
Tanpa terasa sudah waktunya aku kembali ke Jakarta, menjalani rutinitas seperti biasanya. Kondisi Mbok Genuk masih belum menunjukkan tanda-tanda membaik, karena tak ada kemajuan sama sekali dalam kondisi nya. Ia hanya terbaring tanpa makan dan minum, dan melihat kondisi raga nya beliau tak akan mungkin dapat bertahan lebih lama lagi. Tapi aku juga tak dapat terus menerus berada disini lebih lama lagi. Dengan berat hati, aku berpamitan pada semua orang yang ada di Desa, mereka pun melepaskan kepergian ku dengan berat hati.
"Apapun yang terjadi ke depannya, kita sudah berusaha semaksimal mungkin Nduk. Mungkin yang diinginkan Mbok Genuk memang begitu, aku tak dapat merubah takdir yang sudah ditentukan Yang Maha Kuasa." Ucap Pak Jarwo lirih di hadapan ku.
Deeegh.
Jangan-jangan Pak Jarwo sudah tau, jika hal buruk akan terjadi tak lama setelah ini.
"Ta tapi Pak..."
"Tenanglah Nduk, Mbok Genuk bukanlah manusia biasa. Hanya tubuh manusia nya saja yang tak dapat bertahan lama di alam manusia. Tapi sejatinya jiwa nya masih tetap kekal sampai ia sendiri yang memutuskan untuk kembali ke alam keabadian. Dia pasti akan tetap memantau dan menjaga Pramono dari jauh. Hanya saja beliau tak dapat hidup bersama dengan kita di alam fana ini lagi. Aku sengaja memberitahu mu sebelum kau pergi, supaya kau tak terlalu terkejut ketika mendengar kabar buruk dari Wati. Jadi sekarang kau jalani kehidupan mu seperti sebelumnya, banyak hal yang menunggu mu diluar sana. Kau juga dibutuhkan banyak orang Nduk, jaga dirimu baik-baik. Kalau butuh bantuan ku, jangan sungkan untuk menghubungi ku." Pungkas Pak Jarwo seraya menyunggingkan senyum, dan ku balas dengan anggukan kepala lalu mengecup punggung tangan semua orang tua yang ada disini.
Aku berjalan tertarih masuk ke dalam mobil, disusul dengan Mas Adit dan Mbak Ayu. Nampak Bude Walimah dan Wati berlinang air mata melepas kepergian ku. Ah bagian ini yang paling tak ku sukai, seakan aku akan pergi jauh saja. Segera ku kembangkan senyum pada mereka seraya melambaikan tangan. Aku tak ingin menunjukkan raut kesedihan pada mereka, supaya mereka tak mencemaskan ku. Mobil pun mulai bergerak meninggalkan halaman rumah peninggalan Simbah. Nampak semua tetangga berdiri diluar rumah melambaikan tangannya, ketika mobil yang kami tumpangi melewati depan rumah mereka. Mas Adit sampai tertegun melihat keramahan warga Desa.
"Gak usah heran gitu Dit, si Rania ini emang kayak anak emas buat semua warga. Tiap kali dia datang atau pergi, semua kayak mengiringi dia gitu. Gak cuma manusia aja loh, sampai demit penunggu Desa ini selalu nyambut dia tiap kali datang dan pergi juga, udah kayak apa aja tauk. Seandainya lu bisa lihat, sebentar lagi kita lewati gapura selamat jalan, ntar ada perempuan berkonde yang bakal berdiri ngambang di pinggir jalan sambil nge lambaikan tangan gitu. Untung aja lu gak bisa lihat, kalau gak lu bakal semakin kagum sama Rania." Jelas Mbak Ayu seraya terbahak mencairkan suasana.
Ku lihat ekspresi wajah Mas Adit sedikit kebingungan, ia menoleh ke kanan kiri begitu kami hampir sampi di gapura selamat jalan. Dan sesuai ucapan Mbak Ayu, demit perempuan berkonde memakai kain jarik dan kebaya memang sudah berdiri mengambang di pinggir jalan. Ia menyunggingkan senyum seraya melambaikan tangan ke arah ku, lalu ku balas dengan senyum dan anggukkan kepala. Ternyata Mas Adit memperhatikan gerakan ku, dan ia membulatkan kedua mata tercengang.
"Aku makin gak paham dengan dunia yang kalian bicarakan. Ternyata hal diluar nalar memang benar adanya, pantas saja dibeberapa kasus pembunuhan, korban sendiri yang datang melalui mimpi menunjukkan beberapa bukti bahkan pelakunya juga. Dulu aku tak pernah percaya hal seperti itu, tapi semenjak kalian membantu menangani beberapa kasus. Aku mulai percaya dengan hal-hal mistis macam itu." Ucap Mas Adit seraya menggelengkan kepala.
"Uhuk uhuk." Seketika aku tersedak air minum yang ku teguk karena mendengar ucapannya.
Wajahku sampai memerah karena candaan Mbak Ayu, sementara Mas Adit hanya tersenyum lalu menanyakan pendapat ku mengenai usul Mbak Ayu. Tiba-tiba di depan jalan ada yang menghadang mobil, seseorang yang tak dapat kami lihat dengan jelas.
Bruugh.
Orang itu terjatuh setelah tertabrak bodi depan mobil. Padahal Mas Adit sudah bersusah payah menginjak rem dengan kuat. Tapi karena jarak yang terlalu dekat, tabrakan pun tak dapat terhindarkan. Kami semua turun dari mobil dan melihat keadaan orang yang tersungkur di depan mobil. Nampak seorang perempuan berambut panjang tergeletak dengan bagian kepala yang terluka cukup parah. Tak berpikir lama, kami membawanya ke Rumah Sakit terdekat supaya ia mendapatkan pertolongan. Tak habis pikir entah darimana datangnya perempuan ini. Mustahil dia berasal dari Desa sekitar, karena sepanjang perjalanan yang kami lalui hanya nampak hamparan sawah dan hutan belantara saja.
"Aku sudah menghubungi kantor polisi terdekat dan meminta mereka datang ke rumah sakit. Aku akan menjelaskan kronologi yang terjadi, karena sepenuhnya ini bukan kelalaian dalam mengemudi. Tapi perempuan ini yang berlari ke tengah jalan, dan menghadang mobil kita. Mungkin saja dia sedang terancam, dan memilih menabrakan dirinya." Kata Mas Adit dibalik kemudinya.
"Dit darahnya banyak banget, gue takutnya dia gak ketolong loh. Yang ada lu bisa jadi tersangka nantinya. Gak lucu dong Polisi kayak lu tiba-tiba jadi tersangka!" celetuk Mbak Ayu yang duduk di belakang bersama perempuan yang tertabrak mobil tadi.
"InsyaAllah gak akan Mbak! Kan ada kalian sebagai saksi, dan ada rekaman kamera juga di mobil ini. Semoga saja korban bisa diselamatkan, tapi mungkin aku gak bisa antar kalian sampai Jakarta. Dan nantinya juga kalian bakal dimintai keterangan sama Polisi setempat."
"Udah Mas gak apa-apa kok, kami bakal jadi saksi kalau kau tak melakukan kesalahan selama berkendara." Ketika aku menenangkan nya, tiba-tiba aku merasakan ada energi lain yang seakan mengintai.
Aku memejamkan kedua mata seraya membaca doa, ku lihat melalui batin nampak sosok hitam sedang melesat diluar sana. Nampaknya sosok itu mengikuti mobil yang kami tumpangi. Aku tak dapat berkomunikasi dengan sosok hitam itu, karena ia membuka gerbang komunikasi untuk ku. Sehingga aku tak mendapatkan informasi apapun. Entah kenapa sosok hitam itu mengawasi kami terus. Jangan-jangan perempuan yang kami tabrak ini ada hubungannya dengan sosok hitam itu. Terasa tangan seseorang menyentuh pundak ku, aku pun membuka kedua mata. Nampak Mbak Ayu bertanya dengan gestur tubuh, kenapa tiba-tiba aku melakukan penglihatan melalui batin. Entah apa yang harus ku jelaskan, karena aku sendiri juga belum mendapatkan petunjuk sama sekali. Semoga saja sosok hitam itu hanya kebetulan saja melesat searah dengan mobil yang kami tumpangi.