
Aku kembali ke rumah kuno, disana hanya ada Mbak Ayu seorang. Padahal biasanya ibu Agus masih ada di depan teras, duduk santai dengan memegang tasbih ditangannya. Tapi rumah utama nampak sunyi, sepertinya mereka tak ada di rumah. Ku lihat Mbak Ayu sedang menghidupkan lampu di semua ruangan. Sore ini terasa sangat sepi, yang tersisa disini hanya Mbak Ayu dan aku seorang saja. Apalagi kamar kost Umi dan Janni sekarang kosong, menambah kesan seram saja.
"Loh Mbak, kenapa lu baru nyalain semua lampu? Emangnya di rumah utama gak ada orang ya?"
"Iya Ran, tadi Tante Ajeng kirim pesan. Katanya ibu Agus minta di antar pulang ke kampung. Dia gak betah tinggal disini, katanya malah terus keingat anaknya. Padahal sih gue udah maafin si Agus, tapi sepertinya ibunya kaya yang merasa bersalah gitu ke gue. Makanya dia gak mau tinggal disini lagi. Rasanya tempat inj jadi makin sepi aja ya Ran, apa gue perlu sewain kamar bekas Umi dan Janni?"
"Coba aja Mbak, lagian kasus udah selesai juga kan. Kita tinggal minta Ce Edoh bersihin kamar, supaya bisa secepatnya disewakan. Gak enak juga rasanya tinggal dengan suasana sepi begini. Biasanya ada beberapa orang yang tinggi, sekarang hanya kita berdua saja."
Mbak Ayu langsung menunjukan sesuatu yang ada didalam saku celananya. Sebuah batu cincin merah delima, yang ia temukan di dalam rumah kuno itu.
"Tadi pas pertama gue temuin, cincin ini mengeluarkan cahaya gitu Ran. Makanya gue penasaran, pas gue samperin ternyata cincin ini yang menyala terang. Dulu kalau gak salah inget, gue pernah lihat cincin ini dipakai Om Dewa. Tapi kan dia udah lama gak balik, kok bisa ya cincin inj ada di rumah ini?"
"Tunggu deh Mbak. Mungkin gak sih, kalau Om Dewa tadi ada disini? Kok bisa cincin ini ada di dalam rumah, sementara tadi rumah dalam keadaan kosong. Ngomong-ngomong tadi lu pulang jam berapa Mbak?"
Mbak Ayu menjelaskan, jika ia baru kembali ke rumah sekitat dua puluh menitan yang lalu. Dan ia tak melihat siapapun masuk ke dalam rumah utama. Aku mengerutkan kening, berusaha memikirkan kemungkinan yang terjadi.
"Udahlah gak usah dipikirkan lagi, ini lu yang simpen aja cincinnya. Takutnya kalau gue yang bawa malah ada aneh-aneh lagi. Secara kan gue juga bawa mustika di kalung peninggalan mendiang ibu. Gue mikirnya terjadi bentrokan energi aja sih, jadi tolong lu simpen dulu sampai Tante Ajeng pulang. Ntar kita tanya langsung aja, bener gak tuh cincin punya nya Om Dewa!"
Setelah itu kami kembali ke kamar masing-masing. Aku segera mandi lalu shalat magrib, kemudian ku bacakan lantunan ayat-ayat suci. Untuk mendoakan semua yang telah berpulang ke rahmatullah. Tiba-tiba saja ada gambaran yang melintas di kepalaku. Gambaran masa lalu seseorang yang pernah ku lihat. Seorang putri cantik bersama pangeran berkuda putih, keduanya sedang berjanji sehidup semati. Dan akan membawa cintanya sampai kapanpun, entah kenapa aku merasa tak asing dengan kejadian itu. Sang Putri mengorbankan hidupnya karena cintanya tak direstui oleh orang tuanya. Hingga sang Pangeran ikut jatuh sakit dan tak lama meninggal dunia. Dan di kehidupan selanjutnya, Putri itu terlahir kembali di sebuah keluarga, dengan pasangan muda yang baru saja menikah.
"Loh itu kan Papa dan Mamaku? Ja jadi Putri yang tadi itu adalah aku?" Batinku bertanya-tanya.
"Terima kasih ya Mas, sudah saya bayar pakai aplikasi ya." kataku seraya berjalan kembali ke kamar.
Sesampainya di depan pintu kamar, ada sosok kuntilanak yang duduk di atas pohon. Ia cekikikan seraya melesat ke arahku, ku picingkan kedua mata menatapnya dengan serius. Aku menghembuskan nafas panjang setelah mengetahui sosok itu adalah kuntilanak Endang. Sudah lama ia tak mendatangi ku seperti ini, ternyata ia menagih janjiku untuk membantunya. Hanya melalui kontak mata saja, aku dapat melihat kesedihan yang begitu besar pada dirinya.
"Maaf ya, aku selalu menunda untuk membantumu. Aku akan menepati janjiku untuk membantu mu kembali ke alam keabadian. Setelah ini kau bisa menceritakan atau memberikan penglihatan padaku. Apa yang sampai membuatmu tetap berada di alam manusia ini?"
Nampak aura kesedihan yang luar biasa dipancarkan oleh sosok Endang. Sekilas ingatan masa lalu Endang tergambar di kepala ku. Perasaan sakit hati dan penghianatan yang ia alami semasa hidupnya. Tapi entah kenapa, aku masih bisa merasakan perasaan cinta Endang, pada seseorang yang telah menghianati nya pada waktu itu. Lebih sakit dari rasa sakit hatinya, Endang juga memberikan gambaran padaku, bahkan rasa sakit yang ia rasakan saat menggugurkan kandungnya, juga dapat aku rasakan. Rasa sakit yang luar biasa di bagian perut bawahku, sampai menumbangkan tubuhku. Aku jatuh tersungkur di lantai, Rasa sakit di perutku ini bercampur dengan perasaan emosional yang besar.
"Loh Rania! Lu kenapa Ran? Apa yang demit ini lakukan ke lu?" jerit Mbak Ayu berlari menghampiri ku dengan wajah panik.
Rupanya Mbak Ayu salah paham dengan kehadiran sosok kuntilanak Endang. Ia menyangka jika Endang telah mencelakai ku, lalu mengusir sosok Endang dengan ilmu Leak yang ia punya. Dan setelah kepergian Endang, perlahan rasa sakit di perutku mulai menghilang. Mbak Ayu memapahku masuk ke dalam kamar.
"Kenapa demit itu ganggu lu Ran? Lain kali kalau ada demit yang nyakitin lu kayak tadi, panggil gue aja. Kan katanya sosok penjaga lu si Malik masih ada di alam nya. Jadi gue yang akan bantu jagain lu dari sosok-sosok demit itu." kata Mbak Ayu seraya memberikan segelas air putih padaku.
"Makasih Mbak. Tapi gue gak apa-apa kok, demit yang lu lihat tadi namanya Endang. Dia yang pertama kali ngasih tahu gue tentang keberadaan mendiang Bu Wayan di gedung tua itu. Dulu gue pernah bilang bakal bantu nyelesain masalah yang menghambatnya kembali ke alamnya. Makanya tadi dia datangin gue lagi. Tadi tuh dia lagi ngasih gambaran penglihatan masa lalunya ke gue, karena itulah gue ngerasain sakit yang luar biasa di perut. Karena dulunya, Endang meninggal dunia karena berusaha menggugurkan kandungannya." Jelasku pada Mbak Ayu, yang duduk diam mendengarkan ceritaku.
...Untuk sosok Endang ini, othor tulis berdasarkan beberapa kisah yang diceritakan orang tua jaman dulu. Dan apalagi pada jaman sekarang, makin banyak orang dengan kisah yang sama. Semoga gak ada lagi perempuan yang hamil diluar nikah, dan menggugurkan kandungan nya ya. ...
...Bersambung....