
Aku berlari ke kebun belakang rumah, meninggalkan Mama yang kebingungan di teras rumah. Aku memicingkan kedua mata, melihat ke berbagai arah. Aku memfokuskan pikiran lalu berdoa di dalam hati, memohon pada Yang Maha Kuasa supaya diberikan petunjuk.
Di dalam batinku nampak sosok yang sangat familiar. Ia mengenakan gaun merah yang menjuntai ke tanah, nampak kuku-kuku panjang yang menghitam. Ia bersembunyi di dalam pohon untuk menyamarkan wujudnya. Aku berdecih begitu mengetahui sosok yang mengawasi ku adalah sosok si merah. Entah kenapa ia mengikuti ku sampai sejauh ini.
"Keluarlah merah, aku tahu kau ada di sekitar sini. Untuk apa kau mengawasi ku sampai kesini hah?" Teriak ku dengan berkacak pinggang.
Tak berselang lama, aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah ku. Ku balikan badan, ternyata Mbak Ayu dan Lala yang menghampiri ku.
"Loh kalian ngapain kesini?"
"Tadi kita denger Mama lu teriak-teriak manggil nama lu. Makanya kita keluar, tadinya sih Wati mau ikut kesini. Tapi Mama lu ngelarang dia. Jadinya gue kesini sama Lala deh."
"Iya Ran, bener kata Mbak Ayu. Emangnya ada apa sih?"
Mbak Ayu dan Lala sama-sama melihatku dengan penuh tanya. Akhirnya aku mengatakan pada mereka, jika ada sosok demit yang mengikuti ku sampai ke desa.
"Jadi maksud lu si merah? Beneran merah yang lu lihat Ran?"
Aku hanya menganggukkan kepala, setelah itu Mbak Ayu menggunakan kesaktiannya untuk membuat merah keluar dari persembunyian nya. Mbak Ayu melakukan gerakan tarian seraya menyanyikan alunan lagu yang terdengar mirip mantra-mantra. Setelah itu keluar angin yang berhembus kencang. Daun-daun bergoyang, asap tipis mengepul di kebun itu. Tak lama terdengar suara nyaring kuntilanak. Tawanya memekakan telinga. Kini merah sudah berdiri mengambang, setelah keluar dari dalam pohon besar.
"Kenapa kau terus mengikuti kami hah? Katakan padaku apa tujuanmu?" Pekik Mbak Ayu dengan membulatkan kedua matanya.
"Hihihihi aku tak ada urusan dengan kalian semua." Sahut merah sebelum menghilang entah kemana.
Kami semua terkejut mendengar jawabannya. Jika dia sampai datang ke desa ini bukan untuk mengikuti ku lalu untuk apa. Tak mungkin dia hanya kebetulan ada di depan rumah ku.
"Sialan! Tuh demit malah ngilang lagi, belum juga gue panggilin Calon Arang udah pergi aja dia!" Seru Mbak Ayu kesal.
Aku menghembuskan nafas panjang, berusaha memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah itu kuntilanak yang sama, yang selalu mengikuti Bu Kartika. Kenapa dia ada di Desa ku, bahkan tepat di depan rumah ku.
"Ada apa Ran? Kenapa kau keringat dingin begini? Bukankah kau sudah terbiasa melihat makhluk gaib seperti tadi?" Tanya Lala menatapku penuh tanya.
"Hmm itu anu La, aku aku!" Jawabku gagap.
Mbak Ayu langsung menepuk lenganku, melihat ku gelagapan membuatnya sedikit kesal.
"Apa an sih lu jadi gagap gitu. Kayak yang baru peratama kali aja lihat demit! Si merah itu kan emang udah sering ngikutin lu, bahkan dia ngawasin lu juga di kost. Kenapa sekarang jadi keringet dingin gitu?" Celetuk Mbak Ayu seraya berkacak pinggang.
Terlihat Lala menarik nafas dalam-dalam. Ia mengajak kami kembali ke rumah, karena ada yang akan ia sampaikan mengenai sosok yang baru saja kami lihat. Sesampainya di rumah, kami semua duduk di ruang tamu. Nampaknya semua orang sudah tidur, jadi hanya tersisa kami bertiga yang masih terjaga.
"Jadi gini Ran, aku pernah mendengar dari rekan kerja ku yang ada di pabrik. Mereka beberapa ada yang tinggal di dekat rumah Pak Mitro. Dari desas-desus yang beredar, keluarga Pak Mitro tak hanya melakukan pesugihan. Tapi mereka memiliki peliharaan makhluk gaib juga. Ada beberapa yang mengatakan mereka memelihara kuntilanak untuk kesejahteraan usaha yang mereka miliki. Tapi entah kuntilanak seperti apa yang keluarga Pak Mitro pelihara. Aku jadi curiga dengan kuntilanak merah tadi. Jangan-jangan dia peliharaan Pak Mitro yang di utus untuk mengawasi Wati." Pungkas Lala dengan wajah serius.
Aku tercengang untuk sesaat. Mana mungkin si merah adalah peliharaan Pak Mitro. Karena aku melihat sendiri, jika merah pernah mengikuti Bu Kartika. Dan beberapa kali merah mengikuti ku setelah aku bertemu dengan Pak Bos besar. Pasti merah diperintahkan Bu Kartika karena ia curiga padaku. Nampak Mbak Ayu menggaruk kepalanya, sepertinya ia juga kebingungan sama seperti ku.
"Tapi La, aku sudah pernah bertemu dengan kuntilanak merah itu di Jakarta. Dan dia ada yang melihara. Jadi mungkin bukan merah peliharaan Pak Mitro. Bukankah banyak jumlahnya kuntilanak, jadi pasti bukan dia La!"
"Tapi Ran, lu gak denger tadi si merah ngomong apa. Dia bilang kesini bukan untuk mengawasi kita semua. Berarti ada orang lain yang ingin dilihat oleh si merah. Bisa jadi kecurigaan Lala ada benarnya, kalau merah adalah peliharaan Pak Mitro yang di utus untuk mengawasi Wati."
"Nah itu Mbak yang aku pikirkan sejak tadi. Tapi Rania gak percaya, mungkin merah yang tadi kita lihat ada hubungannya dengan perempuan yang disebut Rania tadi. Tapi merah juga suruhan Pak Mitro. Kalau disimpulkan bisa jadi ada hubungannya. Mungkin pemilik merah itu dari keluarga yang sama!" Celetuk Lala dengan menjentikkan jarinya.
Aah mungkin saja kecurigaan Lala itu benar. Karena aku juga tak pernah tahu siapa saja keluarga Pak Mitro. Sedangkan Bu Kartika adalah Ibu tiri Pak Bos, jadi aku juga tak tahu asal usul nya. Bisa jadi Bu Kartika memiliki hubungan dekat dengan keluarga Pak Mitro. Dan tujuan merah ke rumah ini bukan untuk mengawasi ku, melainkan untuk melihat Wati. Sesuai apa yang merah katakan tadi, dia kesini bukan untuk melihat kami semua. Jangan-jangan mereka memang saling mengenal, karena itulah merah datang dengan tujuan yang berbeda.
Plaaak!
Mbak Ayu menepuk lenganku, ia mengaitkan kedua alis mata menatapku penuh tanya.
"Ngapain diem aja sih Ran? Jadi menurut lu gimana? Bisa jadi Ibu tiri Pak Bos lu itu emang memiliki hubungan dengan Pak Mitro. Itu artinya nyawa Wati masih tetap dalam bahaya, meskipun dia terbebas dari ancaman tumbal pesugihan!"
Tiba-tiba Bude Walimah keluar dari kamarnya. Ia meminta kami untuk beristirahat karena sudah larut malam.
"Besok kalian semua harus bangun pagi, lebih baik cepat tidur saja!"
"Hmm iya Bude, sebentar lagi kami tidur kok. Ada yang harus dibicarakan sekarang!"
"Emangnya ada apa lagi to Nduk?"
Kami semua terdiam tak tahu harus menjawab apa. Bude Walimah menghampiri kami, lalu duduk di bangku. Aku melihat Mbak Ayu dan juga Lala, keduanya hanya menundukkan kepala tak mengatakan apa-apa. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu pada Bude Walimah.
"Jadi gini Bude, kami sedang mencurigai sesuatu. Apakah Bude pernah melihat atau mendengar jika Pak Mitro memiliki peliharaan makhluk gaib?"
"Memang nya kau lihat apa Nduk? Sebenarnya desas-desus semacam itu sudah lama terdengar di kalangan masyarakat. Apalagi masyarakat yang tinggal di lingkungan desa seperti ini. Tapi hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya, contohnya seperti kalian ini. Jadi Bude juga tak bisa mengatakan apa-apa karena belum melihatnya sendiri."
Entah apa yang harus aku lakukan untuk membuktikan jika merah adalah peliharaan Bu Kartika. Dan ia memiliki keterikatan dengan keluarga Pak Mitro. Lebih baik besok aku membuktikannya sendiri dengan mata kepala ku.