Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 269 PERLAWANAN SENGIT?


Siang ini kami semua langsung menuju ke Hutan batas Desa. Meski dalam keadaan siang hari, di dalam hutan ini tak ada cahaya sama sekali. Hampir tak ada sinar matahari yang bisa menembus lebatnya pepohonan. Hanya beberapa warga yang ikut ke dalam hutan, sementara sisanya membantu mengurus perlengkapan yang akan digunakan untuk menguburkan jasad Bening. Nampak Mbok Genuk menyipitkan kedua mata, ia waspada dengan berbagai kemungkinan yang terjadi. Karena ia mempunyai firasat jika Pak Warto akan berusaha menghentikan apa yang kami lakukan sekarang.


"Wening pernah mendengar Bening mengeluh padaku Nduk. Pasti sekarang Wening sudah mengadu pada Warto. Kau bersama Jarwo dan juga Pak Haji masuklah ke dalam gubuk untuk mengambil jasad Bening. Sementara aku akan berjaga diluar untuk menangkis semua serangan Warto." Jelas Mbok Genuk dengan wajah serius.


"Tapi apa kau tak apa-apa Mbok? Bagaimana jika cucumu sendiri yang datang untuk melawanmu?" Tanya Pak Jarwo meyakinkan.


"Apa mau dikata Wo, aku tak akan mungkin bisa menyerang cucuku sendiri. Kecuali Wening cukup tega untuk mencelakai ku, aku hanya akan menangkis serangannya tanpa memberikan perlawanan. Aku tak sanggup mencelakai cucuku sendiri." Jawab Mbok Genuk seraya menghembuskan nafas panjang.


Kedua matanya berkaca-kaca menahan tangis, pasti batinnya sangat terluka. Satu-satunya darah dagingnya tak sepaham dengannya, dan memilih sesat melakukan segala cara. Lantas bagaimana jika aku bertatap muka langsung dengan Wening, dan kami masih harus berada di satu lingkungan tempat kerja yang sama. Meski terasa sangat canggung dan tak nyaman, aku terpaksa harus menghadapinya apapun yang terjadi.


"Mari Nduk kita masuk ke dalam, Jarwo sudah mensterilkan gubuk itu dari energi negatif. Menurutnya kita tak punya banyak waktu sebelum Warto dan keponakannya datang." Ucap Pak Haji Faruk seraya membaca ayat-ayat suci, dan ku balas dengan anggukan kepala.


Begitu memasuki pintu gubuk reot ini. Kesan angker langsung terasa, bau pengap dan lumut memenuhi seisi gubuk. Debu menumpuk dan sarang laba-laba dimana-mana. Nampak sesosok demit kakek tua berada di pojokan, ia diam dan menatap kami dengan dingin. Bukankah tadi Pak Haji bilang kalau Pak Jarwo sudah mensterilkan tempat ini, tapi kenapa masih ada satu sosok yang ada di dalam. Sepertinya Pak Jarwo mengetahui isi hatiku, ia menepuk pundak ku seraya memberikan penjelasan. Menurutnya kakek tua itu adalah penunggu asli gubuk reot ini. Dia tak akan mengganggu, karena energinya netral.


"Demit itu sendiri juga tak nyaman dengan keberadaan jasad Bening. Tapi ia tak bisa melakukan apa-apa selama ini. Dia sendiri yang menuntunku untuk mengambil satu persatu tulang-tulang ini." Jelas Pak Jarwo.


Sementara Pak Jarwo dan beberapa warga mengambil tulang-tulang Bening yang masih tersisa. Pak Haji Faruk terus melantunkan bacaan ayat-ayat suci dan membuat demit kakek tua tadi menghilang entah kemana. Disaat kami semua sedang fokus membaca lantunan ayat suci. Tiba-tiba terdengar suara cekikikan kuntilanak diluar gubuk.


Deegh.


Jangan-jangan itu adalah si merah, yang sekarang sudah menjadi peliharaan Wening. Apa dia datang kesini untuk menghentikan kami menyempurnakan jasad Bening. Kalau itu benar, itu artinya Wening benar-benar siap melawan neneknya sendiri. Aku berlari keluar gubuk, ku lihat Mbok Genuk sedang berhadapan dengan seorang perempuan dan juga sesosok kuntilanak merah. Segera ku berlari menghampiri Mbok Genuk, dan ku lihat Wening berdiri angkuh dengan mendongakkan kepala ke atas. Ia menatapku dengan sorot mata mengancam.


"Kita bertemu lagi Rania... Ternyata dari kemarin kau sudah tau siapa diriku sebenarnya. Tapi kau berlagak bodoh dan tak tau apa-apa, pantas saja kau agak berbeda. Pasti kau mengira jika aku bodoh sama seperti mu, ya kan?" Ucap Wening dengan menyeringai angkuh.


"Wening untuk apa kau melakukan semua ini? Jika kau Menncelak semua orang yang ada disini, itu tak akan membuat Mbah Wongso hidup kembali. Kau seharusnya bersyukur masih memiliki seorang nenek seperti Mbok Genuk ini. Jaga dan sayangilah dia, selagi kau masih mempunyai waktu untuk bertemu dan melihatnya. Bukannya kau malah berniat menyerang nenekmu sendiri!" Kataku dengan menghembuskan nafas panjang.


"Tutup mulutmu perempuan munafik! Kau telah merebut kasih sayang nenekku, dia lebih memilih membantu mu daripada aku cucunya sendiri. Untuk apa aku harus memperdulikan nyawanya hah!" Pekik Wening seraya mengeluarkan energi dari dalam telapak tangannya.


Aku terhempas dan terjatuh setelah berguling di tanah. Aku terbatuk dan mengeluarkan seteguk darah. Mbok Genuk langsung melesat ke arah ku dan menopang tubuhku. Ia memberikan energi dari dalam tubuhnya, dan membuat tenaga dalamku pulih dengan cepat.


"Kau tak apa-apa to Nduk?" Tanya Mbok Genuk seraya mengusap darah yang keluar dari mulutku.


"Alhamdulillah sudah jauh lebih baik setelah Mbok Genuk memberikan energi padaku." Jawabku dengan memegangi sebelah dada yang terasa agak sesak.


Wening tertawa penuh kepuasan, tak ku sangka dia langsung terang-terangan menyerang ku tanpa aba-aba.


"Kau benar-benar licik Wen, apa kau pikir aku tak mampu melawanmu hah?"


"Cobalah kalau kau mampu, dan ku harap Simbah tak perlu ikut campur. Jangan buat Wening terpaksa melukai Simbah!" Serunya dengan membulatkan kedua mata.


Tak berselang lama Pak Jarwo dan Pak Haji keluar dari gubuk bersama warga lainnya. Mereka hendak membawa jasad Bening ke mushola untuk mengkafani dan menguburkanya ke pemakaman. Tapi kuntilanak merah langsung melesat berusaha menghentikan mereka. Mbok Genuk tak tinggal diam melihat merah berusaha mengacaukan segalanya. Ia meminta Pak Jarwo memastikan keselamatan semua orang yang akan menyempurnakan jaaad cucunya. Akhirnya Pak Jarwo mengawal Pak Haji dan juga warga yang sedang membawa sisa tulang-tulang Bening. Mbok Genuk melawan kuntilanak merah dengan penuh amarah. Sementara Wening yang melihat jasad saudara kembarnya dibawa pergi langsung berlari mengejar warga. Dia memanggil burung-burung pemakan bangkai datang untuk menyerang. Aku langsung menggunakan kekuatan ku, dan ku hempaskan tasbih yang sudah kubacakan ayat-ayat suci ke arah Wening. Tasbih itu berubah menjadi sosok ular hitam besar, dan langsung melilit tubuh Wening. Wening tak bisa bergerak lagi, dan mantranya berantakan membuat burung-burung tadi akhirnya berhamburan terbang pergi entah kemana.


Whuuus whuuuss.


Hembusan angin besar datang, tak lama setelah itu tubuhku terhempas melayang ke udara. Terdengar suara berat seorang lelaki yang murka karena aku berusaha mencelakai kedua keponakan nya.


"Kau ingin mengembalikan Bening ke alamnya, tak cukup sampai disitu. Sekarang kau ingin menghancurkan tubuh Wening juga hah!" Pekiknya sebelum aku benar-benar terjatuh dari ketinggian.


Beruntung nya Pak Jarwo dengan sigap menangkap tubuh ku. Kali ini situasi lebih mencekam dari dugaan. Pak Warto bersama Wening melakukan serangan bersama-sama serta membawa kuntilanak merah.


"Nduk minta Pak Haji menyempurnakan jasad Bening tanpa kita. Kita bertiga harus tertahan disini untuk melawan ketiganya. InsyaAllah Pak Haji Faruk bisa menyelesaikan semuanya. Kita hanya perlu melawan ketiganya, supaya mereka tak menghalangi Pak Haji dan juga warga." Tegas Pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis mata.


Selagi Wening masih dalam belenggu ular hitam yang sebenarnya adalah tasbih pemberian Eyang Buyut. Aku memanfaatkan keadaan untuk mengantarkan Pak Haji dan warga sampai luar hutan wingit ini. Begitu aku kembali lagi ke tengah hutan, terlihat Pak Warto sudah menampakkan wujudnya. Dia berdiri di samping Wening dengan berkacak pinggang. Sepertinya mereka sudah merencanakan penyerangan ini, karena dengan mudahnya mereka bisa terlepas dari ikatan tasbih ku tadi. Semoga hari ini kami bisa mengalahkan Wening dan Pakde nya, belum lagi ada kuntilanak merah yang menjadi sekutu mereka.