Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 223 TAMU DARI ALAM LAIN?


Kami menjalani hari seperti biasanya lagi, kini Silvia memang lebih fokus melakukan ibadah. Bahkan di tengah-tengah rutinitas kerja, ia selalu mengutamakan shalat. Sepertinya ia benar-benar menghargai pengorbanan Beny. Beberapa kali aku sering melihat sekelebatan bayangan hitam di sekitar Silvia. Aku tau benar, pasti itu adalah sosok dari alam kegelapan yang memantau Silvia. Tapi ia tak bisa terlalu dekat denganya, karena energi di diri Silvia semakin besar, dan dipenuhi aura positif. Yang akan membuat makhluk itu tak nyaman berada di dekatnya. Aku harap makhluk itu menyerah, dan tak akan menggangu Silvia terus menerus.


Dreet dreet.


Nampak panggilan telepon dari Mas Adit, ia memberikan kabar baik untuk ku. Ia meminta ku untuk meliput persidangan Pak Awan, dengan begitu aku memiliki kesempatan untuk bertemu dengan nya. Segera ku hubungi Mbak Ayu, mengajaknya pergi bersamaku.


"Jam berapa sidangnya Ran? Gue lagi ngelayat nih, ada anak murid gue yang meninggal dunia. Tapi kayaknya ada yang janggal deh, soalnya gue selalu ngelihat arwahnya ngikutin beberapa siswi lain. Sebenarnya gue pengen komunikasi, tapi gue gak biasa ngadepin masalah kayak gini. Apalagi itu murid gue sendiri, gak tega rasanya." Jelas Mbak Ayu diseberang telepon sana.


"Kayaknya jam 3 sore Mbak. Ini kan masih jam 10, amanlah kalau lu mau nganter ke pemakaman juga. Gue turut berduka ya Mbak, atas kepergian salah satu murid lu. Soal arwahnya yang ngikutin temennya, bisa jadi karena dia merasa kehilangan temen-temennya itu. Jadi gak usah terlalu dipikirin Mbak."


"Tapi kok ya aneh sih Ran, ini kan jenazahnya lagi dimandiin. Nah di rumah nya itu kan banyak pelihara binatang, masak pas jenazahnya mau dimandikan semua binatang itu pada bersuara gaduh gitu. Sampai semua orang bingung, tuh binatang lihat apa an. Kalau menurut gue sih kayaknya itu karena mereka lihat arwahnya Arfi lagi nangis kesakitan, pas tubuhnya dimandiin." Jelas Mbak Ayu dengan menghembuskan nafas panjang.


"Lah kok bisa sih Mbak? Emang ada masalah apa sewaktu almarhumah hidup? Coba lu korek informasi dari siswi yang diikuti arwahnya si Arfi itu. Mungkin aja mereka tau sesuatu, tapi mereka sengaja diam makanya arwahnya ngikutin mereka." Kataku mengaitkan kedua alis mata.


"Ntar deh Ran, gue coba tanya mereka dulu. Kita langsung ketemu di pengadilan aja ya, tapi kayaknya gue perlu buat rencana cadangan. Siapa tau kita gak bisa ngobrol face to face sama tersangka. Jadi gue bakal bikin surat yang bisa dibaca dia ntar, biar gue suruh nitipin balasan suratnya ke Adit. Buat jaga-jaga aja kalau kita emang gak bisa komunikasi langsung."


"Ya udah deh Mbak, lu atur aja gimana baiknya. Kalau lu butuh bantuan gue buat menelusuri arwah murid lu kabarin aja ya. InsyaAllah gue bisa bantu, gue kan udah terbiasa nanganin kasus kayak gitu."


"Pasti! Ntar gue kontak lagi ya. Bye!" Ucapnya sebelum mengakhiri panggilan telepon.


Aku merapikan berkas di atas meja, lalu membawanya ke ruangan Mbak Rika. Ia sedang berbicara dengan staf di bagian administrasi. Nampaknya obrolan mereka sangat serius, jadi aku mengurungkan niat untuk masuk ke dalam ruangan. Aku berdiri diluar pintu, dan melihat bayangan hitam yang selalu mengikuti Silvia, kali ini jaraknya lebih dekat dari sebelumnya.


"Lu lagi jarang ibadah ya Sil?"


"Hmm kenapa Ran?" Tanya Silvia menghentikan langkahnya di hadapan ku.


"Gak! Gue cuma mau ingetin lu aja kok, jangan tinggalin shalat!" Jawabku tak mengatakan sebenarnya.


"Gue lagi halangan Ran. Tapi gue tetap baca doa kok. Emang makhluk itu masih ada ya?"


"Ya terkadang aja sih. Bentar gue masuk ke dalam dulu ya, ntar kita ngobrol lagi."


Aku masuk ke dalam ruangan Mbak Rika, menyerahkan berkas laporan dan meminta ijin untuk meliput di pengadilan.


"Emang ada kasus apa Ran?"


"Itu loh kasus yang di Bogor, sekarang kan kasusnya dilimpahkan ke pusat. Gue sama Mbak Ayu ada rencana buat ngejebak tersangka. Gara-gara dia, dua teman kita jadi bermasalah. Mana si Beny sampai tewas lagi, entah gue bakal dapat partner yang sefrekuensi kayak Beny atau gak."


"Terus lu mau ngajak siapa buat ngeliput?"


"Kenapa diem sih? Lu mau ngajak siapa Ran?" Seru Mbak Rika mengaitkan kedua alis mata.


"Siapa aja deh Mbak. Udah gak bisa milih juga gue, kan gue bukan jurnalis lapangan lagi. Jadi gue gak tau siapa aja yang bisa gue ajak."


"Bentar, gue carikan staf yang standby di kantor dulu."


Tak lama Mbak Rika menghubungi seseorang melalui telepon. Ia menjepit gagang telepon seraya bertanya pada seseorang diseberang telepon sana. Setelah mencapai kesepakatan, ia meletakkan gagang telepon ke tempat asalnya.


"Lu sama anak magang aja gak apa-apa kan? Cuma dia yang ada ada, tapi tenang aja dia profesional kok."


"Emangnya siapa dia Mbak?"


"Itu loh si Wening, yang gue ceritain waktu itu gantiin kalian liputan di Bogor!"


Aku menjentikkan jari, kebetulan sekali kalau Wening yang akan jadi partner ku.


"Ya udah gak apa-apa Mbak, lebih bagus juga gue sama dia. Langsung suruh tunggu di Lobby aja ya, gue mau pergi cari bahan buat artikel sekalian. Soalnya sidangnya masih jam 3 an, mending gue hunting tempat buat bahan artikel minggu ini." Kataku seraya bangkit berdiri.


Aku kembali ke meja kerja untuk merapikan barang-barang yang akan ku bawa. Tiba-tiba Silvia berlari mendatangi ku dengan peluh yang membasahi keningnya. Tangannya bergetar tak karuan, ia berbicara dengan gagap membuatku tak paham dengan apa yang ia ucapkan. Ku berikan segelas air minum, supaya ia sedikit tenang dan menceritakan apa yang telah terjadi. Begitu ia agak tenang, ia malah menangis sesegukan.


"Tenang Sil, lu kenapa sih? Coba cerita sama gue."


"Gu gue lihat bayangan tinggi besar berbulu hitam di kamar mandi Ran. Gue takut Ran huhuhu." Jelas Silvia sangat shock.


"Udah udah. Jangan panik lagi ya, ntar gue minta sahabat hantu gue buat nemenin lu dari makhluk-makhluk itu. Jadi lu gak usah takut lagi ya?"


"Tapi kan sahabat lu juga hantu Ran, gimana gue tetap gak takut coba!"


"Petter itu berbeda dari hantu lainnya Sil. Lagian kan lu udah pernah lihat dia juga. Ntar kalau ada apa-apa dia yang akan nolongin lu. Buat sementara dia akan jaga lu, sampai lu udah gak halangan lagi. Petter gak jahat kok, ntar kalau sosok jahat yang suka sama lu datang, biar Petter bisa langsung kasih tau gue. Karena tuh makhluk bukan lawan sepadan buat Petter."


"Tapi beneran dia gak akan nakutin gue juga kan?"


"Gak! Tenang aja, Petter hanya akan menjaga lu dari hantu-hantu iseng itu. Kalau yang ilmunya tinggi kayak yang suka sama lu beda cerita ya. Lu juga harus usaha buat fokus, dan banyak doa."


Setelah itu aku berkomunikasi dengan Petter melalui batin. Ku minta ia datang untuk menjaga Silvia, dan melaporkan padaku jika makhluk jahat itu datang mengganggu. Tapi kali ini Petter tak datang sendirian. Ia datang bersama sosok yang familiar di mata ku. Sosoknya masih sama, seperti terakhir kali aku bertemu dengan nya.