
"Petter aku harus berangkat bekerja dulu, apa kau mau menunggu ku disini?"
"Nee Rania!" Sahutnya seraya menggelengkan kepala.
"Baiklah kau bisa ikut ke kantor, tapi disana banyak hantu dengan berbagai wujud. Kau jangan takut ya, kalau ada hantu perempuan jelek disana."
Petter diam dengan meletakkan tangan di atas dagunya. Ia sedang mempertimbangkan pilihannya, tapi belum lama berpikir ia sudah menentukan pilihan nya.
"Aku akan ikut bersamamu Rania. Bukankah kau bilang akan melindungi ku dari perempuan jelek itu!" Celetuk nya seraya melesat mengitari tubuh ku.
"Hedeh! Dasar hantu kocak, padahal semua hantu kan sama saja. Kenapa masih takut aja sih sama kuntilanak!" Aku menepuk kening heran dengan tingkah sahabat tak kasat mata ku itu.
Pagi itu aku terpaksa membuat susu hangat dengan omlet. Karena Petter ingin menginginkan nya, dan kalau dulu ia akan mengambil inti sari dari makanan atau minuman yang ku sediakan untuk nya. Dan aku lah yang terpaksa menghabiskan sesuatu yang di ambil inti sari nya oleh Petter. Karena di alam manusia pun, makanan atau minuman yang di nikmati Petter masih ada, meski tak ku rasakan lagi kenikmatan atau rasa dari makanan nya. Hanya hambar seperti menikmati hembusan angin di dalam kerongkongan. Mungkin itulah yang akan orang lain rasakan, ketika memakan sesuatu dari pemberian makanan orang yang habis meninggal dunia.
"Kau lama sekali Rania! Makan begitu saja lelet, kau memang kurang berolahraga!" Pungkas Petter yang sudah menghabiskan makanan nya.
"Iya iyaa, ini juga selesai. Yuk kita berangkat!" Cetus ku seraya melangkahkan kaki keluar.
Di depan kamar aku bertemu dengan Ce Edoh yang sedang menyapu halaman depan kamar ku. Ia mengatakan jika, setelah satu minggu harus kembali ke kampung halaman nya. Karena ada kerabatnya yang akan menikahkan anaknya. Aah sepertinya aku akan sendirian setelahnya, semoga Mbak Ayu ataupun Heni segera pulang.
"Iya Ce gak apa-apa, nanti biar Rania sampaikan ke Mbak Ayu. Soalnya kan dia masih menunggu jenazah Om Dewa sampai besok baru akan di kremasi."
"Wah lama juga ya Mbak, mayat dibiarkan di rumah sampai tiga hari, apa gak rusak ya?"
"Gak lah Ce, pasti udah ada sesuatu yang dipakai buat mempertahankan mayatnya supaya gak rusak. Emang begitu adatnya disana, malah terkadang ada yang sampai tujuh hari loh!"
Nampak Ce Edoh bergidik, sepertinya ia ketakutan membayangkan berhari-hari menjaga mayat. Aku sendiri juga belum pernah sih, tapi sekarang Mama dan Papa sedang melakukannya bersama Mbak Ayu.
"Ya udah Ce, saya permisi mau kerja dulu." Kata ku seraya berjalan ke depan.
"Dulu di Netherland banyak bangunan besar dan tinggi seperti itu Rania. Tapi aku baru melihatnya lagi disini." Katanya seraya menunjuk beberapa gedung diluar sana.
Aku hanya menyunggingkan senyum menanggapi perkataan nya, karena sopir Driver itu melihat tingkah aneh ku yang dari tadi berbicara sendiri. Aku berkomunikasi dengan Petter melalui batin, dan memintanya untuk melanjutkan ceritanya nanti saja. Tak lama setelah itu Petter menertawai ku, ia baru kali ini melihat ku tampak konyol karena berbicara lewat batin padanya. Karena dulu aku tak pernah melakukan hal semacam itu, komunikasi ku dengan Petter layaknya manusia dimanapun dan kapanpun. Tapi karena sekarang aku sudah dewasa, dan tak mau di anggap aneh orang lain. Aku harus pandai-pandai bersikap dengan makhluk tak kasat mata sepertinya.
Sesampainya di kantor, aku langsung naik ke lantai lima menggunakan lift. Nampak Petter melesat menembus pintu besi dan terperangah kagum.
"Wah banyak hal baru disini ya Rania. Aku senang kau bekerja di tempat ini, tadi aku bertemu dengan Nenek-nenek bungkuk disana. Dia memuji ketampanan ku, katanya aku hantu paling tampan di gedung ini. Melihat Nenek itu, aku jadi teringat Simbah mu. Tapi aku tak pernah bertemu dengan nya di alam antah berantah itu." Pungkasnya berdiri mengambang di depanku, berdesakan dengan para pegawai lainnya.
Triiing.
Pintu lift terbuka di lantai lima, aku bergegas keluar disusul dengan Petter yang melesat mengikuti ku. Aku duduk di meja kerja ku seraya membuka satu bungkus permen cokelat ke toples yang sudah ku siapkan. Aku sengaja menyiapkan itu buat Petter, supaya ia bisa sepuasnya memakan permen cokelat kesukaannya.
"Petter, aku kerja dulu. Kau bisa main di sekitar gedung ini. Tapi jangan jauh-jauh ya. Main saja di lantai tiga, disana banyak hantu kecil seperti mu. Bukankah kau bertemu dengan hantu Nenek bungkuk disana? Bilang saja kau teman ku, pasti mereka akan bersikap baik padamu."
"Baiklah Rania, aku akan membawa banyak permen ubah mereka semua. Tot ziens!" Serunya seraya melambaikan tangan.
Aku menghembuskan nafas panjang, sekarang aku seakan memiliki seorang adik yang harus ku jaga. Padahal dulunya Petter yang menjagaku, ah tapi setidaknya aku merasa hidupku lebih berwarna dari sebelumnya.
Dering suara telepon di atas meja mengejutkan ku, segera ku angkat gagang telepon lalu meletakkan nya di antara bahu dan telinga. Suara seseorang diseberang telepon sana memerintahkan ku untuk datang ke ruangan Pak Bos Besar. Karena ia sudah menunggu ku sedari tadi, wah kenapa Pak Bos datang sepagi ini ya. Apa ada masalah mendesak lagi, karena sejak semalam merah memang sudah mengikuti ku. Setelah menutup panggilan telepon itu, aku segera perginke ruangan Pak Bos. Nampak ia sedang duduk di depan meja dengan menahan kening nya.
"Masuklah, apa yang sudah kau ketahui mengenai sosok peliharaan Kartika?" Tanya Pak Bos tanpa basa-basi.
"Hantu itu tak berada disini selama Bu Kartika pergi Pak. Kuntilanak itu kembali ke rumahnya yang ada di Desa. Bagaimana kondisi Bu Purnama Pak? Apakah ia sudah membaik?"
"Pantas saja, aku merasa tak di awasi selama berada di luar negeri. Jadi hantu itu tak mengikuti Kartika toh. Bu Purnama sudah lebih membaik, tapi saat ini Papa memisahkan tempat tinggal kedua istrinya itu. Karena Papa saya sudah mulai percaya dengan ucapan saya, mengenai Kartika yang bersekutu dengan setan. Ia bahkan terkejut mengetahui fakta tentang Mama saya yang mungkin tewas karena ulah Kartika. Aku meminta mu datang kesini, supaya kau dapat menemui Bu Purnama dan menghiburnya. Meski dia sudah agak normal, dia masih ketakutan jika bertemu orang-orang baru yang ku minta untuk menjaganya. Karena Papa saya tidak bisa selalu bersamanya, ia harus membagi waktu bersama Kartika juga. Apalagi sekarang Kartika menuntut seorang keturunan dari Papa. Entah kenapa ia ingin sekali mendapatkan keturunan dari Papa, mungkinkah dia mengincar harta kekayaan Papa. Karena hanya dengan cara itu saja, ia akan mendapatkan bagian yang lebih banyak.
Aku mengaitkan kedua alis mata, meski sebenarnya aku tau kenapa Bu Kartika menginginkan keturunan. Mungkin salah satunya memang untuk mendapatkan harta dari Papa nya Pak Bos. Tapi selain itu, sepertinya Bu Kartika cemas jika Wati dan Pramono tak memberikan keturunan. Karena itu berarti, ia akan kehilangan romo nya. Dan ia yang akan bertanggung jawab untuk semua aset dan usaha keluarga Sumito. Yang mungkin saja Bu Kartika belum siap mengelolanya, karena ia hanya tau cara menghabiskan harta daripada mengelolanya.