapan lu mau cuti?"


"Kalau bisa besok gue mau langsung pulang kampung."


"Oh ya udah lu telepon aja dulu, biar gue yang balikin semua peralatan ke gudang."


Aku berjalan meninggalkan nya seorang diri, nampaknya sosok Bening melesat mengikuti ku. Ia menceritakan tujuan Wening kembali ke kampung bukan hanya untuk urusan merah saja. Katanya Pakde nya sudah tau, jika ada seseorang yang berusaha melawannya. Mereka curiga ada yang berusaha membuat penangkal, untuk menghilangkan sihir yang dikirimkan ke orang-orang yang pernah melukai mereka di masa lalu. Jangan-jangan yang dimaksud Bening adalah semua warga Desa Rawa Belatung.


Bening hanya menganggukkan kepala, tentu saja aku semakin panik mendengar penjelasan nya.


"Bahkan sepertinya Wening sudah curiga padaku. Ia tau aku berniat kembali ke alam keabadian, karena itulah ia bersiap untuk menaklukkan kuntilanak merah. Supaya ia bisa memanfaatkannya."


"Jadi Wening sudah tau kalau kau mendatangi ku?"


"Sekarang dia belum tau, tapi mungkin akan segera tau. Wening bukanlah orang bodoh, dia bisa menyadari jika ada kejanggalan di sekitarnya. Mintalah bantuan pada seseorang yang lebih tau dengan dunia gaib, karena lawanmu tak hanya Wening saja. Pakde ku itu sama jahatnya dengan mendiang Bapaknya. Dia bisa berbuat apa saja Rania, kau harus waspada."


"Apa kau tau jika orang-orang yang ingin disakiti oleh Wening adalah semua orang yang ada di kehidupan ku?"


Bening menganggukkan kepala, tapi ia tak mendukung rencana Wening dan Pakde nya. Karena itulah sekarang Wening bersikap acuh padanya.


Tap tap tap.


Terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Sontak saja aku dan Bening mengakhiri komunikasi kami. Ia menghilang setelah menembus tembok, sementara aku berpura-pura merapikan barang-barang ke dalam kontainer. Nampak Wening berhenti tepat di tengah pintu, tangannya masih memegangi ponsel seraya menceritakan pembicaraan nya dengan Pak Bos.


"Gue udah dikasih ijin Ran, bahkan Pak Bos bakal tetep kasih gue gaji. Tapi dia minta gue buat memastikan kalau kuntilanak merah itu gak akan menggangu nya ataupun semua keluarga nya. Gue iyain aja dong, kapan lagi cuti tetap dapet gaji. Hanya gue doang deh yang dapat kayak gitu!" Ucapnya penuh keangkuhan.


Karena kesal melihat tingkahnya, aku sengaja membuatnya semakin panas. Dan mengatakan jika aku sudah lebih dulu mendapatkan keuntungan seperti itu.


"Ya seenggaknya sebelum lu ngerasain itu, udah gue duluan sih yang dapat. Makanya Pak Arya sampai kesal sama gue, katanya gue anak emas di kantor. Padahal kan gak gitu juga ya Wen?" Tanya ku dengan menaikan alis mata.


Wening hanya tersenyum melalui sudut bibirnya. Ia terlihat sangat kesal dengan tingkah ku yang mirip dengan tingkah tengilnya. Lagian siapa suruh sok sombong di depan ku, aku juga bisa mengikuti cara berpikir nya.


"Ya udah lah gak penting dibahas. Gue balik dulu ya, kalau semua urusan udah kelar gue baru bisa balik. Karena si Bos bilang, gue harus selesaikan masalahnya sebelum balik kerja. Biar gue gak perlu bolak-balik pulang kampung. Jadi gue bakal selesaikan semua masalah yang udah menumpuk sejak lama itu. Selain naklukin kuntilanak merah, gue juga bakal bikin perhitungan ke semua orang yang dulu bikin keluarga gue hancur. Dan yang terakhir gue bakal bikin perhitungan ke orang yang paling bertanggung jawab atas semua kekacauan di masa lalu itu!" Ucapnya tersenyum penuh arti.


Wening mengepalkan kedua tangannya, matanya membulat sempurna hingga nampak bengis. Bahkan tatapan matanya terlihat seperti bukan seorang manusia. Dia pikir aku masih belum tau apa-apa tentangnya, dan ia masih suka berbicara dengan kata-kata mengancam yang langsung ditujukan padaku. Aku yakin jika yang ia maksud adalah aku, karena menurutnya aku yang paling bertanggung jawab atas semua penderitaan nya. Karena aku Kakeknya terusir dari Desa, dan ia bersama keluarganya juga terlunta-lunta karena amukan warga Desa. Apa aku harus selamanya diam seakan tak tau apa-apa. Rasanya aku ingin sekali berteriak di depannya, jika bukan aku ataupun warga Desa yang bertanggung jawab atas semua penderitaan nya. Tapi Kakeknya sendiri yang membuat kesalahan dengan menumbalkan nyawa-nyawa manusia. Jadi wajar saja, jika Kakeknya sampai mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan nya. Mungkin lebih baik aku konsultasi kembali pada Pak Jarwo, karena jika sampai Wening bisa menaklukkan kuntilanak merah, maka akan terjadi bahaya yang lebih besar nantinya.