
Aku menggerakan tubuhku, tapi lenganku terasa sakit. Ketika aku merabanya, terasa sangat perih. Aku membuka lengan baju, dan betapa terkejut nya. Ada goresan kuku yang sangat dalam. Tak dapat ku mengerti, kenapa luka ini berbekas di tubuhku.
"Kenapa lengan lu Ran?" tanya Mbak Rika panik.
"Tenang saja. Rania hanya mendapatkan bekas luka dari tempatnya pergi sebelum ini. Luka itu gak mudah dihilangkan, sebelum tujuan para makhluk yang tinggal disana tercapai." jelas Tante Ajeng menyeringai.
Aku hanya bisa menelan saliva, merasa curiga dengan ucapan dan gelagat Tante Ajeng. Mbak Rika datang membawa kotak P3K, ia mengobati luka di lenganku. Sementara Tante Ajeng melangkahkan kakinya pergi.
"Mbak sebenarnya apa yang terjadi? perasaan kemarin gue masih di kantor."
"Kemarin apanya Ran? udah satu minggu lu gak sadarkan diri. Kita semua takut lu kenapa-napa. Tapi Mbah Karto berpesan pada kami, jika kau hanya membutuhkan istirahat di rumah. Dan gak perlu dibawa ke Rumah Sakit. Eh malahan Bude Walimah ikutan sakit, udah dua tiga hari beliau gak bangun-bangun. Bude terus menerus menggigil, tapi Wati gak mau bawa Ibunya ke Rumah Sakit. Karena dia udah panggil Dokter, dan Dokter cuma bilang Bude kelelahan dan hanya membutuhkan istirahat."
"Hah. Satu minggu Mbak? jadi gue gak masuk kerja satu minggu? siapa yang ngerjain tugas gue kalau gitu."
"Tenang aja Ran. Lu gak usah hawatir masalah pekerjaan. Yang penting sekarang lu istirahat dulu biar cepet sembuh. Tadi gue udah lihat Bude Walimah juga udah bisa ngomong, gak separah kemaren. Bentar lagi Wati datang bawain lu makanan. Udah seminggu lu gak makan atau minum, emang gak ngerasa keroncongan gitu perut lu?"
"Gak keroncongan tapi dangdutan Mbak!" sahut Agus menyela.
"Loh lu udah balik Gus? gimana proses investigasi nya?"
Mereka berdua berjalan menjauh dariku, tak dapat ku dengarkan obrolan keduanya. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan.
"Ada rahasia apa sih? kenapa kalian gak ngomong di depanku?" aku mengaitkan kedua alis mata, menatap curiga pada keduanya.
"Gak ada apa-apa kok Ran. Itu loh kasus mayat yang di gorong-gorong, udah fixs itu mayat tetangga Agus." ucap Mbak Rika seraya berjalan ke arahku.
"Iya Ran, gue cuma ngomongin itu. Karena lu baru sadar, gue gak mau bikin lu kepikiran. Dan mengenai kasus Bu Wayan, DNA nya Mbak Ayu cocok dengan mayat dan tengkorak kepala itu. Besok Mbak Ayu akan mengkremasi jazad Ibunya. Jadi pembongkaran makam akan dilakukan, kasus mayat di gedung tua udah clear sekarang. Gue udah beresin semua kerjaan lu. Dan lu gak usah hawatir lagi mengenai kasus Bu Wayan."
"Tapi Gus." aku menghembuskan nafas panjang. Merasa belum sepenuhnya kasus Bu Wayan selesai.
"Kenapa Ran?"
"Gak apa-apa deh Gus. Oh iya Mbak Rika bisa tolong panggilin Mbak Ayu gak? ada yang mau gue omongin ke dia."
Agus menatapku dengan tajam. Ia berkata padaku, jika gue masih terancam bahaya. Karena gue udah terlanjur masuk terlalu dalam ke urusan kelompok nya.
"Meski bisa dibilang gue salah satu dari mereka. Gue gak bisa ngelakuin apapun buat ngebantu lu. Satu pesan gue ke lu, hati-hati aja sama seseorang di sekitar lu. Maaf gue gak bisa bantu apa-apa, gue sendiri gak berdaya buat keluar dari lingkaran setan itu." ucap Agus dengan menundukan kepalanya.
Aku baru saja teringat dengan kotak wasiat Bu Wayan. Karena aku belum sempat memberikannya pada Mbak Ayu. Ku raih tas ranselku yang terletak di atas lemari. Ketika ku buka tas ranselku, aku tak dapat menemukan kotak tua peninggalan Bu Wayan. Sontak saja aku terkejut dengan membulatkan kedua mata tak percaya. Dimana kotak itu? siapa yang mengambilnya dari sini.
"Mbak, kemarin gue nyimpen kotak tua peninggalan Ibu lu di tas ini. Tapi sekarang udak gak ada lagi. Gue gak tahu siapa yang ngambil. Karena di dalam kotak itu, ada sesuatu yang penting buat lu. Dan itu harus lu yang pakai." kataku dengan wajah panik.
Aku berusaha bangkit berdiri, tapi tubuhku terlalu lemah dan aku tumbang ke lantai. Mbak Ayu dan Mbak Rika membantu ku berdiri. Mereka terlihat kebingungan melihatku begitu cemas.
"Ya udahlah Ran, dicari nanti aja kalau lu udah beneran sehat. Lebih baik sekarang lu istirahat lagi ya." Mbak Ayu memapahku kembali ke ranjang. Tapi aku bersikeras mencari kotak tua itu.
"Gak bisa Mbak! gue udah janji sama almarhum Ibu lu. Gue bakal ngasih liontin itu ke lu, kalau lu ga pakai itu, nyawa lu dalam bahaya Mbak."
Mbak Rika memandang ku dengan penuh tanya. Ia bertanya pada Mbak Ayu, apa yang sebenarnya gue bicarain. Tapi Mbak Ayu hanya menggelengkan kepalanya.
"Huhuhu maafin gue Mbak, gue gak bisa jaga wasiat dari Ibu lu dengan baik. Seandainya gue gak pergi ke alam itu, pasti gue bisa sampaiin amanah terakhir nya." aku terisak dengan perasaan bersalah. Tak tahu dimana keberadaan kotak itu, sejak aku tak sadarkan diri.
Mereka menenangkan ku, meminta ku untuk istirahat terlebih dulu. Tak berselang lama Wati datang bersama Bude Walimah. Seakan tahu keresahanku, Bude Walimah mendatangiku lalu memeluk ku.
"Tenanglah Nduk, Bude sudah tahu semuanya. Kotak itu berada di tempat yang aman, sudah ya jangan panik lagi." bisik Bude Walimah dengan mengusap rambutku.
Segera ku seka air mata yang membasahi pipi. Ku pandang semua yang ada di kamarku. Masih ada banyak orang disana, mungkin saja Bude tak ingin mengatakan nya sekarang.
"Sudah ya Nduk, tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Sekarang makanlah dulu, lalu istirahat. Setelah itu kita akan membicarakan semuanya."
Kemudian Mbak Rika dan Agus berpamitan pulang, lalu Mbak Ayu mengantarkan keduanya ke depan. Wati memeluk dengan erat, ia mengatakan jika Mbah Karto sedang tidak baik-baik saja.
"Setelah mengatakan pada Mbah Darmi, jika ia akan menolong mu. Mbah Karto belum keluar dari ruangan khususnya. Karena hawatir Mbah Darmi masuk ke ruangan itu, dan melihat Mbah Karto sudah tergeletak dengan memuntahkan darah. Saat ini Pak Jarwo sedang dalam perjalanan ke Desa Rawa Belatung, untuk menyembuhkan Mbah Karto. Semoga semua baik-baik saja." ucap Wati dengan wajah sendu.
"Wati sudah menceritakan segalanya Nduk, terima kasih kau telah kembali dengan kondisi selamat. Meski sekarang Mbah Karto terluka karena menolong kita."
Aku kembali mengingat kejadian di alam Manghrahi yang Tante Ajeng sebutkan. Disana Mbah Karto mengatakan, jika sampai sesembahan mereka datang, kami bisa dalam masalah besar. Tapi saat itu hanya Mbah Karto saja yang tertinggal di alam itu. Mungkinkah Mbah Karto bertemu dan melawan makhluk yang disebut Bu Wayan sebagai Calon Arang? jika itu benar-benar terjadi, bisa jadi saat ini jiwa Mbah Karto dalam bahaya besar.
...Bantu doa buat keselamatan sesepuh Desa Rawa Belatung yuk. Semoga Mbah Karto selamat dari bahaya besar itu....
...Bersambung....