
"Oke deh Kak, kami jadi sewa kamar ini. Pembayaran nya langsung cash atau transfer nih?" Tanya Heni menatap Mbak Ayu, yang melamun melihatku berkomunikasi dengan sosok Endang.
Aku memberikan kode dengan gestur tubuh, ku palingkan wajah ke arah Heni dan Leni berdiri. Seketika Mbak Ayu menolehkan kepala, terlihat canggung dengan kedua perempuan itu.
"Eh sorry ya, gue tadi ngelamun hehehe. Tadi kalian tanya apa ya?"
"Itu loh Mbak, pembayarannya cash atau transfer?" Sahut Leni menghembuskan nafas panjang.
"Kalian bisa kasih DP dulu kalau jadi tinggal disini. Pembayarannya langsung transfer aja ke rekening Tante Ajeng, pemilik kostan ini." Jelas Mbak Ayu seraya memberikan nomor rekening Tante Ajeng.
Setelah itu Heni dan Leni berpamitan, mereka akan datang ke kost ini lusa besok. Karena mereka akan mengambil barang-barang dari Desa terlebih dulu. Aku mengingatkan mereka untuk mengabari kami dulu sebelum datang ke kost ini, karena tak ada siapapun di rumah selama kami bekerja. Ce Edoh datang hanya untuk membersihkan rumah dan kostan, setelah itu pun ia akan kembali ke rumahnya.
"Oke deh Mbak, nanti kami kabarin lagi kalau mau otewe kesini."
Kami mengantarkan mereka sampai ke depan pagar rumah. Mereka pergi menggunakan taksi online, dan kami segera masuk untuk menyantap nasi uduk telur balado buatan Mpok Ipeh.
Dret dreet dret.
Ponselku bergetar, ada panggilan telepon masuk dari Mas Adit. Ia memberikan kabar, jika bungkusan yang ku temukan tadi memang benar narkoba. Dan anggotanya sudah berhasil menangkap pembelinya, dan mereka akan menelusuri orang yang meninggalkan barang haram itu disana.
"Makasih ya Ran, lagi-lagi kau bantu tugas Polisi buat nyelesain kasus. Gak hanya kasus yang berhubungan dengan gaib, tapi sampai kasus kriminal kayak gini." Ucap Mas Adit diseberang telepon sana.
"Santai aja Mas, selagi bisa bantu, aku pasti akan bantu. Ya udah selamat bertugas Mas, moga penjahatnya cepet ketemu." Kataku sebelum mengakhiri panggilan telepon itu.
"Wah lu hebat banget ya Ran, insting lu tajem banget kayak silet. Gak hanya demit doang yang bisa lu lihat, tapi kejahatan yang tersembunyi." Mbak Ayu bertepuk tangan di hadapan ku, membuatku canggung saja.
"Apa an sih Mbak, biasa aja dong. Oh iya, gue punya voucher body spa di Hotel Green Garden nih buat dua orang. Gimana kalau kita spa aja disana, nontonnya ditunda lain kali aja. Badan gue pegel-pegel semua nih butuh pijatan relaksasi dari terapis."
"Seriusan lu punya voucher di Hotel bintang lima itu Ran? Kok lu bisa dapet sih? Gue mau dong spa disana, gak apa-apa nontonnya ditunda. Kapan lagi gue bisa ngerasain fasilitas di Hotel mewah begitu." Ucap Mbak Ayu bersemangat.
Karena aku berhasil menyelesaikan kasus Purnama, Pak Bos besar memberikan beberapa voucher dari Hotel dan Pusat Perbelanjaan miliknya. Tak hanya aku, Mbak Rika sebenarnya juga mendapatkan bonus itu dari Pak Bos. Tapi sebagai leader di Kantor, ia tak bisa bebas mengambil libur seperti ku. Apalagi setelah ini Pak Bos menjanjikan kenaikan pangkat pada kami.
Mbak Ayu langsung bangkit dari duduknya dan bergegas masuk ke kamarnya. Nampaknya ia sudah tak sabar untuk menikmati pijatan di Hotel bintang lima. Empat puluh menit kemudian, kami langsung berangkat menggunakan jasa taksi online. Jalanan di Ibukota tak pernah lengang meski hari libur sekalipun. Kemacetan di berbagai sudut dapat terlihat, karena mobil yang kami tumpangi terkena imbasnya.
"Jakarta tiap hari gini ya Pak, gak pernah gak macet!" Kata Mbak Ayu seraya membuka kaca mobil.
"Iya beginilah Mbak, rata-rata orang sekarang pada punya kendaraan pribadi. Udah jarang yang gunain kendaraan umum, makanya Jakarta makin parah macetnya."
Aku katakan pada Pak Sopir, untuk memotong jalan melalui perkampungan saja. Karena jenis mobilnya tergolong kecil, jadi gak akan menggangu warga sekitar. Setelah melewati lampu merah pertama, mobil yang kami tumpangi masuk ke dalam jalan perkampungan. Memang tak banyak yang melewati, setidaknya kami bisa cepat sampai ke tempat tujuan. Dari kejauhan sudah terlihat bangunan mewah yang menjulang tinggi. Hotel Green Garden sudah terlihat di depan mata. Setelah membayar ongkosnya, aku dan Mbak Ayu bergegas turun, lali berjalan masuk ke dalam Lobby. Setelah membuat reservasi menggunakan voucher, kami dipersilahkan masuk ke sebuah ruangan di tepi kolam renang. Ada beberapa tamu hotel yang menunggu giliran untuk body spa. Aku melihat seorang perempuan paruh baya sedang berenang di dalam kolam renang seorang diri. Entah kenapa beberapa orang yang berada di sskitar kolam itu melihatnya dengan aneh. Mereka saling berbisik dan menunjuk-nunjuk ke arahnya. Tak ada seorangpun yang masuk ke dalam kolam bersama nya. Setelah perempuan paruh baya itu keluar dari kolam renang barulah orang-orang itu masuk ke dalam kolam.
"Dih. Aneh banget sih orang-orang itu, emang apa yang salah dengan ibu itu sih!" Gumamku pada diriku sendiri.
"Ada apa sih Ran? Serius banget lihatnya!"
"Mbak lu lihat ibu yang duduk sendirian di tepi kolam itu gak? Menurut lu apa ada yang aneh dari penampilan nya? Kenapa semua orang kayak menghindar darinya ya? Gue kasihan aja lihatnya, masak sama orang tua pada gitu sih."
Nampak Mbak Ayu melihat ibu itu dengan serius, ia memegangi dagunya dan memberikan pendapat, jika penampilan ibu itu normal saja.
"Eh iya juga ya, tuh lihat aja. Tadi ibu itu ngambil minuman kan disana, nah perempuan muda yang ada disana itu langsung lari kayak orang ketakutan gitu deh. Emangnya ibu itu tampangnya kayak mafia apa, kok pada aneh gitu ya?" Kata Mbak Ayu menunjuk ke arah perempuan tadi berdiri.
"Kalau dilihat dari atas sampai bawah sih gak ada yang aneh Mbak. Tapi gak tahu lah, yuk kita masuk ke dalam. Udah giliran kita buat menikmati spa nih!"
Aku benar-benar menikmati hari ini dengan santai. Jarang-jarang bisa dipijat oleh terapis yang profesional begini, rasanya seluruh tubuhku sangat rileks dan segar kembali. Tanpa sadar aku terlelap karena menghirup aromaterapi yang menyegarkan jiwa. Ternyata aku tertidur cukup lama, sampai sesi body spa itu selesai. Mbak-Mbak terapis itu membangunkan ku, dan memberikan teh herbal padaku. Ternyata sensasi dari teh herbal ini dapat membantu melancarkan sirkulasi darah. Dan aku semakin segar dan bersemangat.
"Eh ayok ganti baju, gue laper nih." Panggil Mbak Ayu dengan melambaikan tangannya.
"Wah iya, gue juga punya voucher makan di restoran Hotel ini. Yuk ganti baju langsung makan aja Mbak, badan gue udah enteng banget nih kayak lagi melayang di udara."
Setelah selesai ganti pakaian, kami berjalan ke arah restoran. Dari kejauhan aku melihat seseorang yang tak asing di mataku, ia melihatku lalu melambaikan tangannya.