
Kami bergegas mengikuti sekelebatan bayangan itu. Tapi tiba-tiba kembali terdengar benda yang terjatuh dari dalam dapur rumah utama. Seketika kami berjingkat karena kaget, dan menengok ke arah dapur. Tapi tak ada siapapun disana, lalu kami ingin mengejar bayangan yang tadi ada di hadapan kami. Tapi bayangan yang bersembunyi di balik pintu itu menghilang.
"Sial! Kemana hilangnya bayangan itu. Jangan-jangan itu adalah bayangan Om Dewa, dia sengaja mengecoh kita supaya dia bisa melarikan diri!" Seru Mbak Ayu dengan wajah kesal.
"Gue juga gak tahu Mbak. Tapi untuk apa Om Dewa melarikan diri dari rumah ini. Kita kan berniat melindunginya dari para anggota sekte sesat itu."
"Itulah yang harus kita cari tahu Ran. Kenapa Om Dewa pergi meninggalkan rumah ini. Entah dia pergi atas kehendak nya sendiri. Atau ada orang yang sengaja membawanya pergi dari rumah ini."
Aku menjentikkan jari, dan mendapatkan firasat jika hilangnya Om Dewa bukan suatu hal yang kebetulan.
"Apa iya, Om Dewa takut karena akan dibawa ke kantor polisi? Tapi kan dia tahu, kita membawanya kesana demi keselamatan nya. Atau jangan-jangan memang ada yang mengetahui keberadaan nya di rumah ini." Ucapku dengan mengaitkan kedua alis mata.
Ekor mataku kembali menangkap bayangan seseorang. Aku berjalan mengendap perlahan untuk menangkap pemilik bayangan itu. Dengan cepat aku langsung menarik tangannya, supaya ia tak dapat melarikan diri lagi.
"Aduuh sakit Mbak! Teriaknya berusaha berontak.
Mbak Ayu langsung melihat wajah seseorang yang tangannya ku piting ke belakang. Dan reaksi wajah Mbak Ayu terlihat keheranan.
"Lu ngapain disini Hen? Kita kira ada penyusup di rumah ini!" Mbak Ayu menghembuskan nafas panjang seraya menyeka peluh di keningnya.
"Gue lari kesini karena denger suara benda jatuh Mbak. Karena penasaran gue pengen lihat sendiri. Eh pas baru mau jalan kesitu, tiba-tiba tangan gue di piting dari belakang. Mbak Rania ada masalah apa sih sama gue? Sakit kan tangan gue hufh." Keluh Heni berusaha melepaskan tangannya.
Aku langsung melepaskan tangan Heni, dan melihat raut wajahnya yang terlihat kesakitan. Tapi aku merasa aneh dengan kehadiran nya di tempat ini. Bukannya dia ada di kamar, dan mendengarkan lagu dengan volume kencang. Bagaimana mungkin ia bisa mendengar suara benda jatuh dari dalam dapur rumah utama. Meskipun jaraknya yang tak terlalu jauh, agak mustahil jika ia mendengar suara benda terjatuh dari dalam kamarnya. Apalagi ia menghidupkan musik dengan volume kencang. Tapi aku juga tak bisa mengatakan apapun, karena tak mungkin aku mencurigai nya begitu saja.
"Hmm sorry ya Hen, gue gak tahu kalau itu lu. Soalnya gue kira ada penyusup masuk ke rumah ini. Dan gue lihat bayangan lu di balik tembok. Bukannya tadi lu bilang takut, karena ada suara guyuran air dan aroma sabun mandi. Kok tiba-tiba sekarang lu jadi berani cari tahu, suara benda apa yang jatuh di rumah utama?" Tanya ku berusaha menganalisis keadaan.
Heni gelagapan menjawab pertanyaan ku. Ia mengaku penasaran, dan memberanikan diri untuk mencari tahu.
"Tadi sih awalnya gue takut Mbak. Makanya gue sengaja dengerin lagu dengan volume kencang. Tapi suara gelontangan itu buat gue penasaran, daripada keppo makanya gue datangin. Gue gak tahu kalau kalian juga ada disini, makanya tadi gue agak ngintip dari balik tembok. Emangnya ada apa sih Mbak, kok kalian berdua barengan datang kesini?" Jawabnya tak menatap kedua mataku.
"Gak ada apa-apa kok Hen. Gue sama Rania cuma ngecek aja apa yang jatuh tadi. Takutnya ada penyusup masuk, dan ternyata itu adalah orang jahat. Kan bisa bahaya buat kita. Ya udah sana lu balik kamar lagi!" Pungkas Mbak Ayu tak ada kecurigaan sama sekali dengan gelagat Heni.
"Udah lu gak usah jelasin apa-apa ke gue. Gue tahu kok, lu mau ngomong apa!" Celetuk Mbak Ayu seraya berjalan masuk kembali ke rumah utama.
"Apa yang lu tahu sih Mbak! Kalau lu tahu apa yang sedang gue pikirin, lu gak mungkin sesantai ini tahu gak!" Kataku dengan nada suara yang agak kencang.
"Huuuss. Pelanin suara lu!" Mbak Ayu meletakan jari telunjuknya di depan bibir.
Ia mengatakan, jika ia tahu kecurigaan ku pada Heni. Karena itulah, Mbak Ayu bersikap biasa saja, supaya tak memancing kecurigaan Heni. Jika kami sedang mencurigai nya, karena yang ada Heni akan bersikap hati-hati dalam bertindak.
"Sebenarnya gue udah curiga dari awal, karena gak biasanya dia dengerin lagu dengan volume kencang begitu. Seakan ada yang dia sembunyikan. Tapi apa hubungannya dengan hilangnya Om Dewa ya Ran? Apa mereka bersekongkol atau gimana?"
"Gue juga belum bisa menyimpulkan apa-apa Mbak. Soalnya kan kita gak pernah lihat sendiri, kalau Heni pernah berhubungan dengan Om Dewa ataupun Tante Ajeng. Lantas kemana perginya Om Dewa dong. Kayaknya agak gak masuk akal kalau dia kabur dari rumah ini. Yanga ada dia akan bahayain nyawanya sendiri. Atau dia emang diculik sama anggota sekte sesat itu?"
"Bisa jadi sih Ran. Gue bingung juga sih! Padahal nanti malam, kita harus ikut melakukan penggerebekan di gedung terbengkalai yang ada di jalan kunto aji. Tapi sekarang satu-satunya saksi yang kita punya malah hilang. Gimana dong nih?"
"Ya gak gimana-gimana dong Mbak. Justru ini menjadi kesempatan kita untuk membuktikan ucapan Om Dewa. Kalau dia berkata jujur, pasti kita akan tetap menemukan Tante Ajeng dan para anggota sekte sesat itu disana. Tapi kalau Om Dewa berbohong, atau malah memberikan informasi pada Tante Ajeng. Kalau akan ada penggerebekan disana, berarti selama ini kita udah di tipu mentah-mentah sama Om Dewa. Kita lihat aja, apakah Tante Ajeng dan para anggota nya akan tetap melakukan ritual di gedung yang ada di jalan kunto aji." Pungkas ku dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Cerdas! Lebih baik kita awasi Heni dulu. Karena ada kemungkinan dia adalah salah satu anggota sekte sesat yang dipimpin Tante Ajeng. Kalau dia adalah salah satu dari mereka, malam ini dia pasti akan ikut berkumpul bersama yang lainnya. Jadi kita pura-pura aja ngobrol sama dia, sampai malam nanti. Apakah dia akan tetap berada di rumah, jika kelompoknya akan mengadakan ritual persembahan." Mbak Ayu berkacak pinggang seraya menghembuskan nafas panjang.
Setelah itu kami kembali menemui Heni. Ia masih mendengarkan lagu dengan volume kencang. Bahkan ia tak mendengar suara teriakan kami, sampai akhirnya kami terpaksa mengetuk pintu kamarnya beberapa kali. Dan dia masih belum keluar dari dalam kamarnya. Karena penasaran, Mbak Ayu berusaha mengintip melalui lubang fentilasi yang ada di atas pintu kamarnya.
"Di dalam gelap banget Ran. Gue gak bisa lihat apa-apa tauk!"
Tak lama bayangan Heni nampak, dari pantulan kaca. Aku langsung menarik Mbak Ayu supaya turun dari atas meja. Dan kami kembali mengetuk pintu kamarnya.
Cekleek.
"Ada apa Mbak? Sorry ya gue gak tahu kalau ada kalian diluar." Ucap Heni dengan peluh yang membasahi keningnya.
Aku dan Mbak Ayu saling menatap, kami merasa ganjil dengan ucapan Heni barusan. Kami berdiri di depan pintu kamarnya, berteriak dan mengetuk pintu beberapa kali tapi ia mengaku tak tahu kalau ada kami diluar. Tapi entah kenapa suara nampan jatuh dari dapur rumah utama bisa terdengar olehnya.