Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 65 KEJANGGALAN?


Aurora menundukan kepalanya, wajahnya kembali sendu lalu meneteskan air mata. Hantu kecil itu tetap menginginkan mamanya, meskipun ada banyak sosok hantu yang berusaha memberinya kasih sayang, tak akan sebanding dengan kasih sayang dari mama nya yang sebenarnya. Hantu Cahaya Bulan hanya mendekap Aurora ke dalam pelukan nya, ia pun berkata pada Aurora, jika nanti ia dapat berjumpa dengan mamanya, Aurora harus segera kembali ke alam keabadian. Tempat dimana semua makhluk sepertinya beristirahat dengan tenang dan damai.


"Kau juga harus pergi kesana Bulan, seperti katamu pada Aurora. Tempat itu akan membuatmu tenang dan damai. Apa yang menghambat jalanmu untuk pergi ke alam keabadian?"


Pertanyaan ku membuat Cahaya Bulan diam tanpa kata, lalu Aurora pun menanyakan hal yang sama padanya. Barulah Bulan mengatakan sesuatu padaku, jika ia tak tenang meninggalkan kembarannya seorang diri. Karena ada seseorang yang masih mengancam nyawa nya.


"Aku belum bisa pergi meninggalkan Purnama seorang diri, dia bisa celaka kapanpun tanpa pengawasan dariku."


"Kau tenang saja Bulan, lelaki yang dulu menghamili Purnama ingin bertemu dengannya. Ia akan bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat pada Purnama. Kau tau anak dari lelaki itu adalah bos di kantor ini, ia ingin merawat adiknya. Purnama pasti akan baik-baik saja, dan kau bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang."


"Dan apa kau tahu, dimana bayinya? Purnama menjadi tak waras bukan karena sebab, selain dia terguncang akibat peristiwa tragis itu. Ada seseorang yang sengaja memperparah kondisinya."


Aku tak kalah terkejutnya mendengar cerita Bulan, ternyata ada seseorang yang tega membuat kondisi Purnama semakin parah.


"Dia adalah istri dari adik tiri ibuku, perempuan itu terlalu serakah dan ingin menguasai segalanya. Bahkan ia meminta seseorang untuk meracuniku dan juga ibu, sampai kami tewas bersamaan. Meski ibuku dapat pergi dengan tenang ke alam keabadian, aku masih tak tenang meninggalkan Purnama sendirian di dunia yang penuh tipu daya ini. Sepertinya ia sengaja tak melenyapkan Purnama, supaya ada ahli waris dari peninggalan orang tua kami. Dengan begitu ia akan lebih mudah menguasai semuanya, karena hanya tersisa Purnama yang kehilangan akal sehatnya. Sekarang dia berhasil menguasai semua harta benda peninggalan orang tuaku. Sementara Purnama selalu diberikan obat-obatan dengan dosis tinggi setiap harinya, supaya akal sehatnya mati. Aku ingin sekali membunuh perempuan itu, tapi beberapa demit mengatakan padaku. Jika aku akan terjebak selamanya di dunia ini, jika aku nekat melenyapkan nyawa manusia. Aku berusaha keras untuk tidak melenyapkan perempuan itu, meskipun aku ingin sekali melakukannya."


"Apa yang ia bicarakan adalah istri Pak Markum? karena aku sempat melihat foto Pak Markum bersama Bulan dan juga ibunya." batinku bertanya-tanya.


Tiba-tiba Aurora melesat pergi karena mendengar suara auman yang datang entah darimana. Ia terlihat sangat ketakutan dan pergi begitu saja. Bulan menghentikan ceritanya dan menghilang mengikuti Aurora entah kemana.


"Dasar demit-demit aneh! ceritanya belum selesai malah menghilang semuanya. Terserlah, lebih baik aku pergi ke rumahnya Pak Markum untuk menggali informasi. Apakah benar dugaanku, jika ia memiliki hubungan keluarga dengan Bulan dan juga Purnama." gumamku seraya menuruni anak tangga.


Ku lihat sekelebatan bayangan putih beterbangan di atas. Setelah ada suara auman itu, semua penghuni gaib di tangga darurat itu seakan kocar-kacir melarikan diri entah kemana. Mungkin ada penguasa yang datang ke alam mereka, seperti para pegawai di kantor ini yang tiba-tiba jadi serius ketika bos besar datang ke kantor.


Dreet dreet dreet.


Ku lihat ponsel di saku celana, terlihat panggilan telepon dari Mbak Ayu. Segera ku jawab panggilan itu. Terdengar suara Mbak Ayu panik memberikan kabar tentang kematian salah satu pengikut Leak yang pergi bersama Agus dan juga Om Dewa.


"Loh Mbak Ayu tahu darimana kabar ini?"


"Ceritanya panjang Ran, intinya gue tahu kabar ini dari Tante Ajeng. Kalau lu mau tahu jelasnya, mendingan lu ke kantor polisi deh. Nanya langsung sama Adit, karena dia yang nanganin kasus ini. Soalnya gue gak bisa ninggalin sekolah, gue harus ngajar setengah jam lagi." kata Mbak Ayu diseberang telepon sana.


"Ya udahlah pergi ke rumah Pak Markum dulu, setelah itu baru ke kantor polisi ketemu Mas Adit." batinku dengan menjentikan jari.


Aku di antar Mas ojol sampai ke perkampungan Pak Markum. Ku lihat Cahaya Purnama sedang duduk di kursi kayu bawah pohon dengan uncang-uncang kaki. Samar-samar ku lihat seorang perempuan berdaster kuning sedang memberikan Purnama makan dan minum. Syukurlah masih ada yang mau mengurusnya, meski terkadang banyak anak kecil yang mengganggu nya. Aku berniat menyapa perempuan yang memberi makan Purnama, tapi ia malah gelagapan melihatku ada di belakangnya.


"Loh kamu lagi! ngapain datang kesini lagi? sebenarnya kamu mau ketemu siapa disini?" tanya perempuan itu, dan setelah aku ingat-ingat kembali. Dia adalah perempuan yang tempo hari sempat memakiku karena menegur anak-anak kecil yang mengganggu Purnama.


"Hmm maaf bu, saya cuma mau ketemu Pak Markum."


"Kalau mau ke rumah Pak Markum lewatnya sana, dan kamu jangan dekat-dekat dengan Aya. Kalau dia ngamuk dan celakain kamu, kami gak akan tanggung jawab ya!" serunya dengan berkacak pinggang.


"InsyaAllah gak akan bu, kebetulan saya juga mau ngobrol bentar sama Aya." kataku seraya duduk disamping Purnama.


"Terserah ya, kalau dia ngamuk jangan salahin saya. Karena saya udah ingetin kamu."


Perempuan itu langsung pergi meninggalkan ku bersama Purnama. Aku melihat tubuh kurusnya yang tak terurus, aku mengambil makanan yang ada di piring dan berniat menyuapi nya. Tapi ada yang aneh dengan makanan ini, ada aroma obat yang sangat menyengat. Kenapa makanan ini ada aroma obat-obatan ya? aku jadi merasa curiga, dan teringat dengan ucapan Bulan jika ada seseorang yang sengaja memberikan obat-obatan dengan dosis tinggi pada Purnama.


"Astaghfirullah, kenapa ibu itu mencampuri makanannya dengan obat." gumamku seraya membuang makanan itu.


Tanpa ku tahu, ibu itu ternyata melihatku sengaja membuang makanan yang ia berikan tadi. Ibu itu memarahiku habis-habisan dan membuat gaduh disana, seketika beberapa warga berdatangan melihat ibu itu sedang memarahiku karena membuang makanan yang ia berikan untuk Purnama.


"Tapi apa yang ibu campurkan ke dalam makanan itu? saya dapat mencium aroma obat-obatan. Jangan-jangan ibu sengaja ingin membuat Purnama semakin kehilangan akal sehatnya ya!" seruku tak mau kalah begitu saja.


Semua orang terkejut melihat perdebatan kami, tak lama Pak Markum datang dan meminta semua orang pergi dari sana. Pak Markum meminta penjelasan dari kami, tapi ibu itu berdalih hanya mencampurkan obat penenang yang biasa Purnama konsumsi. Aku menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang ia katakan. Lalu Pak Markum mengajakku ke rumahnya, supaya kami semua dapat berbicara dengan tenang. Terlihat istri Pak Markum, menyalahkan ibu itu dan membawa Purnama kembali ke gudang yang biasa menjadu tempat tinggalnya.


...Apakah benar jika yang diberikan ke Purnama adalah obat penenang? tunggu episode selanjutnya ya. See you 👋...


...Bersambung. ...