
"Ran bikin tenda disini dulu yuk, sekalian shalat ashar."
"Kita bukan nya mau shalat tahajud di puncak La? Kenapa bangun tenda nya disini?"
"Kita istirahat disini aja dulu, sekalian berdoa sama Allah. Siapa tahu atas ijin Allah Jin muslim itu mau bantuin kita. Nah agak malaman nanti kita baru lanjut ke puncak buat shalat tahajud. InsyaAllah, kita bisa dapatin apa yang kita mau."
Aku mengikuti saran Lala, lalu mendirikan tenda di tempat yang agak datar dan dekat dengan aliran sungai. Supaya kami dapat lebih mudah mendapatkan air bersih. Kami menghabiskan waktu dengan berdzikir, supaya mendapat perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Sepertinya semua penghuni gaib di tempat ini tak banyak melakukan interaksi dengan kami. Sampai akhirnya selepas shalat magrib, aku mendengar suara langkah kaki seseorang. Karena Lala masih fokus berdoa, aku tak memberitahu nya dan mengintip keluar tenda. Terlihat seorang pemuda membawa tas carrier di punggungnya. Ia nampak kelelahan dan nafasnya terengah-engah. Karena merasa kasihan, aku membawakan sebotol air minum untuknya. Pemuda ini sangat lemas, tubuhnya sudah tergeletak di tanah yang agak basah. Segera ku berikan air minum padanya, dan ia pun mulai mendapatkan kembali kesadaran nya. Lala yang baru saja menyelesaikan ibadahnya keluar melihat ku bersama seseorang yang tak kami kenal.
"Siapa dia Ran?"
"Gak tahu La, sepertinya dia pendaki yang nyasar deh. Kasihan tauk, makanya aku ngasih air minum ke dia."
"Uhuk uhuk." Pemuda itu terbatuk seraya bangkit berdiri.
Aku dan Lala menjaga jarak dari pemuda itu, bukan apa-apa takutnya dia orang jahat yang menyamar.
"Terima kasih udah nolongin saya. Sudah dua hari saya tersesat di tempat ini." Ucapnya dengan nafas yang tersengal-sengal.
Ia memperkenalkan diri dengan nama Asep, asalnya dari Kota Cirebon. Ia datang ke tempat ini atas petunjuk dari guru spiritual nya.
"Kenapa penampilan mu seperti pendaki gunung? Apa kau mempunyai tujuan lain untuk datang ke Curug ini?" Tanya Lala mengaitkan kedua alis mata.
"Iya. Saya memiliki tujuan untuk ngalap berkah disini. Tapi saya tersesat, dan muter-muter di tempat yang sama. Sampai akhirnya saya mengikuti suara lantunan orang yang mengaji. Dan saya bertemu kalian disini."
Aku melihat penampilan Asep dari atas sampai ke bawah. Karena kaki nya masih napak di tanah, ada kemungkinan dia masih manusia. Karena aku tak mau tertipu untuk kedua kalinya, ketika bertemu dengan Ibu-ibu yang menginap di Hotel, yang ternyata ia adalah jiwa tanpa raga.
"Apa kau yakin, kalau kau masih manusia?"
"Ssts Ran, jangan ngomong gitu dong. Gak enak tauk!" Lala menegur ku karena blak-blakan berbicara begitu pada Asep.
"Kalau saya bukan manusia, mana mungkin kalian bisa ngelihat saya!" Seru Asep dengan wajah pucat nya.
Aku terkekeh mendengar jawabannya, dia gak tahu aja kalau kami bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata. Karena itulah aku bertanya langsung padanya, tapi respon Asep diluar dugaan. Ia merasa aku tak ikhlas menolongnya, dan ia ingin melanjutkan perjalanan ke puncak Curug ini.
Astaga. Di tempat yang gelap dan jauh dari kehidupan, Lala menawarkan bantuan pada orang asing yang tak kami kenal. Aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang seraya menggelengkan kepala. Lala membuatkan mie instant untuk kami semua, nampak Asep menyantapnya dengan lahap. Seakan ia sangat kelaparan. Aku berjaga jarak darinya, karena menurut ku agak aneh saja ada seorang pemuda yang mendaki ke tempat seperti ini. Jam yang melingkar di pergelangan tangan menunjukkan pukul sepuluh malam. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Aku melihat ponsel beberapa kali, berharap mendapatkan kabar dari Mbak Ayu. Tapi ternyata tak ada jaringan provider di tempat ini. Nampak beberapa demit menatap kami dengan raut wajah yang dipenuhi amarah.
"La kenapa demit-demit itu kayak lagi kesel sama kita ya? Perasaan kita gak ada ngelakuin hal yang aneh-aneh."
"Iya Ran, tatapan mereka ke kita kayak lagi marah gitu. Jangan-jangan si Asep berbuat kesalahan lagi!" Ucap Lala setengah berbisik di telinga ku.
Sontak saja aku menghentikan langkah, dan berkacak pinggang di depan Asep. Aku jadi was-was dengan kehadiran Asep di sekitar ku dan Lala dapat menyebabkan masalah.
"Apa kau melanggar aturan disini?" Tanya ku mengaitkan kedua alis mata.
Asep gelagapan tak langsung menjawab pertanyaan ku. Ia menoleh ke berbagai arah seraya mengusap belakang tengkuknya.
"Maksudnya gimana? Saya datang kesini dengan tujuan baik-baik, untuk apa saya melakukan hal-hal yang melanggar aturan!" Jawabnya dengan menghembuskan nafas panjang.
Entah kenapa aku tak bisa percaya begitu saja dengan ucapannya. Karena gelagat aneh yang Asep tunjukan setiap kali ia berbicara. Akhirnya kami tak mau menghiraukan masalah apa yang telah diperbuat olehnya. Dan memilih tetap melanjutkan perjalanan. Tapi seakan ada yang janggal, kami selalu kembali ke tempat yang sama. Meskipun jam di pergelangan tangan terus berjalan. Nyatanya masih berada di tempat yang sama.
"Ran. Aku capek nih, perasaan kita gak sampai-sampai ke puncak. Kayak ada yang nyasarin kita deh!"
Aku hanya diam dengan menggaruk kepala yang tak gatal. Ini sudah pasti ada yang salah, jika aku dan Lala tak melakukan kesalahan apapun. Berarti karena Asep lah perjalanan kami jadi terganggu. Sepertinya ia memang membuat suatu kesalahan. Tapi entah kenapa ia tak mengakui perbuatan nya.
"Lebih baik kau mengaku saja, atau kita berpisah sampai disini, cari jalan masing-masing. Karena setelah kau bergabung dengan kami, jalan yang kami lewati selalu memutar ke tempat yang sama. Sepertinya kami disesatkan penghuni Curug ini, sementara kami tak merasa melanggar aturan. Pasti kau sudah melakukan sesuatu, sampai membuat para penghuni disini marah. Mengaku lah!" Pekik ku dengan menghembuskan nafas panjang.
Asep masih terus berdalih, bahkan ia berteriak lantang padaku. Jika ia bersedia bersumpah, kalau ia tak melanggar aturan di Curug ini.
"Aku tak berbicara kotor ataupun membuang sampah sembarangan. Aku juga sudah meletakan sesajen di depan pohon kembar. Lantas kesalahan apa yang ku perbuat?" Sahutnya padaku.
Lala memintaku untuk bersabar, dan tak terbawa emosi. Menurutnya Asep memang sudah melakukan hal-hal yang benar. Tapi entah kenapa kami disesatkan oleh para penghuni gaib yang tinggal disini. Sampai akhirnya, kami mendengar suara ringkikan kuda. Samar-samar aku dan Lala melihat kereta kencana di atas langit yang gelap. Nampak seorang perempuan cantik dan anggun duduk di kereta kencana itu. Ia menyunggingkan senyumnya dengan sorot mata yang tajam. Aku dan Lala saling melihat, kenapa tiba-tiba kami di datangi sosok perempuan itu. Jika melihat wujudnya, ia bukan berasal dari golongan Jin muslim. Lantas untuk apa ia mendatangi kami. Sementara Asep terlihat sangat ketakutan, ia duduk meringkuk dengan memegangi tas carrier nya. Suara-suara gamelan mulai terdengar, mengiringi kedatangan perempuan cantik yang turun dari kereta kencana. Ia berjalan dengan kaki mengambang, tersenyum padaku seraya menganggukan kepala.
"Kalian berdua gadis yang baik, untuk apa kalian bersama pemuda itu? Ia telah mencuri mustika di Kerajaan ku, dan sekarang ia ingin membawanya pergi ke puncak. Untuk mendapatkan kesaktian yang lebih dari mustika itu. Dan juga ngalap berkah dari Pangeran Jin muslim. Manusia yang tak punya tata krama, dan sembarangan mengambil barang tanpa ijin layak mendapatkan hukuman. Ia tak seharusnya bersama kalian, karena itulah kalian tak akan bisa meninggalkan wilayah ku. Meskipun Ki Ageng Gede sudah menunggu kedatangan kalian. Urusan kalian di alam ku belum selesai, selama pemuda itu masih bersama kalian." Jelasnya dengan wajah agak kesal.
Meski penampilan dan suaranya anggun, aku tahu sosok ini dapat melakukan apa saja pada kami. Jika kami mencampuri urusannya dengan Asep. Tapi naluri ku sebagai manusia, tak tega membiarkan Asep dicelakai begitu saja oleh sosok putri ini. Lantas apa yang harus ku lakukan sekarang. Membiarkan Asep menyelesaikan urusannya dengan sosok gaib itu, atau aku harus menolongnya. Pilihan yang sangat sulit buat ku, meskipun awalnya aku tak menyukai Asep karena gelagatnya yang aneh. Tapi hati kecil ku tak tega melihat nya meringkuk dengan wajah ketakutan seperti itu.