Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 28 MISTERI PENEMUAN MAYAT


Ku katakan pada Mas ojol untuk memintanya lebih banyak beribadah. Karena ada sesuatu yang memang sengaja ditujukan padanya.


"Jadi beneran Kakak anak Indigo ya?" kata Mas ojol dengan membulatkan kedua matanya.


"Udahlah Mas gak usah bahas itu lagi, yuk antar saya pulang. Saya udah di tunggu banyak orang nih."


Disepanjang perjalanan Mas ojol bercerita, jika beberapa hari yang lalu. Ada teman seprofesi nya yang mengancamnya, teman sesama ojolnya nampak iri dengan penghasilan yang didapatnya. Dan temannya mengatakan akan memberikannya pelajaran, sejak saat itu pendapatan nya dari hasil ojek online berkurang. Dan ada beberapa customer yang merasa jijik menghirup aroma tubuhnya.


"Perasaan saya udah mandi Kak, tapi penumpang nya bilang, bau saya busuk seperti sampah. Ada customer yang terang-terangan ngomong begitu Kak, ya kasusnya mirip Kakak tadi muntah gitu."


"Saya gak bisa jelasin pastinya ya Mas, yang saya lihat saat ini Masnya memang di ikutin sosok pocong. Demit itu memang sengaja mengikutimu kemanapun, aromanya sangat busuk karena wajahnya rusak dan busuk. Mungkin demit itu memang sengaja di utus untuk membuat rejeki Mas nya seret. Kalau bisa sih Mas nya lebih banyak beribadah, supaya demit itu pergi dengan sendirinya. Karena jika aura Masnya positif, pocong itu gak akan nyaman berada di dekat Mas nya. Hanya itu yang bisa saya sampaikan, semoga pengaruh buruk itu akan segera pergi, saya hanya bisa bantu doa ya Mas." kataku sebelum turun dari motornya.


"Tapi Kak, apa yang harus saya lakukan jika memang teman saya yang mengirim demit itu?"


"Ikhlaskan aja Mas, sabar dan percaya aja sama Allah. Semua perbuatan pasti ada timbal baliknua, dan satu lagi pesan saya Mas, jangan balas dendam, biarkan semua kembali ke orang nya."


Setelah membayar ongkos ojol itu, aku segera membuka pagar dan masuk ke dalam. Nampak rumah utama lebih ramai dari biasanya, rumah kuno yang biasanya sunyi sekarang nampak riuh penuh dengan tanda kehidupan.


"Assalamualaikum."


Tak ada satupun yang menjawab salamku, aku menggaruk kepala yang tak gatal. Padahal banyak suara orang berbincang, tapi tak ada satupun dari mereka yang menjawab salamku.


Tap tap tap.


Terdengar suara melangkah, ku kaitkan kedua alis mata, memandang dengan penuh curiga.


"Waalaikumsalam Nduk." suara seseorang yang sangat familiar di telinga ku.


Dari dalam rumah kuno itu, nampak seorang perempuan dengan baju gamis cokelat senada dengan hijabnua, tengah menyunggingkan senyumnya padaku. Segera ku? hampiri perempuan itu dan mengecup punggung tangannya.


"Bude Walimah kapan datang kesini?" ku peluk erat budeku dengan mata berkaca-kaca. Meski baru satu bulan tak berjumpa, rasanya sudah lama sekali aku tak melihatnya.


"Bude dan Wati baru datang siang tadi, sengaja Bude ikut Wati ke Kota untuk melihat keadaan mu. Kau baik-baik saja to Nduk?" tanya Bude dengan mengusap kepalaku.


Aku tak tahu harus menjawab apa, aku tak ingin membuat Bude Walimah cemas. Dan dari belakangnya, nampak Wati dan Mbak Ayu berjalan ke arah kami sedang saling melepas rindu.


"Gimana kejutannya, suka gak?" kata Mbak Ayu dengan memainkan alis matanya.


Aku menghampiri Wati dan Mbak Ayu, lalu merangkulnya bersamaan. Dengan kehadiran keluarga terdekatku, membuat perasaan yang campur aduk karena masalah gaib itu, membuatku sedikit tenang.


"Mbak Ayu gak bilang dari awal sih kalau mereka datang, kan aku bisa ijin pulang lebih awal."


Kini semua orang berkumpul di ruang tamu, Om Dewa bersama Tante Ajeng sedang berbincang dengan Bude Walimah. Sedangkan Mbak Ayu dan Agus sedang merapikan meja makan. Wati ingin ke dapur membantu Ce Edoh menyiapkan makan malam, tapi aku menghentikan niatnya, ku tarik lengannya ke teras depan.


"Tadi pas aku datang ngucapin salam kenapa gak ada yang jawab sih. Emang kalian gak ada yang denger apa gimana?" tanyaku penasaran.


"Yang awalnya denger sih Mbak Ayu, terus dia ngasih tau Ibu kalau kamu baru pulang. Makanya Ibu jalan ke depan nyamperin kamu."


"Loh kok Mbak Ayu gak jawab salamku sih, bukannya hukumnya wajib ya jawab salam seseorang."


"Entahlah, mungkin di agamanya gak mengharuskan buat menjawab salam seseorang." celetuk Wati dengan menggaruk kepalanya.


Aku mengaitkan kedua alis mata ketika mendengar perkataan Wati. Mungkinkah Mbak Ayu bukan orang muslim, soalnya beberapa kali aku ajakin shalat bareng, dia selalu bilang gak shalat. Aku sedang sibuk menerka-nerka, mungkinkah yang lainnya juga bukan orang muslim. Sepertinya gak etis, kalau aku harus menanyai mereka satu persatu tentang keyakinan mereka.


"Eh Ran, ngapain ngelamun sih?" tanya Wati dengan menepuk-nepuk lenganku.


"Sebenarnya ada banyak hal yang belum aku ceritakan ke kamu Wat, ada banyak misteri dengan keluarga ini. Bahkan aku mendapatkan gangguan gaib dari sosok menyeramkan, semua itu terjadi di hari pertama kerja lapangan. Aku benar-benar pusing jika memikirkan nya kembali."


Wati merangkulku, dan mengatakan jika ia akan berada di dekatku mulai sekarang. Wati merasa tak bisa menjagaku lagi, tapi aku tak pernah menyalahkan nya. Lagipula Bude Walimah lebih membutuhkannya daripada aku.


"Aku akan bekerja di Kota saja setelah mengantar Ibu kembali ke Desa." jelas Wati dengan mantap.


"Tapi Wat, apa kamu gak kasihan sama Bude? beliau seorang diri disana, kalau ada apa-apa gimana?"


"Tenang aja Ran, kamu ingat teman kita Aldo? dia sekarang bantu-bantu Ibu di rumah. Karena gak mungkin Ibu mengurus semua sendiri, dari belanja ke Kota terus ngurus hasil pertanian. Pasti Ibu akan capek pulang pergi dari Desa ke Kota, jadi sekarang Aldo dipercaya jadi tangan kanan Ibu. Jika ada apa-apa sama Ibu, Aldo pasti ngasih tahu kita."


Aku menganggukan kepala, memahami semua tanggung jawab Bude yang terlalu besar. Wajar saja, jika sekarang Aldo membantu nya. Ya, aku ingat tentang Aldo. Dulu kami sempat dekat, mungkin itu semacam cinta monyet saja. Sangat lucu jika mengingat masa-masa ABG dulu.


"Ran, gue bisa ngomong bentar gak?" ucap Agus dari depan pintu.


Aku meminta Wati masuk ke dalam, lalu Agus duduk di bangku teras dengan wajah tegang. Ia menatapku dengan raut wajah kebingungan.


"Ran, kali ini gue serius. Ada hal yang penting mau gue omongin. Bisa gak lu kasih tau gue, apa aja isi di dalam kotak yang lu temuin di gedung tua itu. Kalau lu ngasih tahu gue, seengaknya gue bisa bantu lu Ran." ucap Agus dengan gerak-gerik orang yang gelisah.


"Emangnya sepenting itu ya Gus? apa lu harus tahu semuanya? karena jujur aja, gue udah ngelakuin penelusuran. Tapi sampai detik ini belum ada hasil apapun, lagipula gue gak paham dengan maksud dan tujuan lu buat bantuin gue. Apa keuntungan lu kalau gue ngasih tahu apa aja isi di dalam kotak itu?" ku tatap wajah Agus tanpa berkedip, dan ia hanya menghembuskan nafas panjang.


Dilema melanda hati dan pikiranku, entah apa yang harus aku lakukan sekarang. Mengatakan segalanya pada Agus atau tidak, aku sedang mempertimbangkan nya. Mungkin aku harus berkonsultasi dengan Malik, sosok penjagaku yang kemungkinan tahu apa yang harus ku lakukan sekarang. Mempercayai Agus atau tidak?.


...Bersambung. ...