
"Lu kenapa sih Ran, kayak ada beban pikiran gitu?" Tanya Mbak Ayu menatap ku serius.
"Gak ada apa-apa kok Mbak, gue cuma mikirin kerjaan aja." Jawabku dengan menghembuskan nafas panjang.
"Ngibul tuh Mbak! Rania lagi kepikiran Silvia sama Beny. Dia curiga kalau kedua rekan kerja kami itu dalam bahaya. Tadi dia mimpi, didatangi dua arwah korban pembunuhan, katanya kedua temannya dalam bahaya karena diincar makhluk sesembahan suaminya yang jadi tersangka pembunuhan itu!" Celetuk Mbak Rika memberitahu segalanya.
"Astaga... Masalah apalagi tuh Ran? Kenapa lu gak cerita ke gue. Jangan apa-apa dipendam sendiri, ntar kalau ada apa-apa sama lu yang repot kan kita juga. Nanti gue bantuin lu ya, palingan besok gue udah fit lagi kok." Mbak Ayu meregangkan otot-otot di tubuhnya.
Dasar Mbak Rika comel, dia malah mengatakan segalanya pada Mbak Ayu. Padahal aku sengaja diam karena tak ingin merepotkan nya lagi. Tentu saja dia lebih membutuhkan waktu untuk istirahat, jadi aku akan diam-diam menyelidiki kasus ini sendiri.
"Lu harus banyak istirahat Mbak, biar bisa balik kerja secepatnya. Kasihan tuh anak didik lu gak ada pembimbingnya."
"Santai aja Ran, gue tuh masih punya sisa cuti tahunan yang gak pernah gue ambil sebelumya. Dan masalah murid, mereka selalu kontak gue di grup wassap kok."
"Wah enak ya jadi guru, sabtu minggu libur dan dapat cuti tahunan. Gak kayak kita ya Ran, kerja gak lihat kalender warna merah sekalipun." Keluh Mbak Rika menghembuskan nafas panjang.
"Setidaknya kita kerjanya dibawa happy Mbak, gak ada beban buat ngadepin abege labil." Sahutku dan keduanya pun tertawa, karena mereka teringat para bocah abege yang tingkahnya udah mulai melebihi usia mereka.
Terdengar suara adzan dari Mesjid, aku pun berpamitan pada Mbak Ayu untuk kembali ke kamar. Aku harus segera mandi dan shalat, Mbak Rika pun mengikuti ku. Nampaknya dia males kembali ke kost nya, dan memilih menginap di kamar ku. Di sela-sela ibadah ku, aku mendapat penglihatan dari Eyang buyut. Ia memberitahu ku, jika bayangan putih yang sempat aku lihat adalah malaikat maut. Yang datang untuk menjemput nyawa Beny, tapi Beny meminta waktu lebih lama lagi untuk menyelamatkan nyawa Silvia. Tapi pada akhirnya, ia tak bisa berbuat apa-apa. Karena jiwa nya telah ditukar dengan keselamatan nyawa Silvia. Malaikat maut yang ingin membawa jiwa Beny pun tak dapat melakukan tugasnya, karena jiwa yang bersekutu dengan makhluk gaib tak akan bisa diterima di alam keabadian. Karena itulah sampai saat ini Beny masih hidup, meski tak lama lagi makhluk gaib dari dunia kegelapan akan mengambil jiwanya. Tapi pada akhirnya, makhluk itu tetap mengincar Silvia, karena ia menyukai Silvia sejak pertama kali ia melihatnya di rumah korban pembunuhan itu.
"Kau tak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan nyawa pemuda itu Nduk. Secara tak langsung ia sudah melakukan perjanjian gaib dengan makhluk itu. Hanya nyawa perempuan itu saja yang kemungkinan bisa kau selamatkan. Meski makhluk itu sangat ingin meminang gadis itu, tapi kau harus berhati-hati jangan sampai nyawa orang yang tak bersalah malah menjadi korban." Jelas Eyang buyut di dalam penglihatan batin ku.
"Lalu apa yang harus Rania lakukan Eyang?"
"Terkadang bantuan dari orang terdekat justru semakin membawa aura gelap. Kau harus pandai-pandai bersikap, selain banyak ibadah kau juga harus banyak bersedekah pada orang yang membutuhkan. InsyaAllah itu akan menjadi jalan supaya kau menemukan hidayah. Entah siapa yang akan tiada, berarti itu sudah takdirnya. Dan jangan salahkan dirimu sendiri, hanya itu Nduk pesan ku. Eyang pergi dulu, jaga dirimu baik-baik." Ucap Eyang buyut sebelum mengakhiri komunikasi nya dengan ku.
Aku membuka kedua mata dan melihat ke sekeliling. Ku seka peluh yang membasahi kening, dan memikirkan ucapan Eyang buyut tadi. Entah apa maksudnya, seakan semua masih menjadi teka-teki untukku.
"Lu udah shalat nya kan, gantian dong lama banget sih ditungguin juga!" Seru Mbak Rika mengaitkan kedua alis mata.
Aku duduk di ruang depan dengan menatap langit-langit. Tak berselang lama Petter datang dengan wajah ketakutan. Aku langsung menanyainya, kenapa ia sangat ketakutan begitu. Ia hanya menangis tanpa mengatakan apa-apa, sampai akhirnya dering suara ponsel mengejutkan ku. Aku bangkit berdiri berjalan menuju kamar, tapi Mbak Rika sudah terlebih dulu menerima panggilan telepon itu. Nampak raut wajahnya berubah pucat, matanya terbelalak dengan bulir-bulir bening yang menetes dari kedua matanya.
"Mbak lu kenapa?" Tanya ku seraya berjalan setengah berlari ke arahnya.
Ia hanya diam dengan tangan yang bergetar, dan perlahan ia melepaskan ponselku dari genggamannya. Ku raih ponsel yang terjatuh di jatuh, nampak panggilan telepon dari Silvia. Hanya terdengar suara tangisan dari seberang telepon sana. Sontak saja aku panik, dan bertanya pada Silvia kenapa di dekatnya banyak sekali suara tangisan. Hening. Tak ada jawaban dari Silvia. Sampai akhirnya Mbak Rika menggapai tanganku dan mematikan panggilan telepon itu.
"Be Beny Ran... Dia udah gak ada huhuhu..." Ucap Mbak Rika terisak dengan menundukkan kepalanya.
Duuuaarr.
Detak jantung ku seakan meledak begitu mendengar perkataan Mbak Rika. Gak! Itu gak mungkin terjadi, pasti Mbak Rika salah denger. Aku memutuskan untuk langsung menghubungi ponsel Beny. Dan begitu panggilan ku dijawab. Terdengar suara parau dari seberang telepon sana. Suara perempuan yang sedang menangis terisak, ia mengaku sebagai Ibunya Beny. Dan ia mengatakan kabar duka atas kepergian putra nya. Si Ibu terus menangis sampai tak terdengar lagi suaranya. Suara keramaian dari seberang telepon sana berteriak, jika Ibunya Beny jatuh pingsan.
"Inalillahi wainnailaihi raji'un." Ucapku dengan tertunduk lesu.
Aku hanya bisa menangis karena tak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan nyawa Beny. Seandainya tadi aku langsung pergi ke Bogor, mungkin aku bisa menghentikan makhluk gaib yang berusaha mengambil nyawa Beny. Hanya air mata yang dapat mengatakan betapa menyesal nya diriku. Padahal aku sudah diberi petunjuk oleh arwah korban itu, tapi aku tak melakukan apapun.
Whuuusd.
Petter melesat mendekati ku, ia mengusap rambutku dan memintaku untuk tak menyalahkan diri sendiri. Ia menjelaskan kenapa tadi ia terlihat sangat ketakutan. Karena ia melihat makhluk gaib yang mengambil nyawa Beny, dan mengikat jiwa Beny dengan rantai api yang menyakitinya.
"Aku takut Rania, aku tak bisa berbuat apa-apa. Makhluk itu terlalu kuat untuk ku hadapi, malahan tadi makhluk jahat itu juga ingin membawaku. Karena itulah aku ketakutan, beruntung nya aku bisa melarikan diri dari makhluk itu. Aku tak mau pergi kesana lagi Raniaaa.. Aku takut sekali..." Jelas Petter dengan mengerucutkan bibirnya.
Ah Baiklah, jadi sekarang sudah jelas jika jiwa Beny di ambil oleh sosok dari dunia kegelapan itu. Beny terlalu naif untuk menyerahkan nyawanya supaya nyawa Silvia selamat. Karena pada akhirnya ia hanya melakukan perbuatan yang sia-sia dengan melakukan perjanjian seperti itu. Makhluk gaib itu tak bisa dipercaya, karena ia tetap mengincar nyawa Silvia. Aku sangat tau, makhluk gaib yang mencintai manusia akan melakukan segala cara. Seperti kisah Elang dan Lala dulu, bahkan Elang sampai menyamar menjadi manusia untuk melakukan hubungan terlarang dengan Lala. Sampai akhirnya benihnya tumbuh di rahim Lala. Aku jadi takut, jika kisah Lala akan di alami oleh Silvia. Lantas apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan nya. Batin ku di dalam hati resah.